Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.
Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.
Namun Wijaya bukan lelaki biasa.
Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.
Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Dua
Riri menatap kalender di dinding apartemennya.
Lingkaran merah kecil ada di tanggal yang seharusnya menjadi tamu bulanan. Ia menghitung ulang dengan jarinya, pelan, berharap ada salah hitung.
Satu hari.
Dua hari.
Tiga.
Empat.
Sudah dua minggu terlambat.
Riri menelan ludah. “Tidak mungkin…” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mencoba menenangkan diri.
Pasti karena stres.
Karena Krisna operasi.
Karena begadang.
Karena cemas.
Ia mengulang alasan-alasan itu seperti mantra, tapi jantungnya justru berdegup makin cepat.
Perutnya akhir-akhir ini mudah mual. Tubuhnya terasa lelah tanpa sebab. Payudaranya nyeri jika tersentuh. Semua tanda kecil yang tadinya ia abaikan… kini berdiri menggigil di depan mata.
Tangannya gemetar saat meraih ponsel.
Bukan nama Krisna yang muncul di kepalanya.
Nama lain.
Kevin.
Ingatan itu datang tanpa permisi: kamar apartemen yang remang, dirinya yang menangis setelah bertengkar karena tekanan keluarga, Kevin yang menemaninya, lalu batas yang kabur antara pelukan dan pelarian.
“Tidak… jangan…” suara Riri pecah.
Air matanya turun satu-satu.
Jika ia benar hamil… itu bukan anak Krisna.
Itu anak lelaki yang tak seharusnya ia sentuh.
Ia menunduk, memegangi perutnya yang masih datar.
“Kenapa sekarang… saat Krisna baru pulih…"
Pandangannya kabur.
Di cermin, ia melihat sosok dirinya sendiri—cantik, rapuh, dan penuh rahasia.
Riri meremas gaunnya kuat-kuat.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan: membeli test pack.
Namun ketakutan menahannya di ambang pintu.
Sebab benda kecil bergaris dua itu bisa mengubah segalanya:
pertunangannya, masa depan perusahaan, dan hidup banyak orang.
Dan untuk pertama kalinya, Riri benar-benar takut pada kebenaran.
Riri akhirnya keluar juga.
Topi ditarik rendah, masker menutupi setengah wajah. Ia berjalan cepat menuju apotek di bawah apartemennya, berdoa tidak ada yang mengenalinya sebagai tunangan calon CEO Kusuma Group.
Tangannya dingin saat ia meletakkan tiga kotak test pack di kasir.
Petugas apotek tersenyum ramah.
Bagi mereka itu barang biasa.
Bagi Riri — itu vonis hidup.
Sesampainya di kamar mandi, ia terkunci di dalam, punggungnya bersandar ke pintu. Napasnya naik turun cepat.
“Tenang… ini cuma keterlambatan biasa,” ia berbisik, gemetar.
Ia mengikuti petunjuk.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Waktu terasa lebih kejam daripada jarum operasi.
Perlahan, garis pertama muncul. Normal.
Lalu garis kedua… samar… lalu menguat… tegas.
Dua garis merah.
Dunia seakan berhenti.
Tes pertama jatuh dari tangannya. Ia membuka yang kedua. Hasilnya sama. Yang ketiga… sama.
Riri menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suaranya tak pecah keluar.
“Tidak… tidak… ini tidak boleh terjadi…”
Air mata mengalir deras.
Ia tersungkur di lantai dingin kamar mandi, memeluk lutut.
Yang muncul di kepalanya bukan wajah Krisna…
melainkan Kevin — dengan tatapan yang kala itu juga penuh kekacauan.
“Ini… anak siapa yang harus kukatakan?” gumamnya patah.
Jika ia berkata jujur, pertunangan selesai.
Jika ia diam, ia menipu terlalu banyak orang.
Jika ia tetap menikahi Krisna… ia menyeret lelaki itu ke kebohongan yang ia ciptakan.
Tangannya refleks menyentuh perutnya.
Masih kecil. Masih rahasia. Masih bisa ia sembunyikan… untuk sementara.
“Maaf…” ia berbisik pada bayinya.
“Mama pengecut…”
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal:
Kehamilan ini akan menjadi badai yang suatu hari akan menghantam semua orang, ibunya, Krisna, Kevin, Ana.
Riri bangkit dengan langkah gontai, wajahnya pucat.
Di cermin, ia melihat bukan hanya dirinya...melainkan awal dari rahasia paling besar dalam hidupnya.
.
Bel apartemen berbunyi dua kali.
“Ting-tong.”
Riri yang sejak pagi mondar-mandir, buru-buru menyeka air matanya. Test pack sudah ia sembunyikan di laci meja rias. Namun rasa panik masih jelas di wajahnya.
“Siapa…?” suaranya serak.
“Riri, Mama,” jawab suara tegas dari luar. “Buka. Jangan pura-pura tidak ada.”
Jantung Riri mencelos. Ia membuka pintu.
Fanya masuk dengan langkah mantap, parfumnya memenuhi ruangan. Wanita elegan itu meletakkan tas di sofa dan langsung menatap putrinya dari ujung kepala sampai kaki.
“Wajahmu pucat. Kamu sakit?”
Riri menggeleng cepat. “Enggak, Ma. Cuma capek.”
Fanya mendekat. Naluri seorang ibu jarang salah. Ia memegang dagu Riri, menatap matanya.
“Kamu habis nangis.”
Riri terdiam.
Fanya menghela napas, hendak berkata sesuatu… namun tiba-tiba berhenti.
Tatapannya turun ke arah perut Riri.
Perut itu belum besar, tapi sedikit menonjol — tidak seperti biasanya. Apalagi Riri memegangi perutnya tanpa sadar setiap kali bicara.
Sorot mata Fanya berubah.
“Riri,” suaranya turun, pelan namun menusuk, “kamu… hamil?”
Riri membeku.
“Jawab Mama!”
Air mata turun begitu saja. Bibirnya bergetar. “Ma…”
Fanya melangkah cepat ke kamar. Riri langsung panik.
“Ma, jangan—!”
Terlambat.
Laci meja rias dibuka keras. Tiga test pack jatuh ke lantai. Semua dengan dua garis merah tegas.
Ruangan sunyi.
Suara jam dinding terdengar sangat jelas.
Fanya berdiri mematung beberapa detik, lalu berbalik perlahan. Tatapannya tidak lagi lembut — tajam, bergetar antara marah dan kecewa.
“Riri,” katanya lirih, “itu… anak siapa?”
Riri menutup wajahnya, tubuhnya gemetar.
Bukan Krisna.
Bukan tunangannya.
Bukan pria yang seluruh keluarganya sedang menunggu kepulangan sang pewaris perusahaan.
Nama yang muncul di benaknya hanya satu.
Kevin.
Tapi bibirnya terkunci.
Fanya mendekat, mengguncang bahunya. “Kamu tidur dengan siapa!?”
“Ma…” suara Riri pecah. “Aku… aku salah…”
Fanya menguatkan diri. “Jawab Mama. Krisna— atau orang lain?”
Air di mata Riri jatuh deras.
“Kevin, Ma…”
Dunia Fanya runtuh seketika.
Ia mundur satu langkah. Napasnya memburu.
“Astaghfirullah, Riri…”
Riri bersimpuh, memeluk kaki ibunya.
“Ma, aku takut… aku benar-benar takut…”
Fanya memejamkan mata kuat-kuat. Ia tahu:
pertunangan ini akan hancur jika terbuka, keluarga Kusuma tidak akan tinggal diam
Ana… akan memakan mereka hidup-hidup.
Namun lebih dari semua itu—
ia sedang melihat putrinya, rapuh, gemetar, memeluk rahasia yang bisa menghancurkan masa depannya.
Fanya berlutut, memeluk Riri erat. Tangis mereka pecah tanpa suara. “Mulai sekarang,” bisik Fanya dengan gemetar, “tidak ada seorang pun yang boleh tahu sebelum Mama memikirkan semuanya.”
Riri mengangguk sambil menangis.
Di luar jendela, kota berjalan seperti biasa.
Tak satu pun tahu, satu rahasia baru saja lahir yang kelak akan bertabrakan dengan rahasia lain, anak kecil yang kini masih tenang di rahim Lia, jauh di desa.
.
Riri duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata. Tak ada yang berubah dari penampilannya—tak seorang pun akan curiga.
Tapi ia tahu, ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh diam-diam di dalam dirinya.
Fanya menutup pintu kamar dengan hati-hati. Tatapannya memastikan tidak ada siapa pun di lorong apartemen. Setelah yakin aman, ia kembali duduk di samping anaknya.
“Mulai sekarang,” ucapnya pelan, “tidak ada yang tahu. Kamu tetap beraktivitas seperti biasa.”
Riri mengangguk. Suaranya hampir tak keluar. “Ma… aku takut.”
Fanya menggenggam tangannya. “Mama juga. Tapi kita harus hati-hati. Waktu tidak di pihak kita.”
Yang paling menghantui mereka berdua adalah kenyataan yang tak terucapkan:
Kehamilan ini tidak mungkin anak Krisna.
Krisna saat itu masih menghilang, pergi tanpa kabar, dunia seakan menelannya.
Nama lain terlintas di kepala Riri – Kevin – dan dadanya mencubit sendiri.
“Yang penting sekarang satu,” lanjut Fanya, suaranya berubah tegas. “Kita pastikan kamu menikah sebelum ada yang menyadari apa pun. Setelah itu… semuanya akan terlihat wajar.”
Riri menunduk. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan dipenuhi rahasia seperti ini.