NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31. Perasaan aneh

Sepanjang hari, Noa tetap berada di sisi Landerik. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali memastikan pria itu meminum obatnya tepat waktu dan makan dengan cukup. Landerik pun membiarkannya ia tidak menolak, tidak juga menanyakan alasan, seolah kehadiran Noa telah menjadi bagian alami dari ritmenya hari itu.

Menjelang sore, hujan turun dengan deras. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, dan suara air yang menghantam kaca serta aspal yang tidak berubah. Landerik dan Noa berdiri berdampingan di depan pintu kantor, menunggu mobil jemputan tiba.

Noa memeluk lengannya sendiri, menatap hujan yang jatuh tanpa arah. Dalam diam, pikirannya melayang pada Mora. Cara wanita itu bergerak, berbicara, dan berada begitu dekat dengan Landerik, semuanya kembali terlintas. Noa bertanya-tanya, sedekat apa hubungan mereka selama ini. Seberapa besar ruang yang pernah Mora isi dalam kehidupan Landerik sebelum ia datang. Ia tidak mengucapkannya. Hanya menyimpan pertanyaan itu rapat-rapat di dalam hati.

Landerik melirik ke arahnya sekilas. “Dingin?” tanyanya singkat.

Noa menggeleng pelan. “Tidak.”

Landerik tidak berkata apa-apa lagi, hanya berdiri lebih dekat, cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Sebuah jarak yang tidak sengaja, namun cukup untuk membuat Noa merasa sedikit lebih tenang di tengah hujan dan pikirannya yang berkecamuk.

Di tengah penantian mobil jemputan yang tak kunjung tiba, Noa akhirnya memberanikan diri bertanya. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh derasnya hujan.

“Apa kau dan Mora memang sedekat itu?”

Landerik menoleh ke arahnya. “Kenapa memangnya?” tanyanya balik, nadanya datar.

“Tidak apa-apa,” jawab Noa cepat, lalu menarik napas. “Aku hanya merasa sikapnya padamu agak... aneh. Terlihat tidak wajar jika hanya sebatas rekan kerja.”

Landerik memicingkan mata, menatap hujan di hadapannya sejenak, lalu sebuah senyum kecil, nyaris tak terlihat, terukir di sudut bibirnya.

“Dia mantan pacarku.” Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan namun menghantam.

Noa tercekat. Dadanya terasa sesak.

“M-mantan?” gumamnya, menatap Landerik dengan mata membulat, tak menyangka.

Belum sempat Landerik menjawab lebih jauh, kilat menyambar langit. Suara petir menggelegar keras, memecah udara. Refleks, Noa tersentak dan tanpa sadar memeluk Landerik, jemarinya mencengkeram jasnya erat.

Landerik terdiam sejenak, terkejut oleh kedekatan mendadak itu. Ia bisa merasakan tubuh Noa yang menegang, napasnya yang memburu. Perlahan, Landerik menurunkan tangannya, menepuk punggung Noa dengan gerakan tenang.

“Hanya mantan,” katanya pelan, lebih lembut dari sebelumnya. “Dan itu sudah lama berlalu.”

Hujan masih turun deras, namun di antara dentuman petir dan jarak yang semakin menyempit itu, Noa menyadari, bukan hanya cuaca yang sedang bergolak, tetapi juga perasaannya sendiri.

Noa tersadar dengan sikapnya sendiri. Ia segera melepaskan pelukannya dan melangkah mundur beberapa langkah, menjaga jarak seolah baru saja melanggar batas yang tidak kasatmata.

“Maaf,” ucapnya cepat. “Aku hanya terkejut.”

Landerik tidak langsung menjawab. Ia menatap Noa di sampingnya, sorot matanya tenang namun penuh perhatian, seakan mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

“Kau takut petir?” tanyanya akhirnya.

Noa mengalihkan pandangan, menatap hujan yang masih mengguyur tanpa ampun. “Siapa yang tidak takut petir?” jawabnya. “Aku rasa semua orang takut pada petir.”

Nada suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Ketus, bahkan. Noa baru menyadarinya sesaat setelah kata-kata itu terucap, namun terlambat untuk menariknya kembali.

Landerik menangkap perubahan itu.

Ia berbalik menghadap Noa sepenuhnya, lalu sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajahnya. Hujan, petir, dan hiruk-pikuk kota seakan meredup di sekeliling mereka.

“Ada yang aneh dengan nada bicaramu,” ujar Landerik pelan, tidak menuduh, hanya memastikan. “Kau sedang marah?”

Noa terdiam. Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia sendiri tidak tahu pasti apa yang ia rasakan marah, cemburu, kecewa, atau hanya bingung dengan perasaannya sendiri. Dan justru kebingungan itulah yang membuatnya semakin sulit menjawab.

Beberapa saat Noa merasa seolah tenggelam dalam mata sebiru samudra milik Landerik yang tenang namun menekan, membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal. Jantungnya berdetak terlalu cepat, dan kesadaran itu membuatnya tersentak kembali ke dunia nyata. Ia segera beringsut menjauh, sengaja memberi jarak, lalu membuang wajahnya ke arah lain.

“T-tidak,” katanya terbata. “Aku tidak marah.”

Wajahnya terasa panas, seolah darah naik ke pipinya. Ia yakin pipinya sudah memerah, meski hujan dan udara dingin berusaha menipu perasaannya sendiri.

Landerik tersenyum kecil, senyum yang tipis dan sulit diartikan. Ia kembali menatap hujan yang jatuh deras di hadapan mereka.

“Aku merasa familiar dengan sikap itu,” ujarnya ringan, seakan hanya mengomentari cuaca. Namun kalimat sederhana itu justru menghantam pikiran Noa. Satu nama muncul tanpa diundang.

Riana.

Jantung Noa mencelos. Jika sikap itu mengingatkan Landerik pada Riana, maka artinya, ia terlalu mirip. Terlalu jelas. Terlalu terbaca. Dan untuk pertama kalinya, Noa merasa takut bukan karena petir, melainkan karena perasaannya sendiri mulai terlihat oleh orang yang seharusnya tidak ia libatkan.

Sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter di hadapan mereka. Seorang sopir turun dengan membawa payung, lalu menghampiri mereka sambil memegang satu payung lain di tangannya. Dengan sopan, ia menyerahkan payung itu kepada Landerik.

Landerik segera membukanya, lalu menoleh pada Noa yang masih berdiri mematung sambil menatapnya.

“Apa yang kau lihat? Mendekatlah,” kata Landerik singkat.

Noa melangkah perlahan mendekat, namun tetap menjaga jarak. Payung itu tak cukup menaunginya selama ia masih berdiri sejauh itu. Menyadari hal tersebut, Landerik tanpa basa-basi langsung merangkul Noa, menariknya lebih dekat ke sisinya tanpa aba-aba.

Noa terdiam. Ia seolah hanya mengikuti apa pun yang terjadi, membiarkan dirinya berada dalam lingkaran kejadian itu hingga mereka akhirnya masuk ke dalam mobil.

Begitu duduk, Landerik membuka jasnya. Bahunya tampak basah oleh hujan. Noa masih menatapnya tanpa sadar, pikirannya kosong. Beberapa saat kemudian, Landerik membuka kemeja putihnya, membuat bagian atas tubuhnya terekspos.

Sontak Noa memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melihatnya atau lebih tepatnya, ia tidak berani.

Landerik yang menyadari kekikukan Noa hanya tersenyum kecil. Ia kemudian mengambil kaus yang tergantung di belakang kursinya dan mengenakannya dengan santai, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

Namun bagi Noa, detik-detik itu terasa jauh dari kata biasa.

...♡...

Sesampainya di mansion, Noa langsung melangkah masuk tanpa menoleh sedikit pun pada Landerik. Langkahnya tergesa, seolah ingin menjauh secepat mungkin.

Sang sopir yang melihat itu tampak kebingungan. Ia menatap punggung Noa yang menghilang di balik pintu, lalu beralih menatap Landerik dengan raut ragu.

“A-apa saya melakukan kesalahan, Tuan?” tanyanya hati-hati. Landerik menggelengkan kepala sambil terkekeh kecil.

“Tidak,” ujarnya tenang. “Dia hanya kesal seharian di kantor.” Namun senyum tipis di wajah Landerik menyiratkan sesuatu seolah ia memahami lebih dari sekadar rasa lelah biasa.

Di dalam kamarnya, Noa duduk terdiam di tepi ranjang. Hatinya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang bergerak pelan di dadanya, namun ia tak mampu memberi nama pada perasaan itu.

Bayangan di mobil tadi kembali muncul tanpa izin. Cara Landerik membuka jasnya, kemeja putih yang terlepas dari bahunya, dan bagaimana Noa terpaksa memalingkan wajah untuk menenangkan dirinya sendiri. Adegan itu menautkannya pada ingatan lain, malam di pesta itu, sentuhan Landerik, Tubuh mereka yang saling menempel, suhu tubuh mereka yang memanas, dan deru nafasnya yang sulit untuk dilupakan. Malam yang seharusnya ia lupakan, tetapi justru semakin sering muncul dalam benaknya.

Noa menghela napas pelan.

Hari ini berbeda. Ia menyadarinya dengan jelas. Sepanjang hari, ia dan Landerik lebih banyak berbincang dibanding sebelumnya, bukan sekadar kalimat seperlunya, melainkan percakapan kecil yang entah bagaimana terasa intim. Tatapan yang bertahan sedikit lebih lama. Senyum singkat yang muncul tanpa alasan.

Semuanya membuat dadanya terasa hangat sekaligus gelisah. Noa memejamkan mata, menekan telapak tangannya ke dada, seolah ingin menenangkan detak jantungnya sendiri.

Ada sesuatu yang berubah. Dan untuk pertama kalinya, ia takut pada kenyataan bahwa perubahan itu terasa menyenangkan.

...♡...

Malam itu, Landerik berdiri sendiri di depan jendela kamarnya. Lampu-lampu taman mansion menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Hujan sudah berhenti, tapi udara masih menyisakan dingin yang lembap. Entah sejak kapan pikirannya terus kembali pada satu nama.

Noa.

Ia menghela napas pelan, satu tangannya bertumpu di kaca jendela. Sepanjang hari ia merasa tubuhnya lelah, tetapi pikirannya justru terlalu terjaga. Adegan-adegan di pesta waktu itu terus berputar tanpa ia undang, dan cara Noa berdiri canggung di kantornya, tatapan yang cepat menghindar, dan diam-diam memperhatikannya seolah takut ketahuan.

Dan di mobil tadi. Landerik menutup mata sejenak.

Ia ingat jelas bagaimana bahunya basah oleh hujan, dan bagaimana Noa terlalu diam, terlalu sadar akan keberadaannya. Tatapan itu, singkat tapi jujur, sebelum Noa buru-buru memalingkan wajah. Bukan jijik. Bukan marah. Lebih seperti gelisah.

Itu yang membuat Landerik terdiam paling lama. Ia bukan pria yang asing dengan perhatian. Bukan pula asing dengan ketertarikan perempuan. Namun Noa berbeda. Tidak ada kepura-puraan di matanya. Tidak ada niat menggoda. Justru kebingungan itu yang membuatnya nyata.

“Kenapa kau selalu bereaksi seperti itu,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Pikirannya melayang ke pagi tadi Noa yang menyiapkan obat, memastikan ia makan, duduk tak jauh darinya seharian tanpa keluhan. Kepedulian yang tidak diminta, tapi tetap ia terima.

Landerik membuka matanya, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, ia merasa ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai nama besar, bukan sebagai posisi, bukan sebagai masa lalu. Hanya sebagai Landerik. Dan itu mengganggunya lebih dari yang ia akui.

Ia melangkah menjauh dari jendela, merebahkan diri di ranjang tanpa benar-benar berniat tidur. Di benaknya, satu pertanyaan berulang pelan.

Apakah Noa menyadari, bahwa kehadirannya kini tidak lagi sekadar kewajiban?

Landerik menatap langit-langit, bibirnya melengkung tipis, senyum yang tak ia perlihatkan pada siapa pun malam itu.

To Be Countinue…

1
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di Novelku Judul Nya Menikahi Tuan Muda Kejam kita saling dukung👍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): siap kak nanti aku mampir ya🤗
total 1 replies
riniandara
aku mampir kak semangat berkarya moga berkah dan sukses selalu/Heart/
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih sudah mampir kak😍
total 1 replies
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!