NovelToon NovelToon
AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Menjadi NPC / Masuk ke dalam novel / Kaya Raya
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

ongoing

Tian Wei Li mahasiswi miskin yang terobsesi pada satu hal sederhana: uang dan kebebasan. Hidupnya di dunia nyata cukup keras, penuh kerja paruh waktu dan malam tanpa tidur hingga sebuah kecelakaan membangunkannya di tempat yang mustahil. Ia terbangun sebagai wanita jahat dalam sebuah novel.

Seorang tokoh yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Kun A Tai, CEO dingin yang menguasai dunia gelap dan dikenal sebagai tiran kejam yang jatuh cinta pada pemeran utama wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena langit mendung atau udara yang lembap, melainkan karena Wei Li bangun dengan kesadaran penuh bahwa ketenangan yang ia rasakan beberapa hari terakhir hanyalah jeda. Seperti tarikan napas panjang sebelum seseorang menenggelamkan kepala lagi ke dalam air.

Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar. Cahaya pagi menyusup tipis dari sela tirai, membentuk garis pucat di lantai. Wei Li mengangkat tangan kanannya, memperhatikan jari-jarinya panjang, ramping, tampak tenang.

Tapi ia tahu, di balik itu, otot-ototnya tegang. Ia mengepalkan tangan, lalu melepasnya perlahan.

'kamu nggak boleh lengah' katanya pada diri sendiri 'Bukan sekarang'

Wei Li bangkit, kakinya menyentuh lantai dingin. Ia berjalan ke jendela dan menarik tirai sedikit lebih lebar. Kota terbentang di bawah gedung-gedung tinggi, jalanan yang mulai padat, kehidupan yang bergerak tanpa tahu bahwa satu konflik kecil di lantai atas bisa menjalar ke mana-mana. Ia menyandarkan dahi ke kaca sebentar, merasakan dinginnya merambat ke kulit. Tenang.

Itu kata yang sering ia pakai belakangan ini. Tapi hari ini, ketenangan terasa seperti sesuatu yang harus dijaga dengan dua tangan.

Di ruang makan, aroma kopi sudah tercium. Jae Hyun berdiri di dekat meja, lengan bajunya digulung sedikit, ekspresinya santai tapi matanya fokus. “Pagi,” katanya. Wei Li mengangguk, duduk, menyilangkan kaki. Ia meraih cangkir, menghangatkan telapak tangannya di sana tanpa langsung minum. “Berita?” tanyanya.

Jae Hyun mendorong tablet ke arahnya. “Tidak ada serangan baru. Justru… sepi.” Wei Li mengangkat alis. “Sepi itu mencurigakan.”

“Setuju,” jawab Jae Hyun. Wei Li menyesap kopi pelan. Rasa pahit menyebar di lidahnya, familiar, menenangkan. Ia menatap layar tablet tanpa benar-benar membaca. Dia nggak mungkin berhenti, pikirnya. Shen Yu An bukan tipe yang mundur setelah disentuh. Ia berdiri. “aku mau keluar hari ini.” Jae Hyun menoleh cepat. “Ke mana?” Wei Li mengangkat bahu. “Jalan-jalan.”

“Tujuan?” Wei Li menggeleng. “Belum tau.” Jae Hyun menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Saya ikut.”

“ya terserah.” Mereka pergi tanpa konvoi besar. Mobil melaju tenang, melewati jalanan yang mulai ramai. Wei Li duduk di kursi belakang, satu lutut dinaikkan, dagunya bertumpu di sana. Pandangannya mengikuti pemandangan luar toko-toko kecil, orang-orang berjalan cepat, wajah-wajah yang tidak peduli. Ia iri pada itu.

Mereka berhenti di sebuah taman kota. Tidak besar. Tidak istimewa. Hanya ruang hijau di tengah beton. Wei Li turun, menghirup udara dalam-dalam. Bau rumput basah, tanah, dan asap kendaraan bercampur. Ia berjalan pelan di jalur setapak, tangannya masuk ke saku jaket, bahunya sedikit membungkuk.

“anda tegang,” komentar Jae Hyun dari belakang. Wei Li menghela napas. “Iya.”

Ia berhenti, menatap kolam kecil di tengah taman. Airnya tenang, memantulkan langit pucat. “aku ingin hidup normal,” katanya tiba-tiba. “Tapi hidup normal nggak ingin aku.” Jae Hyun berdiri di sampingnya. “Normal itu relatif.”

Wei Li tersenyum tipis. “Buat ku, normal itu… bisa duduk tanpa mikirin siapa yang lagi ngerencanain apa.” Ia mengusap lengannya sendiri, gerakan kecil yang refleks. “Capek, Jae.” Jae Hyun menatapnya, kali ini tanpa humor. “Istirahat.” Wei Li tertawa pendek. “Lucu.”

Ponselnya bergetar. Nama Kun A Tai muncul. Wei Li menjawab sambil tetap menatap kolam. “Ya?”

“Kau di luar,” kata Kun A Tai. Bukan bertanya. Wei Li mengangguk kecil. “Iya.”

“Ada laporan,” lanjut Kun A Tai. “Shen Yu An meminta pertemuan.” Wei Li menegakkan punggungnya. Tangannya keluar dari saku, mengepal pelan. “Langsung?” tanyanya.

“Hari ini,” jawab Kun A Tai. “Tempat netral.” Wei Li menghembuskan napas perlahan. “Dia nggak buang waktu.”

“Tidak,” jawab Kun A Tai. “Dan ini berbahaya.” Wei Li menatap air kolam yang beriak pelan. “kau bakal ikut?”

“Aku akan berada di dekatmu,” jawab Kun A Tai. “Tapi dia memintamu.” Wei Li terdiam beberapa detik. Ia bisa merasakan detak jantungnya stabil, tapi kuat. “Oke,” katanya akhirnya. “oke aku mau ketemu.”

Tempat pertemuan itu sebuah restoran tua di pinggir sungai. Bangunannya rendah, interiornya kayu gelap, lampu kuning redup. Tidak ada kesan mewah, tapi terasa berat oleh sejarah. Wei Li masuk dengan langkah tenang. Jae Hyun berhenti di luar, berdiri tidak jauh dari pintu. Di dalam, Shen Yu An sudah duduk. Ia lebih muda dari yang Wei Li bayangkan. Wajahnya rapi, senyumnya tipis, matanya tajam tapi tidak gelisah. Ia berdiri saat Wei Li mendekat. “Senang akhirnya bertemu langsung,” katanya. Wei Li tidak menjabat tangannya. Ia duduk, menyilangkan kaki, menaruh tas di samping kursi.

“mah kelihatan beda dari bayangan ku,” katanya datar. Shen Yu An tersenyum kecil. “Begitu juga kau.”

Pelayan datang, menaruh air, lalu pergi. Keheningan mengisi ruang. Suara sungai samar terdengar dari luar. Shen Yu An yang membuka percakapan. “Kau tahu kenapa aku ingin bertemu.”

Wei Li mengangguk. “Karena kau nggak suka kehilangan kontrol.” Shen Yu An tertawa pelan. “Jujur.” Wei Li menyandarkan punggung ke kursi. “kau udah nyoba reputasi. Lingkaran. Masa lalu. Sekarang apa?” Shen Yu An menatapnya lama. “Aku ingin menawarkan jalan keluar.” Wei Li mengangkat alis. “Dari apa?”

“Dari permainan ini,” jawab Shen Yu An. “Kau bisa hidup normal. Sungguh.” Wei Li tertawa kecil, kali ini tanpa senyum. “haha kau salah orang.”

“Tidak,” jawab Shen Yu An tenang. “Justru kau orang yang tepat. Kau pintar. Kau tahu kapan berhenti.” Wei Li mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya bertumpu di meja. “kau salah satu hal penting.”

“Apa?”

Wei Li menatap matanya lurus. “aku nggak mau keluar.” Keheningan jatuh lebih berat. Shen Yu An menghela napas pelan. “Kau keras kepala.” Wei Li menyeringai. “Kata semua orang yang gagal mengontrol ku.”

shen Yu An berdiri perlahan. “Kalau begitu, kita lanjutkan.” Wei Li ikut berdiri. “Silakan.” Mereka saling menatap beberapa detik tidak ada teriakan, tidak ada ancaman terbuka. Hanya dua orang yang sama-sama tahu ini belum selesai.

Di luar, Kun A Tai berdiri di dekat mobil. Saat Wei Li keluar, ia langsung menoleh. “Bagaimana?” tanyanya. Wei Li berjalan mendekat, bahunya sedikit turun. “Dia nawarin damai.” Kun A Tai menyipitkan mata. “Dan kau?”

Wei Li menatap sungai sebentar, lalu Kun A Tai. “aku menolak.” Kun A Tai mengangguk. Tidak terkejut. “Maka ini akan jadi lebih gelap.” Wei Li menghela napas panjang. “ya aku tau.” Ia masuk ke mobil, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Matanya terpejam sesaat.

Hidup normal itu ruang di antara napas, pikirnya. Dan ruang itu makin sempit. Mobil melaju pergi, meninggalkan restoran tua itu di belakang. Dan Wei Li tahu setelah hari ini, tidak ada lagi ilusi. Hanya pilihan. Dan konsekuensi.

1
Midah Zaenudien
bgus sih cuma si wenli ini kurg bar2 terkesan ragu dn entahlah RS x stuk d tempat
Midah Zaenudien
boleh GK alur x GK muter2 dn peran sin Wen li ini lebih bar2 rasa x geram benar dlm mengmbil keputusan bnyk yg bikin kesal
BONBON
ceritanya sejauh ini bagus tetapi bahasanya belibet kek baca nopel terjemahan. rasa baca cerita AI juga😭, mungkin bisa diedit bahasanya...
Parno Pino
masih aman tapi...
Parno Pino
baru mulai baca
Parno Pino
seruu
Queen AL
nama sudah ke china-chinaan, eh malah keluar bahasa gue. tiba down baca novelnya
@fjr_nfs: maaf ya, terimakasih untuk masukannya
total 1 replies
@fjr_nfs
/Determined/
@fjr_nfs
/Kiss/
Milkysoft_AiQ Chhi
uhuyy Mangat slalu🤓💪
@fjr_nfs: /Determined/
total 1 replies
Jhulie
semangat kak
@fjr_nfs
jangan lupa tinggalkan like dan komennya yaa ☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!