NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut diperbatasan

**

Kabut pagi masih menggantung di atas perbatasan Valenbourg ketika Marquis berdiri di depan meja strategi.

Peta terbentang. Tanda-tanda merah menunjukkan wilayah rawan. Para perwira menunggu instruksinya.

Namun pikirannya tidak lagi berada di medan perang.

“Subuh ini, Nona Elara telah meninggalkan Kaelmont.”k

Kalimat itu terus terngiang.

Marquis menutup peta perlahan.

“Rapat dibatalkan,” katanya tiba-tiba.

K

Para perwira saling berpandangan.

“Tuan Marquis?” salah satu dari mereka memberanikan diri bersuara. “Pasukan timur menunggu arahan. Jika kita mundur sekarang—”

“Aku tidak mengatakan kita mundur,” potongnya tegas. “Komando sementara diserahkan kepada Komandan Artheon.”

Suasana mendadak sunyi.

“Dengan segala hormat,” lanjut sang komandan, “Anda adalah panglima tertinggi di wilayah ini. Kepergian Anda tanpa izin dewan akan dianggap sebagai pelanggaran protokol militer.”

Marquis menatap lurus ke arahnya.

“Dan sejak kapan protokol membenarkan ketidakadilan?”

Tak ada yang berani menjawab.

Ia melangkah keluar dari tenda komando, mantel panjangnya berkibar tertiup angin dingin.

Ajudannya mengejar.

“Tuan, apakah ini tentang gadis itu?”

Marquis berhenti.

“Namanya Elara.” Nada suaranya dingin.

“Jika Anda pergi sekarang,” lanjut ajudannya hati-hati, “Dewan akan menganggap Anda mengabaikan kewajiban demi urusan pribadi.”

Marquis terdiam sejenak.

Lalu berkata pelan namun mantap,

“Jika kewajiban menuntutku untuk membiarkan seseorang dihancurkan tanpa alasan, maka kewajiban itu patut dipertanyakan.”

Marquis menoleh ke arah kandang kuda.

“Siapkan kudaku.”

“Tuan—”

“Sekarang.”

Perintah itu tidak bisa dibantah.

Di sisi lain, gerbang Kaelmont telah jauh tertinggal di belakang Elara.

Kereta kecil yang membawanya melaju perlahan di jalan berbatu. Tangannya menggenggam surat Alden erat di pangkuannya.

Namun tiba-tiba Kereta itu berhenti mendadak.

Tidak di gerbang kota.

Tidak pula di jalan utama perbatasan.

Melainkan di tengah hutan yang sunyi.

Pepohonan tinggi menjulang, menghalangi cahaya matahari. Elara mengernyit.

“Apa yang terjadi?” tanyanya tenang.

Kusir tidak menoleh.

“Kita tiba di tujuan, Nona.”

Elara memandang keluar jendela. Hutan. Tidak ada tanda pemukiman.

“Tapi ini bukan perbatasan kota valenbourg” ucapnya perlahan namun tegas.

Kusir turun dari kursi depan dan membuka pintu kereta.

“Maafkan saya nona tapi saya diperintah mengantar sampai sini.”

Elara terdiam beberapa saat.

“Sampai sini?” ulangnya pelan.

“Benar.”

“Di tengah hutan?”

Kusir tidak menjawab, hanya menunduk singkat. Terlalu singkat untuk disebut hormat.

Elara tak menolak. Dengan gerakan anggun yang masih ia jaga meski hatinya kacau, ia melangkah turun dari kereta kuda itu.

“Semoga perjalanan Anda selamat, Nona. Sekali lagi, mohon maafkan saya,” ucap sang kusir dengan suara berat. Rasa bersalah jelas tergambar di wajahnya.

Elara mengangguk pelan.

“Tidak perlu meminta maaf, Paman,” jawabnya lembut. “Pergilah. Jangan sampai Paman menjadi sasaran amarah Nyonya Marianne berikutnya.”

Kusir itu menunduk dalam, lalu segera menaiki kereta. Tanpa berani menoleh lagi, ia memutar arah dan pergi.

Deru roda perlahan menjauh.

Hingga akhirnya sunyi.

Elara berdiri seorang diri.

Benar-benar seorang diri.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada papan penunjuk. Tidak ada pemukiman. Tidak ada tanda perbatasan Valenbourg seperti yang dijanjikan.

Hanya jalan berbatu yang memanjang tanpa kepastian.

Tangannya mengepal perlahan, seolah menggenggam sisa harga dirinya.

Elara mulai berjalan.

Langkah pertama terasa ringan.

Langkah kedua masih penuh harga diri.

Langkah ketiga… mulai terasa berat.

Bebatuan tajam menekan sol sepatunya. Gaunnya yang semula bersih dan rapi kini kacau tak karuan.

Beberapa jam berlalu.

Kakinya mulai perih.

Elara berhenti sejenak, menarik napas panjang.

“Tenanglah, Elara,” gumamnya lirih. “kau tidak boleh tampak lemah… ”

Langit yang semula kelabu tiba-tiba menggelap.

Angin berhembus kencang.

Dan tanpa peringatan—

Hujan turun.

Deras.

Air menghantam tanah dan dedaunan, membasahi rambut serta pakaiannya dalam hitungan detik.

Elara terdiam, wajahnya menengadah sedikit, seolah tak percaya pada nasib yang terasa kejam.

“Bahkan langit pun menertawakan keadaanku,” bisiknya getir.

Elara mencoba melanjutkan langkah.

Namun jalan berbatu menjadi licin. Sepatunya tergelincir. Elara hampir saja terjatuh.

Dan pada akhirnya, Elara bersandar pada batang pohon besar di tepi jalan. Cipratan air menembus sela dedaunan dan menyentuh wajahnya.

Elara menutup mata.

“Ayah… Paman…” lirihnya.

Suara itu hampir tak terdengar.

Mengapa hidupku kembali seperti ini?

Mengapa aku selalu ditinggalkan?

Aku bahkan tidak tahu ke mana kakiku akan membawaku…

Air mata mengalir tanpa mampu Elara tahan.

“Paman… Ayah… jika kalian dapat mendengarku, jemputlah aku. Bawalah aku bersama kalian…”

Tangannya yang gemetar tak lagi mampu menggenggam tas kecilnya. Barang-barangnya terjatuh dan berserakan di tanah.

Elara memejamkan mata, memeluk tubuhnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!