Feni sangat cemas karena menemukan artikel berita terkait kecelakaan orang tuanya dulu. apakah ia dan kekasihnya akan kembali mendapatkan masalah atau keluarganya, karena Rima sang ipar mencoba menyelidiki kasus yang sudah Andre coba kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Tak Diminta
Pagi datang dengan cara yang tidak pernah Feni minta.
Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai, menyentuh lantai kayu dengan lembut, seolah rumah ini benar-benar ingin tampak ramah. Dari dapur terdengar suara pelan—air mendidih, denting sendok mengenai cangkir. Semua terdengar terlalu normal untuk tempat yang menahannya tanpa izin.
Feni duduk di tepi ranjang, menahan napas sejenak sebelum berdiri. Ia memilih kaus lengan panjang dari lemari—pakaiannya sendiri, yang entah bagaimana sudah tersedia rapi. Hal kecil itu membuat tenggorokannya tercekat. Roni memperhatikan detail-detail yang seharusnya tidak ia ketahui.
Ia melangkah keluar kamar.
Roni berdiri di dapur, punggungnya menghadap. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Ia menuang teh dengan gerakan hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin menumpahkan apa pun—air, atau suasana.
“Pagi,” kata Roni tanpa menoleh.
Feni berhenti beberapa langkah dari meja. “Pagi.”
Tidak ada penjaga. Tidak ada senjata terlihat. Tapi Feni tahu, rasa aman di tempat ini adalah ilusi yang disusun rapi.
Roni meletakkan cangkir di meja, lalu menoleh. Tatapan mereka bertemu. Sejenak, waktu terasa menggantung di antara napas yang tak sinkron.
“Kamu tidur nyenyak?” tanya Roni.
“Cukup,” jawab Feni singkat.
Roni mengangguk. Ia duduk berhadapan, menyisakan jarak. “Aku tidak ingin kamu merasa tertekan.”
Feni tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. “Itu sulit.”
Hening jatuh. Roni mengaduk tehnya tanpa minum. Seolah mencari keberanian di pusaran cairan hangat itu.
“Aku ingin jujur,” katanya akhirnya.
Feni menegang. Kejujuran dari orang seperti Roni terasa lebih menakutkan daripada ancaman.
“Apa pun yang ingin kamu katakan,” ucap Feni pelan, “tolong ingat satu hal. Aku pacarnya Erlang.”
Roni mengangguk. “Aku tahu. Dan aku menghormatinya.”
Kata menghormati itu terasa ganjil di telinga Feni. Ia menunggu.
Roni menarik napas panjang. “Aku mencintaimu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja—tanpa hiasan, tanpa dramatisasi. Justru karena itulah ia terasa berat.
Feni memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, ada keteguhan yang rapuh di sana. “Itu tidak adil.”
“Aku tahu,” jawab Roni cepat. “Dan aku tidak meminta balasan.”
“Kalau begitu kenapa kamu bilang?”
Roni menunduk, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Karena aku tidak ingin kebohongan di antara kita. Aku sudah cukup hidup dalam kebohongan.”
Feni menelan ludah. Ia teringat Bali—malam panjang, sandi-sandi, tatapan Roni yang selalu sedikit terlalu lama. Saat itu ia mengabaikannya, mengira itu hanya bagian dari peran. Sekarang, semuanya menemukan bentuk yang tidak ia inginkan.
“Cinta bukan alasan,” kata Feni lirih. “Bukan alasan untuk menculik.”
“Aku tidak menjadikannya alasan,” sahut Roni. “Aku menjadikannya batas. Itu sebabnya kamu masih bebas bergerak di rumah ini. Itu sebabnya aku tidak menyentuhmu.”
Feni berdiri. Dadanya terasa penuh. “Kamu menahanku.”
Roni ikut berdiri, tapi tetap menjaga jarak. “Aku menahanmu dari dunia yang belum selesai ingin menyakitimu.”
“Dunia itu juga berisi Erlang,” balas Feni, suaranya bergetar. “Dan kamu memisahkanku darinya.”
Nama itu membuat Roni terdiam. Ada sesuatu yang keras melintas di matanya—bukan kebencian, melainkan pengakuan pahit.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Dan itu harga yang aku bayar setiap menit.”
Mereka berdiri saling berhadapan. Di antara mereka, ada cinta yang tidak diminta, dan kesetiaan yang tidak tergoyahkan.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku,” ucap Feni, “lepaskan aku.”
Roni menggeleng pelan. “Belum.”
Satu kata itu memotong harapan Feni.
“Kenapa?” desaknya.
“Karena orang-orang Wisnubroto masih bernapas,” jawab Roni. “Karena ada sisa jaringan Marko yang belum berhenti bergerak. Karena Erlang—sekuat apa pun dia—akan menabrak dinding yang sama kalau kamu kembali sekarang.”
Feni menatapnya tajam. “Kamu meremehkan dia.”
“Tidak,” Roni menggeleng. “Aku meremehkan diriku sendiri. Aku tahu apa yang orang sepertiku mampu lakukan ketika terdesak.”
Kejujuran itu membuat Feni terdiam.
Roni melangkah ke jendela, menatap halaman. “Aku tidak meminta kamu mencintaiku. Aku hanya meminta waktu.”
“Waktu untuk apa?” tanya Feni.
“Untuk memastikan kamu selamat,” jawab Roni. “Dan untuk memastikan aku tidak menyeretmu lebih jauh.”
Feni tertawa kecil, getir. “Kamu sudah menyeretku.”
Roni mengangguk. “Iya. Dan aku menyesalinya.”
Kata menyesal terdengar asing dari mulutnya. Feni merasakan sesuatu bergetar di dadanya—bukan simpati, melainkan lelah.
“Aku mencintai Erlang,” katanya tegas. “Aku tidak akan berhenti mencintainya hanya karena kamu ada di sini.”
Roni menoleh. Tatapannya lembut, tapi tegas. “Aku tidak ingin kamu berhenti.”
Kalimat itu mengejutkan Feni.
“Aku tidak ingin menjadi pengganti,” lanjut Roni. “Aku tahu tempatku bukan di hatimu. Aku hanya… tidak ingin kamu mati.”
Hening kembali turun. Feni menyadari sesuatu yang tidak ia suka: Roni tidak berbohong. Ia berbahaya, ya. Ia obsesif, mungkin. Tapi perasaannya nyata—dan itu justru membuat situasi ini lebih rumit.
“Aku butuh kabar tentang Erlang,” kata Feni akhirnya. “Aku tidak bisa bernapas tanpa tahu dia baik-baik saja.”
Roni menimbang sejenak. “Aku akan cari cara.”
“Janji?”
Roni menatapnya lurus. “Janji.”
Feni duduk kembali. Kakinya terasa lemas. “Aku tidak tahu bagaimana harus hidup dengan pengakuanmu.”
Roni kembali ke kursinya. “Aku juga tidak tahu bagaimana harus hidup tanpanya.”
Sore menjelang. Cahaya berubah keemasan. Mereka tidak bicara lagi, tapi kehadiran satu sama lain terasa seperti medan magnet yang berlawanan—saling tarik, saling menolak.
Di dalam hatinya, Feni berdoa. Untuk Erlang. Untuk Rima yang masih berjuang. Untuk dirinya sendiri—agar kuat menolak cinta yang datang dengan cara yang salah.
Dan di balik ketenangan palsu rumah itu, Roni tahu satu hal yang tidak ia ucapkan: cinta yang tak diminta selalu meminta harga. Cepat atau lambat, harga itu akan ditagih—oleh Erlang, oleh hukum, atau oleh hati Feni sendiri.
Malam turun perlahan.
Cinta itu tetap ada.
Tak diminta. Tak diinginkan.
Dan semakin berbahaya karena ia nyata.
...****************...