NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Gerbang Hijau: Bab 20 Emas Hitam di Jantung Hutan

Dua hari telah berlalu sejak badai keputusasaan menerjang rumah Paman Baskoro. Suasana desa masih diselimuti awan kecemasan yang pekat, seolah-olah setiap embusan angin membawa kabar buruk. Meski demikian, di balik duka tersebut, semangat untuk membela Jaya tetap membara di hati keluarga besar Arjun. Valaria, dengan tekad yang sering kali dianggap keras kepala, merasa tak cukup hanya diam dan menunggu mukjizat.

"Aku harus berbuat sesuatu, Bu. Waktu dua minggu itu akan berlalu secepat kedipan mata," ucap Valaria kepada ibunya. Ekspresi di wajahnya tegas, tak menyisakan ruang bagi keraguan.

"Tapi Nak, mencari uang satu juta dalam waktu sesingkat itu... bagi orang seperti kita, itu hampir mustahil," sahut Ratri. Suaranya melemah, seolah-olah beban di pundaknya telah menguras seluruh energinya.

Valaria sadar sepenuhnya bahwa ia tidak mungkin menghasilkan uang sebanyak itu sendirian. Namun, ia percaya pada hutan. Setiap rupiah yang dihasilkan dari tanaman obat langka atau buah-buahan hutan akan sangat berarti untuk menyambung nyawa harapan mereka.

Awalnya, Ayahnya melarang keras rencana itu. "Valaria! Kau mau masuk ke jantung hutan? Itu terlalu berbahaya! Binatang buas dan medan yang licin bukan lawanmu. Kita cari cara lain!"

"Tidak, Ayah. Aku tahu hutan ini lebih baik dari siapa pun. Aku bisa mencari akar-akaran langka atau buah yang bisa dijual mahal di pasar kota. Aku harus pergi! Aku tidak tahan melihat Ayah dan Ibu terus bersedih setiap kali menatap Jaya," balas Valaria. Matanya memancarkan api semangat yang tak bisa dipadamkan oleh argumen apa pun.

Tiba-tiba, dari balik pintu kayu yang berderit, muncul sosok Eko. Bocah lelaki yang biasanya pemalu dan lebih suka bersembunyi itu kini berdiri dengan punggung tegak.

"Aku ikut, Kak Valaria!" seru Eko lantang. "Biarkan aku membantu. Aku tidak mau hanya melihat Ayah dan Kak Jaya menderita."

Melihat keseriusan dan ketulusan di mata kedua remaja itu, pertahanan Ayah runtuh. Ia menatap istrinya yang hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa menahan langkah anak-anak ini hanya akan menambah beban batin mereka.

"Baiklah," ujar Arjun akhirnya dengan suara berat. "Kalian boleh pergi. Tapi janji, hanya dua hari. Jangan masuk terlalu dalam, dan kalian harus saling menjaga satu sama lain."

Pagi buta, ketika kabut tipis masih menyelimuti lembah laksana selimut putih yang dingin, Valaria dan Eko sudah bersiap. Valaria mengenakan kemeja lusuh dan celana panjang tebal untuk melindungi kulitnya dari duri, sementara tas ransel bambu yang kokoh tergantung di punggungnya. Eko membawa tas serupa yang lebih kecil, dengan sebilah parang milik ayahnya terselip di pinggang.

"Siap, Eko?" bisik Valaria. Eko mengangguk mantap, meski wajahnya sedikit tegang. "Siap, Kak!"

Mereka mulai berjalan, melewati jalan setapak yang licin dan berkelok menuju tepian hutan lebat. Semakin jauh mereka melangkah, suara kehidupan desa perlahan menghilang, digantikan oleh simfoni alam yang megah: desing serangga, kicauan burung yang tersembunyi di rimbun kanopi, dan gemericik air sungai yang mengalir deras di kejauhan.

Hutan itu adalah labirin hijau yang sunyi. Bau lembap dari tanah gambut dan lumut menusuk hidung, bercampur dengan aroma manis bunga hutan yang misterius. Mereka mulai memunguti beberapa jenis tanaman obat, namun hasilnya tidak memuaskan. Hingga tengah hari, tas bambu mereka baru terisi seperempat.

"Aduh, bagaimana ini, Eko? Kalau hanya dapat tanaman ini, harganya tidak seberapa," keluh Valaria sambil menyeka keringat di dahinya.

Mereka beristirahat di bawah pohon beringin raksasa yang akarnya menjuntai menyerupai tirai alam. Di sanalah Valaria mengambil keputusan berisiko. "Eko, kita akan masuk sedikit lebih dalam. Di area yang jarang dijamah orang, terkadang ada harta karun tersembunyi."

Mereka menyusup lebih jauh ke dalam keremangan hutan. Cahaya matahari semakin sulit menembus lebatnya pepohonan. Tiba-tiba, langkah Valaria terhenti. Matanya terpaku pada sebuah pohon yang berdiri agak menyendiri. Pohon itu tidak terlalu tinggi, namun batangnya memiliki bentuk yang sangat unik.

Wajah Valaria yang pucat karena lelah mendadak bersinar. Senyum tulus merekah di bibirnya senyum pertama sejak tragedi dua hari lalu. Ia menunjuk ke arah pohon itu dengan tangan gemetar.

"Lihat, Eko! Buahnya!"

Pohon itu memiliki sifat cauliflory; bunga dan buahnya tumbuh langsung dari batang tua, bukan di ujung ranting. Buah-buahnya berbentuk lonjong dengan alur kulit yang jelas. Ada yang masih hijau, namun banyak yang sudah matang sempurna dengan warna kuning terang, jingga, hingga merah pekat menyerupai emas yang bergantungan.

Eko bingung melihat kegembiraan kakaknya. "Kak, pohon apa itu? Kenapa Kakak senang sekali melihat pohon aneh ini?"

Valaria menoleh, matanya berkaca-kaca karena haru. "Eko, ini adalah pohon harapan kita! Ini pohon cokelat! Buah dan biji inilah yang nantinya diolah menjadi cokelat mahal yang membuat Kak Jaya difitnah itu!"

"Cokelat yang harganya tujuh ribu per bungkus itu, Kak?" tanya Eko polos.

"Ya! Walaupun cokelat yang dijaga Kak Jaya adalah produk impor, bahan dasarnya tetap sama. Ini adalah kakao! Kita bisa mengolahnya atau menjual biji keringnya. Harganya sangat tinggi!"

Tanpa membuang waktu, mereka mulai bekerja. Valaria mengajari Eko cara memotong tangkai buah dengan hati-hati agar tidak merusak bantalan bunga pada batang. Suara gesekan pisau di kulit buah yang tebal memecah keheningan hutan. Setelah terkumpul banyak, mereka membelah kulit buah tersebut.

Aroma asam-manis yang segar segera menyeruak. Di dalamnya, biji-biji berwarna ungu diselimuti oleh pulp (daging buah) putih yang lengket. Eko mencicipi sedikit daging buahnya. "Manis sekali, Kak!"

"Jangan dihabiskan! Pulp ini penting untuk proses fermentasi nanti," ujar Valaria sambil tertawa kecil. Rasa lelahnya lenyap seketika.

Sore menjelang, hutan mulai mendingin dan semakin gelap. Mereka berhasil mengisi penuh tas ransel mereka dengan biji kakao segar. Karena hari sudah gelap, mereka memutuskan untuk berkemah di tepi hutan. Di depan api unggun kecil, Valaria memulai proses krusial: Fermentasi.

Ia menyusun biji kakao di atas hamparan daun pisang lebar. "Ini harus ditutup rapat, Eko. Bakteri alami akan memakan gula dari pulp ini, menghasilkan panas, dan membunuh lembaga bijinya agar aroma cokelat keluar. Kita butuh lima sampai delapan hari."

Eko mendengarkan dengan saksama. "Lalu, kalau gagal bagaimana, Kak? Kalau cokelatnya tidak jadi?" tanya Eko tiba-tiba, menyuarakan ketakutan terkecil di hatinya.

Valaria terdiam sejenak. Ia menatap api unggun, lalu menarik napas panjang. "Kalau cokelatnya tidak jadi, aku sudah punya ide cadangan. Kita akan mengeringkan biji ini sampai sangat garing dan menjualnya sebagai bibit atau bahan baku jamu ke pengepul besar di kota. Harganya mungkin tidak semahal cokelat olahan, tapi cukup untuk menunjukkan pada mereka bahwa kita punya cara untuk membayar."

Namun, di dalam benaknya, Valaria memikirkan hal lain. Jika biji ini gagal menjadi cokelat, ia akan menggunakan kemampuannya dalam mengenali tanaman hutan untuk membuat ramuan pengganti dari biji hutan lain yang aromanya mirip, lalu mencampurnya sebagai eksperimen. Ia tidak akan membiarkan satu pun peluang lewat.

"Tujuh ribu per bungkus..." bisik Valaria pada dirinya sendiri sebelum tertidur. "Jika kita bisa membuktikan bahwa kita mampu menghasilkan emas hitam ini sendiri, mereka tidak akan bisa lagi merendahkan keluarga kita."

Malam itu, di bawah lindungan langit hutan yang gelap, bungkusan daun pisang itu tidak hanya berisi biji kakao; ia berisi martabat, harapan, dan masa depan keluarga Paman Baskoro. Valaria tertidur dengan mimpi tentang hamparan biji cokelat yang menjemput cahaya matahari di hari esok.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!