Seorang CEO tampan blesteran Turki-Indonesia, Alexander Kemal Malik, putra satu-satunya Billionaire, Emir Kemal Malik, raja properti dan ritel, Malik Corp, Turki, dipaksa menikah dalam waktu satu bulan. Jika tidak Alex hanya ada dua pilihan, dijodohkan atau dicabut hak warisnya. Sialnya sang kekasih, Monica Young, model internasional Hongkong, lebih memilih kariernya dan meminta waktu satu tahun untuk menikmati puncak kariernya sebelum melepasnya untuk menikah.
Tapi waktu yang ada hanya satu bulan. Atau Alex harus merelakan, dijodohkan ataukah melepaskan semua sahamnya untuk didonasikan?
Dan ide menikah kontrak dari Monica membuatnya bertemu dengan gadis manis Rianti Azalea Jauhar. Relakah Monica, saat Alex menikahi Rianti? Sanggupkan Rianti tidak jatuh cinta pada Alex? Saat tiba kontraknya selesai, mampukah Alex menceraikan Rianti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tya gunawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sickness
Alex masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Perutnya masih terasa melilit meski sudah jauh lebih baik dari kemarin.
Baru kali ini pria itu mencoba masakan Indonesia. Sambal. Makanan yang identik dengan pedas yang menagih. Di Turki, sambal tidak terasa pedas, melainkan cenderung menawarkan rasa asam. Namanya Esme. Esme biasa disantap dengan spinach mancha, sajian khas Turki berupa campuran yogurt dengan baby spinach atau sayuran mentah lainnya.
Jadi baru pertama kali ini pria itu makan sambal. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini dia ingin makan makanan yang sering dimakan istrinya.
Alex terlihat duduk di sandaran ranjang dengan beberapa berkas di tangannya. Tommy menunggui di sebelah kirinya. Sementara Vivian sekretarisnya, berdiri di samping kanannya, di sebelah nakas yang terdapat setumpuk dokumen.
Vivian terpaksa harus membawa dokumen-dokumen itu ke rumah sakit tempat Alex di rawat. Pria itu nampak serius, meski wajah tampannya masih terlihat pucat.
"Apa Rianti menelpon?" tanyanya sambil matanya masih fokus pada dokumen di tangannya.
Pertanyaan darinya membuat Tommy mengangkat sebelah alisnya. "Tidak Sir. Apa perlu saya menelpon Nyonya?"
"Tidak. Tidak perlu.”
Tommy memandang Vivian, sementara gadis itu hanya mengedikkan bahu.
"Terkadang, wanita itu mengharapkan ditelepon duluan, Sir." Ucap Vivian lirih.
Alex menoleh. Memandangnya tajam, "Apa benar seperti itu?"
Vivian mengangguk malu-malu. "Benar, Sir."
“Oh."
"Anda tidak berniat menelpon Nyonya, Sir?"
"Bukan urusanmu." Salak Alex sambil matanya kembali menekuni dokumen di tangannya. Meski terlihat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Vivian mendengus. Bibirnya mengerucut kesal. Pria memang seperti itu. Lebih mementingkan egonya. Apalagi pria seperti Alex. Bosnya itu memang tampan. Tapi hati dan perasaannya tidak bisa diduga.
Kadang hangat, kadang dingin. Mungkin dulu nyonya Arimbi ngidam dispenser waktu hamil Alex.
Hgh.
Apa salahnya sih bilang kangen? Mana sampe dibela-belain makan kesukaan istrinya. Hmm...
“Sir. Tadi nyonya besar menelpon. Dan beliau akan datang sebentar lagi dengan nona Lyca." Tommy mengalihkan pembiacaraan.
Alex mendengus. Mengalihkan pandangan ke jendela rumah sakit. "Hmm... Baiklah. Kalau sudah selesai, kau boleh pergi, Vi. Batalkan jadwalku dua hari ke depan. Aku ingin istirahat."
"Baik, Sir. Saya permisi dulu." Vivian segera membereskan berkas-berkas di atas nakas. Mengangguk sebentar ke Alex dan melenggang meninggalkan pria itu yang masih diam menatap langit-langit kamar rumah sakit.
"Kasih tau itu si Bos, kalau tidak mau kehilangan wanita. Jangan seperti kulkas berjalan." Bisiknya pada Tommy sebelum menutup pintu dan berlalu pergi.
Tommy hanya melotot kesal. Memandangi punggung Vivian sebelum pintu kamar tertutup.
Baru saja Alex merebahkan tubuhnya kembali. Pintu kembali di buka dengan kasar.
"Alex," Arimbi membuka pintu kamar dan berjalan dengan cepat menghampiri Alex, diiringi, Lyca.
Wajah wanita cantik itu terlihat sangat khawatir. "Steve memberitahuku, kamu sakit perut? Dan Bibi Jen bilang padaku, kamu mencoba makan sambal?"
Alex menghela napas panjang, "Sudahlah Ann. Aku tidak apa-apa."
“Anak bodoh. Kamu persis seperti Babamu. Kalian hanya bisa makan bubuk paprika dan saus tomat. Kenapa kamu memaksakan diri?"
"Anne. Please. Aku baik-baik saja."
"Kamu selalu saja begitu. Semaunya sendiri. Kamu tidak memberi kabar Anne ketika tidak jadi pergi Honeymoon. Setelah dari di Singapur pun, Anne dengar kamu kembali ke Turki. Dan sekarang kamu pulang ke Jakarta. Sendiri! Sendiri Alex. Apa yang terjadi?"
Alex tidak bisa berkata-kata.
"Mana mantu, Anne?" Arimbi menatap tajam wajah putranya yang masih terlihat pucat.
“Oh iya Aunty. Aku tidak melihat Rianti? Mana Rianti, Kak?" Lyca berseru sambil melihat sekeliling.
Alex terdiam, mengusap wajahnya sebelum bicara, "Aku rasa ini semua salahku, Ann."
"Salahmu?"
“Rianti pulang."
“Pulang? Pulang kemana?" tanya Anne heran.
Alex menghela napas panjang, "Aku rasa, Anne lebih tahu apa yang terjadi sebelum malam itu, bukan?" Alex mendesah, "Dan dia pergi keesokan harinya."
"Kamu menyalahkan Anne? Anne hanya membantumu. Kalau kalian sudah menikah, itu hal yang sangat wajar terjadi. Kecuali kalau...,"
Alex memejamkan matanya, "Ann...,"
"Kenapa?"
Alex memandang datar ke arah Lyca dan Tommy. "Bisa tinggalkan aku berdua dengan Anne?"
"Baik, Sir."
Tommy mengangguk dan mengajak Lyca untuk keluar. Begitu pintu tertutup, Alex kembali menghela napas panjang.
"An..., tolong jangan campuri rumah tanggaku."
Anne berdecak, "Kenapa? Supaya kamu bisa berbuat semaumu? Jangan kau pikir Anne tidak tahu."
"Maksud Anne?"
Wanita itu memandang putranya marah.
"Kamu berani bertanya? Setelah kamu jebak anak gadis orang dengan pernikahan pura-pura kamu? Menipu Baba dan Anne. Sejak kapan kamu sangat tidak menghargai wanita, Son?"
Alex terkejut. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Anne tahu semua rencananya, "Anne sudah tahu?"
"Anne sudah curiga dari awal. Dan Anne meminta Baba untuk menyelidiki. Rianti bukan gadis yang bisa begitu saja mengenalmu. Dia juga tidak ada di lingkup pergaulanmu." Arimbi menatap Alex tajam, "Kamu tidak akan mungkin menikahi gadis itu begitu saja jika tidak ada siasat yang kamu rencanakan. Kamu sangat keterlaluan, Son."
"Anne marah?"
Arimbi memandang lekat wajah letih dan pucat putranya. Mungkin saja sekarang pria itu akan belajar banyak dari kejadian ini. Semoga.
'Tidak. Hanya saja Anne kecewa."
"Maaf," Alex memejamkan matanya sambil berkali-kali menghela napas panjang. Seolah ada beban berat yang ditanggungnya.
Arimbi menatap wajah Alex tak tega.
“Jika malam itu tidak terjadi apa-apa, lepaskan gadis itu, Son. Ceraikan dia."
"Ann!" Alex tanpa sengaja berteriak.
Sungguh. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk bercerai.
Arimbi tersenyum samar. "Lantas? Apa maumu? Meneruskan perjanjian konyol ini? Dan akan menceraikan dia begitu kekasihmu kembali?"
"Aku," Alex kembali terdiam.
"Kamu tidak mencintainya, kan? Buktinya kamu masih bertemu dengan model itu?"
"Tidak... Tidak seperti itu... Aku tidak... aku hanya," Alex salah tingkah.
"Tidak? Hanya?"
Ah, bagaimana menjelaskan pada Anne tentang semuanya? Alex lebih memilih mempresentasikan proyek milyaran dollar daripada membicarakan masalah perasaan.
"Ann," Alex menatap Arimbi lekat, "yang jelas aku tidak akan menceraikan Rianti."
"Kenapa?"
Alex mengerutkan keningnya. Menatap Arimbi tajam. "Anne pasti tahu apa yang terjadi pada malam itu."
Anne menggelengkan kepala. "Mana mungkin Anne tahu. Anne lupa memasang CCTV." Arimbi mencoba bercanda, memandang wajah putranya yang menatapnya horor.
"Jangan bilang kamu?"
Alex mengangguk. "Itu yang buat Rianti pulang, Ann. Aku tidak bisa mencegahnya."
"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu melakukannya? Alex, jangan katakan, kalian para pria bisa melakukan sex meski tanpa cinta?”
"Aku tak pernah bilang aku tidak mencintainya?"
"Jadi kamu mencintainya?" mata Arimbi berbinar.
Alex menggeleng, "Aku tidak tahu, An."
“Oh.. kalau begitu, itu semua salahmu, Alex. Kenapa kamu lakukan "itu"! Ini bukan Eropa, Turki, atau Amerika. Ini Indonesia, Son. Pantas saja Rianti marah. Kamu memperkosanya?"
Wajah Alex memerah, "Bukan. Rianti yang tanpa sengaja meminumnya."
Arimbi berdecak, "Oh. Jadi kamu memanfaatkannya ketika dia mabuk? Berarti tetap saja kamu yang salah, my lord." Arimbi menggeleng-gelengkan kepala.
Alex mendengus. "Aku tahu aku salah!" sergah Alex keras. Otaknya sedang buntu, dan ia tidak butuh tuduhan tambahan dari Anne.
Jelas-jelas Anne yang membuat semuanya terjadi.
"Malam itu aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Anne tahu bagaimana Rianti sangat tersiksa saat itu?"
Anne berdecak tidak puas. “Dan kamu menjadikan perbuatanmu seolah-olah menjadi dewa penolong? Anne hanya mengujimu malam itu. Jika kamu tak ingin menyentuhnya, kamu bisa telepon Steve, dokter pribadimu 24 jam. Kamu bisa lakukan sesuatu untuk tidak merusak masa depannya. Tapi kamu memakannya juga, kan? Siapa yang salah?"
Alex mendesah dan menghela napas panjang. Makin lama bicara dengan Anne membuat rasa bersalahnya semakin memuncak.
"Anne terus menyalahkanku. Bukannya membantu mencari solusi."
"Kamu mau solusi? Jemput dia. Atau kamu akan kehilangan dia selamanya."
"Apa menurut Anne, dia bersedia kembali?" tanya Alex sangsi.
"Tergantung. Tergantung bagaimana caramu meyakinkannya."
Alex mengusap wajahnya kasar. Menekan-nekan pangkal hidungnya dengan jari, berharap rasa pusingnya sedikit berkurang. Perutnya semakin melilit memikirkan apakah gadis itu bersedia memaafkannya atau tidak.
Ponselnya di nakas berdering. Keningnya berkerut saat melihat sebuah nama yang tertera di layar.
Memandang wajah Anne sebentar seolah meminta pendapat menerima atau menolak panggilan itu. Anne hanya mengedikkan bahu.
Berdeham sebentar Alex menggeser tombol hijau di ponselnya. Keningnya berkerut.
"(....)"
"Hmm."
"(....)"
"Iya. Aku di rumah sakit."
"(....)"
"Oh.. Ok". Alex berdecak kesal. Tanpa sadar pria itu mematikan ponselnya.
"Monica?"
"Anne tahu?"
Arimbi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Apa yang tidak Anne tahu dari kamu, Son? Mau apa dia?'
"Dia ingin menjengukku, Ann. Dan lusa, dia mengundang kita untuk datang ke peresmian perusahaan Daddy-nya di Jakarta."
"Kamu masih mencintainya?"
Alex terdiam. Mungkin masih mencintainya, tapi tidak sebesar dulu. Atau mungkin hatinya sudah terbagi dengan yang lain?
Anne mendengus jengkel. Puteranya itu masih saja belum menyadari perasaannya sendiri. Anak bodoh.
"Kalau kamu mencintainya, ceraikan Rianti. Nikahi Monica. Jangan permainkan anak gadis orang. Tapi, pesan Anne, jadilah pria bertangung jawab, my Son." Kata Anne tegas sebelum berbalik meninggalkan Alex yang masih termangu di tempatnya.
Hmm. Cerai? Kenapa mendengarnya ada rasa sakit di hatinya?
🍁🍁🍁
"Ri, kenapa kamu pergi dari rumah? Ada apa?" satu panggilan panik dari Lyca membuat hati Rianti tersentuh. Setidaknya masih ada yang merasa kehilangan karena kepergiannya, meski itu bukan Alex.
"Aku tidak apa-apa." Balas Rianti lemah.
"Hei, kenapa kamu terdengar lemah sekali. Apa kamu sakit?” suara Lyca terdengar khawatir. "Kalian benar-benar berjodoh. Kak Alex juga ada di rumah sakit sekarang."
"Haah? Rumah sakit? Kenapa dia, Ly?" suara Rianti tercekat. Dia terlihat sangat khawatir.
Jangan-jangan? Ah, Mendadak ada beribu kekhawatiran di kepalanya.
"Sakit perut."
"Bagaimana bisa? Bukankah Bu Fatma selalu memberikan makanan yang terbaik untuk Alex?"
"Alex sudah kembali ke Jakarta kemarin."
"Oh." Rianti menutup mulutnya. "Tapi tidak mungkin Bibi Jeni, meracuni Alex, meskipun Alex pernah menamparnya saat aku pergi dulu, kan?”
"Kau bilang apa? Alex hanya sakit perut karena mencoba makan sambal. Kamu tahu sendiri kan, dia tidak pernah makan yang pedas-pedas.”
Syukurlah. Rianti menghela napas lega. Padahal tadi dia sudah menduga yang tidak-tidak.
"Kapan kamu pulang?"
"Aku,"
“Kamu tidak mau melihat keadaan Kak Alex? Oya, aku dengar tadi, Aunty akan jemput kamu untuk pulang ke rumah."
Anne? Ada rasa kecewa di hati Rianti. Kenapa Anne? Kenapa bukan Alex yang menjemputnya? Huh. Apa yang kau pikirkan, Ri? Pria itu pasti sudah melupakanmu setelah apa yang dilakukannya padamu.
"Lyca. Tidak. Tolong katakan sama Anne. Tidak perlu menjemputku. Aku akan segera kembali, jika aku sudah ingin pulang." Rianti memejamkan matanya.
Di satu sisi dia rindu. Tapi dia juga belum ingin bertemu Alex. Pasti akan sangat canggung bertemu dengannya. Di sisi lain, dia tidak bisa egois dengan mengabaikan kenyamanan keluarganya. Bapak, Ibu, serta Azzam.
"Baiklah. Sampai ketemu di Jakarta."
Rianti mengangguk. Meskipun Lyca pasti tidak bisa melihatnya.
Gadis itu segera mematikan ponselnya.
Alex, aku rindu.
🍁🍁🍁
Pingin kasih visual Alex sih. Semoga sesuai espektasi ya
ALEXANDER KEMAL MALIK
RIANTI AZALEA JAUHAR
MONICA YOUNG