Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I. Kayla di Antara Dua Api
Kayla udah nggak bisa tahan lagi,bia melihat sahabatnya, Aruna sedang menangis sendirian di toilet. Kayla melihat orang-orang mengejek, meludah, menyakiti Aruna tanpa ampun.
Bahkan Kayla melihat Dhira yang cuma diam saja, dan yang paling membuat Kayla marah adalah Nisa.
Cewek bajingan itu yang menyebarkan foto, dan membuat fitnah. Bahkan merusak hidup Aruna. Kayla keluar dari toilet setelah memastikan Aruna sedikit lebih tenang, meskipun sebenernya nggak ada yang bisa bikin Aruna tenang sekarang.
Kayla jalan cepet ke kantin, matanya mencari satu orang yaitu Nisa. Saat ini kantin sedang ramai kayak biasa. Anak-anak lagi makan siang sambil mengobrol dan Ketawa.
Nisa duduk di meja tengah, bareng gengnya, Alya, Dinda, dan Sari. Mereka lagi ketawa-ketawa. Sambil membicarakan sesuatu yang jelas-jelas itu tentang Aruna.
Kayla melihat mereka dari pintu masuk kantin. Tangannya mengepal dengan erat. Rahangnya mengeras, tatapannya penuh amarah. Kayla berjalan masuk, langkahnya tegas sampai beberapa anak menoleh kearahnya.
Kayla berjalan langsung ke meja Nisa. Berhenti tepat di depan cewek itu. Nisa melihat Kayla lalu senyum seolah meremehkan.
"Kenapa, Kay? Mau bela si Aruna lagi? Capek nggak sih lo jadi pengacara gratisan dia."
BRAK!
Kayla mendorong bahu Nisa dengan begitu keras, sampai cewek itu nyaris jatuh dari kursi. Seluruh kantin terdiam, semua mata melihat ke arah mereka.
"Heh, jalang!" bentak Kayla, suaranya keras, penuh amarah. "Lo yang menyebarkan foto itu, kan?!"
Nisa berdiri lalu menatap Kayla dengan tatapan yang nggak takut sama sekali, malah terlihat sangat sombong.
"Emang kenapa?" jawabnya santai. "Itu kan fakta. Aruna emang deket sama cowok itu. Gue cuma berbagi informasi aja."
Kayla gemetar bukan karena takut, tapi karena marah yang nggak bisa ditahan lagi.
"FAKTA LO BILANG, BANGSAT?!" teriaknya keras. Suaranya menggema di seluruh kantin. "ITU KAKAK KANDUNGNYA, TOLOL! ARYA PRATAMA! LU MERUSAK HIDUP ORANG CUMA KARENA IRI!"
Nisa tertawa, tawa yang tengah meremehkan. "Iri kenapa? Gue nggak butuh iri sama si cupu Aruna. Dia nggak ada apa-apanya. Gue cuma…"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Nisa, tamparan itu cukup Keras, sehingga suaranya menggema, dan terlihat pipi Nisa memerah.
Beberapa anak berdiri sambil merekam menggunakan ponsel mereka.
Nisa memegang pipinya dengan tangan gemetar, matanya melebar nggak percaya.
"LO BERANI NAMPAR GUE?!" teriaknya, suaranya bergetar, bercampur marah dan shock.
"GUE BERANI!" balas Kayla, melangkah maju. "BAHKAN GUE MAU HAJAR LO SAMPE LO NGERTI SEBERAPA BRENGSEK LO! SEBERAPA JAHAT LU! SEBERAPA SAMPAH LO!"
Nisa langsung menarik rambut Kayla. Kayla teriak kesakitan tapi langsung balas menarik rambut Nisa juga. Mereka saling tarik, bahkan saling dorong. Hingga mereka jatuh ke lantai.
Nisa memukul wajah Kayla, lalu kayla pun membalas dan menendang perut Nisa. Alya dan Dinda mencoba melerai tapi malah kena sikut Kayla. Sari teriak-teriak minta tolong.
Beberapa cowok coba melerai tapi mereka berdua kayak singa liar, yang nggak bisa dilerai dengan gampang.
"LEPASKAN GUE! GUE BELUM SELESAI!" teriak Kayla, mukanya udah tergores, bibirnya berdarah.
"LO YANG LEPAS! GUE BAKAL BUNUH LO!" balas Nisa, rambutnya berantakan, pipinya bengkak.
Akhirnya empat cowok, Dimas, Riko, dan Farhan, sama satu lagi berhasil melerai mereka. Dengan susah payah, mereka menarik Kayla ke satu sisi, dan Nisa ke sisi lain.
Tapi Kayla masih berontak. "LEPAS! LEPAS GUE! GUE BELUM PUAS! GUE MAU HAJAR DIA SAMPE DIA MATI!"
"Kayla, udah! Udah cukup!" kata Dimas, menahan Kayla yang masih mencoba lepas.
Nisa nangis dan terlihat marah. "GUE BAKAL LAPORKAN LO, KAY! LO UDAH NYAKITIN GUE!"
"LAPOR AJA! GUE NGGAK TAKUT! LO YANG HARUSNYA TAKUT KARENA GUE BAKAL MELAPORKAN LO KARENA UDAH MENYEBARKAN FITNAH!"
Lima menit kemudian, beberapa guru akhirnya datang. Pak Budi, guru olah raga dan Bu Santi, guru bimbingan konseling.
Mereka memisahkan Kayla dan Nisa yang masih saling ngeliat dengan tatapan penuh benci.
"Kalian berdua! Ke ruang bimbingan konseling sekarang!" bentak Bu Santi.
Kayla jalan duluan, mengelap darah di bibirnya kasar pake lengan baju. Nggak peduli seragamnya kotor. Nisa jalan di belakang, masih nangis, dengan muka yang bengkak.
Saat di ruang bimbingan konseling. Bu Santi duduk di depan meja. Kayla duduk di kursi kiri dan Nisa di kursi kanan. Mereka berdua masih nafas ngos-ngosan, masih dengan tatapan saling benci.
"Jelaskan! Kenapa kalian berantem?!" tanya Bu Santi tegas.
Nisa langsung bicara duluan, suaranya dibuat-buat seolah sedang menangis. "Bu, Kayla menampar saya tanpa alasan! Dia nyerang saya di kantin!"
"BOHONG!" bentak Kayla. "LO YANG MULAI DULUAN! LO YANG MENYEBARKAN FITNAH TENTANG ARUNA! LO YANG MERUSAK HIDUP DIA!"
"Gue nggak menyebarkan fitnah! Gue cuma share foto…"
"FOTO YANG LO TAU ITU MENYESATKAN!" Kayla berdiri, tangannya menunjuk Nisa. "LO TAU ITU KAKAKNYA, TAPI LO TETEP MENYEBARKAN DENGAN CAPTION YANG JAHAT! LO SENGAJA MAU MENJATUHKAN ARUNA!"
Bu Santi mengetuk meja. "Kayla, duduk! Nisa, diam! Sekarang saya mau mendengar dari awal. Pelan-pelan dan nggak usah teriak."
Kayla duduk lagi, napasnya masih berat. Tangannya gemetar.
Kayla ceritakan semuanya. Tentang foto. Tentang Arya yang kakak kandung Aruna. Tentang fitnah yang menyebar. Dan tentang Aruna yang di-bully habis-habisan.
Bu Santi mendengarkan dengan serius. Sedangkan Nisa, ia cuma diam sambil sesekali mengelap air mata, air mata palsu.
Setelah Kayla selesai bercerita, Bu Santi menatap Nisa. "Nisa, apa benar kamu yang menyebarkan foto itu?"
Nisa menggeleng cepat. "Nggak, Bu. Saya cuma dapet dari grup terus saya share. Saya nggak tau itu kakaknya."
"BOHONG!" teriak Kayla lagi. "LO YANG NGAMBIL FOTONYA! GUE TAU! ARUNA CERITA KE GUE!"
"Kayla, jangan teriak," kata Bu Santi. Terus ngeliat Nisa lagi. "Nisa, kalau memang kamu yang menyebarkan dengan niat jahat, itu termasuk perundungan. Dan sekolah nggak mentolerir perundungan."
Nisa diam, ia nggak bisa menjawab.
Bu Santi menghela napas. "Kalian berdua diskors tiga hari. Kayla, karena kekerasan fisik. Dan Nisa, saya akan investigasi lebih lanjut soal foto ini. Kalau terbukti kamu yang sengaja menyebarkan fitnah, hukumannya bisa lebih berat."
Kayla nggak protes, ia mengangguk saja. "Saya nggak peduli dihukum, Bu. Yang penting saya udah bela sahabat saya."
Nisa menunduk, tangannya terligat gemetar. Kayla keluar dari ruang bimbingan konseling. Wajahnya masih tergores, bibirnya berdarah dan seragam yang terlihat kotor. Tapi dia tersenyum kecil.
"Setidaknya gue udah bela Aruna."
Kayla berjalan ke toilet dan mencari Aruna. Tapi Aruna udah nggak ada di sana. Kayla langsung keluar dan bertanya ke beberapa anak. "Aruna ke mana?"
"Kayaknya dia udah pulang deh," jawab salah satu cewek.
Kayla merasa dadanya nggak enak. Ia langsung lari keluar sekolah dan mencari Aruna.
Sementara itu, di rumah Aruna.
Saat ini Aruna tengah berbaring di atas kasur. Melihat langit-langit kamarnya yang polos putih. Ponselnya berunyi beberapa kali. Pesan dari Kayla, tapi Aruna nggak membukanya
Aruna cuma diam, pikirannya terlihat kacau.
*Kayla berantem karena aku.*
*Kayla kena masalah karena aku.*
*Kenapa semua orang yang deket sama aku jadi kena masalah?*
*Elang ditolak sama aku.*
*Kayla berantem gara-gara bela aku.*
*Dhira ragu sama aku.*
*Kenapa?*
*Kenapa aku... jadi beban buat semua orang...*
Aruna memeluk bantalnya dengan erat, tatapannya terlihat kosong.
"Aku jadi beban," bisiknya pelan.
"Kenapa semua orang yang deket sama aku jadi kena masalah?"
Tanpa sadar, air matanya jatuh kembali.
"Mungkin, lebih baik aku nggak ada."
Dan pikiran itu, pikiran bahwa ia adalah masalah bagu semua orang. Aruna mulai merasa bahwa keberadaannya, hanya menyakiti orang-orang yang ia sayang.
Dan Aruna berpikir, bahwa ia adalah beban, bahwa ia tidak pantas dicintai, dan ia tidak pantas berada di dunia ini. Mungkin akan lebih baik jika Aruna tidak ada di dunia ini.
___
... ——…★…——...
...Membela yang benar di tengah lautan kebohongan itu, seperti berdiri sendirian melawan badai. Kamu basah, kamu terluka, dan Kamu lelah. Tapi setidaknya kamu tau, kamu berdiri di sisi yang benar. Dan suatu hari nanti, kebenaran akan menang. Meskipun hari ini kamu kalah.*...
...——…★Mentari Senja★…——...
So, be happy on your days 🤝😇