Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 14: Janji Diantara Kita
Setelah melakukan permainan imajinasi dengan Eri dan Ken, Alice tidak menyangka kalau ia akan kembali ke masa-masa kelamnya sebagai gadis otaku semasa sekolah.
Andaikan ia tidak terlahir kembali sebagai bayi hingga ia berusia 6 tahun, mana mungkin ia harus menanggapi permainan tersebut. Tapi, jikalau ia menolak maka ia akan menarik kembali ucapannya yang ingin bermain dengan teman seusianya yang dapat membuat ibunya, Luna kecewa padanya sebagai putrinya.
"Ah, malas."
Berbaring di kasur kanopi berwarna putih, tidak ada kesibukan yang bisa dilakukan oleh Alice setelah makan siang. Dirinya mustahil untuk melakukan olahraga seperti; sit-up, push-up dan squad jump karena sudah dilakukan tadi pagi, mana mungkin ia melakukannya untuk kedua kalinya karena takut ibunya masuk kedalam melihat putrinya melatih otot fisiknya.
"Bosan."
Andaikan ada kesibukan, Alice mungkin tidak berbaring memandang langit-langit kanopi putih. Ia tidak tahu harus melakukan apa selain tetap diam di kamar, hanya bisa memandang langit-langit dari kasur kanopi tanpa akitivitas lain.
"Ah, benar," tiba-tiba ide muncul dibenak Alice. "Kenapa tidak suruh mereka berkumpul?" Mendapat ide yang tiba-tiba muncul, senyum lebar terlihat dibibir Alice.
Ia tidak sabar untuk mengundang Ken dan Eri untuk berkumpul di lobby berharap mereka bisa akur tanpa memperebutkannya seperti sebelumnya.
•••••
Eri POV
Ini benar-benar sulit.
Andaikan aku bisa belajar tanpa kesulitan, mana mungkin aku akan frustasi seperti ini.
Terlebih, banyak sekali jenis tanaman herbal sekaligus cara penggunaannya.
"Ini mana mungkin bisa aku selesaikan dengan membacanya seperti ini!"
Ugh...
Andaikan aku memiliki ingatan yang cukup kuat, mungkin aku bisa membantu ibuku untuk mengatasi pesanan yang menumpuk sekaligus mencegah kejadian dimana Alice pingsan dengan nafas tersengal-sengal dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan keringat membasahi tubuh dan wajahnya.
"Eri-sama...."
"Ya."
Ada apa Nayla tiba-tiba mengetuk pintu ke kamarku? Apakah ada sesuatu yang penting?
"Ada apa, Nayla?"
Di depanku, Nayla menatapku dengan senyum tulus setelah pintu dibuka. Bisa dikatakan, ia adalah maid pribadi yang dipekerjakan oleh ibuku melalui izin dari Yang Mulia Arga jadi ia selalu ada disekitar kami disaat ia tidak sibuk dengan pekerjaannya sebagai maid istana.
"Maaf jikalau saya mengganggu anda, Eri-sama. Tapi, Alice-sama ingin menemui-mu namun kamu tidak menjawab panggilannya dari luar."
"Ah...."
Sial. Apakah karena aku melamun jadi tidak dengar suara Alice?!
"Jadi, saya ingin beritahu kalau Alice-sama menunggu anda di lobby."
Lobby ya.
Kira-kira ada apa Alice mengundangku kesana? Mungkinkah untuk bermain permainan lagi?
"Terimakasih atas informasinya, Nayla."
"Ya."
Peduli amat dengan pemikiran rumit, aku ingin tahu kenapa Alice mengundangku ke lobby. Siapa tahu saja ia ingin bermain atau kesepian karena tidak memiliki teman.
•••••
Ken POV
Hari demi hari, aku terus mengayunkan pedang kayu di kamar tanpa henti berharap aku bisa mewujudkan impianku di masa depan sebagai ksatria yang selalu ada disisi Alice, gadis yang aku kagumi.
"Dua puluh empat.... dua puluh lima...."
Sial. Tanganku tidak kuat lagi.
Padahal aku hanya mengayunkan secara horizontal dari atas ke bawah, tapi sepertinya fisikku tidak cukup kuat meskipun berulang kali aku menghabiskan waktu untuk berlatih mengayunkan pedang kayu.
Haruskah aku melatih fisikku?
Tapi, jika aku melakukan aktivitas lain maka ayah akan memarahi ku karena mengundang banyak perhatian ke keluarga kita.
"Merepotkan."
Padahal impianku sederhana, aku ingin menjadi ksatria dibawah perintah Alice demi melindunginya dan menjadi pedang untuknya. Jadi, jikalau ada siapapun yang berniat untuk menentang keputusannya maka aku akan bertindak sesuai perintah Alice.
Bila aku disuruh menjadi pedang untuknya untuk membungkam penjahat, aku akan melakukannya. Bila aku mengetahui orang-orang berniat untuk mencelakainya, tanpa diperintah maka aku akan melindunginya sebagai perisainya.
Inilah tujuan dan impianku, tidak ada lagi selain itu.
Ketukan pintu terdengar dari luar kamarku, aku tidak tahu siapa yang kemari di jam siang setelah makan siang.
Mungkinkah ayah? Tidak, dia sibuk dengan urusannya di kantor pribadinya di lantai atas.
"Ada apa?"
Lho... Alice?!
•••••
Disaat pintu dibuka oleh Ken, ekspresi Ken menegang begitu melihat gadis yang dikaguminya berada didepan pintu yang tersenyum ceria dengan sikap polos.
"Apakah aku mengganggumu?"
"Tidak," bantah Ken, ia mengalihkan pandangan dari Alice saat merasakan jantungnya berdebar-debar.
"Apa-apaan ini? Kenapa dadaku terasa seperti ini setiap kali melihat Alice?"
Tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya, Ken berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat malu, grogi dan panik, sedangkan didepannya terlihat Alice dengan wajah bingung memiringkan kepalanya menatap ke Ken dengan tanda tanya di ekspresinya.
"Kalau begitu, aku ingin kamu datang ke lobby nanti. Ada hal yang kuinginkan darimu."
"Lobby?"
"Ya," angguk Alice yang tersenyum ceria lalu pergi meninggalkan depan pintu kamar Ken selagi melambaikan tangan padanya menyusuri lorong penginapan. "Aku tunggu di sana, Ken!" Teriaknya, yang dipenuhi dengan rasa semangat dan optimisme tinggi tahu kalau Ken tidak mungkin tidak datang.
Ken yang menghela nafas panjang akhirnya tenang, ia tersenyum saat melihat Alice menghilang di kejauhan.
"Bodohnya diriku," gumamnya yang kembali memasuki kamarnya untuk meletakkan kembali pedang kayu yang digunakannya untuk berlatih ke tempat semula agar tidak berantakan.
Tak lama kemudian, Ken dan Eri berkumpul di lobby di lantai dasar bersamaan dengan Alice yang menunggunya di sofa.
Sekilas, pandangan mereka terlihat saling bermusuhan sebelum Alice memanggil mereka yang sedang duduk di sofa.
"Ken, Eri, kemari!"
Mereka yang menyudahi permusuhan penasaran kenapa Alice memanggil mereka, mendekatinya dengan wajah bingung.
"Kumohon, jangan bertengkar. Ada hal yang ingin kutanyakan pada kalian."
"Tanyakan?" Tanya keduanya dengan kompak, saking penasarannya atas maksud Alice mengundang mereka.
Alice beranjak dari duduk di sofa berdiri menatap mereka dengan senyum lebar memperlihatkan ceria dan polos, memegang tangan masing-masing dari Ken dan Eri yang saling diletakkan diatas satu sama lain.
Mulai dari Alice yang meletakkan tangan Ken dibawah, tangan Eri diatas tangan Ken, lalu tangannya diatas Eri, mirip seperti kerjasama tim sebelum melakukan pertandingan.
"Aku ingin buat perjanjian dengan kalian."
"Perjanjian?"
"Ya," angguk Alice dengan wajah ceria sekali lagi. "Baik dalam suka maupun duka, kita akan selalu ada satu sama lain," lanjutnya, tetap dengan wajah ceria.
Keduanya saling bertukar pandang lalu tersenyum mengangguk setuju pada perkataan Alice, teman mereka tanpa keberatan dengan menarik lengan mereka maupun membantah perkataan Alice.
"Ya, kami akan selalu ada untukmu."
"Aku juga."
Senang mendengar kedua temannya setuju padanya, Alice yakin dengan adanya mereka berdua maka ia tidak perlu khawatir atas kesendirian karena mereka adalah teman dekatnya, sama seperti Luna dan Rin semasa Alice hidup dulu sebagai Nia.
"Jikalau aku menjadi ratu di masa mendatang, aku ingin kalian juga membantuku."
"Ya, aku janji akan menjadi ksatria-mu di sisimu."
"Aku akan meneruskan keturunan ibuku dengan membantumu dari belakang."
Ketiganya saling sepakat satu sama lain, baik suka dan duka, mereka berbagi kedua perasaan sebagai sahabat tanpa saling melupakan maupun mengkhianati satu sama lain.
"Aku jadi terharu."
Salah satu ksatria junior yang mendengar percakapan mereka, para kanak-kanak berusia 6 tahun meneteskan air mata, terharu atas adanya emosi didalamnya.
"Kau cengeng sekali."
Disebelahnya, rekannya yang tingkat ksatria-nya sama hanya bisa mengeluh karena temannya terlalu emosional.
Padahal temannya berpikir kalau itu hanya percakapan diantara mereka, anak-anak berusia 6 tahun yang memiliki impian untuk selalu bersama selamanya, tanpa tahu kalau di masa depan mereka akan berpisah disaat mereka memiliki keluarga dan orang yang mereka cintai untuk dilindungi dan di nafkahi.
"Jadi, kamu memanggil kami hanya untuk itu?"
"Ya," angguk Alice selagi terkekeh menggaruk rambut pirangnya yang panjang menjawab pertanyaan Eri. "Maafkan aku, aku hanya ingin tahu apakah kalian tetap setia padaku atau tidak."
Eri tersenyum mendengar kekhawatiran dari kata-kata Alice. Sebetulnya, ia tidak mempermasalahkannya sama sekali karena menurutnya itu wajar. Hanya saja satu-satunya yang tidak wajar adalah anak lelaki disebelahnya yang menatap Alice dengan wajah kagum.
"Aku akan selalu ada untukmu baik suka maupun duka, tidak seperti orang di sebelahku," ejeknya, dengan membusungkan dadanya selagi berkacak pinggang merendahkan Ken didepan Alice.
"Apa katamu? Apa kau cari ribut?"
"Hentikan, kalian berdua!"
Dengan terpaksa, Alice berada ditengah-tengah diantara mereka, hanya bisa tersenyum pahit karena mereka mirip seperti Tante Lisa dan Paman Edi, keduanya mungkin saja menuruni sifat dari kedua orang tua mereka ke anak-anaknya.