Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 33 Puing Dendam di Tanah Pasar
Suasana di rumah orang tua Laksmin terasa dingin dan hampa, seolah dinding-dinding kayu tua itu ikut menyerap duka yang tak berkesudahan. Laksmin duduk mematung di atas kursi kayu usang di ruang tamu yang sempit. Matanya sembab, menyisakan gurat merah yang kentara akibat tangis yang tak kunjung reda. Wajahnya pucat, namun di balik kerapuhan itu, ada getaran kepedihan dan kekecewaan yang perlahan mengkristal menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Beberapa hari telah berlalu sejak badai menghantam hidupnya. Kehilangan janin yang ia dambakan adalah luka pertama, namun melihat Damian, suaminya sendiri, membawa wanita lain ke hadapannya tepat saat ia sedang hancur adalah luka ganda yang mengoyak jiwanya hingga tak bersisa. Pengkhianatan itu telah mengubah kesedihannya menjadi amukan api yang membakar nalar.
Di tengah keheningan rumah yang mencekam, pikiran Laksmin sibuk merangkai gambaran-gambaran kebencian. Sosok Valaria muncul sebagai pusat dari segala kegusarannya. Segala keberhasilan Valaria, senyum tulusnya, dan kehidupan damainya terasa seperti penghinaan pribadi bagi Laksmin. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa bisnis kedai makanan milik keluarga Valaria tumbuh subur dan dicintai banyak orang, sementara kehidupannya sendiri layu, hancur, dan membusuk dalam kesunyian.
"Valaria... kamu tidak akan pernah bisa tenang. Aku akan membuatmu menyesal karena telah memilih untuk hidup," bisiknya lirih. Suaranya serak, penuh dendam yang mendarat tipis di ruangan yang terasa terlalu luas bagi satu jiwa yang menderita.
Laksmin bangkit dengan gerakan mekanis. Diambilnya sebuah tas kecil berisi tumpukan uang tabungan terakhirnya. Ia berjalan keluar, menyusuri jalanan kota yang mulai remang, lalu masuk ke dalam sebuah gang sempit yang jauh dari jangkauan mata orang awam. Di sana, di bawah bayang-bayang tembok yang lembap, Laksmin bertemu dengan seorang pria. Pria itu bertubuh tegap dengan raut wajah sangar yang memancarkan aura kriminal.
Tanpa banyak bicara, Laksmin menyerahkan bungkusan uang itu. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena gairah jahat yang meluap. Ia memberikan secarik kertas berisi alamat kedai makan milik keluarga Valaria yang kini tengah berkembang pesat di pasar pusat kota. Laksmin memejamkan mata sesaat. Kepalanya terasa pening, namun sebuah rasa puas yang dingin mulai merayap di dadanya, menggantikan sesak kesedihan yang selama ini mencekik napasnya.
Pagi itu, pasar tradisional tempat kedai orang tua Valaria berada sedang mencapai puncak keriuhannya. Udara pagi di lorong-lorong pasar terasa lembap dan hangat, sarat dengan perpaduan aroma yang khas: pedas rempah-rempah segar, manis legit gula merah, dan harum masakan matang yang menggugah selera. Lampu-lampu bohlam kuning yang tergantung rendah di atas lapak menciptakan sorot cahaya temaram, menyinari tumpukan sayuran hijau yang masih berembun, serta daging dan ikan segar yang dijejerkan rapi di atas meja-meja kayu.
Suara riuh tawar-menawar antara pedagang dan pembeli bercampur dengan bunyi denting wajan yang beradu dengan sodet, serta derit gerobak yang didorong di atas jalanan semen yang becek. Di tengah simfoni kekacauan yang hidup itu, kedai keluarga Valaria berdiri sebagai salah satu titik paling ramai.
Ibu, Jaya, dan bibi Tirta tampak sangat sibuk. Mereka bergerak lincah di balik meja kayu besar yang penuh dengan wajan-wajan mengepulkan uap harum. "Sayur asemnya, Bu! Masih hangat, baru angkat dari tungku!" teriak Jaya. Suaranya sedikit parau karena sudah berjam-jam digunakan untuk menjajakan dagangan, namun semangatnya tetap membara.
Bibi Tirta dan ibu dengan cekatan menyiapkan pesanan pelanggan. Sesekali tawa kecil dan sapaan ramah meluncur dari bibir mereka, membangun suasana kekeluargaan yang membuat pelanggan merasa betah. Antrean mulai memanjang, menunjukkan betapa pesatnya kemajuan usaha yang mereka rintis dari nol tersebut.
Namun, tepat saat matahari mulai meninggi dan kesibukan mencapai puncaknya, suasana mendadak berubah. Kedamaian itu retak.
Dua pria bertubuh tegap dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan melangkah masuk ke dalam lorong pasar. Mereka mengenakan seragam yang menyerupai pakaian tentara, namun lencananya asing dan terkesan palsu. Kehadiran mereka segera menciptakan riak keheningan di tengah hiruk pikuk pasar. Mata mereka yang tajam menyapu kerumunan dengan pandangan menghakimi dan arogan.
Salah satu dari mereka, seorang pria dengan wajah keras dan kumis tebal yang melintang, berhenti tepat di depan kedai keluarga Valaria. Ia meludah ke samping sebelum berteriak dengan suara menggelegar.
"Pajak! Mana uang pajak sewa tanah sekarang juga!" bentaknya, memecah kebisingan pasar dan membuat beberapa pelanggan tersentak kaget. Ia menunjuk ke lantai pasar yang becek di bawah kaki Jaya.
Jaya, yang selama ini mengelola administrasi kedai, mengerutkan kening. "Pajak apa yang Anda maksud? Kami selalu membayar retribusi resmi kepada pengelola pasar. Tidak pernah ada istilah sewa tanah tambahan di sini," jawab Jaya dengan nada tegas, meski sebenarnya detak jantungnya mulai berpacu kencang karena melihat gelagat tidak beres.
Wajah pria berkumis itu memerah seketika. Tanpa peringatan dan tanpa rasa hormat pada hukum, ia menyentakkan sebuah senjata api yang terselip di pinggangnya. Moncong pistol itu yang sebenarnya hanya senjata mainan namun terlihat sangat nyata di mata orang awam langsung diarahkan ke wajah Ratri dan Tirta.
Kepanikan pun meledak dalam sekejap.
Suara tawar-menawar yang hangat berubah menjadi jeritan histeris. Para pelanggan yang tadinya mengantre dengan sabar langsung berhamburan menyelamatkan diri. Kursi-kursi terguling, belanjaan mereka tertinggal di lantai, dan suasana pasar yang hidup berubah menjadi ajang pelarian yang mencekam.
"Bayar! Atau tempat ini akan rata dengan tanah!" gertak pria itu lagi.
Sementara rekan satunya mulai beraksi secara brutal. Dengan tangan kasarnya, ia menyapu semua piring porselen di atas meja hingga hancur berkeping-peping di lantai. Kuah panas sayur asem dan bumbu-bumbu yang telah disiapkan dengan cinta tumpah meruah, menciptakan pemandangan yang menyayat hati. Wajan besar ditendang hingga isinya berhamburan, dan meja kayu tempat ibu biasanya meracik bumbu dirobohkan dengan satu hantaman keras. Bunyi pecahan kaca dan kayu yang patah beradu dengan suara tawa kedua preman tersebut.
Jaya tidak bisa lagi menahan diri. Melihat hasil jerih payah ibu dan bibinya diinjak-injak seperti sampah, amarahnya meledak melampaui rasa takutnya.
"Berhenti, Bajingan!" teriak Jaya sambil menerjang pria yang sedang merusak meja.
Perkelahian singkat dan brutal pun terjadi. Namun, Jaya bukanlah tandingan bagi dua pria berbadan besar yang memang terlatih dalam kekerasan. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Jaya. Sebuah bogem mentah menghantam wajahnya hingga darah segar mengucur dari sudut bibir dan pelipisnya. Jaya terhuyung-huyung, sebelum akhirnya jatuh tersungkur di antara puing-puing barang dagangannya sendiri yang telah hancur.
Setelah merampas uang di laci kecil tempat mereka menyimpan hasil penjualan pagi itu, kedua tentara palsu tersebut pergi sambil tertawa sinis, meninggalkan kehancuran total dan bau amis masakan yang tercampur lumpur.
Ibu dan bibi Tirta hanya bisa terdiam dalam kebisuan yang pahit. Mereka berlutut di lantai yang kotor, menatap sayur-sayuran yang sudah diinjak-injak dan pecahan piring yang berserakan. Keringat dan air mata bercampur dengan noda lumpur di pipi Ratri. Tidak ada yang tersisa. Harapan yang mereka bangun dengan keringat setiap pagi kini telah menjadi puing-puing tak berharga.
Di sisi lain desa, suasana di rumah Valaria biasanya diselimuti ketenangan pedesaan yang menyejukkan. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela kayu, menerangi lantai rumah yang bersih. Valaria, yang saat itu sedang sendirian, tiba-tiba merasakan getaran aneh di dadanya sebuah firasat buruk yang mendadak muncul tanpa alasan.
Tiba-tiba, pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang tak biasa di teras rumah. Langkah itu berat, terseret, dan diselingi oleh suara isak tangis yang berusaha diredam. Valaria segera bangkit dan berlari menuju pintu depan.
Pemandangan di hadapannya seolah menghentikan aliran darahnya.
Di ambang pintu, berdirilah Ibunya dan Bibi Tirta dengan pakaian yang kotor dan wajah yang belepotan lumpur serta air mata. Namun, yang membuat Valaria menjerit tertahan adalah kondisi Jaya. Sepupunya itu tampak babak belur; wajahnya bengkak kebiruan, dengan darah yang sudah mengering di lubang hidung dan sudut matanya. Jaya berdiri goyah sambil merangkul bahu ibunya.
"Ibu! Bibi! Jaya! Apa yang terjadi?" seru Valaria panik.
Ia segera membantu menopang tubuh Jaya yang terasa sangat berat karena lemas, lalu membawanya duduk ke kursi terdekat. Bau amis darah mulai tercium di ruang tamu yang tenang itu. Tanpa membuang waktu, Valaria mengambil kotak P3K. Meski tangannya gemetar karena cemas, gerakannya tetap cekatan sebagai bentuk pertahanan dirinya agar tetap tegar.
Sambil membersihkan luka di wajah Jaya dengan kapas dan alkohol, Valaria menuntut penjelasan. "Siapa yang melakukan ini? Kenapa pasar bisa sekacau ini?"
Ibu hanya bisa menggeleng lemah sambil terus menangis. Akhirnya, bibi Tirta dengan suara yang patah-patah menceritakan kronologi kejadian yang mereka alami. Tentang dua orang berpakaian tentara, tentang ancaman pistol, dan tentang bagaimana kedai mereka dihancurkan tanpa ampun. Setiap detail cerita itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati Valaria.
Tepat saat cerita itu berakhir, Raka, adik laki-laki dari Valaria muncul dari pintu belakang. Valaria langsung menoleh dengan mata yang kini tidak lagi hanya berisi kesedihan, melainkan bara api tekad.
"Raka! Cepat ke ladang. Jemput Ayah dan Paman sekarang juga! Katakan ada masalah darurat di rumah. Sekarang!" perintah Valaria dengan nada yang tak terbantahkan.
Raka yang melihat kondisi keluarganya yang mengenaskan tidak banyak bertanya. Ia langsung berlari secepat kilat menuju ladang di pinggir desa. Tak berselang lama, deru langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari halaman.
Ayah dan Paman masuk ke rumah dengan napas terengah-engah. Wajah mereka yang biasanya tampak tenang meski lelah bekerja, kini berubah menjadi pucat saat melihat kondisi istri dan anak mereka. Aroma tanah dan sinar matahari yang menempel di pakaian mereka seolah kontras dengan suasana kelam di dalam rumah.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian semua luka-luka begini?" suara Ayah dan paman Baskoro bersama menggelegar, penuh dengan kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Seluruh anggota keluarga kini telah berkumpul di ruang tamu yang sempit itu. Di bawah atap rumah yang sederhana, mereka disatukan oleh sebuah tragedi kehancuran sebuah luka yang tanpa mereka sadari, berakar dari dendam gelap seorang wanita yang sedang menanti fajar di balik gerbang kebencian.