Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Pangkat Dan Jarak
Berita itu datang bersamaan dengan seragam baru.Cakra dipromosikan, naik pangkat menjadi Mayor. Perayaan kecil diadakan di lapangan upacara batalyon. Para istri perwira datang membawa makanan, para prajurit berbaris rapi. Alisa diwajibkan Ayahnya untuk datang, duduk di barisan depan bersama ibu-ibu senior lainnya.
Alisa mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, merasa sedikit canggung di antara seragam hijau dan kebaya formal. Ia melihat Cakra berdiri di podium. Ayahnya tampak lebih tegap, lebih berwibawa, dan seragam barunya tampak gagah dengan satu bintang lagi di pundak.
Alisa merasakan gelombang kebanggaan yang besar. Itu Ayahnya. Pria yang berdiri di sana, berbicara tentang dedikasi dan negara, adalah pria yang menggendongnya saat ia tertidur di sofa, pria yang menangis diam-diam di malam hari.
Tepuk tangan membahana. Alisa ikut bertepuk tangan, bibirnya melengkung bangga.
Namun, di tengah keriuhan itu, Alisa merasakan sengatan dingin. Pangkat yang lebih tinggi berarti tanggung jawab yang lebih besar. Tanggung jawab yang lebih besar berarti waktu yang lebih sedikit.
Ia ingat tulisan Ibunya di buku merah marun: Kami harus berbagi suamimu dengan negara. Dan negara selalu menuntut lebih.
Setelah acara selesai, banyak yang mendekati Cakra. Para prajurit memberinya selamat, para atasan memberinya arahan. Alisa menunggu di tepi. Ia ingin mengucapkan selamat secara pribadi, memeluk Ayahnya, tapi kerumunan itu terlalu padat.
Seorang istri perwira senior, Ibu Danu, menyikut lengan Alisa pelan. "Lihat, Alisa. Ayahmu hebat sekali. Sekarang tugas beliau akan sangat berat. Kamu harus lebih mandiri dan tidak boleh rewel. Harus jadi pendukung nomor satu!"
Alisa tersenyum. Senyum yang terasa dingin. Ia tahu apa yang dikatakan Ibu Danu itu benar. Permintaan ini, untuk mandiri dan tidak merepotkan, adalah harga dari bintang baru di pundak Ayahnya.
Malam harinya, Cakra baru pulang sekitar pukul sembilan. Ia terlihat lelah, tetapi puas. Ia melemparkan baretnya ke sofa dan duduk di meja makan.
"Selamat, Yah," kata Alisa, yang sudah menunggu di ruang tamu sambil membaca buku biru.
"Terima kasih, Nak," Cakra tersenyum, senyum yang kali ini lebih tulus. "Kamu bangga pada Ayah?"
"Sangat bangga," jawab Alisa jujur.
"Bagus. Karena mulai besok, tugas Ayah akan semakin sulit. Ayah akan sering berada di luar kota, mengurus proyek besar. Kamu harus janji, kamu akan menjaga rumah ini, oke?"
"Aku janji," kata Alisa tanpa ragu. Ia sudah siap dengan janji itu sejak lama.
Cakra mengangguk puas. "Baik. Sekarang, apa yang kamu lakukan di situ? Belajar?"
"Aku menulis, Yah. Di buku harian," Alisa menunjukkan buku birunya.
"Menulis? Bagus," Cakra tidak terlalu peduli dengan isinya. Baginya, menulis adalah kegiatan yang positif. "Kamu harus mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat."
Alisa merasa lega karena Cakra tidak bertanya apa yang ia tulis. Karena ia tidak mungkin mengatakan, Aku menulis rasa takutku kalau-kalau kamu tidak pulang dari proyek besar itu, Yah.
Minggu-minggu berikutnya, jarak itu semakin terasa.
Cakra tidak hanya sering pergi, tetapi ketika ia berada di rumah, ia sering berada di 'zona perang' pribadinya. Ia akan duduk di ruang kerja selama berjam-jam, telepon seluler di sampingnya selalu berdering.
Alisa berusaha keras menarik perhatian Cakra. Ia memasak nasi goreng untuk sarapan (menggunakan resep Bu Suti), ia mendapatkan nilai A penuh di sekolah, ia bahkan merapikan rak sepatu Cakra hingga mengkilat.
Satu sore, saat Cakra sedang sibuk berbicara dengan atasannya di telepon, Alisa mendekat dengan piring berisi nasi goreng.
"Yah, makan dulu. Ini masih hangat," bisik Alisa.
Cakra hanya memberi isyarat dengan tangannya agar Alisa menunggu. Pembicaraannya tegang dan fokus.
"Ya, Komandan. Saya akan pastikan logistik terkirim tepat waktu. Tidak ada toleransi kesalahan..."
Alisa berdiri di sana selama lima menit. Nasi gorengnya mulai dingin. Ia melihat bagaimana Cakra berubah saat berbicara tentang pekerjaan: matanya mengeras, suaranya mendalam, ia menjadi Mayor Cakrawala Pradipta Yudha, bukan Ayah Alisa.
Setelah menutup telepon, Cakra menoleh ke Alisa. "Oh, maaf Nak. Ayo sini."
Alisa meletakkan piring itu di meja, senyumnya agak dipaksakan. "Sudah agak dingin, Yah. Tapi tidak apa-apa."
Cakra mengambil sendok, makan dua suap, lalu kembali menatap dokumen di depannya. "Enak. Kamu memang pintar masak."
"Terima kasih, Yah."
Namun, Cakra tidak melanjutkan makan. Pikirannya sudah kembali pada strategi dan logistik. Alisa mengambil piring itu, membawanya kembali ke dapur. Nasi goreng yang ia buat dengan bangga itu, kini menjadi simbol penolakan kecil.
Alisa menuangkan isi piring itu ke tempat sampah. Sambil mencuci piring, ia berbicara pada dirinya sendiri: Cakra adalah prajurit. Dia harus fokus. Itu bukan salahmu, Alisa.
Ketakutan terbesar Alisa, yang ia tulis di buku biru, adalah penugasan luar pulau.
Suatu malam, saat mereka sedang menonton berita bersama, Cakra mengumumkan kabar itu.
"Ayah akan pergi ke perbatasan, Nak. Tiga minggu," kata Cakra.
Jantung Alisa mencelos. Tiga minggu. Waktu terlama sejak Ibunya meninggal.
Alisa memaksakan dirinya untuk tidak menunjukkan kepanikan. "Ke perbatasan? Jauh sekali, Yah. Kamu akan baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja. Ayah akan membawa pengawal terbaik," Cakra mengusap rambutnya. "Kamu akan tinggal di rumah Tante Mia. Dia akan menjagamu."
Mendengar nama Tante Mia membuat Alisa semakin sedih. Tante Mia baik, tapi rumahnya sangat kaku. Tante Mia selalu mengira Alisa terlalu manja dan tidak mengerti arti kedisiplinan.
"Bisakah aku tinggal di rumah dinas saja, Yah? Bersama Bu Suti?" pinta Alisa.
Cakra menggeleng tegas. "Tidak. Rumah dinas sepi. Ayah tidak mau kamu sendiri. Tante Mia lebih aman. Ini perintah, Nak."
"Iya, Yah," Alisa menyerah. Perintah adalah perintah.
Malam itu, Alisa tidak bisa tidur. Ia membuka buku birunya dan menuliskan semua kecemasannya.
Minggu, 5 November: Harga Sebuah Bintang
Ayah dapat bintang baru di pundaknya. Bintang itu indah, Yah. Tapi aku merasa bintang itu menarik Ayah semakin jauh dariku.
Dulu waktu Ayah masih Kapten, perginya cuma sebentar. Sekarang Mayor, perginya ke perbatasan. Nanti kalau sudah Kolonel, mungkin Ayah pergi ke bulan.
Aku tahu ini egois. Tapi aku takut. Aku takut ini seperti saat Ibu pergi. Pergi tanpa sempat berpamitan.
Aku benci harus tinggal di rumah Tante Mia. Tapi aku akan menurut. Aku akan jadi anak yang baik di sana, supaya Ayah bisa fokus di perbatasan dan cepat pulang.
Keesokan harinya, saat Cakra mengepak tas ransel besarnya, Alisa mendekat. Ia tidak berbicara, hanya membantu Cakra memasukkan kaos dan seragam lapangan.
Cakra melihat wajah Alisa yang pucat dan mata yang sedikit bengkak. Ia tahu putrinya cemas.
Cakra berlutut di depan Alisa, memegang kedua bahunya. "Ayah akan pulang tepat waktu. Sebelum kamu merasa rindu terlalu dalam, Ayah sudah di sini."
Ia memeluk Alisa, sangat erat, dengan kekuatan seorang prajurit. Pelukan itu adalah satu-satunya jaminan yang bisa diberikan Cakra.
Alisa membalas pelukan itu, mencium bau seragam Ayahnya dalam-dalam. Ia menggenggam janji itu: Tiga minggu. Tidak lebih.