sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Aku kembali ke Eruditio tanpa pengumuman apa pun.
Kota itu tidak banyak berubah. Menara-menara batu masih berdiri dengan garis-garis ukiran lama, jembatan kecil masih menghubungkan lorong-lorong sempit, dan aroma logam bercampur kertas tua masih mengambang di udara. Eruditio selalu seperti ini—tenang di permukaan, sibuk di dalam kepala para penghuninya.
Aku datang sebagai orang asing.
Jubahku sederhana, langkahku pelan. Aku menahan diri untuk tidak menoleh terlalu sering, meski naluri lamaku masih bekerja. Eruditio mungkin kota ilmu, tapi ia juga tempat bertemunya banyak mata dan telinga. Dan bagiku, itu berarti bahaya yang terselubung rapi.
Aku berhenti di sebuah kedai kecil dekat perpustakaan lama. Tempat itu dulu sering kukunjungi—bukan untuk makan, tapi untuk bertemu seseorang yang selalu datang dengan buku di tangan dan ide di kepalanya.
“Tehnya masih terlalu pahit,” suara itu terdengar dari belakangku, santai seperti dulu.
Aku menoleh.
Sora.
Ia duduk di sudut kedai, rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya lebih dewasa, tapi sorot matanya sama—tajam, penasaran, dan terlalu cepat memahami banyak hal. Ia menatapku tanpa senyum berlebihan, seolah memastikan aku benar-benar nyata.
“Kau terlambat beberapa tahun,” katanya.
Aku menarik kursi di depannya dan duduk. “Kau masih menghitung waktu dengan cara yang sama.”
Ia tersenyum kecil. “Beberapa kebiasaan sulit hilang.”
Kami tidak berjabat tangan. Tidak berpelukan. Pertemuan kami tidak membutuhkan itu. Ada keheningan singkat yang tidak canggung—jenis keheningan yang hanya dimiliki dua orang yang pernah berbagi terlalu banyak tanpa perlu mengatakannya lagi.
“Aku dengar kau menghilang,” kata Sora akhirnya.
“Aku juga dengar kau tidak berhenti mencari jawaban,” balasku.
Ia terkekeh pelan. “Eruditio tidak menyukai pertanyaan yang selesai.”
Aku mengangguk. Itu benar. Kota ini hidup dari keraguan yang terstruktur, dari hipotesis yang tidak pernah benar-benar mati.
Sora menatapku lebih lama. “Kau terlihat lebih… ringan,” katanya. “Tapi juga lebih kosong.”
Aku tidak menyangkal.
“Apa yang membawamu kembali?” tanyanya.
Aku menatap cangkir di depanku. Asap tipis naik perlahan. “Tempat ini dulu mengajariku berpikir,” kataku. “Aku perlu mengingat bagaimana caranya… sebelum semuanya hanya tentang bertahan.”
Ia tidak langsung menjawab. Ia selalu seperti itu—memberi ruang pada kata-kata untuk mendarat.
“Kau tahu,” katanya pelan, “Eruditio tidak netral seperti yang orang kira. Banyak yang datang kemari untuk bersembunyi. Banyak juga yang datang untuk mencari.”
“Aku tahu,” jawabku. “Aku melakukan keduanya.”
Ia tersenyum samar. “Keluarga Lin pernah bertanya tentangmu.”
Dadaku menegang, tapi wajahku tetap tenang. “Dan?”
“Aku bilang aku tidak tahu,” katanya. “Itu bukan kebohongan. Kau memang sulit ditemukan.”
Aku menatapnya. “Terima kasih.”
Sora mengangkat bahu. “Jangan berutang padaku. Itu merepotkan.”
Kami tertawa kecil—tawa singkat, tapi jujur. Sudah lama aku tidak tertawa tanpa rasa bersalah.
Kami berbicara tentang hal-hal yang aman. Tentang riset terbaru. Tentang murid-murid baru yang terlalu percaya diri. Tentang bagaimana Eruditio mulai berubah—lebih tertutup, lebih berhati-hati.
“Dunia di luar membuat semua orang takut,” kata Sora. “Bahkan kota ilmu pun belajar cara bersembunyi.”
Aku teringat Ecy. Cara ia tidak pernah mengejarku, tidak pernah memintaku tinggal. Cara ia memilih hidup sederhana di dunia yang keras. Kontras dengan Eruditio yang rumit, penuh teori dan rencana.
“Kau akan tinggal?” tanya Sora.
Aku menggeleng pelan. “Tidak lama.”
Ia mengangguk, seolah sudah tahu jawabannya sejak awal. “Kalau begitu,” katanya, “gunakan waktumu dengan baik.”
Sebelum kami berpisah, Sora menyerahkan sebuah catatan kecil. “Alamat lama,” katanya. “Jika kau perlu tempat berpikir tanpa gangguan.”
Aku menerima kertas itu. “Kau selalu tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.”
Ia tersenyum. “Itu sebabnya kau kembali ke sini.”
Aku meninggalkan kedai dengan langkah lebih mantap. Eruditio tidak memberiku jawaban, tapi ia memberiku sesuatu yang hampir terlupa: ruang untuk bernapas dan seseorang yang mengingat siapa aku sebelum semua ini.
Dan untuk sementara… itu cukup
...****************...
Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan Sora sejak ia tidak menatap mataku terlalu lama.
Bukan karena takut—Sora tidak pernah takut—melainkan karena ia sedang menimbang, seperti biasa. Ia selalu begitu saat memegang informasi yang bisa mengubah banyak hal. Dulu, saat kami masih belajar bersama di Eruditio, ia akan diam lebih lama, bicara lebih pelan, dan memilih kata dengan presisi yang membuatku tidak nyaman.
Catatan kecil yang ia berikan terasa lebih berat dari kertas biasa.
Aku tidak langsung membukanya. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong Eruditio, melewati perpustakaan tua, bengkel riset, dan menara observasi yang dulu sering kami kunjungi. Kota ini penuh kenangan—dan kenangan adalah tempat paling berbahaya untuk orang sepertiku.
Malamnya, di kamar sempit penginapan, barulah aku membuka catatan itu.
Bukan alamat.
Itu kode.
Kode lama Eruditio. Kode yang hanya digunakan untuk komunikasi tingkat tinggi—biasanya untuk riset terlarang atau laporan yang tidak boleh tercatat resmi. Dadaku mengeras. Sora tidak sembarangan menggunakan kode itu.
Aku mengikuti petunjuknya ke ruang bawah tanah sebuah gedung arsip yang sudah lama ditutup untuk umum. Di sanalah aku menemukannya lagi, berdiri di depan pintu besi tua yang penuh simbol pengaman.
“Kau datang,” katanya tanpa menoleh.
“Kau bohong soal alamat,” kataku.
Ia menghela napas pendek. “Aku menunda kebenaran.”
Pintu itu terbuka, memperlihatkan ruangan berisi peta, dokumen, dan alat pemantau sederhana. Di dinding utama, terpasang sebuah peta besar—jalur pergerakan klan-klan besar, termasuk satu nama yang membuatku berhenti bernapas sesaat.
Keluarga Tong.
“Kau masih memantaunya,” kataku.
“Aku memantau semua kekuatan besar,” jawab Sora. “Termasuk Lin. Termasuk sisa Scarlet.”
Aku menoleh tajam. “Dan aku?”
Ia akhirnya menatapku. “Terutama kau.”
Keheningan jatuh di antara kami.
Sora menjelaskan bahwa Eruditio bukan sekadar kota ilmu lagi. Ia menjadi pusat informasi. Banyak klan, keluarga, dan kekuatan bayangan menitipkan pertanyaan mereka di sini. Dan salah satu pertanyaan terbesar dalam tiga tahun terakhir adalah satu nama yang sengaja kuhapus dari dunia.
Kenzy.
“Keluarga Lin ingin kepastian,” kata Sora pelan. “Apakah kau hidup. Apakah kau masih berbahaya.”
“Apa jawabanmu?” tanyaku.
Ia menunduk sesaat. “Aku bilang kau hilang.”
Aku mengangguk pelan. Itu terdengar seperti kebenaran setengah utuh.
“Tapi,” lanjutnya, “beberapa orang di Eruditio tidak puas dengan ketidakpastian.”
Ia mengeluarkan sebuah dokumen. Rencana. Analisis. Simulasi konflik.
“Mereka ingin memancingmu keluar,” katanya. “Dan cara terbaik… adalah lewat orang yang pernah dekat denganmu.”
Aku langsung tahu siapa yang ia maksud.
Ecy.
Aku merasakan dingin merambat di tulang belakangku. “Kau memberi mereka namanya?”
“Tidak,” jawab Sora cepat. “Dan aku tidak akan.”
Aku menatapnya lama. “Tapi kau tahu tentang dia.”
Ia mengangguk. “Aku tahu cukup untuk tahu bahwa dia berbahaya—bukan bagi dunia, tapi bagi keputusanmu.”
Itu pukulan yang tepat sasaran.
Sora melangkah mendekat. “Kenzy, aku menyembunyikan ini bukan untuk mengkhianatimu. Aku menyembunyikannya karena jika kau tahu lebih cepat, kau akan bereaksi… dan itu akan mempercepat segalanya.”
“Segalanya apa?” tanyaku.
“Perburuan terakhir.”
Aku menghela napas panjang. Semua kembali berputar seperti dulu. Strategi. Bayangan. Risiko. Tidak ada tempat yang benar-benar netral.
“Kau memanfaatkan persahabatan kita,” kataku datar.
Ia tidak menyangkal. “Dan aku juga melindungimu sebisaku.”
Kami berdiri saling berhadapan—bukan sebagai murid dan teman lama, tapi sebagai dua orang yang memilih jalan berbeda demi alasan yang sama: bertahan.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanyaku.
Sora menatap peta di dinding. “Pergilah sebelum Eruditio tidak lagi bisa pura-pura tidak tahu.”
Aku mengepalkan tangan. “Dan jika aku tidak pergi?”
Ia menatapku dengan ekspresi yang jarang kulihat—bukan dingin, bukan tenang, tapi lelah.
“Maka aku harus memilih antara kota ini… atau kau.”
Aku tersenyum pahit. “Kau selalu pandai membuat pilihan terdengar rasional.”
Ia membalas dengan senyum tipis. “Dan kau selalu pandai menjadi variabel yang mengacaukannya.”
Aku melangkah pergi malam itu dengan satu kesimpulan pahit:
Sora bukan pengkhianat.
Tapi ia juga bukan lagi sekutuku sepenuhnya.
Ia menyembunyikan rahasia bukan karena benci—
melainkan karena dunia memaksanya memilih.
Dan seperti aku…
ia memilih jalan yang paling sedikit meninggalkan darah di tangannya.