Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?
"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"
"Kenapa kalian bohong kepadaku?"
"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Ketenangan yang menghanyutkan
Yudis kembali pulang ke rumah usai berbicara panjang dengan keluarga Liana dan tujuannya telah terpenuhi. Ia melihat sekeliling keadaan rumah yang tenang tak biasa. Merasa ada yang aneh, pria itu pun memanggil Liana.
"An? Kamu ada di dalam?" Ia masih berdiri di ambang pintu. Pandangannya mengedar dan sesaat kemudian terdengar suara pintu dibuka.
Cklek...!
"Oh, dia ada rupanya...," ujar Yudis dalam hati dengan perasaan lega karena wanita itu gak melakukan hal yang macam-macam.
"Mas Yudis, darimana?" Tanya wanita itu yang mengembangkan senyuman tipis samar. Ia berjalan mendekati pria itu.
"Ya habis ketemu klien 'kan," ujarnya dengan santai. "Oh ya, aku bawakan kamu nasi goreng seafood. Cobain ini enak!" Yudis memberikan bingkisan itu kepada Liana.
Wanita itu mengernyit sesaat, namun ekspresi nya kembali berubah menjadi senyuman. "Makasih ya, Mas," ucapnya terdengar ramah.
"Kamu makan aja, aku mau ganti baju dulu di atas." Yudis sempat menepuk bahu Liana dengan pelan, lalu setelahnya ia beranjak menaiki tangga, menuju ruangan kamarnya yang memang terpisah dari Liana.
Liana yang berada di bawah menatap geram ke arah Yudis. Apa Yudis berpikir hanya dengan sebuah makanan, kebenciannya pada Tiara akan hilang begitu saja?
Wanita itu berjalan kembali ke dalam ruangan kamar, menutup pintunya rapat-rapat. Lalu Liana berjalan ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membuang makanan yang dibelikan Yudis untuknya.
Nasi goreng seafood? Hah, Liana malah tidak suka dengan makanan itu. Itu adalah makanan kesukaan Tiara, bukan dirinya. Ah, setelah diingat kembali semua makanan yang terakhir kali dibelikan Yudis untuk dirinya, semua itu kesukaan Tiara juga.
Dia memang bersahabat dengan Tiara bahkan memiliki cukup banyak kesukaan jenis makanan, minuman bahkan style pakaian. Semuanya mirip. Tapi yang diingat Yudis semua hanya kesukaannya Tiara. Liana harus berpura-pura memiliki selera yang sama agar Yudis bisa mengingat dirinya. Itu menyebalkan, karena ia harus mengalah.
Rasa bencinya semakin memuncak saat Tiara ternyata menyukai Yudis, pria yang selama ini dekat dengannya dan tanpa ada ucapan kata atau minta maaf, dia baru tau kalau sebenarnya Tiara dan Yudis berpacaran sejak beberapa bulan tanpa ia ketahui.
"Aku gak akan membiarkan kamu bahagia sama Yudis, Ra! Aku gak rela kamu rebut Yudis dari aku," ucapnya dengan tangan yang terkepal kuat penuh tekad.
Liana kali ini bersumpah kalau dirinya tidak akan kalah lagi dari Tiara dan gak akan ada satu orang pun yang bisa merusak kebahagiaan dan mimpinya dengan Yudis. Para pengganggu harus segera disingkirkan sejauh-jauhnya.
Liana kembali berjalan ke depan sambil membawa bekas box nasi goreng tersebut menuju dapur dan membuang box tersebut dengan santai.
Yudis tentunya tidak akan mengira kalau ketenangan Liana adalah titik api yang akan segera membakar apa saja di sekitarnya kalau terlalu lama dibiarkan berkorbar tanpa adanya usaha untuk dipadamkan.
.
.
Keesokan harinya Yudis berangkat kerja seperti biasa. Tak ada yang mencurigainya kalau ia telah mendapatkan kesepakatan itu. Kecuali Liana. Tentu dia tahu karena ibunya yang melapor kemarin. Saat ini Yudis pasti berniat untuk memberikan cek itu kepada Tiara atau malah mencairkannya langsung ke dalam rekening.
Tapi Liana tentu tidak bodoh. Dia langsung menelepon pihak bank pagi itu sebelum Yudis berhasil sampai. Dalam keterangannya Liana mengatakan kepada pihak bank kalau rekening milik suaminya telah digunakan oleh suaminya sendiri untuk pencucian uang sebesar 1 milyar dan meminta pihak bank memblokir rekening tersebut untuk sementara.
Pihak bank yang menerima kabar itu dengan sigap merespon dan langsung melakukan apa yang diminta oleh Liana, karena kasus ini jatuhnya sudah ke ranah hukum dan berbahaya.
"Biar kau rasa, Mas," ucapnya tersenyum puas karena rencananya berjalan dengan lancar. Dengan begini, Yudis enggak akan bisa membawa uang itu pergi dan dia juga Tiara gak akan bisa pergi ke luar kota.
.
.
Di sisi lain Yudis tampak sedang berdiri dengan kesal dan merutuk karena cek yang baru saja ia terima tidak bisa masuk ke dalam rekening miliknya. Setelah ditelusuri rekeningnya itu ternyata diblok oleh pihak bank tanpa sepengetahuannya.
Pria itu langsung marah tak terima, dan meminta penjelasan. Wanita yang sedang bertugas itu langsung tersentak begitu dibentak keras.
"Maaf, Tuan, ta-tapi kami mendapat laporan untuk memblokir rekening anda sementara..., ka-karena adanya niat pencucian uang dengan jumlah transaksi se-sebesar 1 milyar," ucap wanita itu dengan sedikit gemetar. Ayolah, ini pertama kalinya dia bekerja, tapi ia sudah harus melayani pelanggan yang emosional.
"Apa maksudnya pencucian uang? Siapa yang berani melaporkannya?!" Yudis menggebrak meja di depannya dengan suara keras. "Cek ini bukan hasil merampas!" Yudis sampai menunjukkan lembaran cek itu kepada sang petugas bank.
"Sa-saya hanya menjalankan tugas, Pak! Mohon maaf, ini perintah atasan saya," ujar si wanita ketakutan dan meminta maaf kepada Yudis.
"Hmph, ini keterlaluan!" Yudis pun mendengus.
Seorang petugas keamanan akhirnya menghampiri Yudis dan meminta pria itu untuk segera pergi meninggalkan bank tersebut.
Yudis tak ada pilihan dan akhirnya berjalan keluar kesal.
"Sial! Apa lelaki tua itu sudah menipu dan bikin konspirasi?" Geramnya sambil duduk di dalam mobil. Tangannya kemudian dengan cepat menelepon nomor telepon ayahnya Liana itu. Namun, teleponnya sama sekali tak diangkat, membuat Yudis semakin emosi.
"Apa sih maunya lelaki itu?" Yudis terpaksa pergi tanpa mendapatkan hasil dan memilih untuk pergi ke kantor langsung.
.
.
Di kantor pria itu berjalan dengan langkah kesal. Wajahnya muram tampak tak bersahabat yang langsung memicu tanda tanya besar, apa yang terjadi dengannya.
Saat itu Sasya langsung menghentikan langkah pria itu
"Yudis, Tunggu!" Ia berteriak lalu mengejar langkah pria itu.
"Aku lagi gak mau membicarakan soal Liana hari ini, aku gak mood," balas Yudis penuh emosi yang sudah defensif duluan sebelum Sasya berkata sesuatu.
"Tapi ini penting!" Balas Sasya berusaha mengikuti Yudis yang hampir sampai tiga di ruangan kerjanya.
"Hmph...." Yudis menghela napasnya sejenak lalu berdiri di depan ruangan. Kemudian ia berbalik menatap Sasya yang terlihat panik campur cemas. "Katakan ada apa, kalau tidak aku mau masuk," ujarnya kemudian.
"Dis, coba kamu baca ini Instagram nya Liana." Sasya memperlihatkan ponselnya dan menunjukkan isi story yang baru saja dibuat oleh Liana.
Aku gak akan memaafkan pengkhianatan! Siapapun orang yang telah menyakiti akan aku balas!
Itu adalah kata-kata yang tertulis pada Instagram Liana. Mendadak pria itu jadi cemas dan pikirannya kembali kepada Tiara.
"Dis, lu gak bikin masalah sama Liana 'kan?" Tanya Sasya curiga.
"Bagus kalau dia tau semua, berarti dia sadar siapa yang menjadi pihak ketiga selama ini," balas Yudis seolah menantang.
"Gila lu? Lu gak takut terjadi sesuatu pada Tiara?" Sasya hanya bisa geleng-geleng melihat sikap Yudis yang seolah sudah tak bisa berpikir jernih. Yah, meski dia sadar sih, siapapun gak bakal bisa berpikir waras kalau berada di dalam posisi Yudis. Dia harus memainkan peran, sandiwara hanya demi obsesi seorang perempuan lain.
"Semoga saja masalah ini bisa selesai dengan damai," gumam Sasya pelan saat Yudis sudah masuk ke ruangannya sendiri.
.
.
.
Bersambung....
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...