Sinopsis
Rania, seorang gadis desa yang lembut, harus menanggung getirnya hidup ketika Karmin, suami dari tantenya, berulang kali mencoba merenggut kehormatannya. Belum selesai dari satu penderitaan, nasib kembali mempermainkannya. Karmin yang tenggelam dalam utang menjadikan Rania sebagai pelunasan, menyerahkannya kepada Albert, pemilik sebuah klub malam terkenal karena kelamnya.
Di tempat itu, Rania dipaksa menerima kenyataan pahit, ia dijadikan “barang dagangan” untuk memuaskan para pelanggan Albert. Diberi obat hingga tak sadarkan diri, Dania terbangun hanya untuk menemukan bahwa kesuciannya telah hilang di tangan seorang pria asing.
Dalam keputusasaan dan air mata yang terus mengalir, Rania memohon kepada pria itu, satu-satunya orang yang mungkin memberinya harapan, agar mau membawanya pergi dari neraka yang disebut klub malam tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 27
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, jemari Ergan mencengkeram stir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Airish duduk berdekatan dengan laki-laki bernama Herry itu terus berputar seperti kaset rusak di benaknya. Seharusnya ia tidak peduli. Bukankah ia yang bersikeras memutus benang kasih itu tiga tahun lalu?
"Brengsek!" umpat Ergan sembari memukul stir mobilnya dengan keras. Dadanya sesak oleh campuran antara amarah dan penyesalan yang terlambat.
Sesampainya di kantor, Airon menyadari ada yang tidak beres. Mata Ergan yang biasanya tajam dan fokus kini tampak kosong dan memerah.
"Ergan, apa kamu sedang tidak sehat?" tanya Airon, meletakkan dokumennya. Ia mengenal asistennya lebih dari siapa pun; Ergan jarang menunjukkan emosi kecuali jika ada sesuatu yang benar-benar mengusik jiwanya.
"Saya baik-baik saja, Tuan. Hanya sedikit lelah," jawab Ergan datar.
"Wajahmu tidak berkata begitu. Pulanglah. Saya izinkan kamu mengambil sisa hari ini untuk istirahat," ucap Airon. Sebagai teman sekaligus atasan, ia tahu Ergan butuh waktu sendiri.
"Terima kasih, Tuan. Saya permisi." Ergan segera melangkah pergi, tak sanggup lagi menahan topeng profesionalnya lebih lama.
Ergan melajukan mobilnya menuju apartemen pribadinya. Setelah menyapa resepsionis dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia memasuki lift VIP dan naik ke lantai sembilan. Di dalam kesunyian unit apartemennya, Ergan merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Ia menatap langit-langit, teringat bagaimana dulu suara tawa Airish sering mengisi ruangan ini.
Setelah mandi air dingin untuk menjernihkan pikiran, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari grup pertemanan mereka. (Malam ini ketemuan di tempat biasa).
Ergan melempar ponselnya ke atas kasur. Ia butuh pelarian. Ia butuh kebisingan untuk menulikan suara hatinya yang terus menyebut nama Airish.
Malam itu, dentuman musik disko yang memekakkan telinga menyambut Ergan di klub. Ia langsung menuju ruangan privat kedap suara tempat teman-temannya sudah berkumpul.
"Mana Airon?" tanya si berperawakan manis.
"Lagi sama pawangnya," sahut Ergan sembari meneguk whiskey pertamanya.
"Pawang? Kamu selalu bilang begitu. Memang siapa sih?" tanya teman yang lain.
"Gan, si Airish sudah punya cowok baru ya?" celetuk si Gondrong tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat gelas di tangan Ergan berhenti di udara.
"Iya, semalam aku lihat mereka di sini. Dan kamu tahu mereka lagi apa? Lagi kissing-kissing mesra di sudut bar. Muaaach... muaaach," lanjut si Gondrong sembari memperagakan gaya ciuman.
Hati Ergan seketika mendidih. Amarah yang sedari siang ia tahan kini mencapai titik didih. "Sepertinya Airish benar-benar sudah move on," sahut teman yang lain. "Wajar saja, dia sudah terlalu lama kamu cuekin, Gan."
Ergan tidak tahan lagi. Ruangan itu terasa begitu sempit dan pengap. Ia memilih keluar menuju area bar terbuka untuk mencari udara segar. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan pemandangan yang paling ingin ia hindari.
Di sudut bar yang remang, Airish sedang duduk tertawa bersama Herry, laki-laki yang ia lihat di restoran tadi siang. Tangannya melingkar mesra di lengan Herry.
Sadar akan kehadiran Ergan, Airish bangkit dan menghampiri meja minuman tempat Ergan berdiri.
"Hai, Gan," sapa Airish, suaranya terdengar jauh lebih ceria dari biasanya, seolah ia ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
"Iya," balas Ergan singkat tanpa menatap mata gadis itu.
"Siapa dia?" tanya Ergan, melirik tajam ke arah Herry yang kini berdiri di belakang Airish.
"Ini Herry. Dia pacarku," kata Airish dengan nada bangga yang dibuat-buat. "Herry, ini Ergan. Sahabat kakakku."
Herry mengulurkan tangan. "Hello, senang bertemu denganmu."
Ergan menyambut uluran tangan itu, namun cengkeramannya sangat kuat dengan tatapan yang penuh permusuhan. Herry hanya bisa tersenyum kaku sebelum akhirnya membisikkan sesuatu ke telinga Airish dan mengajak gadis itu pergi.
Sepeninggal mereka, Ergan hanya bisa menatap punggung Airish dengan kedongkolan yang luar biasa. Ia benci cara laki-laki itu menyentuh Airish. Ia benci kenyataan bahwa ia tak lagi punya hak untuk melarangnya.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Herry menoleh ke arah Airish. "Siapa Ergan sebenarnya? Dia menatapku seolah ingin membunuhku."
"Dia... teman Kak Airon," jawab Airish pendek. Ia tidak berbohong, tapi ia juga tidak menceritakan seluruh kebenarannya.
Kenyataannya, Ergan adalah mantan kekasih Airish. Mereka menjalin hubungan rahasia selama lima tahun, sebuah hubungan indah yang harus berakhir secara sepihak tiga tahun lalu karena alasan yang menurut Airish sangat klise, Ergan merasa status sosialnya sebagai asisten tidak pantas bersanding dengan putri keluarga Demitri.
Selama tiga tahun terakhir, Airish telah melakukan segala cara untuk kembali mendapatkan hati Ergan. Ia mengejarnya, merayunya, bahkan memohon. Namun hati Ergan sekeras karang. Keputusan Ergan untuk melepaskannya sudah bulat demi masa depan Airish yang menurutnya harus lebih bersinar tanpa dirinya.
Sesampainya di kamar, Airish menatap bingkai foto di atas meja riasnya. Di sana, ia dan Ergan tersenyum lebar di bawah rintik hujan, sebuah momen saat mereka masih sangat mencintai satu sama lain. Kesedihan mendalam menyelimuti wajah cantiknya.
"Cukup, Airish. Berhenti mengharapkan cinta yang dia sendiri sudah membuangnya," gumamnya pada diri sendiri.
Airish memutuskan untuk benar-benar menyerah malam ini. Ia tidak ingin lagi tersakiti oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Meski hatinya masih milik Ergan, ia akan memaksanya untuk menjadi milik Herry, atau siapa pun, asalkan bukan lagi mengejar bayang-bayang pria kaku yang telah mematahkan hatinya berkali-kali itu.
masa tangan kanan ga punya rencana 🤦🤦