Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jijik
Tisha masuk ke kamarnya dan merebahkan diri begitu saja di ranjang. Energinya serasa habis malam itu. Ia sadar, baru selamat dari sesuatu yang seharusnya tak pernah terjadi.
Sekilas terlintas pikiran yang membuat dadanya sesak. Bagaimana jika pria itu sempat menjamahnya lebih jauh. Meski status mereka sah, batas itu jelas berada di luar kesepakatan.
Tidak ada cinta di antara mereka, hanya ikatan yang suatu hari akan dilepas begitu saja. Justru karena itulah semuanya terasa lebih miris. Ia bertekad dalam hati, tak akan membiarkan Willie menyentuhnya lagi dengan cara yang tidak pantas.
Samar-samar aroma napas dan parfum Willie masih terasa melekat di badannya membuat Tisha mual oleh rasa jijik yang tertahan. Ia bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Di bawah guyuran shower, Tisha membiarkan air mengalir deras.
"Menjijikkan." gumamnya.
Ia mencoba mengosongkan pikirannya, berusaha menenangkan diri. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh begitu saja luruh bercampur dengan air hangat shower.
Usai mandi, ia kembali berbaring. Sudah berapa lama namun kantuk tak kunjung datang.
Setiap kali mata terpejam, bayangan wajah Willie yang mendekatkan bibirnya muncul terasa nyata. Tisha tersentak bangun, mengusap wajahnya berulang kali, mencoba menepis sisa-sisa ketakutan.
Akhirnya ia bangkit mengambil wudhu. Sholat tahajud menjadi tempatnya menyerahkan kegelisahan yang tak sanggup ia ucapkan.
Dalam doa yang lirih, ia memohon keselamatan, ketenangan jiwa, dan kekuatan untuk tetap tegak menjaga dirinya sendiri.
Entah berapa lama berlalu. Akhirnya, Tisha tertidur di atas sajadahnya, dengan mukena yang masih melekat seolah hanya dalam sujud dan pasrah itulah ia bisa benar-benar merasa aman.
***
Keesokan paginya, saat sarapan. Tisha merasa was-was bila harus berhadapan lagi dengan Willie.
Untungnya, kursi Willie masih kosong. Alia menoleh ke arah kursi itu.
“Papa tidak sarapan?”
Tisha tersenyum tipis, “Papa belum bangun. Mungkin kemarin papa kelelahan.”
Alia mengangguk polos, lalu ia kembali menyendok makanannya.
Di lantai atas, cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai kamar Willie, tepat mengenai wajahnya. Ia mengerang pelan dan membuka mata. Kepalanya terasa sangat berat.
Willie bangun perlahan dan mencoba duduk. Baru bergerak sedikit, rasa nyeri menjalar di telapak tangannya.
Ia menatap tangannya yang sudah diperban rapi. Alisnya mengerut. Ia berusaha mengingat kembali potongan ingatan yang terputus-putus.
Tenggorokannya terasa kering. Pandangannya beralih ke meja kecil di samping ranjang. Sebuah gelas berisi minuman di sana. Ia meraihnya dan meneguknya tanpa berpikir panjang.
Willie berhenti sesaat, kaget oleh rasa manis itu. Namun beberapa detik kemudian, dadanya terasa lebih ringan, kepalanya tidak seberat tadi. Ia mengembuskan napas pelan.
Ia berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Saat mencium kemeja yang masih ia kenakan, wajahnya langsung mengeras.
“Hm… bau alkohol dan rokok menyengat sekali." gumamnya pelan, nyaris muak.
Ia melepas kemeja itu dan mendekati wastafel untuk membasuh wajah. Saat air dingin menyentuh wajahnya, potongan-potongan kejadian semalam terbayang satu per satu.
Dari pecahan gelas, darah di tangannya, tatapan Tisha yang panik, dan sentuhannya pada gadis itu yang sudah terlalu jauh.
Ia mengerjapkan matanya saat bayangan tamparan dari Tisha terlintas dipikirannya.
Ia menatap cermin, ada goresan kecil di pipi kirinya. Willie terdiam, kedua tangannya bertumpu di wastafel. Air masih mengalir, tapi pikirannya mengabaikan itu.
“Brengsek…” makinya pada dirinya sendiri.
"Sekarang bagaimana aku harus berhadapan dengannya." gumamnya kesal.
Ia langsung mandi, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, seakan ingin menyapu sisa-sisa kekalutan di kepalanya. Setelahnya, Willie kembali ke kamar dan terduduk di tepi ranjang.
Handuk masih melilit pinggangnya. Kedua siku bertumpu di lutut, telapak tangan menopang dagunya. Pikirannya berputar liar.
“Apa yang akan kulakukan sekarang…” gumamnya lirih.
Sudut bibirnya terangkat pahit.
“Selamat, Willie. Kau resmi menjadi pria bejat di matanya.”
Ia mengusap wajahnya dengan frustasi, napasnya berat. Pandangannya lalu terangkat pada foto pernikahannya dengan Vira, kemudian beralih ke ranjang di belakangnya.
Dada Willie terasa sesak. “Aku bahkan melakukan itu di sini, di tempat biasa aku membagi kasih dengan istri tercintaku.” desisnya, penuh cercaan pada diri sendiri.
Ada jeda sejenak. Lalu, seolah muncul suara lain dari dalam dirinya. “Kau tidak salah, Willie. Kau sudah menikah dengannya. Dan itu pantas terjadi.”
“Aargh!” Willie menggeram pelan, rahangnya mengeras.
Ia bangkit, tak ingin larut lebih lama dalam kekacauan itu. Dengan gerakan cepat, ia segera mengenakan pakaiannya.
Di pikirannya hanya ada tekad, sebisa mungkin, ia harus menghindar dari gadis itu.
Willie turun dengan buru-buru. Ia merasa lega, saat tahu ruangan bawah kosong, Tisha tidak ada sana.
Diam-diam langsung melangkah menuju pintu depan, berniat keluar sebelum keadaan jadi canggung.
Begitu membuka pintu depan, langkahnya jadi terhenti. Pandangannya membeku di halaman depan.
Tisha sedang mengajari Alia mengayuh sepeda. Satu tangannya memegang sadel sepeda kecil berwarna pastel itu, tangan lain menahan setang agar tetap lurus.
“Pelan-pelan ya," ucap Tisha lembut.
“Lihat ke depan. Jangan takut.”
Alia mengayuh ragu-ragu. Sepedanya oleng dan hampir jatuh, namun tisha sigap menahan, lalu stabil lagi.
Willie masih berdiri mematung disana. Pemandangan itu terasa menenangkan untuk seseorang yang baru saja membuat kekacauan.
Tisha terlihat damai, tidak ada sisa ketegangan semalam di wajahnya, yang ada hanya ketenangan seperti seorang ibu.
Alia tertawa kecil.
“Ibu, aku bisa!”
“Iya, Alia hebat.” sahut Tisha sambil tersenyum bangga.
Dadanya Willie terasa menghangat, lalu muncul nyeri di saat yang sama.
Sebelum mereka sadar akan kehadirannya, ia langsung berbalik dan ingin masuk lagi. Namun belum sempat langkahnya menjauh, Alia tiba-tiba memanggilnya.
“Papa!”
Willie tersentak. Tubuhnya menegang sekejap, seperti seseorang yang tertangkap basah. Ia menarik napas cepat. Kali ini keberuntungan benar-benar sedang tidak memihak padanya.
“Pa, lihat. Aku sudah bisa bawa sepeda tanpa roda empat!” seru Alia.
Willie tak punya pilihan. Ia tak sanggup mematahkan semangat anaknya. Ia pun segera berbalik, melangkah dekat dengan ragu.
“Anak Papa hebat,” ucapnya pelan sambil mengelus rambut Alia.
Alia tertawa bangga. Namun di saat yang sama, pandangan Willie refleks terangkat ke arah Tisha.
Tatapan gadis itu tajam dan dingin, seolah menyimpan kemarahan padanya. Dalam hitungan detik, Tisha membuang wajahnya, lalu mundur setapak. Menjaga jarak dengan jelas.
Willie tercekat. Ia sadar Tisha sedang membuat batas. "Ya Tuhan, aku harus apa sekarang." batin Willie.