Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.
Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.
Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.
Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anna apa aku boleh berharap sedikit saja???
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.
Aku menghabiskan waktu dengan mengaji dan salat malam, memohon petunjuk atas kegelisahan yang sejak kemarin mengendap di dada.
Cinta yang terlalu besar pada orang yang tidak seharusnya…
ternyata bisa membuat seseorang kehilangan arah.
Aku kembali berbaring di antara Ayyan dan Bian. Kamar itu temaram, hanya cahaya lampu tidur yang redup. Pandanganku terpaku pada langit-langit, sementara mataku menolak terpejam.
Bukan karena aku tidak lelah—
melainkan karena pikiranku belum siap berpisah.
Aku menyayangi mereka.
Dengan tulus.
Bukan semata karena aku mencintai mamanya—tidak.
Aku ada di sana saat Bian lahir.
Sebelas tahun lalu.
Di Singapura.
Aku yang mendampingi Anna saat kontraksi datang bergelombang, sementara suaminya—Mas Rian—tidak ada.
Seharusnya sejak saat itu aku curiga.
Seorang suami yang terlalu sibuk bahkan untuk menyambut kelahiran anaknya sendiri, anak pertama lagi, harusnya dia antusias bukan, tapi dia justru meminta Anna menelpon ku.
Aku masih ingat jelas malam itu.
Jam dua dini hari, ponselku berdering.
Lif… tolong…
Suara Anna gemetar di seberang sana. Ia meminta diantar ke rumah sakit.
Waktu itu ia sedang menyelesaikan studinya di Singapura—atas persetujuan Mas Rian.
Anna tinggal sendiri di sebuah apartemen di pusat kota. Padahal aku dan kakakku, Imran, juga tinggal di Singapura.
Tapi begitulah Anna.
Terlalu mandiri, orangnya gak enakan.
Terlalu terbiasa menahan semuanya sendiri.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Tangan kecil tiba-tiba melingkari pinggangku.
“Om Alif…” gumam Ayyan setengah mengantuk, tubuhnya merapat tanpa sadar.
Dadaku menghangat sekaligus perih.
Aku menoleh ke dua bocah di sisiku—napas mereka teratur, wajah mereka tenang, seolah dunia belum pernah berlaku kejam pada mereka.
“Ya Allah…” bisikku lirih, nyaris tak bersuara.
“Kalau memang boleh… izinkan aku menjaga mereka.”
malam itu, mataku sulit terpejam—
kerena hatiku tidak bisa tenang, aku terlalu lelah menahan perasaan yang sejak lama tidak punya tempat pulang, cintaku bertepuk sebelah tangan miris banget nasib ku.
“Tok… tok… nak, ayo bangun. Kita ke masjid,” suara Paman Pardi terdengar dari balik pintu kamar.
Aku memaksa membuka mata. Baru saja rasanya aku terlelap, ternyata Subuh sudah tiba. Tubuhku masih berat, tapi hati ini tahu—waktu tidak menunggu siapa pun.
“Iya, Paman… sebentar,” jawabku serak, suara khas orang yang baru bangun tidur.
Aku segera bangkit, menuju kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahku, sedikit demi sedikit mengusir sisa kantuk. Setelah bersih-bersih, aku kembali ke kamar, mengenakan jubah putih yang sudah kusiapkan semalam.
Aku menatap dua bocah yang masih terlelap di atas ranjang.
Tanganku menyentuh lengan Bian dengan lembut.
“Bian… bangun, Nak. Salat Subuh yuk.”
Bian mengerang pelan, matanya mengerjap, lalu perlahan membuka. Masih setengah sadar, tapi ia langsung mengangguk kecil.
Aku lalu beralih ke Ayyan. Bocah itu memeluk bantal erat-erat, seolah bantal itu adalah aku, dasar bocah ini bikin aku aku makin berat untuk meninggalkan mereka.
“Ayyan,” panggilku lirih sambil mengusap kepalanya.
“Bangun yuk… kita ke masjid, Nak. Kakek sudah nunggu.”
Ayyan bergumam tak jelas, lalu menggeliat, wajahnya berkerut menahan kantuk. Tapi akhirnya ia membuka mata dan menatapku, polos.
“Om Alif… dingin,” keluhnya pelan.
Aku tersenyum kecil.
“Iya, makanya kita ke masjid. Biar hatinya ikut hangat.”
Pelan-pelan, pagi itu kami bangun.
Bukan sekadar untuk salat Subuh—
tapi untuk menguatkan sesuatu yang diam-diam sedang aku jaga:
ikatan kecil yang entah kapan berubah menjadi amanah besar.Kami berangkat ke masjid bersama-sama. Udara pagi masih dingin, embun belum sepenuhnya menghilang. Ternyata Mace dan Anna ikut juga.
Saat berpapasan, Anna tersenyum manis ke arahku.
Dan jantungku… hampir saja melompat keluar dari tempatnya.
Senyum itu tipis sekali, tapi efeknya keterlaluan.
“Pagi, Lif,” sapanya pelan.
“Gimana rasanya tidur sama mereka?”
Ia menyeringai kecil. “Nggak ditendang, kan?”
Aku terkekeh pelan, berusaha menyembunyikan bahagia yang terlalu kentara, mungkin saja wajah bereaksi aku cuma berharap gak ada yang sadar.
“Sedikit sih,” jawabku santai.
“Ayyan peluk bantal kayak peluk aku. Bian lebih kalem, cuma muter-muter, doang, An.”
Anna tertawa kecil, tertahan, tapi membuat hatiku hangat.
“Syukurlah. Mereka emang suka begitu kalau tidur lazak banget, apalagi noh, Ayyan.”
Aku menatapnya sekilas—cukup lama untuk menghafal raut wajahnya di pagi hari, cukup singkat agar tidak ketahuan.
“An,” kataku pelan sambil melangkah sejajar dengannya,
“makasih ya… sudah izinin.”
Ia menoleh, alisnya terangkat tipis.
“Izinin apa?”
“Izinin aku… jadi tempat mereka merasa aman, walau cuma sebentar.”
Langkah Anna melambat sesaat.
Ia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil.
Dan pagi itu, di jalan menuju masjid, aku merasa—
bahagia yang paling sunyi…
ternyata bisa sesederhana berjalan berdampingan, tanpa janji, tanpa kepastian.
Anna aku cuma berharap semoga kita berjodoh. ucapku dalam hati aku berjalan bergandengan tangan dengan Ayyan. sementara Anna dibelakang sama mace. Setelah pulang dari masjid, kami sarapan bersama. Aku duduk di antara Bian dan Ayyan. Dua bocah itu seperti lem—ke mana pun aku bergerak, mereka ikut. Bian menyodorkan lauk ke piringku, Ayyan bersandar di lenganku seolah itu sangat enggan jauh sedikitpun dariku.
padahal aku berharap mamanya yang nempel malah anaknya yang kena pelet ketampanan aku. wkk narsis dikit lah ya, untuk menghibur diri.
Aku menangkap lirikan paman dan Mace. Mereka saling tersenyum simpul.
Aku tahu arti senyum itu.
Mungkin di mata mereka, kami terlihat cocok. Seperti ayah dan anak.
Andai saja.
Keinginan itu mengendap di dadaku. Tenang, tapi berat.
Aku sangat ingin… tapi keinginan saja tidak pernah cukup.
“Oh iya, Lif,” suara paman memecah lamunanku.
“Maaf ya, nak. Paman sama Mace nggak bisa ikut nganter kamu ke bandara. Kami juga mau pulang hari ini.”
Aku tersenyum, menggeleng pelan.
“Gak apa-apa, Paman. Nanti saya naik taksi aja.”
Belum sempat suasana benar-benar tenang, suara Anna menyela.
“Aku antar, Lif.”
Ih, keselll 😭 sakit hati aku kakkk