NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Dunia di Luar Sekte

Xu Tian memasuki wilayah fana tanpa ada satu pun tanda peralihan yang jelas.

Tidak ada gerbang batu berukir. Tidak ada formasi pelindung. Tidak ada murid penjaga dengan jubah seragam. Jalan tanah yang diinjaknya hanya memanjang kasar, penuh bekas roda kayu dan tapak kaki tak beraturan. Di kejauhan, bangunan-bangunan rendah berdiri miring, atapnya tambal sulam, dindingnya retak dan mengelupas.

Suara datang lebih dulu daripada pemandangan.

Teriakan pedagang, bentakan kasar, tawa nyaring yang terlalu keras, tangis anak kecil yang segera dibungkam. Semua bercampur menjadi kebisingan yang tidak teratur, menusuk telinga. Udara terasa berat oleh bau keringat, minyak goreng basi, dan tanah basah yang mengering setengah hari di bawah matahari.

Xu Tian melangkah pelan.

Setiap langkah membuat tubuhnya mengingat luka lama. Tidak lagi sekeras kemarin, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa ia tidak berada dalam kondisi untuk menarik perhatian.

Tatapan mulai mengarah kepadanya.

Beberapa orang fana melirik sekilas lalu segera mengalihkan pandang, seolah keberadaannya tidak penting. Yang lain menatap lebih lama, mata mereka menyusuri pakaiannya yang lusuh, berhenti di bekas darah kering di ujung lengan.

Bisikan muncul, pelan tapi tidak sepenuhnya tersembunyi.

“Pengemis?”

“Bukan penduduk sini.”

“Lihat jalannya… pasti tak punya tempat.”

Tidak ada rasa hormat. Tidak ada rasa takut. Hanya penilaian cepat dan dingin, seperti menimbang barang yang tidak bernilai.

Xu Tian tidak bereaksi.

Ia pernah berdiri di halaman sekte dengan ribuan murid lain, pernah disebut nama dalam daftar murid resmi. Semua itu kini terasa jauh, seolah milik orang lain. Di tempat ini, masa lalu itu tidak berarti apa pun.

Ia melewati pasar kecil yang sempit. Meja kayu dipenuhi sayuran layu, daging kering berwarna gelap, dan ramuan sederhana yang dijual tanpa label. Seorang pedagang tua berhenti berbicara ketika Xu Tian lewat, tatapannya mengeras, lalu beralih ke pembeli lain tanpa sepatah kata.

Langkah Xu Tian terhenti sejenak ketika ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Aura.

Lemah, tidak teratur, namun jelas bukan milik orang fana.

Seorang pria berdiri di tengah jalan, pakaiannya kusam namun masih menyisakan potongan jubah kultivator. Rambutnya diikat asal, wajahnya penuh bekas luka kecil. Ia tertawa sambil memegang kerah seorang pria fana yang tubuhnya gemetar.

“Berani sekali kau menawar ulang,” kata kultivator itu dengan nada santai. “Apa kau pikir hidupmu lebih berharga dari beberapa koin?”

Pria fana itu mencoba bicara, suaranya pecah, kata-katanya tidak jelas. Tangannya mencengkeram udara kosong, seolah berharap ada yang menariknya menjauh.

Tidak ada yang bergerak.

Orang-orang di sekitar pura-pura sibuk. Beberapa mundur setengah langkah, menjaga jarak aman. Tatapan mereka kosong, tidak terkejut, tidak marah. Ini bukan pemandangan asing.

Xu Tian berdiri di tepi kerumunan tipis.

Ia bisa merasakan kekuatan kultivator itu—tidak tinggi, mungkin baru melewati tahap awal. Di sekte, orang seperti ini bahkan tidak layak dipandang. Namun di sini, di antara orang-orang tanpa kemampuan kultivasi, ia berdiri seperti penguasa kecil.

Kultivator itu akhirnya melepaskan pria fana tersebut, bukan karena belas kasihan, melainkan karena kehilangan minat. Tubuh korban jatuh terduduk, napasnya tersengal.

Tawa terdengar.

Bukan tawa keras, tapi tawa pendek yang penuh kepuasan.

Pandangan kultivator itu beralih, berhenti pada Xu Tian.

Mata mereka bertemu.

Alis pria itu terangkat sedikit, seolah menemukan sesuatu yang menarik. Ia melangkah mendekat, sepatunya menginjak genangan lumpur tanpa peduli.

“Kau,” katanya sambil meneliti Xu Tian dari kepala hingga kaki. “Aku tak merasakan tanda sekte padamu.”

Xu Tian tidak menjawab.

“Tidak membawa lambang. Tidak punya pelindung,” lanjutnya, senyum tipis terbentuk. “Kultivator liar?”

Nada itu tidak ramah. Bukan juga marah. Lebih seperti seseorang yang menemukan mangsa yang tidak akan melawan.

Beberapa orang fana mencuri pandang, lalu segera menunduk. Tidak ada yang tampak ingin berada di dekat Xu Tian sekarang.

“Aku lewat saja,” kata Xu Tian akhirnya, suaranya rendah dan terkendali.

Kultivator itu tertawa kecil. “Lewat?” Ia menggeleng pelan. “Di wilayah ini, orang tanpa latar belakang harus tahu diri.”

Ia melangkah lebih dekat. Aura lemah itu menekan, tidak cukup untuk melukai, tapi cukup untuk membuat orang fana berlutut. Xu Tian merasakan tekanan itu menyentuh dadanya, menguji tubuhnya yang masih rapuh.

Ia menahan napas.

Di sekte, ia diinjak oleh mereka yang jauh lebih kuat. Di tempat ini, bahkan yang setengah matang pun berani mengangkat kepala tinggi-tinggi.

Pandangan Xu Tian bergeser sejenak ke sekeliling.

Tidak ada mata yang bersimpati. Tidak ada tangan yang siap membantu. Dunia ini bekerja dengan aturan yang sama, hanya lebih telanjang.

Ia melangkah pergi, memutar arah tanpa berkata apa-apa lagi.

Kultivator itu tidak mengejar. Ia hanya mendengus, kehilangan minat begitu cepat, lalu berbalik menegur orang fana lain yang terlalu lambat menyingkir.

Xu Tian berjalan menjauh, denyut di pelipisnya perlahan mereda.

“Tidak ada perbedaan,” pikirnya dingin. “Hanya panggungnya yang berubah.”

Di sekte, kekuasaan dibungkus aturan. Di luar, kekuasaan berdiri tanpa topeng. Yang lemah tetap diinjak. Yang sedikit lebih kuat bebas bertindak.

Ia menyusuri jalan sempit menuju bagian kota yang lebih sunyi. Bangunan semakin jarang, suara pasar tertinggal di belakang. Namun perasaan tertekan tidak menghilang. Justru semakin jelas, seperti udara dingin yang merayap ke tulang.

Dunia di luar sekte bukan pelarian.

Ia hanya versi lain dari penindasan yang sama, lebih kasar, lebih terbuka, dan sama sekali tidak peduli siapa yang jatuh.

...

Xu Tian belum berjalan jauh ketika suara bentakan kembali pecah di belakangnya.

Kali ini lebih kasar.

Lebih dekat.

Ia berhenti di ujung jalan sempit yang dipenuhi lumpur kering, lalu menoleh sedikit. Di antara celah bangunan reyot, beberapa orang fana berhamburan keluar dengan wajah pucat. Nafas mereka tersengal, langkahnya kacau, seolah sesuatu yang lebih berbahaya sedang mendekat.

Seorang pemuda terhuyung keluar terakhir.

Pakainnya robek di bagian bahu, darah merembes dari pelipisnya. Wajahnya pucat, matanya liar, napasnya tidak beraturan. Ia berlari tanpa arah jelas, hanya berusaha menjauh dari teriakan di belakangnya.

“Kembali ke sini!”

Dua kultivator bebas muncul dari lorong sempit. Aura mereka tidak kuat, namun cukup untuk membuat orang fana tersingkir tanpa perlawanan. Salah satunya membawa cambuk pendek yang ujungnya masih berlumur darah segar.

“Berani mencuri di wilayah kami?” teriak salah satu dari mereka. “Kau pikir hidupmu bisa menebus itu?”

Pemuda itu tersandung dan jatuh ke tanah. Telapak tangannya terkelupas saat ia mencoba bangkit. Ia menoleh ke sekeliling, matanya memohon, mencari celah, mencari seseorang—siapa pun.

Tatapan orang-orang fana menghindar.

Beberapa mundur lebih jauh. Beberapa berdiri kaku, wajah mereka kosong. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berani.

Xu Tian berdiri beberapa langkah dari kejadian itu.

Tubuhnya menegang tanpa ia sadari.

Cambuk itu terayun, menghantam tanah tepat di samping kepala pemuda tersebut. Debu beterbangan. Pemuda itu gemetar hebat, tangannya menutupi kepala secara refleks.

“Jangan—aku hanya—” katanya terputus-putus. “Aku lapar…”

Salah satu kultivator tertawa pendek. “Lapar?” Ia melangkah mendekat, menekan ujung sepatu ke punggung pemuda itu. “Kalau begitu, mati saja. Tak ada yang akan peduli.”

Xu Tian mengalihkan pandangannya ke tangan pemuda itu.

Kurus. Kotor. Gemetar.

Ingatan lama muncul tanpa diminta.

Halaman sekte. Tatapan murid-murid lain. Tubuhnya sendiri yang terjatuh setelah satu serangan, sementara dunia di sekelilingnya diam menonton.

Tidak ada perbedaan.

Hanya perannya yang berubah.

Salah satu kultivator mengangkat tangannya. Energi tipis berkumpul di telapak, cukup untuk mematahkan tulang leher seorang fana tanpa usaha.

Kerumunan menahan napas.

Xu Tian merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya. Bukan dorongan heroik. Bukan kemarahan membara. Hanya kesadaran dingin bahwa jika ia terus berjalan sekarang, pemandangan ini akan terulang di tempat lain, dengan wajah yang berbeda.

Dan ia akan terus mengingatnya.

Panel sistem bergetar samar di sudut pandangnya.

Tidak muncul penuh.

Tidak mengeluarkan perintah.

Hanya satu perubahan kecil—indikator halus yang berkedip, nyaris tak terlihat, seolah mencatat sesuatu.

Xu Tian menatap pemuda itu.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Di mata pemuda itu tidak ada harapan besar. Hanya ketakutan murni dan kelelahan yang dalam. Tatapan seseorang yang tahu ia tidak akan diselamatkan.

Energi di tangan kultivator itu semakin padat.

Beberapa detik lagi, semuanya akan selesai.

Xu Tian menarik napas perlahan.

Ia tahu posisinya. Tubuhnya belum pulih. Kekuatan kultivasinya rendah. Ia tidak punya nama, tidak punya pelindung. Campur tangan berarti masalah. Berarti risiko. Berarti kemungkinan mati sia-sia.

Namun jika ia mundur sekarang, maka dunia ini tidak akan memberinya perbedaan apa pun dari sekte yang telah membuangnya.

Satu langkah ke depan terasa berat.

Langkah itu belum diambil.

Udara menegang, seolah menunggu.

Cambuk terangkat sedikit, energi di telapak tangan kultivator bergetar, siap dilepaskan.

Xu Tian berdiri di ambang keputusan.

Antara bertahan sebagai bayangan yang lewat—

atau melangkah ke dalam kekejaman dunia yang sama sekali tidak memberi ampun.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!