NovelToon NovelToon
Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi1208

"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"

"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pagi itu berakhir tanpa banyak kata. Setelah piring terakhir dipindahkan ke wastafel, Arya berdiri lebih dulu. Dia merapikan celemek, menggantungnya kembali, lalu berjalan menuju tangga tanpa menoleh. 

Mery memperhatikannya sekilas. Cara Arya melangkah tampak lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkahnya memikul sesuatu yang tak kasatmata.

Mery menghela nafas pelan. Ia sendiri tak tahu sejak kapan percakapan sederhana tentang bulan madu bisa membuat dadanya terasa sesak.

***

Di kantor, Mery menutup mata dan bersandar sebentar. Bayangan percakapan pagi tadi tiba-tiba saja berkelebat di kepalanya. Arya yang tersenyum kecil, memasak dengan santai, meminta maaf tanpa bertele-tele. Tidak seperti pria dingin yang sering ia hadapi beberapa bulan terakhir.

“Ini cuma peran,” gumam Mery pada dirinya sendiri.

“Kontrak. Selesai bulan madu, semua kembali seperti semula.”

Namun kalimat itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan diri daripada kebenaran.

***

Sore menjelang.

Rumah terasa sunyi. Arya ada di kamar, sementara Mery berkutat dengan laptop di ruang tamu. Ia berusaha fokus, tapi jarinya berhenti di atas keyboard berulang kali.

Akhirnya Mery menyerah.

Ia berdiri dan melangkah menuju kamar. Pintu itu tidak tertutup rapat. Dari celahnya, Mery melihat Arya duduk di depan koper terbuka. Beberapa pakaian tersusun rapi di dalamnya. Tidak asal-asalan. Bahkan terlalu rapi untuk seseorang yang mengaku hanya menjalani “peran”.

Arya sedang memilih kemeja, menimbang sebentar, lalu melipatnya kembali dengan hati-hati.

Mery berdiri mematung. Entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya menghangat sekaligus perih.

“Dia serius,” batin Mery.

“Entah demi apa.” Mery sempat mencebikkan bibir dan mengangkat kedua bahu.

Tanpa sadar, Mery menarik nafas sedikit terlalu keras.

Arya menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Oh,” Arya berdiri. 

“Aku kira kamu masih kerja.” 

Mery mengalihkan pandangan sejenak, lalu melangkah masuk. “Kamu… kelihatannya sudah siap sekali.”

Arya tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata. “Bukannya kamu yang bilang semuanya harus sempurna?”

Mery mengangguk singkat. “Iya.”

Hening lagi.

Arya menutup koper perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di paha, bahunya sedikit merosot.

Mery melihat Arya tampak… ragu.

“Apa kamu menyesal?” tanya Arya tiba-tiba, suaranya rendah.

Mery tertegun. “Menyesal apa?”

“Menikah denganku,” jawab Arya jujur. 

“Walaupun cuma kontrak.”

Mery membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak langsung menjawab. Di kepalanya, banyak hal berkelindan. Rencana, prinsip, harga diri. Namun di antara semua itu, ada satu perasaan asing yang pelan-pelan menyusup.

“Menyesal atau tidak,” ucap Mery akhirnya.

“Aku sudah terlanjur ada di sini.”

Arya tersenyum miring. “Jawaban yang sangat aman.”

“Dan kamu?” Mery balik bertanya. 

“Kamu yakin dengan semua ini?”

Arya menunduk. Tatapannya jatuh pada koper yang baru saja ditutup. “Aku… sedang belajar untuk yakin.” Jawaban itu jujur. Terlalu jujur.

Mery merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Bukan marah, bukan senang, tapi rasa tidak ingin kalah yang aneh. Ia tidak ingin menjadi pihak yang hanya menjalani peran, sementara Arya tampak mulai melibatkan perasaannya, entah pada siapa.

“Pastikan saja,” ucap Mery dingin.

“Kamu tidak membawa perasaan yang salah ke bulan madu itu.”

Arya mengangkat wajahnya. “Kamu pikir aku bisa mengendalikannya semudah itu?”

Kali ini, Mery yang terdiam.

***

Malam turun perlahan. Lampu kamar redup. Mery terbangun di tengah malam karena haus. Ia bangkit, berjalan keluar kamar, dan berhenti mendadak di anak tangga terakhir.

Arya tertidur di sofa.

Ponsel berada di genggaman tangannya, layar masih menyala. Satu nama terpampang jelas di layar notifikasi.

Hany.

Mery tidak mendekat, juga tidak mengintip isi pesan. Namun cukup satu nama itu untuk membuat dadanya terasa seperti ditekan pelan tapi terus-menerus.

“Jadi ini,” batin Mery.

“Peranku sebagai istri… dan perannya sebagai kekasih.”

Ia berbalik, melangkah kembali ke kamar dengan langkah senyap.

Di balik pintu tertutup. Mery bersandar dan menutup mata. 

Dibenaknya berputar banyak pertanyaan. Bulan madu ini, sebenarnya harus dilakukan atau tidak. Mengingat sejauh ini Mery mencari informasi tentang Arya dan Hany, tidak ada hal yang cacat sama sekali. 

Tidak ada pria lain yang dekat dengan Hany, dan Arya pun sejauh ini juga tetap setia, serta tidak melewati batasnya. Mungkin merekalah yang seharusnya menjalani bulan madu ini.

***

Dua hari menjelang keberangkatan, rumah itu terasa berbeda.

Bukan karena persiapan koper atau jadwal perjalanan yang tertempel rapi di papan kecil dekat kulkas, melainkan karena ada jarak yang tak kasatmata, menggantung di antara Arya dan Mery.

Arya duduk di meja makan pagi itu dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Sejak sepuluh menit lalu, ia tak benar-benar menyentuhnya. Tatapannya kosong, tertuju pada jendela besar yang menampilkan langit mendung tipis. Seolah cuaca ikut meniru isi kepalanya.

Mery turun dari lantai atas dengan setelan kerja rapi, rambutnya diikat sederhana. Laptop tipis berada di satu tangan, ponsel di tangan lainnya.

“Kamu tidak sarapan?” tanya Mery sekilas, tanpa menoleh.

Arya menggeleng pelan. “Tidak lapar.“

“Jangan lupa makan,” ucap Mery singkat, yang sudah berjalan menuju pintu.

Nada suaranya netral. Tidak dingin, tidak hangat. Sekadar mengingatkan, seperti rekan kerja yang sopan.

Arya menatap punggung Mery yang menjauh.

“Mery…” panggilnya ragu.

Mery berhenti sejenak, menoleh setengah. “Kenapa?”

Arya membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Banyak kalimat yang berdesakan ingin keluar. Tentang Hany, tentang izin, tentang rasa bersalah yang menumpuk. Namun tak satupun terasa tepat.

“Tidak apa-apa,” ucapnya akhirnya. 

“Hati-hati di jalan.”

Mery mengangguk kecil. “Kamu juga.”

Pintu tertutup.

Arya kembali sendirian dengan pikirannya.

***

Sepanjang hari, Mery benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya.

Di kantor, ia bergerak cepat, efisien, hampir tanpa jeda. Ia menyelesaikan laporan yang seharusnya bisa ditunda, memimpin rapat tambahan, bahkan mengambil alih satu proyek kecil yang bukan tanggung jawabnya.

“Bu Mery, ini kan bisa setelah cuti,” kata salah satu rekan kerjanya heran.

Mery hanya tersenyum tipis. “Lebih baik beres sekarang.” Yang tidak ia katakan adalah, ia tidak ingin punya waktu untuk berpikir.

Setiap kali pikirannya lengah, wajah Arya muncul. Tatapan ragu itu. Cara pria itu menahan sesuatu yang jelas mengganggunya, tapi tidak cukup berani ia ucapkan.

Mery tidak ingin menjadi orang yang memaksa Arya bicara. “Ini hidupmu,” batinnya.

“Bukan tugasku mengurai konflikmu.” Namun, ada sesuatu yang ia sadari dengan jujur. Ketenangannya sendiri terasa terlalu dipaksakan.

***

Malam itu, Arya pulang lebih larut dari biasanya. Rumah sudah gelap kecuali lampu ruang makan. Mery masih di depan laptop, mengenakan kemeja longgar dan rambutnya sedikit berantakan.

“Kamu belum tidur?” tanya Arya pelan.

Mery mengangkat wajahnya. “Sebentar lagi. Ini laporan terakhir.”

Arya berdiri di ambang pintu, memperhatikannya. Ada rasa asing di dadanya, antara kagum dan kecewa. Mery tampak baik-baik saja. Terlalu baik-baik saja.

“Mery,” ucap Arya lagi, kali ini lebih serius.

Mery menghela nafas pelan, lalu menutup laptopnya. “Ya?”

Arya duduk di hadapannya. Tangannya saling menggenggam, jari-jarinya dingin.

“Aku belum bilang ke Hany,” katanya akhirnya.

Mery tidak langsung bereaksi. Ia hanya mengangguk kecil. “Oh.”

Satu kata itu membuat dada Arya semakin sesak. “Kamu… tidak keberatan?” tanya Arya, ada nada berharap sekaligus takut.

Mery berdiri, mengambil gelas kosong dan berjalan ke dapur. Suaranya terdengar datar saat menjawab, “Itu urusanmu, Arya. Aku sudah bilang, kamu yang atur.”

Arya mengikuti Mery dengan tatapan tidak percaya. “Kenapa kamu bisa setenang ini?”

Mery berhenti menuang air. Ia menoleh, tatapannya lurus dan jernih. Tidak ada emosi berlebih di sana.

“Karena aku tahu batas peranku,” jawabnya tenang.

“Kita menjalani pernikahan ini dengan tujuan yang jelas. Jangan berharap aku bereaksi seperti istri yang cemburu atau menuntut.” Kalimat itu seperti pisau tipis yang menyayat. Tidak berdarah, tapi menusuk tepat ke tengah dada Arya.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa seprofesional itu,” ucap Arya lirih.

Mery meneguk airnya. “Itu bukan masalahku.”

Sunyi.

“Aku realistis saja. Sesuai dengan perjanjian yang sudah kita sepakati.”

***

Malam semakin larut. Mereka berbaring di sisi ranjang masing-masing, dipisahkan jarak yang tak sampai satu meter, tapi terasa seperti dunia berbeda.

Arya menatap langit-langit, pikirannya penuh kebimbangan. Ia merasa bersalah pada Hany, tapi ia juga merasa terikat pada Mery, dan yang paling menakutkan adalah, ia mulai ragu pada keputusannya sendiri.

Di sisi lain, Mery memejamkan mata. Ia berpura-pura tenang, seolah tidak ada yang mengusik. Namun jauh di dalam dadanya, ada rasa ganjil yang perlahan tumbuh. Rasa yang tidak ingin ia beri nama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!