Setelah bertahun-tahun bercerai, dan memiliki jalan hidup masing-masing, api cinta yang pernah membara diantara mereka masih saja terasa.
Dan meskipun telah tertutup oleh debu waktu, akankah takdir dapat membawa mereka kembali bersatu?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Arumni merasa penasaran dengan wanita yang kini sedang dekat dengan mantan suaminya itu, ia merasa harus tahu sedekat apa mereka sekarang.
"Rama nanyain aku nggak ya, bu?" Arumni beralasan dengan pertanyaan itu.
"Tadi pagi nggak bilang apa-apa, sampai sekarang juga mereka nggak nelpon ibu." Kata bu Susi yang membuat Arumni merasa ingin mencari alasan lain, agar bisa bertemu dengan wanita yang bu Susi maksud.
"Kita ke sana saja sekarang, bu." Ajak Tya yang membuat Arumni langsung menyetujui.
"Iya, kebetulan mbah ibu juga mau tutup. Kita ke rumah sama-sama saja, ya?" Ajak bu Susi, "jangan lupa beritahu Adit dulu, Arumni."
Arumni mengangguk, lalu membantu bu Susi menutup kios pakaiannya yang sudah seharian penuh dengan pelangan. Ia mengumpulkan baju-baju yang masih tergantung di gantungan bagian depan kios, lalu memasukannya ke dalam keranjang, sambil ngobrol dengan dua orang karyawan baru bu Susi.
"Semoga kalian betah kerja di sini ya, mbak." Kata Arumni sambil membantu mereka.
"Aamiin, Insya Allah kita betah, bu." Jawab salah satunya yang langsung disusul oleh lainnya.
Bu Susi sibuk menghitung uang di laci, sambil menjawab pertanyaan dari cucu yang cukup cerewet itu.
"Mbah ibu, bisa nggak ya... Kalau aku nggak usah sekolah tapi langsung jadi orang dewasa saja?" Kata Tya yang membuat bu Susi merasa lucu.
"Ya nggak bisa lah, Tya. Semua harus berproses," jawabnya.
"Tapi aku bosan jadi anak-anak, harus nurut sama orang tua, harus patuh pada mereka. Anak-anak nggak boleh ngatur hidupnya sendiri, ugh!" keluh Tya.
"Memangnya kamu disuruh patuh tetang apa?" tanya bu Susi sambil menahan tawa.
"Ya... Dituntut bangun pagi, mandi, sarapan, menghadapi guru dan pelajaran matematika di sekolah, itu semua tugas yang sangat-sangat berat, mbah ibu. Enakkan jadi orang tua, tinggal ngatur anak-anak saja sesuai keinginan mereka." Keluh Tya yang semakin membuat bu Susi terkekeh.
Rasa lelahnya jadi berkurang, ketika mendengar keluhan Tya yang menurutnya sangat lucu. "Aktivitas yang menurut kamu membosankan saat ini, akan kamu rindukan setelah dewasa nanti, sayang. Kamu juga pasti akan merasa bosan dan ingin kembali menjadi anak-anak lagi, setelah dewasa nanti." Tutur bu Susi.
"Nggak mungkin, mbah ibu. Orang dewasa kan di rumah saja, nggak perlu mikir bagaimana menghadapi matematika dan rumus-rumusnya yang sangat memusingkan itu." Ucap Tya sambil menghembus napas kasar.
Bu Susi menggelengkan kepala sambil tertawa kecil, lalu keluar dari kios setelah mereka selesai merapikannya.
* *
Adit telah sampai lebih dulu di rumah bu Susi. Ia hampir menekan bel, namun tertahan karena mereka juga baru sampai di sana.
"Ayah!" panggil Tya, saat mereka turun dari mobil angkot, lalu berjalan cepat ke arah ayahnya.
"Loh, mas Adit ternyata di sini juga?" batin Arumni.
"Kamu juga baru sampai ya, Dit?" tanya bu Susi sambil berjalan ke arah teras rumahnya.
"Iya, bu. Arumni bilang Rama sama Galih sakit, kebetulan aku sudah mau pulang, jadi langsung ke sini saja." Katanya yang membuat Arumni membulatkan matanya.
Arumni berjalan pelan di belakang bu Susi, dia merasa tidak leluasa ingin bertanya tentang Winda saat ada suaminya.
Bu Susi akan menekan bel, namun pak Soni tetangga terdekatnya itu memanggil.
"Bu, kunci rumahnya ada di aku." Teriaknya, "tadi wanita yang bersama anak kecil itu menitipkannya padaku, soalnya Galih sama Rama tidur, makanya dia pulang." Kata laki-laki tua itu yang semakin mendorong rasa ingin tahu Arumni.
"Oh iya, pak Soni." Ucap bu Susi sambil menerima kuncinya.
"Wanita itu siapa, bu?" tanya pak Soni penasaran.
Bu Susi mengulas senyum, "guru barunya Rama, pak Soni."
"Oh, kirain calon mantu," gurau pak Soni yang membuat Arumni merasakan sesuatu di dadanya.
"Doakan saja, pak Soni. Mudah-mudahan mereka jodoh." Harapan bu Susi yang langsung diAamiinkan oleh pak Soni dan Adit.
Senyumnya terlihat berbeda, "kamu nggak bilang mau ke sini, mas?" bisik Arumni saat bu Susi dan Tya telah masuk rumah, lalu pak Soni juga sudah pergi dari sana.
"Memangnya kenapa? Kamu nggak mau diganggu saat mau berduaan sama Galih?" bisik Adit balik.
"Apaan, sih?" bisik Arumni lagi sambil mencubit perut Adit.
"Ih, sakit tahu?" Kata Adit, lalu keduanya menatap bu Susi yang sedang mengamati candaan mereka.
Bu Susi tersenyum bahagia, karena Arumni mendapatkan kebahagiaan bersama Adit, dan hubungan mereka terasa begitu hangat. "Kalian nggak mau masuk?" tanya bu Susi sambil terus tersenyum.
"Mau, bu. Nggak tahu kalau Arumni," kata Adit sambil berjalan masuk meninggalkan Arumni di sana, yang membuat bu Susi jadi tertawa, dan Arumni merasa sedikit kesal.
"Gimana kabar kak Rama sama om Galih?" Tanya Tya saat mereka baru terbangun. "Aku dengar dari mbah ibu, katanya kak Rama sama om Galih sakit, makanya ibu langsung ajak aku ke sini." Kata Tya yang membuat Adit menoleh ke arah Arumni dengan satu alisnya yang dibiarkan meninggi, dan semakin terkekeh ingin mengodanya.
"Om Galih sudah sembuh Tya, terimakasih ya, sudah datang ke rumah." Kata Galih.
"Aku juga sudah lebih baik, Tya. Ini semua berkat bu guru cantik yang dengan telaten mengurus aku sama ayah tadi." Kata Rama.
Mulutnya akan terbuka untuk bertanya lebih lanjut tentang bu guru cantik itu, namun saat menatap Adit, ia jadi tiba-tiba diam.
"Kenapa diam, kalau mau tanya sesuatu tanya aja," bisik Adit.
Tadinya Arumni akan bertanya tentang Winda, namun tidak jadi karena ada Adit di sana. "Emm, Rama. Rama sakit karena kecapekan kemarin pasti, ya?"
"Nggak ibu, ini semua karena ayah ngajak aku hujan-hujanan." Kata Rama yang membuat Galih membulatkan matanya, dan Arumni menoleh cepat ke arah Galih.
"Loh, kalian masih di desa pas hujan turun?" tanya Arumni.
"Nggak, Arumni. Kita cuma kena hujan sedikit, tapi memang mau sakit aja." Kata Galih membela diri.
"Sedikit bagaimana, ayah?" potong Rama. "Kita sampai basah kuyup lo, yah." Rama mengingatkan.
"Kalian dari mana, sampai kehujanan?" Saut Adit.
"Nggak Dit—"
"Jadi gini, Ayah." Rama kembali memotong ucapan Galih. Rama ceritakan semua kejadian di cafe itu, yang akhirnya membuat Arumni mendapat sedikit informasi yang dia inginkan.
Bu Susi datang membawakan minuman dan camilan untuk teman ngobrol mereka. "Silahkan diminum, Dit." Kata bu Susi.
"Terimakasih, bu." Ucapnya, lalu mereka kembali mengobrolkan banyak hal.
"Jadi menurut kalian, apa ibu sama Rama salah, kalau menginginkan Galih menikah lagi?" Bu Susi meminta pendapat mereka, "Ya ibu tentu tidak akan memaksa, keputusan terbaik tentu ada pada Galih. Tapi ibu tetap berharap," kata bu Susi yang membuat Arumni bingung untuk memberi pendapat karena ada suaminya di sana.
"Ibumu benar, Galih." Kata Adit, "sudah cukup lama, apa kamu tidak ingin memikirkan rencana ke depan?"
Galih menghela napas, "aku masih membenahi diri, Dit." Jawabnya.
"Sampai memakan waktu selama ini?" tanya Adit yang dijawab anggukan mantap dari Galih.
...****************...