Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan dukungan dari sang Ayah.
Hawa memilih menghabiskan bulan madunya bersama Adam hanya di kawasan Dufan dan Ancol. Permintaan itu begitu sederhana, hampir menyedihkan, jika dibandingkan dengan kemampuan Adam yang bisa membawa istrinya ke negeri mana pun di dunia.
Hawa Aluna tampil cantik dengan balutan sederhana. Senyumnya tipis, dipaksakan. Adam pun tampak rapi dan tampan, seolah semuanya baik-baik saja. Mereka bersiap berangkat, menapaki hari yang seharusnya menjadi kenangan manis setelah sah menjadi suami istri.
Namun langkah Hawa terhenti di ambang pintu. Ia mendengar suara Adam. Lagi-lagi bertelepon.
Suara seorang wanita terdengar manja dari seberang sana, lembut, manja, penuh kepemilikan. Suara yang terlalu akrab untuk suami orang.
“Terima kasih, sayang… jam tangan ini indah sekali,” ucap wanita itu dengan nada bahagia. “Aku suka. Aku benar-benar merindukanmu, Adam. Kapan kamu kembali?”
Adam tersenyum.
“Sabarlah, beib. Dua hari lagi kita pasti bertemu.”
“Cepatlah… aku sudah tidak sabar.”
“Iya… aku juga sangat merindukanmu,” balas Adam tanpa rasa bersalah.
Setelah itu, suara Adam merendah. Percakapan berganti menjadi deretan pesan singkat, seolah ia sadar Hawa bisa mendengar dan menyakitinya.
Hawa tak bergerak. Tubuhnya terasa kosong. Ia bersandar pada dinding, perlahan meluncur turun hingga hampir terduduk.
Dadanya sesak. Napasnya berat.
“Aku harus bertahan… sedikit lagi Hawa,” gumamnya lirih, menahan jeritan yang ingin pecah dari dadanya. Bukan karena ia tidak kuat, melainkan karena ia tak punya pilihan. Ia sendirian. Tak ada yang membelanya. Tak ada tempat cerita.
Air matanya mulai jatuh satu per satu, membasahi pipinya tanpa suara.
“Dret...”
Ponselnya bergetar. Nama Karim, ayahnya, menyala di layar. Hawa tergagap. Ia buru-buru mengusap air mata, meski dadanya masih bergetar hebat. Ia menarik napas panjang, memaksa suaranya agar terdengar normal.
“Bapak…”
“Hawa… Nak,” suara Karim terdengar hangat, namun lelah. “Kamu di mana?”
“Di rumah, Pak,” jawab Hawa pelan.
“Bapak sudah benar-benar sehat?"
"Bapak sudah sehat sekarang. Tapi Bapak mengkhawatirkan mu, Wa?” Karim terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara parau, “Apakah kamu benar-benar bahagia menikah bersama Adam?”
Pertanyaan itu menghantam Hawa lebih keras dari apa pun. Bibirnya bergetar. Tangannya gemetar menahan ponsel. Ia menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris pecah.
“Ba… baik, Pak,” jawabnya terbata.
Karim menghela napas panjang. “Kamu bohong, Nak.”
Air mata Hawa luruh.
“Bapak tahu,” lanjut Karim lirih, “Adam bukan pria yang kamu inginkan. Bukan pria yang kamu cintai.”
Benteng terakhir Hawa runtuh. Isaknya pecah tak tertahankan.
“K-kenapa Bapak bisa tahu?” tanyanya di sela tangis.
“Karena kamu adalah darah daging Bapak,” jawab Karim penuh luka.
“Hawa,” suara Karim bergetar, “kalau kamu tidak bahagia, kalau kamu tidak dicintai, jangan pernah merasa berdosa untuk mengakhiri pernikahan itu.”
Hawa terisak semakin keras. Dadanya terasa robek.
“T-tapi Hawa sudah terjebak dalam wasiat itu, Pak… Hawa tidak punya pilihan…” suaranya hancur airmatanya berderai.
“Dengar Bapak baik-baik,” kata Karim tegas. “Bapak rela kehilangan nyawa demi menggagalkan wasiat itu.”
“Bapak…” suara Hawa melemah.
“Bapak lebih memilih mati,” lanjut Karim dengan suara bergetar, “daripada hidup melihat anak perempuannya disiksa dalam pernikahan.”
Hawa menangis tersedu-sedu.
“Dari awal Adam sudah mempermainkan seenaknya perjodohan ini. Harun juga,” suara Karim penuh amarah yang tertahan. “Mereka menginjak harga diri Bapak dan perlahan sudah menghancurkan kebahagianmu”
“Bapak…” Hawa menggigit bibirnya, dadanya terasa hendak meledak.
“Ayah mana yang sanggup melihat anak perempuannya diperlakukan seperti barang titipan?” ucap Karim lirih. “Kamu berhak bahagia, Nak. Kamu tidak pantas disakiti seperti ini, Bapak tidak terima.”
Hawa terdiam, tangisnya mereda menjadi isak kecil.
“Kalau kamu ingin bercerai,” lanjut Karim lembut namun mantap, “Bapak yang akan berdiri paling depan. Bapak yang akan mengurus semuanya.”
Kalimat itu seperti cahaya di lorong gelap. Tubuh Hawa bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena harapan.
“Bapak yakin,” tambah Karim, “akan ada pria yang mencintaimu dengan tulus. Yang menjaga, bukan melukai.”
“Hawa…” suara Hawa nyaris tak terdengar. “Hawa menyukai rekan kerja Hawa, Pak. Dia seorang dokter…”
“Bapak mendukungmu,” jawab Karim tanpa ragu. “Jangan lagi menyiksa dirimu demi orang yang tak pernah memikirkanmu.”
Air mata Hawa kembali jatuh, kali ini bercampur kelegaan.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya dengan suara bergetar. “Hawa bangga… punya Bapak.”
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Hawa merasa tidak sendirian. Ada seseorang yang memilih kebahagiaannya, meski harus mempertaruhkan segalanya.
Pukul dua siang menjelang sore, Adam dan Hawa akhirnya berangkat menuju Ancol. Langit cerah dengan semburat biru yang lembut seolah ikut merestui perjalanan mereka.
Adam sesekali melirik ke arah Hawa yang duduk di sampingnya. Senyum di wajah pria itu begitu berseri, seolah dunia hari ini berjalan sesuai keinginannya.
Tangan Adam perlahan meraih jemari Hawa, menggenggamnya erat namun lembut. Sesekali ia mengangkat tangan itu, mengecup telapak Hawa dengan penuh kasih.
“Setelah ini mau ke mana lagi?” tanya Adam lembut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Kamu tinggal bilang saja. Hari ini milik kamu sepenuhnya, sayang.”
Hawa hanya tersenyum tipis.
Setibanya di Dufan, tawa dan riuh pengunjung menyambut mereka. Hawa tampak antusias, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke dunia penuh warna.
Adam tersenyum melihatnya, ada rasa bahagia yang sederhana namun dalam di dadanya. Ia membiarkan Hawa menarik tangannya, berlari kecil menuju wahana demi wahana, sementara angin sore mengibaskan pakaian mereka.
Mereka mencoba berbagai permainan, dari yang memacu adrenalin hingga yang santai. Setiap teriakan Hawa saat wahana melaju cepat selalu diakhiri dengan tawa renyah dan genggaman tangan Adam yang semakin erat. Adam tak henti melindungi, berdiri di sisi Hawa, memastikan istrinya merasa aman dan nyaman. Sesekali ia mengecup puncak kepala Hawa penuh kasih.
Lanjut Adam dan Hawa melangkah menuju Sky Dining. Kabin makan yang menggantung perlahan di udara itu tampak menarik, menciptakan suasana senja yang begitu istimewa. Hawa menatap sekeliling dengan mata berbinar, antara takjub dan sedikit gugup.
Adam tersenyum menenangkannya. Ia membantu Hawa masuk ke dalam kabin, lalu duduk berhadapan dengannya. Begitu pintu tertutup dan kabin mulai bergerak naik, pemandangan suasana senja di Ancol yang terbentang indah di bawah mereka. Laut indah bak lukisan diiiringi angin berhembus lembut membawa aroma yang tenang, sederhana namun sangat berkesan.
Hidangan disajikan dengan rapi di atas meja kecil di antara mereka. Namun bukan makanan yang paling mereka nikmati, melainkan suasananya yang indah. Adam sesekali menyuapi Hawa, membuat wanita itu tersenyum.
Di ketinggian, dunia terasa jauh. Adam menggenggam tangan Hawa di atas meja, jemarinya saling mengunci erat. Adam mengusap punggung tangan Hawa dengan ibu jarinya, gerakan sederhana yang sarat rasa aman dan cinta.
“Kamu suka sayang” tanya Adam lembut. “Aku cuma ingin kamu bahagia.”
Hawa tersenyum hangat, menepis hati yang bergetar, ia kembali tegar berkat dukungan sang Ayah.
Menjelang senja, mereka duduk berdua menikmati jajanan sederhana. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan cahaya keemasan yang membalut wajah mereka. Adam memandang Hawa dengan tatapan lembut penuh cinta, sementara Hawa mengunyah cemilan dengan santai.
"Dret!" ponsel Adam kembali berdering dari sosok wanita.
Adam gugup dan buru-buru menolak panggilan itu.
"Hawa kenapa di tolak!" tanya Hawa lembut?
"Enggak apa-apa sayang!" Adam merangkul Hawa.
Panggilan itu kembali menelpon.
Kali ini Hawa dengan cepat meraih ponsel Adam dan menekan tombol terima dan menyuruh Adam berbicara.
"Enggak apa-apa!" Hawa menyerahkan ponsel Adam dengan senyumannya yang manis kepada Adam.
Adam semakin gugup.
"Nanti aku telpon lagi!" ucap Adam langsung memutuskan panggilan itu dengan cepat kemudian menonaktifkan ponselnya.
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
bodoh kamu Runn
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau