Setelah kematian istrinya, Nayla. Raka baru mengetahui kenyataan pahit. Wanita yang ia cintai ternyata bukan hidup sebatang kara tetapi ia dibuang oleh keluarganya karena dianggap lemah dan berpenyakitan. Sementara saudari kembarnya Naira, hidup bahagia dan penuh kasih yang tak pernah Nayla rasakan.
Ketika Naira mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya, Raka melihat ini sebagai kesempatan untuk membalaskan dendam. ia ingin membalas derita sang istri dengan menjadikannya sebagai pengganti Nayla.
Namun perlahan, dendam itu berubah menjadi cinta..
Dan di antara kebohongan, rasa bersalah dan cinta yang terlarang, manakah yang akan Raka pilih?? menuntaskan dendamnya atau menyerah pada cinta yang tak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Happy Reading...
.
.
.
Bi Sumi melangkahkan kakinya perlahan menuju taman belakang. Dari kejauhan, ia melihat Naira duduk di bangku kayu sambil menatap lurus ke arah Jingga yang sedang bermain sendiri. Anak itu tampak sibuk mengejar gelembung sabun yang ia tiup dengan riang, sesekali tertawa kecil seolah tanpa beban. Namun berbeda dengan Jingga, wajah Naira terlihat kosong seolah pikirannya melayang jauh ke tempat lain.
Dengan hati-hati, Bi Sumi mendekat lalu menyentuh bahu Naira pelan. Sentuhan itu membuat Naira sedikit tersentak sebelum akhirnya menoleh.
“Bibik bikin kamu terkejut ya ?” tanya Bi Sumi dengan nada lembut.
Naira menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Bi. Aku hanya sedang melamun saja.” Jawab Naira sambil menyunggingkan sedikit senyuman.
Bi Sumi tersenyum tipis, lalu mendudukkan dirinya di sisi Naira. Mereka berdua kembali terdiam, sama-sama mengarahkan pandangan ke arah Jingga. Angin sore berembus pelan, menggerakkan dedaunan dan membawa suasana yang seharusnya membuat siapapun bisa merasa tenang. Namun Bi Sumi bisa merasakan ada kegelisahan di hati Naira.
Bi Sumi memang belum lama mengenal Naira. Tapi ia tahu dan menyadari ada perubahan dari sikap Naira dan Den Raka beberapa waktu terakhir. Keheningan yang sering terjadi di antara mereka, tatapan dingin, serta jarak yang tidak kasatmata namun terasa begitu nyata.
“Nak Naira... dan Den Raka sedang tidak baik-baik saja, ya?” Tanya Bi Sumi akhirnya, memecah keheningan.
Naira tersenyum miris. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. “Kelihatan ya bik?” Naira belik bertanya dengan pelan.
Bi Sumi menoleh, memperhatikan wajah Naira lebih saksama. “Apa ini ada hubungannya dengan adik Jingga?” tebaknya hati-hati.
Naira kembali menggelengkan kepalanya. “Dia bukan adik Jingga bik..” Jawab Naira dengan suara datar. “Dan aku rasa bibik juga sudah tahu itu sejak dari awal.”
Bi Sumi terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Jadi, Nak Naira benar-benar sudah bisa mengingat semuanya?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan dengan sedikit rasa bersalah.
Naira mengangguk perlahan. “Iya, Bi. Semuanya..” jawabnya singkat namun penuh makna.
Bi Sumi memejamkan matanya sesaat, seolah mencoba mencerna jawaban itu. “Lalu.. apakah itu berarti kamu akan kembali ke keluarga asli kamu?” tanyanya lagi. Ada nada kecewa yang samar-samar terdengar di suaranya, meski bi sumi berusaha untuk menyembunyikannya.
Naira menundukkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Bi..” ujarnya jujur. “Tapi hatiku ingin aku tetap di sini. Aku sudah menyayangi Jingga.. dan rasanya aku tidak akan pernah sanggup jika harus hidup jauh darinya.”
Ucapan itu membuat Bi Sumi menghela napas lega. Ia menoleh ke arah Naira dan tersenyum lembut. “Syukurlah..” gumamnya.
Naira mengangkat wajahnya dan menatap Bi Sumi. “Aku ingin tetap di sini, Bi. Apa itu boleh?” Tanyanya ragu, seolah takut harapannya akan ditolak.
Bi Sumi langsung menggelengkan kepalanya kecil. “Tentu saja boleh..” jawabnya mantap. “Kamu adalah istri Den Raka. Bagaimana mungkin kamu tidak diizinkan untuk tetap di sini?”
Naira tersenyum tipis. Senyum yang kali ini terlihat lebih tulus. Namun senyum itu perlahan memudar ketika Bi Sumi kembali bertanya.
“Tapi bagaimana dengan keluarga kamu, Nak?” tanya Bi Sumi.
Naira terdiam. Pandangannya kembali mengarah ke Jingga, namun matanya terlihat berkabut. “Keluarga..” ulangnya lirih. “Aku bahkan ragu menyebut mereka semua sebagai keluargaku.”
Bi Sumi menoleh, menatap Naira dengan penuh empati. Naira menarik napas dalam sebelum melanjutkan, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tenang.
“Papaku sering memukulku, Bi.” ucapnya lirih. “Bahkan hanya karena kesalahan kecil. Aku pernah dikurung di kamar tanpa diberi makan seharian. Mama hanya diam, tidak pernah membelaku. Mereka bilang itu semua demi kebaikanku.”
Bi Sumi terkejut mendengarnya. Tangannya refleks meraih tangan Naira dan menggenggamnya erat.
“Aku tumbuh dengan rasa takut..” lanjut Naira. “Takut salah bicara, takut berbuat keliru. Tapi dulu saat kakak masih ada, dia selalu melindungiku. Dia yang berdiri di depanku setiap kali papa marah. Tapi setelah kakak pergi..” Suaranya terhenti, matanya kembali basah.
Bi Sumi mengusap punggung tangan Naira dengan lembut. “Kamu sudah melewati banyak hal, Nak. Tidak semua orang sekuat kamu.”
Naira tersenyum lemah. “Aku hanya ingin hidup tenang, Bi. Aku ingin tetap di sini, bersama Jingga. Meski hubunganku dengan Raka tidak baik-baik saja, setidaknya.. aku tidak merasa takut.”
Bi Sumi menatap Jingga yang masih tertawa riang. “Selama ada Jingga di sini, rumah ini akan terlihat hidup..” ucapnya pelan.
Naira mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu keputusannya tidak akan mudah. Namun untuk saat ini, ia merasa memiliki tempat yang ingin ia pertahankan, bukan tempat yang ingin ia tinggalkan.
.
.
.
FLASH BACK ON
Ingatan itu kembali berputar di kepala Naira, membawa dirinya pada masa lalu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Masa setelah kepergian Nayla. Masa di mana rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi ruang paling menakutkan baginya.
Sejak Nayla tidak pernah kembali, suasana rumah terasa berbeda. Sunyi... Dingin...
Tidak ada lagi suara tawa dua anak kembar yang saling mengejek dan berlari di lorong rumah. Yang tersisa hanyalah Naira kecil yang sering duduk menyendiri di sudut kamar, memeluk lututnya sambil menunggu seseorang yang tidak akan pernah muncul.
Papanya berubah semakin keras. Setiap tatapan mata lelaki itu selalu membuat jantung Naira berdegup lebih cepat. Ia belajar membaca suasana hanya dari langkah kaki papanya di lantai rumah.
“Kenapa kamu bolos latihan piano ?” Bentak papanya suatu sore.
Naira yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama menunduk. Jari-jarinya gemetar. “Aku.. aku capek, Pa.. aku ingin beristirahat.” jawabnya lirih.
Belum sempat ia berdiri, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Tubuh kecil Naira terhuyung.
“Alasan!” teriak papanya. “Kamu harus sempurna. Jangan pernah membantah!”
Hari itu Naira dikurung di kamar. Pintu dikunci dari luar. Tidak ada makan malam. Tidak ada suara mama yang datang membela. Naira menangis hingga tertidur dengan perut kosong, memeluk bantal sambil memanggil nama Nayla berulang kali.
Waktu berlalu. Naira tumbuh menjadi remaja, tapi rasa takut itu tidak pernah pergi. Hukuman demi hukuman terus ia terima setiap kali ia menolak perintah. Menolak ikut jamuan bisnis. Menolak tersenyum di depan tamu papanyanya. Menolak mengenakan pakaian yang tidak ia sukai. Naira di tuntut untuk menjadi anak yang terlihat bahagia dan sempurna.
“Kamu anakku..” ujar papanya dingin suatu malam. “Hidupmu adalah milikku. Jangan pernah merasa bahwa punya pilihan.”
Ketika Naira menolak menandatangani sebuah surat persetujuan, ia kembali dikurung. Kali ini lebih lama. Dua hari tanpa makanan. Tubuhnya lemas, tenggorokannya kering. Mama hanya berdiri di balik pintu, suaranya terdengar ragu.
“Pa.. mungkin cukup..” ucap mamanya pelan.
“Diam!” bentak papanya. " Kamu jangan terlalu memanjakannya. " ucapnya sambil menatap tajam sang istri. "aku sedang mendidiknya, jadi jangan ikut campur!”
Naira menutup telinganya, menahan tangisnya. Di dalam hatinya, ia berteriak. Bukan meminta tolong pada kedua orang tuanya, melainkan memanggil nama kakaknya.
“Kak.. aku capek,” bisiknya di dalam kegelapan kamar. “Kalau kakak masih ada, aku tidak akan sendirian.”
Sejak saat itu, Naira mulai belajar untuk patuh. Belajar tersenyum meski hatinya hancur. Belajar berkata iya meski hatinya menolak. Ia tumbuh menjadi sosok yang menurut di luar, namun rapuh di dalam. Dan bahkan hingga hari ini, luka masa kecil itu masih tinggal di dalam dirinya. Membentuk ketakutan, rasa bersalah dan keyakinan bahwa dirinya memang tidak pernah pantas untuk memilih kebahagiaannya sendiri.
FLASH BACK OFF
.
.
.
Like dan komen donggg..