menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akan ku kejar kau sampai ke manapun
Begitu Toma menyadari bahwa inti sihir kloning—mawar itu—berusaha kabur, ia langsung berlari bersama Alven tanpa ragu.
Tanah bergetar hebat di belakang mereka, namun belum sempat mereka melangkah jauh, dua naga kayu raksasa menerjang dari samping.
“—GHAAK!!”
Tubuh Toma dan Alven dihantam keras.
Mereka terpental beberapa meter, berguling di tanah, napas terhenti sesaat akibat benturan brutal itu.
Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuh Toma, penglihatannya sempat buram.
Sementara itu, Klee yang masih berhadapan dengan Sylva menggertakkan gigi.
“Apa-apaan sih ini…”
“Dia terus regenerasi… mau dihancurin berkali-kali juga balik lagi.”
Klee mundur beberapa langkah, menjaga jarak.
Ia tahu betul—jika kloning kayu itu berhasil menerobos, maka Toma dan Alven akan benar-benar terpojok.
Matanya melirik ke arah mereka dengan gelisah.
“TOMA! ALVEN!” teriak Klee.
“GIMANA CARA NGALAHIN DIA?! DIA KE SINI, TOMA!!”
Toma berusaha bangkit, menahan sakit di dadanya.
Wajahnya serius—tidak ada sedikit pun candaan.
“Aku… punya satu saran,” ucapnya berat.
“Tapi aku nggak tahu… apa kau sanggup, Klee.”
Alven langsung menoleh tajam ke Toma.
“Oii, jangan bilang…”
“Lu mau nyuruh Klee nahan monster itu mati-matian, kan?!”
Toma mengepalkan tangannya.
“Tak ada cara lain, Alven.”
“Kalau kita biarin dia ngejar, inti mawar itu bakal lolos.”
“Klee…”
“apa kau bisa jadi lebih kuat lagi?”
Klee terdiam.
Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat.
“Hmmm… ada sih,” gumamnya.
“Aku bisa pakai metamorfosis sihir cinta…”
Wajahnya langsung memerah.
“Tapi… IHHH, aku malu banget!”
“Nanti aku bukan keliatan imut atau manis lagi!”
“Jadinya malah kayak cewek dingin, cuek-cuek cakep gitu—”
“Klee."
Suara Toma memotongnya tegas karena ini bukan bercanda.
“Ini bukan waktunya main-main.”
“Kalau kita kalah, kita gagal.”
“Dan kita nggak akan pernah jadi High Magnus.”
“Dan kita tak akan bisa mengembalikan semua koin bintang orang– orang yang Lucyfer rampas.”
Klee terdiam cukup lama dan tak punya pilihan lain.
Lalu ia mengangkat kepalanya.
“Baik,” ucapnya pelan, tapi penuh tekad.
“Beri aku waktu untuk bermetamorfosis.”
“Oke, Toma.”
Pada saat yang sama—
Langkah Sylva menghantam tanah.
Setiap langkahnya membuat bumi bergetar, seolah alam sendiri tunduk pada keberadaannya.
Akar-akar mencuat, pohon-pohon merunduk layu di sekitarnya.
Namun—
Tiba-tiba cahaya merah muda menyilaukan menembus langit malam.
Aura lembut namun menekan menyebar ke segala arah.
Dari pusat cahaya itu, Klee muncul.
Rambutnya berkibar pelan, wajahnya tanpa senyum.
Tatapannya tajam—dingin, tenang, dan mematikan.
Aura cintanya berubah total, tidak lagi ceria, melainkan agung dan menekan.
“Tak kusangka…” ucap Klee dengan suara datar.
“Ini masih tersisa dari gadis ini, dia memaksa ku bertarung ya, baiklah... Mau tak mau.”
Sylva menyipitkan mata.
“Hoh…”
“Tak buruk, bocah pink.”
“Kau… berevolusi.”
Udara bergetar.
Sebuah siluet raksasa seperti klee namun dengan penampilannya yang sekarang.
Di belakang Klee—anggun, bermata tegas, mengeluarkan api merah muda yang membara.
Ujung api itu diarahkan lurus ke Sylva.
Suara Klee kini menggema, seolah dua suara berbicara bersamaan.
“Hmm, klee agak aneh, biasa nya dia keras kepala tak mau menggunakan ku.”
Klee menatap tajam ke kloning kayu Lucyfer.
Sementara itu—
Toma dan Alven bergerak diam-diam menyamping.
Klee sengaja menarik seluruh perhatian Sylva.
Itu kesempatan mereka.
Setelah berlari cukup jauh, Toma merasakan auranya.
Mawar itu.
“Di depan!” teriak Toma.
Alven langsung menembak.
Anak panahnya meledak kecil, api menyala sesaat—namun mawar itu menghindar dengan lincah.
“HAAAH?!”
“SEJAK KAPAN BUNGA BISA LARI BEGITU?!” teriak Alven frustasi.
Toma mengangkat tangannya, api matahari berkobar—
Namun—
Dua naga kayu muncul dari tanah.
Mawar itu langsung ditelan ke dalam mulut mereka.
“SIAL!!” batin Toma.
Di kejauhan, Sylva berusaha mengejar—
Namun klee menghadang nya.
“Sihir api cinta: hujan api kegilaan.”
hujan api cinta membakar hutan dan kloning kayu itu.
Namun tak berguna kloning itu tetap regenerasi.
Gelombang kejut menghancurkan pepohonan.
Beberapa naga kayu hancur demi melindungi Sylva.
Toma menatap itu dengan napas berat.
“Serangan yang luar biasa…”
“Klee… menahan dia mati-matian.”
Ia mengepalkan tangan.
“Sekarang giliranku.”
“Aku dan Alven… harus berguna.”
sekali lagi saya minta maaf