Seharusnya di bulan Juni, Arum tidak menampakkan dirinya demi mendapatkan kebahagiaan bersama seseorang yang di yakini bisa mengubah segala hidupnya menjadi lebih baik lagi. Nyatanya, sebelah sayapnya patah. Bukan lagi karena hujan yang terus mengguyurnya.
Sungguh, ia begitu tinggi untuk terbang, begitu jauh untuk menyentuhnya. Dan, begitu rapuh untuk memilikinya...
Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGAMANGAN
Malam semakin gelap dan larut, hujan pun tak henti-hentinya reda. Di sudut kamar itu, mula-mula, Arum mendengar rintik hujan dan dingin yang tak separah sebelumnya. Ia merasa sesuatu hangat membalut tubuhnya, seolah menjadikan dirinya lebih baik.
Begitu semua pikirannya terkumpul—kecelakaan, cacian Laura, kepergian Langit. Arum membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar dengan cahaya lampu yang meredup lembut. Di saat itu juga, ia terbangun dari tidurnya sambil menatap ke sekeliling kamar yang nampak hangat, luas, juga nyaman.
Kamar itu bersih. Tempat tidurnya yang ia tempati juga empuk, berselimut kain halus yang hangat di kulit. Dinding kamarnya bernuansa lembut, berpadu dengan perabotan rapi yang memancarkan kesan tenang dan terawat. Belum lagi aroma bersih—entah dari seprai baru atau udara yang segar—mengisi napasnya, membuat dadanya terasa lebih ringan.
Begitu Arum melihat pantulan dirinya di cermin besar yang berdiri anggun di sudut ruangan, ia tertegun. Matanya membesar, napasnya tertahan. Seharusnya pakaian yang melekat di tubuhnya masih basah oleh hujan, kusut, dan dingin. Namun yang ia lihat kini justru sosok dirinya mengenakan piyama bersih berwarna lembut, rapi, dan jelas bukan miliknya.
“Ini… piyama siapa?” Gumamnya lirih, nyaris tak bersuara.
Jantungnya kembali berdegup tak beraturan saat ingatan itu menyeruak. Bayangan seorang pria muncul samar-samar di benaknya—wajah lelah, sorot mata gelisah, dan tangan yang dengan sigap menopang tubuhnya. Pria itu… yang datang di tengah hujan. Yang membawanya pergi ke mobil.
Arum tersentak. Tubuhnya menegang oleh campuran panik dan kebingungan. Tanpa berpikir panjang, ia segera bangkit dari tempat tidur. Telapak kakinya yang telanjang buru-buru menjejak lantai marmer. Dinginnya permukaan itu menjalar seketika, membuatnya menggigil kecil. Suara langkahnya terdengar jelas, menggema pelan di kamar yang luas dan sunyi.
Ia melangkah tergesa, seolah ingin memastikan semua ini nyata—bahwa ia benar-benar berada di tempat asing, dalam keadaan aman namun penuh tanda tanya. Ketika tangannya hendak meraih gagang pintu, geraknya yang lemas terhenti saat mendengar samar-samar percakapan di luar sana...
"Karena dekat dengan rumah, makanya aku bawa dia pulang."
"Ya, tapi kamu harus lihat situasi juga dong, Rangga... siapa tahu dia itu sengaja pingsan di jalan, kan kita gak tahu kalau dia itu orang jahat."
"Tapi, Ma. Papa lihat gadis itu kesakitan beneran."
"Ya, aku bingung kondisinya udah malem banget... terus jauh dari rumah sakit, yah kepaksa aku bawa gadis itu ke rumah."
"Eh, Non sudah sadar?"
Suara itu datang tiba-tiba, membuat Arum tersentak siap. Tubuhnya refleks menegang, bahunya terangkat, dan napasnya tercekat sejenak. Ia berbalik cepat ke arah suara, jantungnya kembali berdegup kencang.
Dari balik sudut kamar, tepat di ambang sebuah pintu yang baru ia sadari sebagai kamar mandi dalam, muncul seorang wanita pembantu tua. Usianya tampak tak lagi muda, rambutnya disanggul sederhana dengan beberapa helai memutih di pelipis. Bajunya rapi namun sederhana—balutan kebaya rumahan khas Jawa yang sering dikenakan para pembantu di rumah-rumah besar, memperlihatkan sosok yang teduh dan bersahaja.
"Perkenalkan, Non. Saya Mbok Suri. Pembantu yang sudah cukup lama bekerja di keluarga Pak Hendrawan."
Hendrawan. Bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan sebuah jawaban yang tanpa Arum sadari sejak tadi ia cari. Tatapannya beralih pelan, menyusuri lagi lebih jelas kamar yang ia jejaki. Dinding kamar yang luas, perabot kayu jati yang tertata rapi, aroma bersih bercampur wangi bunga kering—semuanya kini terasa masuk akal.
Kesederhanaan yang tertib, bukan kemewahan yang dipamerkan.
Kesadaran itu membuatnya terdiam sesaat. Ada rasa aman yang samar, namun juga kegugupan yang menekan pelan di dada—seolah ia tengah berdiri di wilayah orang lain, dalam hidup orang lain, tanpa pernah meminta izin. Tak lama kemudian, matanya kembali pada Mbok Suri, pembantu tua dengan wajah teduh itu.
"Non pingsan saat dibawa kemari." Lanjut Mbok Suri. "Si Mbok yang menggantikan baju Non tadi dan cuci baju Non yang basah."
Arum tertegun. Detik berikutnya, ia mengangguk. "Ma-makasih, Mb-Mbok."
Mbok Suri mengangguk. "Nama Non siapa?"
"A-Aku..." Kalimat Arum menggantung di udara—rapuh, nyaris tak bersuara—ketika derit kenop pintu terdengar dan daun pintu terbuka lebar.
Langkah kaki perlahan memasuki kamar, membuat Arum refleks mengangkat pandangannya.
Tiga orang berdiri di ambang. Yang pertama, seorang pria tua dengan postur tegap dan sorot mata tajam. Usianya jelas tak muda lagi, namun wibawanya terasa menekan—sebuah ketegasan yang lahir dari kebiasaan memberi perintah, bukan menerimanya. Rambutnya memutih rapi, rahangnya mengeras seolah jarang memberi kelonggaran pada perasaan.
Di sampingnya, seorang wanita berparas awet muda, wajahnya lembut namun sorot matanya penuh pengamatan. Ada ketenangan khas seorang istri yang terbiasa mendampingi pria berwibawa—anggun, terjaga, namun menyimpan kekuatan sendiri.
Dan mata Arum tak berhenti pada keduanya.
Tatapannya terkunci pada pria ketiga. Pria yang sama—yang semalam hadir bagai bayangan di tengah hujan, yang mengangkat tubuhnya tanpa ragu. Kini terlihat jelas.
Kulitnya putih bersih, kontras dengan rambut hitam pekat yang tersisir rapi namun sedikit berantakan, seolah ia tak sempat benar-benar memperhatikan penampilannya. Wajahnya memiliki garis yang tegas, terlihat jelas dari rahangnya yang kokoh.
Tak berhenti di situ, pria tersebut mengenakan kemeja sederhana, lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan betapa sosok itu kuat namun tidak berlebihan. Ada ketenangan yang diam, jenis ketenangan yang membuat orang lain merasa aman tanpa perlu banyak bicara.
Arum tercekat.
Kalau semalam wajah itu hanya samar dalam kabut kesadarannya, kini ia tahu pasti—
Pria inilah yang telah menyelamatkannya.
"Siapa namamu, Nak?" Tanya pria paruh baya itu, menatap Arum. Ada wibawa alami di setiap katanya, seolah pertanyaan sederhana itu lebih mirip penilaian awal daripada basa-basi.
Arum menegakkan sedikit tubuhnya, jantungnya berdegup tak beraturan. Kini ia benar-benar menyadari siapa pria di hadapannya—Hendrawan.
"A-Arum." Jawab Arum ragu. "Arum... Putri Lestari."
"Nama yang bagus. Jadi... bagaimana bisa kamu pingsan di jalan? Kamu darimana...? Mau kemana?"
Pertanyaan itu meluncur beruntun, tenang namun menghimpit. Nada Hendrawan tidak meninggi, tapi setiap kata terasa menuntut kejujuran.
Arum terdiam.
Tubuhnya menegang seketika, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram dadanya. Napasnya tertahan di kerongkongan, sementara pikirannya mendadak kacau dan dipenuhi oleh potongan-potongan ingatan yang terlalu berat untuk disusun menjadi kalimat.
Kecelakaan itu.
Lampu mobil yang menyilaukan.
Darah.
Langit yang terbaring tak bergerak.
Rumah sakit. Bau antiseptik.
Mesin-mesin yang terus berbunyi.
Janji yang tak pernah sempat ditepati...
Lalu koma.
Hari-hari menunggu yang melelahkan.
Dan akhirnya… kehilangan.
Makam yang basah oleh tanah merah dan hujan.
Laura yang menariknya pergi, meninggalkannya sendirian.
Langkah-langkah tanpa tujuan, kaki yang terus berjalan meski hatinya sudah runtuh.
Semua itu berdesakan di kepalanya, terlalu banyak, terlalu menyakitkan.
Bagaimana mungkin ia menceritakan semuanya pada orang asing? Pada pria berwibawa yang baru ditemuinya hari ini?
Arum menunduk.
Jari-jarinya mencengkeram bajunya sendiri, menahan gemetar. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak satu pun kata berhasil keluar. Suaranya terjebak di balik tenggorokan yang mengeras, tertahan oleh duka yang belum sempat sembuh.
Matanya perlahan berkaca-kaca. Ia masih membisu—bukan karena tak ingin menjawab,
melainkan karena ia tak tahu harus memulai dari mana, dan takut jika sekali saja ia membuka mulut, semua rasa sakit itu akan tumpah tanpa bisa ia kendalikan.
Apalagi jika ia harus menceritakan kenyataan yang paling ia sembunyikan. Tentang tubuhnya yang kini tak lagi sepenuhnya miliknya sendiri. Tentang kehidupan kecil yang tumbuh diam-diam di rahimnya—tanpa cincin di jari, tanpa seorang suami yang berdiri di sisinya.
Bayangan itu membuat dada Arum semakin sesak. Ia bisa membayangkan tatapan yang berubah. Sorot mata yang semula penuh tanya menjadi dingin dan menghakimi.
Bisik-bisik yang mungkin tak diucapkan, namun jelas terasa, perempuan macam apa yang mengandung tanpa suami?
Sedangkan, di hadapannya, keluarga terpandang seperti Hendrawan, prasangka itu mungkin akan terasa begitu dekat—nyata dan menakutkan. Ia takut kebaikan yang ia terima akan runtuh seketika, digantikan jarak dan penilaian yang tak memberinya ruang untuk menjelaskan.
Arum kemudian menunduk lebih dalam.
"Nak?" Desak Hendrawan, namun tak memaksa.
"Pa..." Imbuh wanita yang sedari tadi berdiri di sisi Hendrawan, akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan, namun sarat makna. Ia menoleh sedikit ke arah suaminya, sementara tangan halusnya terangkat menyentuh lengan Hendrawan. "Mama sudah duga... dia itu bukan wanita baik-baik."
Hendrawan menoleh menatap tenang istrinya. "Ma..."
"Buktinya dia gak bisa jawab!" Tukas wanita itu tajam.
Nada suaranya meninggi—bukan teriakan, tapi cukup keras untuk menusuk. Tatapannya mengarah lurus pada Arum, penuh penilaian, seolah diam Arum adalah pengakuan atas sesuatu yang belum pernah ia katakan.
Alis wanita itu berkerut tipis. Wajahnya yang awet muda kini mengeras, garis-garis halus di sekitar matanya menegaskan sikap waspada dan curiga. Ia memandang Arum dari ujung kepala hingga kaki, bukan dengan empati, melainkan dengan timbangan—menakar pantas atau tidak, bersih atau tercela.
“Orang normal kalau ditanya begitu pasti bisa jawab,” Lanjutnya dingin. “Diam begini justru bikin tanda tanya.”
Arum semakin menunduk. Kata-kata itu menghantamnya pelan namun pasti. Dadanya terasa sesak, seolah udara di kamar mendadak menipis. Ia ingin bicara. Ingin menjelaskan bahwa diamnya bukan karena niat buruk—melainkan karena luka yang telah menghantamnya habis-habisan.
Namun tatapan wanita itu membuat lidahnya kaku. Ada ketakutan yang perlahan bangkit, ketakutan akan dicurigai, dipersalahkan, dan dicap hanya dari permukaan.
Sementara, Hendrawan masih berdiri di tempatnya, rahangnya mengeras tipis. “Nak, kalau kamu ragu…” Suaranya terdengar lebih hangat, berusaha meredam ketegangan yang sempat mencuat.
Ia melangkah sedikit mendekat, menjaga jarak agar tak membuat Arum merasa terdesak. “Ikut Om ke ruang tengah,” Lanjutnya tenang. “Kita bicara pelan-pelan, dan cari solusi bersama. Siapa tahu… kami bisa bantu.”
****