Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Demam Tinggi di Kosan Sempit
Senin pagi di RS Citra Harapan terasa aneh. Matahari bersinar, burung berkicau, tapi ada sesuatu yang hilang. Tidak ada suara teriakan, "KEVIN! STATUS PASIEN MANA?!" yang biasanya menggema di lorong UGD pukul 07.00 tepat.
Dr. Adrian berdiri di Nurse Station, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya yang terawat ke meja marmer.
"Dia belum datang?" tanya Adrian tanpa menoleh.
Suster Yanti menggeleng cemas. "Belum, Dok. Tumben banget. Biasanya kalau telat semenit aja dia udah chat sambil marah-marah di grup WA. Ini ditelepon nggak diangkat. WA centang satu."
"Apa dia masih marah gara-gara saya paksa makan batagor kemarin?" gumam Adrian pada dirinya sendiri.
"Kevin," panggil Adrian pada koas yang sedang mengantuk di pojokan. "Kamu tahu di mana kosan Dr. Rania?"
Kevin langsung tegak. "Tahu, Dok! Saya pernah disuruh ambil laundry beliau pas motornya mogok. Di Gang Kelinci, belakang pasar kaget."
Adrian mengerutkan kening. "Gang Kelinci? Pasar kaget? Daerah macam apa itu?"
"Daerah padat penduduk, Dok. Mobil nggak bisa masuk."
Adrian menghela napas panjang. Dia melihat jam tangannya. Jadwal operasinya baru mulai jam 1 siang.
"Yanti, kalau ada konsul, hold dulu. Saya mau... inspeksi lapangan."
Satu jam kemudian.
Sebuah sedan sport mewah berwarna hitam mengkilap berhenti canggung di depan gapura "Gang Kelinci". Warga sekitar—tukang ojek pangkalan, ibu-ibu berdaster yang sedang belanja sayur, dan anak-anak kecil—menatap mobil itu seolah melihat UFO mendarat.
Adrian turun dari mobil. Dia mengenakan kemeja putih (lengan digulung) dan kacamata hitam. Dia memeriksa GPS di ponselnya, lalu menatap lorong gang yang sempit, becek sisa hujan, dan penuh jemuran pakaian dalam.
"Tantangan diterima," bisik Adrian.
Dia berjalan masuk, melangkah hati-hati menghindari genangan air comberan agar sepatu kulit Italia-nya tidak ternoda.
"Permisi," Adrian bertanya pada seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya. "Kosan Bu Haji Ida di mana ya?"
Ibu itu melongo, sendok makan menggantung di udara. "Masya Allah... ganteng amat. Mas ini artis sinetron ya? Mau syuting 'Azab Dokter Ganteng'?"
Adrian memaksakan senyum kaku. "Bukan, Bu. Saya teman Dr. Rania."
"Oalah! Pacarnya Neng Rania? Tuh, rumah pager hijau yang banyak pot kembangnya!"
Adrian sampai di sebuah rumah tingkat dua. Dia mengetuk pintu. Muncul wanita paruh baya bertubuh subur—Ibu Kos.
"Cari Rania? Wah, untung Mas datang. Dari tadi pagi nggak keluar kamar. Ibu ketuk nggak nyahut. Ibu takut dia kenapa-napa, mau mendobrak tapi takut ganti rugi pintu," cerocos Ibu Kos.
Jantung Adrian mencelos. "Kamar nomor berapa, Bu?"
"Atas, pojok kanan. Masuk aja, Mas. Pintunya nggak dikunci kayaknya."
Adrian tidak menunggu dua kali. Dia menaiki tangga sempit itu setengah berlari.
Kamar itu kecil. Ukurannya mungkin hanya 3x3 meter. Setengah dari ukuran kamar mandi Adrian.
Begitu Adrian membuka pintu, aroma minyak kayu putih dan hawa panas langsung menyergap.
Kamarnya berantakan. Buku-buku kedokteran tebal berserakan di lantai. Pakaian (bersih dan kotor bercampur) menumpuk di kursi plastik. Di dinding tertempel jadwal jaga yang dicoret-coret spidol merah.
Dan di tengah kekacauan itu, di atas kasur busa tipis yang dialasi sprei motif Hello Kitty yang sudah pudar, Rania terbaring meringkuk di bawah selimut tebal.
"Rania?" panggil Adrian pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat dan ngorok halus.
Adrian mendekat. Dia duduk di tepi kasur (setelah menyingkirkan tumpukan majalah Bobo—serius, dia baca Bobo?). Dia meletakkan punggung tangannya di dahi Rania.
Panas. Sangat panas.
"Astaga, 39 derajat lebih ini," gumam Adrian. Dia memeriksa tangan kanan Rania yang diperban. Perbannya agak basah dan kotor. "Infeksi sekunder. Ditambah kelelahan ekstrem. Dasar ceroboh."
Rania melenguh pelan, matanya terbuka sedikit. Sayu dan merah. Dia melihat sosok buram di depannya.
"Malaikat Maut?" bisik Rania serak. "Kok ganteng? Pake kacamata Ray-Ban lagi."
Adrian melepas kacamata hitamnya. "Bukan. Ini Dokter Spesialis Bedah Plastik yang tarif konsultasinya terlalu mahal buat kamu bayar."
Rania mengerjap, mencoba memproses realitas. "Adrian? Lo ngapain di sini? Jangan liat... kamar gue kapal pecah..."
Rania mencoba bangun, menarik selimut menutupi tumpukan baju kotornya, tapi kepalanya pusing hebat. Dia jatuh kembali ke bantal.
"Diam," perintah Adrian tegas. "Kamu sakit tifus atau infeksi luka. Jangan banyak gerak."
Adrian berdiri. Dia membuka jasnya, melipatnya rapi, dan meletakkannya di satu-satunya tempat bersih: di atas lemari. Lalu dia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi.
"Lo mau ngapain?" tanya Rania lemah.
"Pertama, saya akan membersihkan 'zona bencana biologis' ini supaya sirkulasi udara lancar. Virus betah banget di kamar kayak gini," kata Adrian sambil memungut sampah tisu di lantai dengan dua jari.
"Jangan sentuh-sentuh barang gue... privasi..." protes Rania, tapi suaranya hilang ditelan batuk.
Selama 30 menit berikutnya, Rania hanya bisa menonton tanpa daya saat Adrian—sang pangeran perfeksionis—berubah menjadi cleaning service paling elegan sedunia.
Adrian merapikan buku-buku Rania (disusun berdasarkan warna cover dan ketebalan).
Dia memisahkan baju kotor ke keranjang.
Dia membuka jendela agar udara segar masuk.
Dia bahkan menemukan gelas kopi berjamur di kolong meja dan membuangnya dengan ekspresi jijik yang dramatis.
"Kamar sudah steril," lapor Adrian. Dia mencuci tangannya di wastafel kecil di sudut kamar dengan sabun cair yang dia bawa sendiri dari saku celananya.
Lalu Adrian kembali ke sisi Rania. Wajahnya berubah lembut.
"Sekarang giliran pasiennya," kata Adrian.
Dia membuka tas P3K travel-nya (yang sepertinya selalu dia bawa). Dia mengganti perban di tangan Rania yang infeksi. Dia membersihkan lukanya dengan telaten, memberikan salep antibiotik baru.
Rania meringis sedikit. "Perih..."
"Tahan. Ini karena kamu kena air hujan kemarin dan nggak langsung diganti," omel Adrian, tapi tangannya meniup pelan luka itu.
Setelah luka beres, Adrian mengeluarkan plester kompres demam. Dia menempelkannya di dahi Rania.
"Udah makan?" tanya Adrian.
Rania menggeleng. "Mual. Nggak ada makanan."
"Tunggu sebentar."
Adrian keluar kamar. Rania mendengar dia bicara dengan Ibu Kos di bawah. Sepuluh menit kemudian, Adrian kembali membawa mangkuk bergambar ayam jago. Aromanya gurih. Bubur ayam.
"Bangun. Makan," titah Adrian.
Rania berusaha duduk bersandar di tembok. "Suapin dong. Tangan gue sakit dua-duanya. Yang kanan luka, yang kiri lemes."
Rania sebenarnya cuma bercanda, mengetes batas kesabaran Adrian. Tapi Adrian tidak mendebat.
Dia duduk di kursi plastik yang ditarik ke dekat kasur, mengaduk bubur itu, meniupnya sampai hangat kuku, lalu menyodorkan sendok ke mulut Rania.
"Buka mulut," kata Adrian datar.
Rania membuka mulut, menerima suapan itu. Buburnya enak. Atau mungkin karena disuapi oleh pria yang biasanya dia ajak berantem, rasanya jadi seribu kali lebih enak.
"Lo... nggak takut ketularan kuman gue?" tanya Rania sambil mengunyah.
"Saya sudah minum vitamin C dosis tinggi dan pakai hand sanitizer tiga kali dalam sepuluh menit terakhir," jawab Adrian tanpa jeda menyuapi.
Hening sejenak. Rania menatap Adrian lekat-lekat. Di ruangan sempit ini, dengan cat tembok yang mengelupas dan sprei Hello Kitty, Adrian terlihat sangat... out of place, tapi sekaligus sangat pas.
"Ad," panggil Rania pelan.
"Habiskan dulu, tinggal tiga suap."
"Kenapa lo lakuin ini? Lo bisa aja nyuruh Kevin atau Yanti."
Adrian berhenti menyendok. Dia menatap bubur di mangkuk itu seolah mencari jawaban di sana.
"Kevin ceroboh, dia pasti bakal numpahin bubur ke sprei kamu. Yanti berisik, kamu butuh istirahat, bukan gosip," jawab Adrian logis.
"Cuma itu?"
Adrian mengangkat wajahnya. Tatapan mereka terkunci.
"Dan... saya nggak suka lihat meja operasi kosong. Rumah sakit jadi sepi kalau nggak ada suara cempreng kamu yang marahin koas."
Rania tersenyum lemah. "Dasar tsundere."
"Apa itu tsundere? Istilah medis?"
"Cari di Google."
Setelah bubur habis dan Rania minum obat penurun panas, kantuk menyerang lagi. Obatnya bekerja cepat.
Adrian membereskan mangkuk kotor. "Tidur, Rania. Saya harus balik ke RS buat operasi jam 1."
Rania mengangguk, matanya sudah setengah terpejam. "Ad... kunci pintu ya pas keluar. Kuncinya dicantolin di paku."
Adrian mengangguk. Dia mengambil jasnya, memakainya kembali. Dia terlihat rapi lagi, seolah tidak baru saja membersihkan kosan berantakan.
Sebelum keluar, Adrian menatap Rania yang sudah meringkuk lagi di bawah selimut.
"Cepet sembuh, Partner," bisik Adrian.
Dia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur kecil.
Saat pintu tertutup dengan bunyi klik pelan, Rania tersenyum dalam tidurnya. Dia tidak merasa sendirian lagi di kota besar yang kejam ini.
Dan di luar, di dalam mobil mewahnya, Adrian menyemprotkan disinfektan ke seluruh tubuhnya sambil tersenyum geli. Dia baru sadar satu hal: Sprei Hello Kitty itu... entah kenapa terlihat lucu juga.
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget