NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Tuan Albert

Istri Kesayangan Tuan Albert

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

《Chapter 23》

Beberapa bulan kemudian, Albert mengajaknya datang ke pesta tahunan yang di hadiri oleh banyak pebisnis terkenal dalam negeri bahkan ada juga yang dari luar negeri.

"Renata, mengapa aku harus berpakaian seperti ini, dan juga mengapa make up ku setebal ini sih?"

Sore itu sebelum pergi ke lokasi acara, sahabatnya datang kesana, tadi pagi ia menceritakan padanya bahwa ia dan suami palsunya akan pergi ke ke pesta tahunan pebisnis.

Emily cemberut di depan kaca, biasanya jika Albert mengajak ke suatu pesta, ia hanya akan memakai dress simple dengan make up sederhana.

"Apa kau tau pesta itu untuk apa?," tanya Renata padanya lalu melanjutkan karna Emily tidak menjawabnya, "Pesta itu adalah ajang pamer besar-besaran dari seluruh pebisnis terkenal, mereka akan memakai gaun termahal dan membicarakan bisnis dengan keuntungan fantastis"

"Lalu apa hubungannya dengan ku?," wajah Emily terlihat sangat tidak peduli dengan informasi yang berikan sahabatnya.

"Hei, kau istri Tuan Albert, salah satu pengusaha terkenal di abad ini, mereka akan memandangmu rendah jika datang dengan pakaian sederhana"

Emily tidak menjawab, ia menyuruh Renata mempercepat gerakannya karna ia sudah malas duduk di depan cermin untuk di rias olehnya.

"Nah, sudah.."

Renata sudah selesai membantu Emily bersiap, ia keluar bersama Emily.

Di bawah tangga, Albert sudah menunggunya, ia mengenakan tuxedo terbaik yang pernah Emily lihat, kemudian ia mengulurkan tangan untuk menggandeng Emily turun dari tangga.

"Kau sangat cantik," puji Albert dengan jujur, Renata yang melihat mereka langsung mengucapkan selamat tinggal dan pergi dari sana.

"Jangan lama-lama disana, aku malas bertemu banyak orang," ucap Emily.

Ia sudah menolak ajakan Albert sejak kemarin karna merasa bahwa ia adalah istri palsu jadi ia takut jika banyak orang mempercayai hubungan mereka, dan nanti akan kecewa saat mereka berpisah.

Pesta kali ini di adakan secara outdoor, halaman yang di sewa sudah di dekorasi sedemikian rupa cantik, beberapa tamu sudah memenuhi halaman, dan tepat seperti yang Renata katakan, mereka memakai gaun termahal yang mereka miliki.

Mulai dari brand lokal hingga mancanegara yang harganya tinggi, syukurlah ia datang dengan penampilan yang setara.

Tubuh Emily sedikit terkejut saat ia melihat Clara yang baru masuk ke pesta itu, gadis itu memakai baju yang mewah namun sangat kekurangan bahan.

"Aku ingin memberikannya kain tambahan padanya," gumam Emily pada diri sendiri.

"Hai Albert, oh ya client yang ingin kita temui sudah datang, ia ada di sana"

Clara berbicara tanpa menatap Emily, seolah sengaja.

"Emily, tunggu di sini dulu, aku akan segera kembali," pinta Albert padanya lalu pergi mengikuti Clara.

Emily mengambil dessert dan memakannya, acara outdoor ini tidak memakai kursi, mereka akan berdiri selama acara, namun ada tersedia meja bulat yang tinggi untuk menaruh minuman dan tas kecil yang mereka bawa.

Di seberang sana, Albert bercakap-cakap dengan seorang pria tampan yang sepertinya masih satu umur dengan Albert, sedangkan Clara mengambil minuman untuk mereka.

Emily tidak terlalu jelas melihat gadis itu karna tertutup oleh banyak orang, yang pasti Albert sudah mengambil minuman itu lalu meneguknya.

Acara sesungguhnya di mulai beberapa menit setelah undangan terlihat sudah banyak, mereka memberikan penghargaan dengan berbagai kategori pada tiap pebisnis.

Albert menjadi salah satunya, ia maju ke depan dan memberikan kalimat kemenangannya secara singkat, Emily bisa melihat ekspresinya yang terlihat bahagia.

Yap, menurut Emily, pria itu akan bahagia jika mendapat sesuatu karna pekerjaannya.

Karna hari sudah semakin larut, mereka memutuskan pulang, baru saja akan naik ke mobil, Clara datang memegang pintu mobil, mencegah Emily masuk ke dalam.

"Albert, aku ingin ikut kalian, ada barang milikku yang tertinggal di mansion," ucapnya.

Albert menyetujuinya dan mobil itu mulai berjalan pulang, di tengah jalan Albert merasa tidak enak badan, wajahnya di penuhi keringat.

"Tuan, apa Tuan tidak papa?," tanya sopir sambil melihat dari kaca spion.

"Pak, kita singgah di hotel saja, sepertinya Albert ingin muntah," usul Clara, sementara Emily sudah tertidur di mobil.

Perjalanan mereka menuju mansion memang masih lama, butuh 45 menit lagi untuk sampai, akhirnya Albert memerintahkan sopir untuk mengikuti ide Clara.

Kunci kamar hotel sudah di pegang oleh Clara, mereka masuk ke dalam kamar, menunggu Albert yang berada di kamar mandi.

"Ini pak, di minum dulu air putihnya," Clara memberikan sebetulnya air mineral padanya setelah itu ia izin keluar untuk mengangkat telpon sebentar namun sampai 30 menit tidak kembali juga.

Albert mendapatkan pesan dari Clara bahwa ia sudah pergi duluan karna ada kepentingan.

"Apa kau sudah baik-baik saja?," tanya Emily.

"Ya, ayo kita pulang," jawab Albert.

Emily menggelengkan kepala dan berkata, "kamar ini sudah di sewa satu malam loh, gimana kalau kita menginap dan makan breakfast besok baru kita pulang. Aku dengar makanan di sini enak"

Emily terus mengoceh namun pria itu seolah kehilangan fokus, jika tadi ia merasa sakit perut, sekarang sesuatu di bawah perutnya yang kepanasan.

Ia tidak tau mengapa, namun wajah Emily sekarang terlihat begitu menggoda baginya.

"Albert?"

Tanya Emily karna pria itu tak merespon dirinya.

Emily hendak menaruh telapak tangannya di dahi Albert namun pria itu menarik tangannya dan mengecupnya di bibir.

Ini adalah pertama kalinya Emily melakukan hal itu, ia terdiam.

Setelah beberapa menit melakukannya, Emily mengira Albert akan segera berhenti dan sadar namun salah..

Pria itu mendorongnya berbaring di kasur, mereka melakukan adegan suami istri sesungguhnya.

Dan setelah itu Albert jatuh tertidur di atas badannya.

Emily menggeser badannya yang besar dan melihat kekacauan yang terjadi di dalam kamar itu.

Ia sama sekali tidak bisa tidur, mereka baru saja melanggar kontrak yang di sepakati bahwa tidak ada sentuhan fisik selama pernikahan.

Padahal tinggal satu bulan lebih masa kontrak akan berakhir, rasanya Emily sudah ingin gila.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Clara masuk ke dalam dengan senyum licik nya.

Emily langsung teringat minuman yang ia berikan pada Albert, "Kau.." ucap Emily.

"Yap, aku yang melakukannya, mulai dari obat sakit perut, obat perangsang yang aku campurkan dengan obat halusinasi"

Emily tak habis pikir apa yang di rencanakan gadis itu.

"Emily.. jangan pura-pura lagi, aku tau kalian hanya menikah kontrak, aku sudah melihat kertas itu saat berada di mansion kalian"

Saat itu dua pelayan yang di bawa Clara setiap hari mencari berkas penting untuk bisa menjatuhkan keluarga Juan, namun mereka malah mendapati kontrak pernikahan mereka di kamar Emily saat ia tertidur, bukankah sudah Emily bilang bahwa ia terbiasa tidak mengunci kamar saat tidur.

"Apa mau mu hah?," tanya Emily dengan kesal, ia ingin marah namun semua sudah terjadi.

"Keluarlah dari kamar ini, Albert tidak akan ingat dengan siapa ia melakukan ini, lalu pergilah kemana pun kau mau, jangan pernah kembali ke sisinya, jangan lupa kau harus mengirim gugatan cerai agar di tandatangani oleh Albert.

Aku akan memberimu 200 juta sekarang juga jika kau mengikuti perintahku, bagaimana? Bukankah kau sangat menyukai uang? Aku lihat perjanjian kalian nominalnya 150 juta, bukankah ini adil? Kau bahkan mendapatkan hampir dua kali lipat.

Oh ya, tentang pembayaran pelanggaran kontrak akan aku transfer ke rekening mu lalu nanti bisa kau transfer ke rekeningnya"

Emily menatap Albert, berpisah sekarang ataupun nanti akan tetap sama, setidaknya ia mendapat keuntungan dan juga tidak akan membayar kerugian.

Emily berdiri dari kasur, memakai pakaiannya kembali lalu memperlihatkan nomor rekening yang ada di ponselnya, dengan cepat transaksi sudah dilakukan.

Emily menjabat tangan Clara dan berkata, "Senang atas kerjasamanya"

Malam itu, ia tidak pulang ke mansion, segala barang kepunyaannya ia tinggalkan begitu saja disana, mencari tiket dan pergi dari kota Beijing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!