Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal pagi yang hangat
Perlawanan Hawa perlahan melemah. Tenaganya terkuras habis oleh tangis dan emosi yang meradang. Tubuhnya mulai lemas, napasnya tak lagi sekeras tadi.
Adam memanfaatkan momen itu untuk memeluknya lebih erat lagi, menarik Hawa ke dadanya untuk segera tidur. Kepalanya disandarkan di bahu Adam, tubuhnya sepenuhnya berada dalam dekapan pria itu.
“Aku benci kalian semua…” rintih Hawa lirih, tubuhnya bergetar hebat.
“Aku benci pernikahan ini… aku mau pulang…”
“Hiks… hiks…” tangisnya masih terisak.
Rengekan itu berulang-ulang, seperti kaset rusak yang tak mampu berhenti. Adam tidak menyela. Tidak membantah. Tidak menghakimi. Bahkan tidak bertanya apapun. Ia hanya diam saja, mencoba memahami perasaan Hawa.
Sekilas, bayangan ucapan Ningsih, ibunda Hawa menyelinap di benak Adam.
“Hawa itu anaknya terlalu baik. Karena terlalu baiknya, kadang orang-orang sering memanfaatkannya. Dia tidak pernah mau bercerita soal masalah apa pun pada saya… semuanya dipendam sendiri.”
Tangan Adam mengelus rambut Hawa perlahan, jemarinya bergerak lembut dari puncak kepala hingga punggung, ritmenya tenang dan konsisten, seolah sedang menenangkan jantung yang berlari terlalu kencang.
“Tidurlah…”
“Kamu hanya lelah?” bisik Adam nyaris tak terdengar.
Isakan Hawa semakin pelan. Napasnya mulai teratur. Tubuhnya sepenuhnya telah bersandar pada Adam, mencari kehangatan yang tanpa sadar ia sangat butuhkan.
“Hiks… hiks…”
Isakan itu kian memudar…
Pelan…
Hingga akhirnya menghilang. Adam memperhatikan wajah sembab Hawa. Tangannya masih mengelus rambut sang istri. Hawa mulai senyap perlahan tertidur dalam pelukan Adam, wajahnya basah oleh air mata, tubuhnya rapuh namun akhirnya tenang.
Pelan-pelan Adam meletakkan Hawa, ia menunduk menatap wajah itu lama. Dadanya sesak oleh perasaan yang sulit lukiskan;
“Maafkan aku, Hawa. Semua ini salahku,” ucap Adam dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, menahan rasa sesal yang menyesakkan. “Kau sampai terpuruk dan depresi seperti ini karena aku. Akulah yang paling bertanggung jawab.”
Tak lama kemudian, Adam pun akhirnya terlelap di sisi Hawa. Tubuh mereka sama-sama kelelahan setelah rangkaian persiapan hingga pesta yang menguras tenaga dan emosi.
Kamar hotel mewah itu kini terasa sunyi. Tak ada lagi jeritan Hawa yang memecah keheningan, hanya napas pelan yang teratur, seolah malam memberi jeda singkat dari luka yang belum benar-benar sembuh.
Pagi yang indah perlahan menyongsong. Cahaya matahari merayap lembut melalui celah jendela kamar hotel, menelusup tanpa izin, lalu jatuh perlahan di wajah cantik Hawa. Hangatnya menyentuh kulitnya, seolah membangunkan ia dengan cara paling baik.
Kelopak mata halus itu akhirnya bergerak, terbuka perlahan. Pandangannya masih kabur ketika menatap langit-langit kamar hotel yang tinggi, dipenuhi ukiran indah dan lampu kristal yang memantulkan cahaya pagi.
Segalanya terasa asing, terlalu mewah, terlalu sunyi.
“Di mana aku…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Hawa mencoba bangkit, namun kepalanya terasa berat. Telapak tangannya reflek menahan kasur, mencoba menahan pusing yang datang bersamaan dengan ingatan-ingatan yang belum sepenuhnya kembali.
Potongan malam tadi masih membayangi tangis, ketakutan, suara Adam, dan rasa sesak yang masih tertinggal di rongga dadanya.
Napas Hawa kembali memburu.
Sontak ia menurunkan pandangan ke tubuhnya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia memperhatikan pakaiannya.
masih rapi, masih lengkap, tak ada yang berubah dari semalam. Detik itu juga, bahunya yang tegang perlahan mengendur.
“Huh… syukurlah…” gumamnya lirih, hampir seperti doa.
Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang menakutkan. Bukan karena ia membenci Adam, melainkan karena hatinya belum siap.
Hawa menoleh perlahan, memahami suasana. Kamar itu cukup sunyi, menyimpan keheningan pagi yang rapuh seperti dirinya. Di balik ketenangan itu, ia mulai sadar, hari ini bukan awal yang sederhana. Ini adalah pagi pertama dari perjalanan yang belum ia mengerti arahnya.
"Dimana dia?" batin Hawa menurunkan satu kakinya mencari keberadaan Adam.
Rupanya Adam terlihat sibuk di dapur, pria itu tengah membuatkan susu, kopi dan pancake lezat dalam lelehan madu segar.
Hawa melangkah perlahan menuju dapur. Kakinya masih terasa sedikit lemah, namun ia memaksakan diri berdiri tegak. Aroma hangat mentega dan kopi yang samar memenuhi ruangan, membuat perutnya yang sejak tadi malam kosong, diam-diam bergejolak.
Begitu Hawa muncul di ambang pintu, Adam yang tengah sibuk di depan kompor langsung menoleh. Senyum hangat itu spontan merekah, seolah pagi ini benar-benar memberinya harapan baru.
“Kamu sudah bangun?” ucap Adam lembut sambil melangkah mendekat, tangannya refleks terulur hendak memapah Hawa.
Namun Hawa segera menghindar, langkahnya berhenti setengah meter darinya.
“Aku baik-baik saja!” katanya cepat, nada suaranya dingin, nyaris seperti peringatan agar Adam tak terlalu dekat.
Adam terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil. Tanpa memaksa, ia berbalik menarik kursi makan dan mendorongnya pelan ke arah Hawa.
“Ayo sarapan. Biar tenagamu cepat kembali,” katanya dengan senyum yang tetap bertahan, meski matanya menyiratkan kehati-hatian.
Hawa menatap Adam tajam. Tatapan itu penuh benteng, seolah ia sedang berusaha menjaga jarak dari perasaan yang tak ingin ia akui. Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya Hawa menarik kursi itu dan duduk, tanpa sepatah kata pun.
Adam bergerak lagi.
“Kamu minum susu,” katanya sambil meletakkan segelas susu di depan Hawa.
“Dan aku… kopi,” lanjutnya, sengaja berbicara ringan seolah ia adalah pelayan restoran dadakan pagi itu.
Adam mengambil satu piring berisi pancake sederhana yang masih mengepul hangat. Saat Adam hendak menyodorkannya, Hawa tiba-tiba merampas piring itu dari tangannya.
“Aku bisa sendiri!” ucapnya ketus.
Adam hanya tersenyum kecil, memilih mundur selangkah. Tak ada protes, tak ada balasan. Ia berdiri diam, memperhatikan.
Tanpa basa-basi, Hawa mulai memakan pancake itu. Gigitan demi gigitan ia lahap, lalu meneguk susu hingga hampir setengah gelas habis. Gerakannya cepat, seolah ia ingin segera menuntaskan rasa lapar… atau mungkin ingin menghindari tatapan Adam yang sejak tadi tak lepas darinya.
Adam duduk di seberangnya, diam-diam tersenyum. Ada rasa lega melihat Hawa mau makan, meski sikapnya masih setajam duri.
Tiba-tiba Hawa berhenti mengunyah. Alisnya berkerut tipis. Ia menatap pancake di piringnya, lalu bergumam lirih tanpa sadar,
“Em… enak.”
Adam mengangkat wajahnya. “Enak?” tanyanya, nada suaranya penuh harap.
Hawa tersadar telah keceplosan. Ia segera menegakkan punggungnya, menahan gengsi yang hampir runtuh.
“Biasa aja,” jawabnya cepat. “Aku cuma lapar.”
Adam tersenyum lebih lebar, kali ini tanpa disembunyikan. Ia tidak membantah, tidak menggoda. Ia hanya mengambil sendoknya sendiri dan mulai makan dengan perlahan.
Keheningan kembali menyelimuti meja makan itu. Namun kini berbeda. Di antara denting alat makan dan aroma pagi yang hangat, ada sesuatu yang perlahan mencair, meski keduanya belum berani menyebutnya apa.
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
bodoh kamu Runn
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau