Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Apa maksud kamu, hah? Bagaimana bisa anak-anak kabur dari sini? Emangnya apa yang udah kamu lakuin sama anakku?" teriak Aqilla, seraya mengguncangkan kedua sisi baju Dona dengan emosi.
Radit segera menahan kedua tangan Aqilla, tidak ingin wanita itu hilang kendali. "Tenang dulu, Qilla. Saya mohon jangan emosi kayak gini. Dona lagi hamil, tahan emosi kamu, ya," pintanya dengan lembut.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, menurunkan kedua tangganya dengan kesal dan khawatir. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa kedua anaknya?
"Maafin aku, Aqilla. Kemarin anak-anak tiba-tiba udah nggak ada di kamarnya," lemah Dona dengan kepala menunduk. "Mas Ilham udah nyoba nyari mereka, tapi masih belum ketemu sampai sekarang."
"Kenapa anak-anak bisa kabur, Dona? Sebenarnya apa yang udah kalian lakuin sama anakku? Nggak mungkin mereka pergi gitu aja tanpa sebab!" bentak Aqilla dengan dada naik turun menahan sesak, kedua matanya mulai memerah dan berair.
"Aku berani bersumpah demi apapun, Aqilla. Aku nggak nyakiti anak-anak. Mereka baru tiba di sini dua jam, mana sempat aku nyakiti mereka. Lagian, ada Mas Ilham juga di sini, dia gak akan ngebiarin aku nyakiti mereka."
Aqilla memejamkan mata sejenak seraya menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menahan emosi yang sebenarnya ingin sekali ia ledakan. Andai saja Dona tidak sedang dalam keadaan hamil, ia tidak akan segan menjambak rambutnya, menampar wajahnya bahkan melakukan hal lain guna melampiaskan kemarahan yang terasa menyesalkan dada.
"Lagian, kenapa kamu ngizinin Mas Ilham membawa anak-anak?Kamu sendiri tau kan kalau aku lagi hamil," tanya Dona seraya tersenyum menyeringai. "Kamu pasti sengaja menyerahkan anak-anak biar kamu bisa leluasa pacaran sama calon suami kamu ini, 'kan?"
Aqilla gagal menahan emosinya. Ucapan Dona berhasil menyulut amarah yang berusaha ia redam sedemikian rupa. Telapak tangannya seketika melayang ke udara lalu mendarat di wajah Dona keras dan bertenaga.
"Argh!" pekik Dona, wajahnya terlempar ke arah samping, matanya pun seketika berair.
"Hati-hati kamu kalau ngomong, ya!" bentak Aqilla, seraya menunjuk wajah Dona menggunakan jari telunjuknya sendiri. "Keluargaku hancur gara-gara kamu. Anak-anakku menderita dan aku sempat putus asa, semua itu gara-gara kamu. Pelakor nggak tau diri. Kalian bahkan melakukan hubungan terlarang sebelum menikah dan Mas Ilham masih berstatus sebagai suamiku. Kamu masih beruntung karena aku tidak melaporkan kalian atas perbuatan zina!"
Dona terdiam seraya mengepalkan kedua tangan. Memandang wajah Aqilla dengan mata memerah dan berair. Apa yang baru saja diucapkan oleh mantan istri suaminya itu bak anak panah yang melesat tepat mengenai hatinya dan ia merasa tertampar tanpa disentuh. Namun, ia tidak mampu menyangkal, apalagi melakukan pembelaan. Toh, semua itu benar adanya. Dirinya memang menjalin hubungan dengan Ilham saat pria itu masih berstatus sebagai suami orang, ia menang melawan istri sah dan berhasil merebut posisi itu.
"Tapi it's oke, aku berterima kasih sama kamu. Awalnya hatiku sakit karena kamu merebut suamiku, Ayah dari anak-anakku, tapi sekarang aku benar-benar berterima kasih karena kamu udah mengambil sampah yang seharusnya udah lama aku buang," timpal Aqilla seraya tersenyum lebar.
"Dasar brengsek," gumam Dona masih dengan kedua tangan mengepal.
Aqilla menunjuk wajah Dona menggunakan jari telunjuk seraya berujar, "Ingat satu hal, kalau anak-anakku sampe kenapa-napa, aku nggak akan pernah memaafkan kamu dan Mas Ilham. Aku nggak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang. Akan aku pastikan kamu dan Mas Ilham membayar rasa sakit yang udah anak-anak dan aku rasakan. Paham?"
Dona masih terdiam seraya memalingkan wajahnya ke arah samping. Sebenarnya, ia tidak takut sama sekali dengan ancaman Aqilla, dirinya bisa saja membalas dengan kata-kata yang lebih pedas atau bahkan melakukan hal lainnya, tapi ia tidak ingin kandungannya bermasalah hanya karena emosi yang tidak mampu dikendalikan.
"Sudah cukup, Aqilla. Nggak ada gunanya kamu marah-marah di sini, lebih baik kita cari anak-anak. Kita lapor polisi biar anak-anak bisa cepat ketemu, oke?" pinta Radit seraya mengusap kedua sisi bahu Aqilla dengan lembut dan hanya dijawab dengan anggukan olehnya.
Wanita itu pun menatap sinis wajah Dona dari ujung kaki hingga ujung rambut. Rasanya masih belum puas memuntahkan kemarahan yang selama ini ia pendam, tapi ia sadar anak-anaknya lebih penting dari sekedar meladeni wanita murahan yang sudah memporak-porandakan keluarganya. Aqilla hendak melangkah menuju pintu, tapi langkahnya seketika terhenti lalu kembali menatap wajah Dona dengan dingin.
"Jaga suamimu dengan baik, Dona. Aku aja istri yang udah menemani dia selama delapan tahun dia khianati, apalagi kamu yang baru menikah beberapa bulan," pesan Aqilla, sengaja memprovokasi. "Selingkuh itu penyakit yang nggak ada obatnya, sekali laki-laki berselingkuh, maka akan ada perselingkuhan-perselingkuhan lainnya. Ingat, karma itu nyata, Dona."
Hati Dona panas membara, wajahnya memerah penuh amarah. Ucapan Aqilla lagi-lagi terasa menusuk relung hatinya hingga menembus jantung dan berhasil membuatnya dihantui ketakutan. Bagaimana jika Ilham berselingkuh dengan wanita lain, sama seperti yang mereka lakukan dulu? Batin Dona ketakutan.
"Kita pergi sekarang, Qilla," pinta Radit dan hanya dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
"Dasar brengsek," gumam Dona, menatap kepergian Aqilla dengan dendam yang memenuhi dada. "Aku pastikan, Mas Ilham gak akan mengkhianati aku, Aqilla. Salah kamu sendiri, dia berselingkuh dari kamu karena kamu gak bisa menjaga suamimu dan gak bisa merawat diri kamu. Mana ada suami yang tahan dengan istri kucel kayak gembel seperti kamu!" teriaknya dengan penuh emosi, tapi sama sekali tidak ditanggapi oleh wanita itu.
Aqilla dan Radit benar-benar keluar dari dalam rumah tanpa menimpali teriakan wanita bernama Dona.
"Aku harus kasih tau Mas Ilham kalau Aqilla dan calon suaminya udah tau anak-anak hilang," gumamnya, meraih ponsel yang tergeletak di meja, lalu segera menghubungi suaminya melalui sambungan telepon.
"Halo, Mas," sapa Dona, saat Ilham mengangkat sambungan telepon.
"Iya halo, Dona. Ada apa?" samar-samar terdengar Ilham di dalam sambungan telepon.
"Gawat, Mas, gawat. Aqilla sama calon suaminya udah tau kalau anak-anak hilang."
Ilham yang tengah duduk di ruangannya seketika berdiri tegak dengan perasaan terkejut. "Apa? Ba-bagaimana mereka bisa tau?"
"Sial, tamat sudah riwayatku. Karirku akan hancur dan aku pasti akan dipecat dari perusahaan ini. Pak Radit pasti marah besar dan gak akan pernah memaafkan aku. Aku gak mau hancur sendirian, kalau aku hancur, maka Aqilla pun harus hancur," batinnya seraya menutup sambungan telepon.
Bersambung ....