"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Semoga tetap semangat bacanya
Tak ada pilihan lain selain Alka memborong semua pembalut yang ada, ia tidak mau ambil pusing kalau nanti salah ia sendiri repot.
"Huf! dasar merepotkan sekali," batin Alka saat memasukkan beberapa pembalut mulai dari yang ukuran sedang, besar, anti UV dan juga anti rewel.
Saat di depan kasir Alka menyerahkan keranjang belanjaannya yang 50% berisi pembalut semua, dan juga makanan ringan.
Petugas Kasir hanya bisa nyengir kuda dan salting sendiri karena mereka mereka yakin kalau pria yang ada di depannya itu sosok pria idaman.
"Oh iya cewek kalau sedang PMS sukaknya makan apa ya?" tanya Alka saat sedang di depan kasir yang mau menghitung belanjaannya.
"Random sih Mas, karena setiap cewek beda-beda saat datang bulan ada yang Sukak makan ada ada yang malah berkurang nafsunya, tapi biasanya sih lebih condong ke yang pedas," ujar pegawai kasir memberi tahu.
"Kalau pertama bisanya nyeri sih Mas, sebaiknya belikan obat pereda nyeri, biar istrinya Mas nanti tidak kesakitan," lanjut pegawai kasir.
"Ya sudah mana, obatnya?" sahut Alka.
"Ini Mas, yang sudah banyak di minum oleh perempuan kalau lagi datang bulan, dan ini termasuk obat herbal yang tidak ada efek sampingnya." Alka mengangguk setuju untuk membelikan isterinya obat tersebut.
"Tolong bungkusin sepuluh ya."
Selesai dari toko Alka langsung keluar sambil membawa barang belanjaannya, sedang di dalam toko sana para pegawai belum berhenti membicarakan ke romantisan Alka sampai-sampai mereka penasaran sama sosok wanita yang di cintai Alka.
Mereka tidak tahu saja kalau pria yang di tuduh baik sangat spesial dan langka itu ternyata sosok yang menyebalkan bagi istrinya.
"Buset! dia mau jualan lagi?" gumam Nabila saat tak sengaja menoleh ke arah toko dan melihat suaminya keluar dengan tentang plastik besar.
Alka terus berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu mobil menaruk barang belanjaan, lalu menutupnya kembali.
"Kamu minum ini dulu," ucap Alka menyerahkan sesuatu pada Nabila saat duduk dalam mobil.
"Itu apa, Pak?" tanya Nabila.
"Penyeda nyeri kalau pertama datang bulan biasanya kan sakit." sahut Alka.
"Hah? Kok bisa tahu kalau perempuan lagi datang bulan di awal-awal nyeri, apa dia cari tahu ya?" batin Nabila yang tiba-tiba merasa berdebar-debar jantungnya karena merasa di perhatikan oleh Alka.
"Ah, kok gue merasa jadi Mila sih," batin Nabila senyum-senyum sendiri mengingat cerita Mila pas di tanyak kalau Valen artis pendatang baru yang lagi tenar itu sangat romantis sama pasangan duetnya yang saat ini lagi naik daun.
"Stop Nabila! Kamu jangan kege'ran dia itu bukan Valen tapi Alka, manusia kutub yang sulit cair." peringat Nabila ia tidak mau dirinya di buat melambung tapi setelah itu di hancurkan lagi.
****
Sampai di rumah Alka lansung meminta Nabila untuk turun dan membersihkan tubuhnya yang sudah kotor, yang mungkin isterinya tidak nyaman sedari tadi.
"Pak, i-tu gimana ya?" gumam Nabila tidak enak karena mobil Alka penuh dengan darah.
"Sudah biarkan saja, biar saya yang urus kamu urus diri mu sendiri, tidak enak di pandang mata," ketus Alka, lagi-lagi ia salah bicara.
"Iya Pak, maaf kalau sudah buat Bapak tidak nyaman dengan kadaan ku," jawab Nabila, lalu berlalu pergi.
"Huf! Kenapa sih selalu saja begitu," sungut Nabila dalam hatinya tapi ia tak ada pilihan selain nurut karena ia sangat paham sama otak Alka.
Sampai di kamar mandi, Nabila di buat kaget karena darahnya begitu banyak yang keluar.
"Ya ampun kenapa banyak sekali sih, padahal ini masih bari pertama," batin Nabila.
Nabil lupa tidak membawa baju ganti dan juga pembalut yang masih di mobil, lalu ia keluar lagi dari kamar mandi dan saat keluar tiba-tiba Alka masuk kamar sedang Naila hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya sehingga bagian atas tubuh Nabila terekpoese begitu sempurna di tambah Nabila sedang menggunakan bra warna hitam kontras dengan kulitnya yang putih..
Ceklek!.
Degh!.
Alka menelan salivanya sendiri saat melihat istrinya saat ini begitu seksi, Nabila yang selalu membuat dirinya candu walau baru satu jam ia melakukan hubungan panas tapi rasa ingin itu kembali muncul.
Nabila yan kaget langsung menyilangkan tangannya di dada sambil menjerit.
"Pak, ngapain ke sini?" pekik Nabila yang setengah kaget, kalau di bilang karena dirinya sedang tidak memakai baju lucu, bukankah Alka sudah tahu semua milik Nabila tapi tetap saja perempuan itu merasa canggung dan malu dalam situasi seperti ini.
"Ini," Alka menyerahkan kantong plastik yang berisi pembalut.
"Oh ya Pak, maaf, lupa." katanya sudah salah paham sama suaminya, lalu berjalan mengambil dari tangan Alka.
"Terima kasih Pak." ucapnya.
"Huem!" sahut Alka, yang faktanya ia tidak bisa membalas dengan kata-kata karena tenggorokannya terasa tercekat melihat istrinya yang sedang mengundang hasrat Alka.
Dan apesnya Nabilla yang ceroboh malah membiarkan handuknya terjatuh tanpa sengaja.
Seketika Alka jantung Alka berdesir dan ia tak tahan ingin meredam dua pucuk marun yang menjadi kesukaannya saat bercinta.
Sial kalau saja Nabila tidak lagi halangan mungkin Alka sudah melempar perempuannya ke atas kasur king zize nya secara brutal karena Nabilla sudah membuatnya kelaparan.
Nabila sendiri yang kaget malah terjatuh ke atas kasur dengan posisi terlentang, reflek ia menjerit.
"Auw!" begitu pun dengan Alka uang reflek langsung menarik tangan Nabila alhasil mereka malah sama-sama terjatuh, Alka berada di atas tubuh Nabila yang sedang tidak memakai baju.
"Pak?" Nabila panik takut Alka khilaf mengingat dirinya saat ini sedang datang bulan.
"Kenapa, kamu sendiri kan yang menggoda saya?"
"Ti-dak Pak, Aku sama--," Alka langsung melahap bibir Nabila dengan memungutnya tanpa ampun. Kemudian mencium pipinya secara bergantian, bukan Alka namanya kalau tidak meremas buah apel yang sedang nyempluk sempuran apa lagi saat ini milik Nabila terasa lebih berbeda.
"Sial! Kenapa itu Nabila telihat besar dan sangat menggoda," batin Alka.
Sedang Nabila sudah kehabisan napas, dan juga merasakan sakit di bagian puitingnya saat Alka gigir sebab saat ini tubuh Nabila lagi tidak nyaman karena perubahan hormon tapi tetap saat Alka yang mesum itu tidak berhenti hingga jeritan Nabila berubah desahan hangat.
"Hueemm!" Nabila berusaha berontak bukan apa-apa tapi ia sadar dirinya sedang datang bulan.
"Pa-k!" keluh Nabila agar Alka mau melepas tautannya.
"Kenapa, yang ini boleh walau kamu lagi datang bulan," ucap Alka sebentar lalu memungutnya lagi.
Ternyata Alka masih sadar tapi kalau begini terus yang ada imannya mereka yang jadi taruhan.
"Makanya jangan sekali-kali menggoda saya kamu tahu sendiri kan resikonya." ucap Alka melepas tautannya.
"Iya Pak." Sahut Nabila cepat.
"Kamu itu istri saya dan kapan pun saya berhak, jadi saat seperti ini kamu jangan menggoda saya, kamu sudah tahu saya kan!"
"Sudah mandi sana dan pakai baju yang sopan karena kamu lagi datang bulan, tapi kalau sudah selesai pakai yang sudah saya belikan di lemari banyak."
Nabila menghembuskan napasnya kasar, kalau memang Alka suaminya sangat bernafsu terhadap dirinya kenapa ia belum juga menyatakan cinta dari awal Alka hanya mengatakan mereka suami istri, wajib berhubungan.
"Maunya apa sih, kenapa ia sangat bernafsu sama saya kalau tidak mencintai saya apa gunanya, coba!" keluh Nabila.
Dan parahnya Alka melakukan itu pada Nabila begitu kuat, sekarang saja benda kenyal itu Nabil pegang karena merasa meremang ulah Alka yang meremasnya kuat.
"Huf! sakit." Keluh Nabila.
Setelah mandi Nabila mendapatkan cht dari kantor kalau sebentar lagi ada meeting yang seharusnya besok.
"Ya ampun, itu meeting penting aku harus memberi tahu Pak Alka." Nabila segera bersiap-siap keluar setelah memakai baju kantor.
Sementara Alka juga sudah rapi, dan mengganti bajunya dengan yang baru.
"Kamu mau kemana?" tanya Alka heran melihat istrinya sudah rapi.
"Mau ke kantor Pak, karena ada meeting sedang berkasnya ada di sini," sahut Nabila.
"Kamu tidak papa?" tanya Alka lagi, ia pikir Nabila akan kesakitan saat ini karena sedang datang bulan.
"A-ku, aku tidak papa Pak, aku juga sudah memakai pembalut jadi tidak perlu di khawatirkan lagi, aman." sahut Nabila
Alka mengangguk karena melihat Nabila baik-biak saja.
"Ayo berangkat."
Saat meeting di mulai Shinta sebagai kepala devisi pertama sedang menjelaskan dengan seksama dan teliti, sebab wanita itu tidak ingin terlihat buruk di depan Alka.
Sedang Nabila mendengarkan dengan baik sambil mencatat poin-ponin penting yang di sampaikan oleh Shinta, beberapa menit meeting berjalan lancar sampai kemudian Nabila tiba-tiba merasa perutnya tidak nyaman.
"Ssstt!" pekiknya dalam hati sambil menahan sembelit yang ia rasa.
"Ya Allah, kenapa ini perut ku tiba-tiba terasa kram begini," keluh Nabila berusaha kuat ia tidak ingin meetingnya gagal karena kecerobohan dirinya.