NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Tengah Kehancuran

Raka akhirnya berhenti memberontak. Tubuhnya lemas, tidak ada lagi tenaga untuk melawan. Ia hanya terduduk di pinggir ranjang dengan kepala tertunduk, napasnya masih tersengal, tapi tangisannya sudah mereda... bukan karena ia sudah tenang, melainkan karena air matanya sudah habis.

Bayu melepaskan pelukannya perlahan, memastikan Raka tidak akan menyakiti dirinya lagi. Ia meraih gelas air putih dari meja samping ranjang dan menyodorkannya ke Raka.

"Minum dulu, Rak," ucap Bayu pelan. "Kamu harus minum. Tubuhmu dehidrasi."

Raka menggeleng lemah. Tangannya tidak bergerak untuk meraih gelas itu.

"Raka, kumohon. Setidaknya minum sedikit..."

"Aku tidak haus," potong Raka dengan suara serak dan datar. Matanya kosong, menatap lantai tanpa fokus.

Bayu menghela napas panjang. Ia meletakkan gelas itu kembali ke meja, lalu duduk di kursi samping ranjang. Ia menatap temannya dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"Kamu harus makan juga, Rak. Kapan terakhir kali kamu makan? Pagi tadi?"

Raka tidak menjawab. Ia bahkan tidak ingat apakah ia sudah makan atau belum. Yang ia ingat hanya wajah Nadira yang pucat di ranjang ICU, dan wajah anaknya yang dingin di meja logam.

"Aku akan pesankan makanan. Bubur saja, biar gampang ditelan..."

"Aku tidak mau makan."

"Raka..."

"Aku bilang aku tidak mau!" bentak Raka tiba-tiba, suaranya keras meski tubuhnya lemah. "Aku tidak ingin makan! Aku tidak ingin minum! Aku tidak ingin apa-apa!"

Bayu terdiam. Ia menatap Raka dengan tatapan sedih... sedih melihat temannya yang biasanya tenang dan terkontrol, sekarang hancur seperti ini.

Ada keheningan panjang di antara mereka. Hanya suara angin dan langkah kaki perawat di luar yang sesekali terdengar.

Bayu menarik napas dalam, lalu angkat bicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut, tapi ada sesuatu yang perlu ia tanyakan.

"Raka... aku tidak mengerti." Suaranya hati-hati, seperti sedang berjalan di atas kaca pecah. "Tadi pagi... di apartemenmu... kamu bilang kamu tidak mencintai Nadira. Kamu bilang hubungan kalian hanya main-main. Kamu bahkan bilang kamu tidak pernah menginginkan anak itu."

Raka menegang. Tubuhnya kaku mendengar kata-kata itu—kata-kata yang ia ucapkan sendiri, kata-kata yang sekarang menjadi pisau yang menusuk dadanya berkali-kali.

"Tapi sekarang..." lanjut Bayu pelan. "Sekarang kamu hancur seperti ini. Kamu menangis. Kamu menyalahkan dirimu sendiri. Aku... aku tidak mengerti, Rak. Kenapa? Kenapa kamu jadi seperti ini?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk di sana, kepala tertunduk, tangan terkepal erat di atas lututnya.

Hatinya sakit, sangat sakit mendengar pertanyaan itu. Karena ia tahu jawabannya. Ia tahu, tapi mengakuinya terasa seperti mengoyak luka yang sudah terbuka lebar.

"Aku..." Suara Raka keluar, lirih, hampir berbisik. "Aku baru sadar... kalau aku mencintai Nadira."

Kata-kata itu keluar dengan susah payah, seperti ada yang menyumbat tenggorokannya.

Bayu menatap Raka dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran antara kasihan, sedih, dan sedikit frustrasi.

"Kenapa... kenapa baru sekarang, Rak?" tanyanya pelan. "Kenapa baru saat dia terbaring di ICU? Kenapa baru saat anakmu sudah pergi? Kenapa baru sekarang kamu sadar?"

Raka menggeleng lemah. Air matanya mulai mengalir lagi... perlahan, tanpa suara.

"Aku tidak tahu..." bisiknya. "Aku tidak tahu, Yu. Aku pikir... aku pikir aku tidak mencintainya. Aku pikir aku hanya... hanya menginginkan tubuhnya. Tapi ternyata..." Suaranya bergetar. "Ternyata aku mencintainya. Sangat mencintainya. Dan aku baru sadar saat aku hampir kehilangan dia."

Bayu menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa lelah dan sedih melihat situasi ini.

"Kamu bodoh, Rak," ucapnya pelan, tapi tidak dengan nada menghakimi. Hanya nada seseorang yang prihatin pada temannya. "Kamu sangat bodoh."

"Aku tahu," jawab Raka dengan suara serak. "Aku tahu aku bodoh. Aku sangat bodoh."

Mereka terdiam lagi. Keheningan yang berat, penuh penyesalan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Bayu akhirnya bangkit dari kursinya, berdiri di samping ranjang. Ia menatap Raka dengan serius.

"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanyanya. "Setelah semua ini?"

Raka mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah, bengkak, tapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang terlihat seperti tekad, meski rapuh.

"Aku akan menikahi Nadira," ucapnya dengan suara pelan tapi tegas. "Setelah dia sadar nanti, aku akan menikahi dia. Aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan menjadi yang terbaik untuknya. Aku akan mencintainya dengan cara yang seharusnya aku lakukan dari awal."

Bayu menatap Raka dengan tatapan penuh simpati. Ia ingin percaya pada kata-kata temannya. Ia ingin percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tapi kenyataan berkata lain.

"Raka..." Bayu ragu sejenak, tapi akhirnya melanjutkan. "Tadi... aku dengar pembicaraan beberapa suster di lorong. Mereka bilang... kemungkinan Nadira untuk sadar... sangat kecil."

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

Raka menegang. Tangannya terkepal lebih erat.

"Tidak," gumamnya. "Itu tidak benar."

"Raka, aku hanya ingin kamu siap menghadapi kemungkinan terburuk..."

"DIA PASTI SEMBUH!" bentak Raka tiba-tiba, suaranya keras. Matanya menatap Bayu dengan tatapan yang penuh keyakinan atau mungkin keputusasaan yang ditutupi dengan harapan. "Nadira pasti sembuh! Dia akan bangun! Aku yakin!"

Bayu terdiam. Ia tidak ingin menghancurkan harapan temannya, tapi ia juga tidak ingin Raka terluka lebih dalam lagi.

"Aku harap kamu benar, Rak," ucapnya akhirnya dengan nada lembut. "Aku benar-benar berharap kamu benar."

Raka mengangguk, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Bayu. "Dia akan sembuh. Dan setelah dia sembuh... aku akan menebus semuanya. Aku janji."

Ponsel Bayu tiba-tiba bergetar. Ia meraihnya dari saku celana dan melihat layarnya, ada panggilan masuk.

"Maaf, Rak. Aku harus angkat ini," ucapnya sambil melangkah ke sudut ruangan. Ia menjawab telepon dengan suara pelan, berbicara sebentar, lalu menutup telepon dengan ekspresi yang berubah serius.

Ia kembali ke samping Raka. "Rak, maaf. Aku harus pulang. Ada urusan mendadak di kantor. Tapi... kamu yakin nggak apa-apa sendirian?"

Raka mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Pergilah."

Bayu ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Baik. Tapi tolong, Rak. Jaga dirimu. Makan dan minum. Kamu tidak akan bisa jaga Nadira kalau kamu sendiri sakit."

Raka tidak menjawab. Bayu menepuk bahu temannya sekali, lalu berjalan keluar dari ruangan.

Pintu tertutup.

Dan Raka sendirian lagi.

---

Raka duduk di ranjang beberapa menit lebih lama, menatap kosong ke depan. Lalu perlahan, ia bangkit dengan susah payah, tubuhnya masih lemah dan berjalan keluar dari ruang rawat.

Kakinya membawanya kembali ke lorong ICU. Ke tempat di mana Nadira berada.

Ia berhenti di depan kaca besar itu lagi, menatap sosok Nadira yang terbaring lemah di balik kaca. Monitor jantung masih berbunyi pelan, pip... pip... pip. Dada Nadira naik turun pelan, dibantu oleh alat bantu napas.

Raka berdiri di sana, tidak bergerak. Tangannya menempel di kaca dingin itu, seolah mencoba merasakan kehangatan yang sudah tidak ada.

"Nadira..." bisiknya pelan. "Aku di sini. Aku tidak akan pergi kemana-mana."

Tidak ada jawaban. Hanya suara monitor yang berbunyi monoton.

Raka perlahan duduk di lantai, bersandar pada dinding di samping kaca ICU. Ia menatap Nadira dari tempatnya duduk... menatap dengan tatapan yang penuh harap, penuh doa, penuh penyesalan.

"Kumohon bangunlah," bisiknya lagi. "Aku janji... aku janji akan menebus semuanya. Aku akan menikahimu. Aku akan mencintaimu dengan cara yang benar. Aku akan menjadi pria yang kamu layak dapatkan. Kumohon... kumohon jangan tinggalkan aku..."

Tapi Nadira tetap diam.

Raka menutup matanya, kepalanya bersandar pada dinding dingin. Ia berdoa... berdoa dengan sepenuh hati, berdoa dengan air mata yang terus mengalir.

"Ya Allah, kumohon kembalikan Nadira padaku. Kumohon berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Kumohon jangan ambil dia dari hidupku. Aku janji... aku janji akan menjadi yang terbaik untuknya."

Tapi di dalam hatinya yang terdalam, ada bisikan kecil, bisikan yang menyakitkan, bisikan yang ia coba kubur tapi terus muncul:

"Bagaimana kalau dia tidak pernah bangun?"

Raka menggeleng keras, menolak pikiran itu.

"Tidak," gumamnya. "Dia akan bangun. Dia pasti akan bangun."

Ia terus mengulangi kata-kata itu seperti mantra, seperti doa, seperti harapan terakhir yang ia pegang erat.

Dan di lorong rumah sakit yang sepi itu, Raka duduk sendirian, menunggu, berharap, berdoa.

Menunggu wanita yang ia cintai untuk kembali.

Menunggu kesempatan kedua yang mungkin tidak akan pernah datang.

Menunggu dengan harapan yang semakin tipis, tapi tetap ia pegang... karena itu satu-satunya yang tersisa.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!