Mentari Senja, gadis desa yang berusia 18 tahun. Anak terakhit dari pasangan Jaka dan Santi. Dia merupakan salah satu gadis yang menjadi primadona di desanya. Dia mempunyai keluarga yang sederhana dan ayah yang sangat disayanginya. Mentari adalah sosok gadis yang lembut, cantik dan pendiam serta sangat menuruti permintaan sang ayah. Namun siapa sangka Mentari tiba-tiba saja dijodohkan oleh sang ayah dengan sosok lelaki yang dia tidak kenal sama sekali. Dia terpaksa harus menerima perjodohan itu demi kesembuhan sang ayah. Mengubur semua cita-citanya selama ini dan harapannya untuk melanjutkan pendidikan. Hidup dengan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, tapi tidak pernah dianggap dan dicintai.
Chapter 34
Natasya kini berusaha untuk menghubungi Willie, tapi sejak dari tadi ia terus berusaha untuk menghubungi cowok itu namun sama sekali tidak di jawab oleh Willie.
“Willie kemana sih, dari tadi malam telfon gua nggak di angkat” Natasya mulai kesal.
Natasya tahu kalau cowok itu sedang marah terhadap dirinya, tapi apa susah nya untuk memberi kabar sedikit pun.
“Nanya sama Gibran atau Geral sama aja,, nggak guna banget mereka sebagai sahabat Willie” gumam Natasya kesal. Selama ini teman-temannya tidak pernah baik kepada Natasya, selalu saja bersikap ketus!
.
Sedangkan Queen yang berada di dalam kelas merasa heran dengan Mentari yang tidak datang ke sekolah hari ini.
“Disaat kak Willie nggak datang ke sekolah ini, hal itu berbarengan dengan Mentari yang tidak masuk sekolah. Gua merasa ada sesuatu hal yang mencurigakan” gumam Queen heran.
Pasalnya tadi dia bertemu dengan Gibran dan Geral. Kedua cowok itu menanyakan keberadaan kakak sepupunya itu. Dan ketika ia sampai di kelas, Queen melihat bangku di sebelahnya kosong. Itu artinya kalau Mentari juga tidak masuk sekolah hari ini.
“Gua ke rumah kak Willie aja lah nanti” gumam Queen.
.
.
Di apartemen saat ini, Mentari yang baru selesai membuat sarapan untuk Willie, langsung saja membawa makan itu ke kamar sang suami.
“Kakak aku telfon mama ya untuk bawa kakak ke rumah sakit” ucap Mentari lembut.
Willie langsung menatap tajam kearah Mentari. Kalau sampai mama dan papa nya tahu akan hal ini, pasti mereka akan mencercaca dirinya dengan berbagai banyak pertanyaan. Dan hubungan ia dengan Natasya bisa diketahui oleh mama dan papanya.
“Nggakk,,!”
“Awas lu ya sampai nelfon mama atau papa! Gua udah baikan” ucap Willie ketus.
“Lu kenapa belum berangkat juga ke sekolah?” tanya Willie.
“Gimana bisa aku ke sekolah. Sedangkan kakak aja saat ini lagi sakit!”
“Siapa yang bakalan jagain kakak kalau aku pergi sekolah” ujar Mentari.
“Lu kira gua cowok lemah, kalau mau pergi ke sekolah ya pergi aja sana” ucap Willie kesal.
“Udah kakak makan aja! Lagi sakit aja masih sempetnya untuk membentak aku” gerutu Mentari.
“Aku mau keluar dulu buat beli obat penurun demam buat kakak.” Saat Mentari hendak pergi Willie kembali menahan tangan-nya.
“Lu jangan kemana-mana! Gua nggak mau ditinggalin sendirian” ujar Willie.
“Tadi aja nyuruh aku pergi sekolah! Sekarang ditinggal beli obat aja nggak mau” ucap Mentari yang mulai kesal melihat tingkah suaminya itu.
“Udah nggak usah banyak protes lu!”
“Katanya mau ngerawat gua, sekarang suapi gua” ucap Willie santai.
Mentari menatap Willie heran. Kenapa sejak kejadian kemarin, cowok itu berubah menjadi manja seperti ini kepada dirinya. Dulu aja jangan kan minta disuapin, Mentari ngambilin makanan untuk cowok itu aja, Mentari harus mendapatkan tatapan tajam dulu dari Willie.
“Terus buat nurunin panas kakak apa?” tanya Mentari.
“Nanti juga turun sendiri panas ini, udah lu jangan banyak tanya lagi! Yang bukan cuma badan gua aja yang panas, tapi hati gua iya juga” ujar Willie.
Malas berdebat dengan suaminya itu, Mentari langsung saja menyuapi makanan yang dibuatnya pada Willie.
“Lu nggak ikutan makan Tar?” tanya Willie disela Mentari yang tengah sibuk menyuapi dia.
“Aku nanti saja kak” ujar Mentari singkat.
Willie hanya mengangguk-kan kepalanya pelan, dia tidak ingin terlihat sedang memberikan perhatian pada gadis itu. Karena hal itu akan membuat Mentari GR nanti-nya.
“Habis ini siapin gua air panas buat mandi” ujar Willie santai.
“Iya kak!”
“Kenapa kakak nggak angkat telfon Natasya sejak tadi malam?” tanya Mentari.
“Bukan urusan lu!”
Willie bingung kenapa Mentari tau kalau Natasya sejak tadi malam berusaha untuk menghubungi dirinya. Apa gadis itu merasa terganggu tidurnya karena bunyi handphone nya.
.
“Mama” ucap Mentari terkejut.
Setelah menyiapkan air panas untuk Willie dan merapikan semua rumah. Mentari yang ingin membersihkan dirinya tiba-tiba saja mendegar suara bel apartemen berbunyi.
Mentari fikir itu hanya petugas apartemen yang bertugas untuk mengambil pakaian kotor mereka. Namun saat dia membuka pintu Inggrit dan Tomi yang ada di hadapan Mentari.
“Sayang kenapa kamu nggak bilang kalau Willie kemarin berantem sama seseorang di sekolah kamu” ucap Inggrit.
“Mama sama papa masuk aja dulu ya” ujar Mentari mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam.
“Mama Willie sayang?” tanya Inggrit.
“Kak Willie ada di kamarnya ma” ujar Mentari dengan sedikit takut.
Dia merasa bingung, dari mana kedua mertuanya ini mengetahui kalau Willie berkelahi dan tidak masuk kuliah hari ini.
Willie yang barus selesai mandi langsung saja terkejut saat mama dan papanya masuk ke dalam kamar.
“Astaga Willie! Kamu kenapa sih sampai berantem di sekolah Mentari? Memangnya ada masalah apa sayang?” suara lengking Inggrit memenuhi kamar Willie.
“Willie jawab pertanyaan mama kamu!” ucap Tomi dingin.
“Mama sama papa tahu dari mana sih? Pasti Mentari yang bilang ya” Willie menatap Mentari tajam.
“Bukan! Pak Setya yang nelfon papa tadi” ujar Tomi.
Willie hanya dapat berdecak kesal, padahal dia sudah bilang sama Pak Monti kemarin agar tidak memberitahu kedua orang tuanya.
“Kamu kenapa nggak nelfon mama sayang?” tanya Inggrit pada Mentari.
“Hmm itu ma..” Mentari menundukkan kepalanya.
“Willie yang larang Mentari” ucap Willie santai. Dia tahu kalau Mentari tidak tahu akan berkata apa untuk menjawab pertanyaan mama nya itu.
“Kamu benar-benar ya” ucap Inggrit kesal.
“Udah telfon dokter?” tanya Tomi.
“Nggak perlu” Willie berjalan ke arah kasurnya.
“Kata kamu nggak perlu, lihat itu wajah kamu udah lebam-lebam seperti itu masih bilang nggak perlu dokter!” ucap Inggrit ketus.
“Udah biar mama yang telfon dokter Rahman untuk datang memeriksa kamu kesini!”
Mentari dari tadi hanya dapat menunduk saja, ia takut Willie akan marah atau mama dan papa mertua nya akan kecewa pada dirinya.
“Tari kamu nggak sekolah nak?” tanya Tomi lembut.
“Nggak pa, Tari mau jagain kakak Willie” ujar Mentari lembut.
Tomi langsung saja tersenyum mendengar ucapan menantunya itu. Ternyata dia tidak salah pilih istri untuk sang putra.
Mentari rela tidak masuk sekolah hanya karena ingin menjaga Willie. Padahal selama ini sikap Willie selalu tidak baik pada gadis itu.
“Kamu lihat Will! Mentari rela tidak masuk sekolah hanya demi jagain kamu” ujar Tomi pada Willie.
“Kan memang sudah kewajiban dia sebagai seorang istri ngerawat suaminya pa” ucap Willie santai.
“Kamu ini benar-benar ya! Makanya kamu jagain juga Mentari” ujar Tomi.
“Dia kan bisa jaga dirinya sendiri pa!”
“Iya! Nanti kalau Mentari di jagain sama cowok lain, kamu sendiri yang bakalan nyesal” ucap Tomi yang sudah mulai geram dengan putranya itu.
Bersambung…
karna merasa ga respect dn ga suka dgn peran mentari terlalu lebay💯%