NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Pagi, Panik, dan Adik Licik

Karma boleh pindah rumah, tapi bangun kesiangan tetap musuh utama umat pekerja.

...Happy Reading!...

...*****...

Kring... kring... kring...

Suara ayam tetangga bersahutan dengan bunyi wajan dari dapur. Tapi alarm ponselku tetap jadi sumber bencana utama pagi ini.

Alarm keempat akhirnya berhasil membangunkanku. Dengan nyawa masih tercecer entah di mana, aku meraih ponsel dan mematikannya.

Pandangan langsung tertumbuk pada jam dinding. Mataku melebar.

Sudah setengah delapan. Kantorku masuk pukul delapan. Aku punya waktu tiga puluh menit untuk menyelamatkan hidup dan masa depan karierku yang sudah compang-camping.

Aku meraih handuk, pakaian dalam, dan baju kerja. Lari menuju kamar mandi sebelah kamar kakakku. Aku belum cukup kaya untuk punya kamar mandi pribadi. Bahkan untuk bangun sebelum matahari saja aku masih berjuang.

Mandi berlangsung cepat. Tidak ada air hangat. Tidak ada sesi menangis sambil menyanyi lagu galau. Tidak ada refleksi eksistensial. Hanya bilasan darurat demi keterlambatan yang tertunda.

Selesai, aku meluncur ke kamar. Jam sudah menunjukkan delapan kurang lima belas. Panik menyerang. Aku hanya sempat menepuk-nepuk cushion dan mengoles lip matte. Yang penting wajah tidak terlihat seperti zombie vegetarian.

Biasanya aku tampil rapi. Rambut wangi. Sepatu serasi. Parfum mahal menyertai aura profesional. Hari ini? Bisa sampai kantor tanpa pingsan rasanya sudah seperti menang penghargaan internasional.

Setelah menyisir rambut dan mengoles vitamin yang katanya bisa menyelamatkan jiwa lewat helaian rambut, aku masukkan pouch makeup ke dalam tas. Semoga kantor hari ini tidak dipenuhi manusia yang memandang seperti kamera CCTV tanpa empati.

Aku turun ke bawah dengan kecepatan maksimal. Di ruang tamu, Elan duduk santai menonton televisi. Sikapnya seperti sedang liburan.

"Elan, anterin gue ke kantor."

Dia menoleh. Wajahnya menyebalkan seperti biasa. "Ogah."

"Gue traktir malam ini. Lo mau ke mana?"

"Enggak ke mana-mana. Tapi lo beliin gue printilan motor."

Dalam hati, aku ingin menamparnya pakai sandal rumah yang sudah pensiun jadi keset. Tapi waktu adalah kemewahan yang tidak kumiliki pagi ini.

Aku menghela napas panjang. Anak satu ini bisa memicu hipertensi nasional dengan satu kalimat. Tapi waktu adalah musuh. Aku mengangguk pasrah. "Dua ratus ribu. Lebih dari itu, lo tanggung sendiri."

Dia menyeringai seperti penjahat di kartun Jepang. Hobinya memang modifikasi motor. Gayanya absurd. Biayanya tragis.

"Ya sudah. Ayo." Dia mengambil jaket dan jalan duluan.

Aku masih berdiri sambil berdoa dalam hati. "Ya Tuhan. Kenapa adikku lahir dengan otak licik dan wajah polos."

Setelah menarik napas, aku menyusul. Hari ini bukan hari untuk memberi pencerahan kepada Elan.

Di luar, Elan sudah siap dengan motor sportnya. Alasan utama aku minta diantar sebenarnya adalah itu. Motornya cepat, lincah, dan bisa membelah kemacetan seperti karakter utama film laga.

Untung aku pakai celana. Motor sport dan rok adalah dua hal yang tidak pernah berdamai. Sepatuku flat. Semoga tidak melayang saat tikungan.

Aku naik ke jok belakang dengan seluruh keberanian yang tersisa. Pilihannya hanya dua, naik motor atau terima surat peringatan dari HRD.

Mama tidak membangunkanku karena beliau sudah berangkat ke SMA tempat beliau mengajar. Sekolah yang sama tempat aku pernah mencoba jadi murid teladan dan gagal total.

Sedangkan Papa, pasti sedang di belakang rumah. Sebagai pensiunan, hobinya berkisar antara berkebun, ngopi, dan memberi komentar politik sambil main catur. Kadang aku curiga mereka lebih produktif daripada manajemen di kantor.

Sebelum motor melaju, terdengar suara berat dari dalam rumah. "Kalian mau ke mana?"

"Elan mau nganter aku, Pa." jawabku cepat seperti peserta kuis.

"Kamu enggak naik motor sendiri?"

"Sudah telat."

"Pintunya jangan dibiarin kebuka."

Aku nyengir. Lupa total karena panik. "Maaf."

"Hati-hati di jalan."

"Siap."

Motor meluncur keluar dari gerbang rumahku. Entah kenapa mataku sempat melirik ke arah rumah yang berada di seberang. Rumah yang semalam aku baru tahu pemilik barunya.

Mengingat itu, aku menghela napas. Mencoba untuk tidak berpikir macam-macam. Kami hanya tetangga dan bisa jadi juga tidak setiap hari bertatap muka. Untuk apa aku khawatir. Tapi tetap tidak bisa.

Memilih untuk melupakan kejadian semalam, aku pun mulai mengajak ngobrol Elan sambil berusaha melupakan.

"Elan, lo habis pergi ya?" tanyaku keras-keras.

"Hah?"

Dia tidak bisa mendengarnya. Padahal jalanan masih sepi dan kami bahkan belum keluar komplek.

"Lo habis keluar enggak?" ulangku lebih kencang.

"Enggak. Kenapa emangnya?"

"Jaket lo tadi di sofa. Lo biasanya enggak pernah naro sembarangan."

Dia tertawa kecil.

Aku langsung curiga. "Lo kenapa ketawa? Lo gila?"

"Gue nungguin lo bangun."

"Maksudnya?"

"Gue tahu lo bakal kesiangan. Jadi gue duduk aja di situ. Nungguin lo minta dianter."

Aku terdiam. Otakku memproses niat jahat ini. Satu sisi aku bangga punya adik secerdik mafia kecil, sisi lain aku ingin daftarkan dia ke reality show Saudara Terlicik Se-Nusantara.

"Jadi lo sengaja nunggu biar dapet dua ratus ribu?"

"Haha iya. Awas lo kalau ingkar janji."

"Gue enggak janji. Jadi berhak dong buat enggak ngasih."

Elan memperlambat laju motor. Drama psikologis dimulai.

"Ya udah. Gue turunin lo di sini."

"Jangan. Gue kasih dua ratus. Tapi jangan turunin gue."

"Siap, Bos."

Tiba-tiba motor melaju kencang. Aku hampir mental ke depan. Refleks, aku peluk punggung Elan seperti anak ayam ke induknya.

"Elan!"

Kadang aku lupa, di balik tingkah kriminal domestiknya, Elan adalah satu-satunya manusia yang selalu muncul saat aku butuh meskipun dengan niat tercela.

Coba bayangin wajah cantikku mencium aspal jalanan. Nanti jadi berita viral. Seorang perempuan mirip Kim Sejeong tersungkur dari motor sport, didorong oleh tekanan hidup dan adik kandung.

Aku menatap punggung Elan. Dalam hati aku tahu satu hal.

Kalau dia bukan adikku, mungkin sudah masuk daftar barter nasional sejak usia balita. Tapi ya sudahlah. Hidup memang penuh kompromi. Terutama dengan genetik yang tidak bisa kita pilih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!