NovelToon NovelToon
My Fake Bride

My Fake Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:7.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NadiraBee

Follow ig author @tulisan_bee 😚

Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.

Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.

My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?

Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Cincin

"Seharusnya aku memakainya dengan lelaki yang mencintaiku. Tetapi dunia lagi-lagi tidak berpihak, sebab masih kuingat betapa tajamnya sorot matamu kala itu." ~Luana Casavia.

.

.

.

Suara pintu yang tertutup menjadi pemisah antara Rey dengan Luana, yang masih berada di dalam kamar.

Seperti perkataannya tadi, lelaki itu memberi waktu dan ruang untuk Luana beristirahat, setidaknya untuk memulihkan tenaga sebelum benar-benar menghadapi seperti apa keluarga besarnya sore nanti.

Luana belum bertemu dengan Ryan Goette Lueic, dan Rey sungguh berharap ayahnya itu tidak akan menyusahkan Luana nanti.

Seperti ibunya yang menyambut baik kedatangan Luana tadi sebagai istrinya, Rey kini berharap agar ayahnya juga melakukan hal yang sama.

Masih bersandar di dinding, Rey sempat bertapakur dengan pikirannya sendiri. Beberapa hari ini terasa sangat berat, terlebih dia melakukan kesalahan fatal malam tadi.

Jauh di dalam lubuk hati lelaki itu, dia berharap agar Luana tidak memiliki trauma terhadapnya, atau setidaknya perempuan itu itu akan melupakan kejadian naas itu meski harus perlahan-lahan.

Mengembuskan napas berat, Rey akhirnya mengayun langkah untuk pergi dari sana. Menuruni anak tangga, menuju ke arah dapur untuk menemui ibunya, atau mungkin hanya bersantai di ruang belakang mansion.

***

Luana sudah terbiasa untuk berada dalam jadwal yang ketat. Kesehariannya sebagai pelayan di kediaman Madam Collins membuat perempuan itu terbiasa bergerak dengan gesit, termasuk untuk urusan jadwal seperti ini.

Jam di kamar Rey itu masih menunjukkan pukul setengah enam sore, tetapi Luana tampak sudah bersiap dengan rambut yang juga sudah disisir rapi.

Rey benar-benar meninggalkannya sendirian, bahkan tidak kembali hingga hampir empat jam lamanya. Setelah membersihkan diri dan merias wajah seminimal mungkin, Luana kini memiliki waktu untuk memandangi seluruh kamar itu.

"Jika ini kamar milik Rey, maka berarti di sinilah dia besar sebelum pindah ke mansion," lirih Luana mengambil kesimpulan, seiring dengan tolehan kepalanya ke seluruh penjuru ruangan.

Kamar itu benar-benar tampak seperti kamar seorang pria, dengan nuansa kecoklatan dan abu tua yang pekat. Persis terletak di sisi kiri, sebuah lemari besar yang memiliki empat pintu berdiri kokoh.

Berjajar di samping lemari tinggi itu, terdapat sebuah meja panjang dengan banyak laci. Ada beberapa pigura berukuran sedang yang terpajang di atas meja tersebut, berjejer rapi yang menampilkan berbagai latar belakang foto.

Mengayun langkah perlahan, kini pandangan Luana tertuju pada potret-potret yang tertangkap oleh sudut matanya.

Beberapa pigura itu menampilkan gambar Rey, dengan berbagai pose dan teman yang berbeda. Memperhatikan potret itu dengan jelas, Luana mendapati sebuah foto yang menampilkan Rey saat lelaki itu memakai toga kelulusan di kepala.

Berlatar belakang gedung bertingkat, Rey yang tampak lebih muda di foto itu tersenyum lebar sekali, dengan buket bunga dan sesuatu yang berbentuk bundar di tangannya.

"Apakah ini yang dinamakan potret kelulusan kuliah?" Luana setengah bergumam, hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sudah bergabung bersamanya di ruangan itu.

"Kau benar. Itu adalah foto saat aku menyelesaikan Master of Business Administration di almamaterku dulu."

Suara Rey terdengar dekat sekali, hingga refleks membuat Luana menolehkan badan dengan gerakan tidak siap. Berputar, perempuan itu kehilangan pijakan dan hampir membuatnya jatuh seperti buah mangga.

Dengan gerakan cepat Rey Lueic menangkap pinggang perempuan itu, dan menyelamatkan Luana yang kini sukses berada di dalam pelukannya.

Mengerjap, dua bola mata Luana melebar sempurna.

Sentuhan lelaki itu masih terasa asing sekali, terlebih ingatan bagaimana dia menyentuh Luana malam tadi masih tergores amat jelas di pelupuk mata.

Buru-buru menghentak dan mendorong agar Rey melepaskannya, Luana membuat lelaki itu mundur dua langkah ke belakang. Pandangan mereka beradu tidak lama kemudian, tetapi Luana buru-buru menurunkan kepala.

"M-Maaf!" seru perempuan itu.

Rey tampak sedikit terkejut, akibat respon yang diberikan Luana padanya.

"Tidak, tidak apa-apa," jawab Rey cepat. "Maaf karena aku mengagetkanmu, tetapi aku sudah mengetuk pintu beberapa kali."

Luana menganggukkan kepala, menyadari dirinya mungkin begitu tenggelam dalam lamunan hingga tidak menyadari suara pintu yang terketuk. Lagi pula itu bukan sepenuhnya salah Rey, justru lelaki itu sudah berusaha untuk menyelamatkannya.

"Kau sudah siap?"

Suara Rey memecah keheningan, setelah beberapa detik jeda di antara mereka. Lelaki itu dengan jelas melihat Luana yang kini sudah tampil rapi, dengan dress sebatas lutut yang berwarna kombinasi hitam dan merah.

Tidak bisa dipungkiri, gadis itu memang bersinar dengan caranya sendiri.

"Sudah, aku sudah siap," jawab Luana singkat.

Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, perempuan itu buru-buru mengayun langkah untuk menciptakan jarak antara mereka. Tidak nyaman rasanya berada sedekat itu dengan Rey, meski kesan pertamanya untuk mansion ini sangatlah hangat.

"Baiklah," sahut Rey membalas. "Kau bisa menungguku sebentar? Aku hanya akan berganti pakaian saja."

Tidak menjawab dengan suara, alih-alih Luana hanya menganggukkan lagi kepala. Rey sudah bergerak untuk membuka lemari tinggi itu, mengambil salah satu setelan jas dari dalam sana kemudian.

Melangkah cepat, sang bangsawan menuju ke arah kamar mandi dan menghilang di sebalik pintu. Luana berusaha untuk mengatur deru napasnya, dan berulang kali merapal mantra di dalam hati.

"Tenanglah, Luana. Semua akan baik-baik saja."

Hingga rapalan itu hampir terucap ke-30 kalinya, suara tarikan pintu kamar mandi kembali terdengar. Rey sudah berganti pakaian, kini mengenakan setelan jas yang berwarna hitam dan putih.

Lelaki itu berjalan mendekat, kemudian berhenti tepat di hadapan Luana yang sedari tadi duduk di atas sofa.

"Aku ingin meminta satu lagi bantuan," kata Rey terus terang.

Luana menaikkan kepala, membalas tatapan Rey yang sudah lebih dulu terarah padanya.

"Bantuan apa?"

Rey tampak berpikir sejenak.

"Kau bisa mengenakan cincin pernikahanmu?" tanya lelaki itu setengah ragu. Dia sempat mengusap tengkuknya, berusaha mengurai kecanggungan yang melingkupi.

Luana mengerutkan kening, tetapi kemudian perempuan itu mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan jemari ke hadapan Rey.

"Cincin ini yang kau maksud?"

Rey memperhatikan bagaimana cincin pernikahan itu tersemat di jari Luana, yang bahkan tidak dia sadari selama ini. Cincin yang dia tempa pada salah satu desainer permata terbaik di Munich, yang dia khususkan tadinya hanya untuk Beatric Collins seorang.

Tetapi kini cincin itu malah melingkar di jari manis Luana, dan entah mengapa itu tampak pas sekali.

"Benar, yang itu," ujar Rey seraya menganggukkan kepala.

Luana mengedipkan mata dua kali, baru saja hendak bersuara tetapi Rey sudah lebih dulu kembali melanjutkan.

"Aku akan berada di sekitarmu nanti," kata sang bangsawan. "Keluarga besarku mungkin akan sedikit berisik, tetapi kuharap kau tidak keberatan dengan itu. Jawablah pertanyaan mereka jika kau ingin menjawab, dan berikan saja senyuman jika kau tidak ingin menjawabnya."

Luana memperhatikan setiap kata yang dituturkan Rey. Jauh di lubuk hatinya sungguh dia pun tidak ingin berbuat kesalahan, apa lagi di depan keluarga besar Lueic.

Sebaiknya dia melewati makan malam ini dengan baik, dan berharap agar Rey menepati janjinya untuk mengupayakan kepulangan mereka sesegera mungkin.

"Aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir," jawab Luana mencoba setenang mungkin.

Kali ini Rey yang menganggukan kepala, disusul dengan gerakan lelaki itu yang memperbaiki kancing di ujung lengannya.

Tanpa sadar, Luana begitu saja menangkap sebuah benda berkilauan, yang tidak pernah dia lihat setelah pernikahan dadakan mereka berlangsung.

Kini sebuah cincin telah tersemat di jari manis Rey, persis di tempat yang sama dengan yang Luana sematkan beberapa hari lalu.

Lelaki itu tadinya melepas cincin pernikahannya saat ia melangkah keluar dari gedung pernikahan, seakan tidak sudi untuk mengakui bahwa dia adalah lelaki yang telah menikah kini.

Tetapi hari ini Rey kembali mengenakan cincin itu, meski Luana tidak tahu apa alasannya. Mungkin hanya agar kepura-puraan ini menjadi totalitas, dan usaha mereka untuk mengelabui keluarga besar tidak gagal hanya karena perkara cincin yang tidak tersemat dengan baik.

"Uhm, itu... Ada satu lagi," Rey kembali bersuara.

Luana menatapnya, setengah tersadar dari lamunan akan cincin tadi.

"Aku mungkin akan berulang kali menggandeng tanganmu," kata Rey kali ini. Lelaki itu tidak pernah meminta izin selama ini, tetapi sepertinya peristiwa malam tadi membenturkan kepala lelaki itu dan membuatnya sedikit lebih waras.

Luana kembali tampak kebingungan, sebab sore ini sang bangsawan sangat terlihat berbeda.

"Bukankah kau sudah melakukan hal itu sebelum ini?" tanya Luana asal. "Kenapa kini kau baru meminta izin?"

Rey mendesah pelan, menarik napas dengan sepenuh jiwa raga.

"Tidak apa-apa," jawab lelaki itu. "Aku hanya ingin memberitahumu saja."

Luana masih kebingungan atas sikap Rey yang terasa berbeda, hingga dia bahkan sempat berpikir apakah sang bangsawan sedang kerasukan setan atau tidak saat ini.

"Kita berangkat sekarang?"

Pertanyaan Rey itu membawa Luana tersadar, disusul dengan gerakan perempuan itu yang kini berdiri tegak.

Rey mengulurkan tangan ke arahnya, dan Luana tidak bisa mengalihkan pandangan dari sesuatu yang berkilau di sela jemari lelaki itu.

Keduanya sudah berjalan pelan menuju pintu, ketika kini Luana mencuri pandang ke arah cincin yang tersemat di jari manisnya.

Cincin yang sama berwarna putih, seperti yang dikenakan oleh Rey. Hanya saja cincin Luana dihiasi dengan batu permata di atasnya, dengan kesan elegan dan mewah secara bersamaan.

Cincin yang menandakan bahwa dua anak manusia itu, memang telah berada pada satu jalinan.

Jalinan pernikahan, yang tidak hanya sah di mata hukum negara, tetapi juga di mata hukum agama.

.

.

.

~Bersambung~

Follow instagram @tulisan_bee untuk info update dan cerita lainnya juga ya! Terima kasih semuanya, alofyu muah! 😘

1
Shifa Burhan
reader2 yang menyukai Pedro

sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu

pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
Shifa Burhan
seorang istri nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan pria lain kalian (author) anggap itu hal benar dan buka kesalahan

coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga

pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar
baca ulangggg/Drool/
Wulan TitAnica
The Best....
Arida Susida
Luar biasa
Anisa Marcella
Luar biasa
yella xarim
dah baca novel ini berkali2 ttp ga bosen.. keren Thor
Mifta Özil
ntah baca yg keberapa kali ga ngitung, slalu kgn sama novel ini huhu
Ray Aza
dih marah sm org yg salah, berkat gadis itu muka lo msh selamat..
Nafis
ahaa... stelah skian lama tak bca novel² kak bee krna takut kecanduan 🤭 coz 2th kebelakang kerempongan ngurus baby & toddler,luv kak bee 😘
shelome
baca lagi kangen sama tulisan kk bee
Wati Astuti
ku baca ulang ya thorr kangen sm Rey Luana.. Rey yg lama2 bucin tingkat dewa
N. Y
/CoolGuy/
syahira alifa
mantap bee
syahira alifa
salah dia sendiri kenapa lari di hari pernikahannya, sekarang menyesal pun percuma keadaan sudah tak lagi sama
syahira alifa
i love you bee tak kira bakal ada pertentangan antara orang tua rey dan rey gara²status luana..
syahira alifa
benih-benih cinta mulai tumbuh
Sri Lestari
ceritanya bagus
iren thezer
ceritanya oke singkat tp good ending
Nur Hikmah
aduh bang Rey..kenapa menggantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!