Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: TERIKAT DALAM SANGKAR
Hari-hari berlalu, dan pola hidup Clara makin terikat rapat dalam orbit kehidupan Arsen. Dari sebelum fajar menyingsing, Clara sudah harus terbangun untuk menyiapkan kemeja sekolah Arsen, merapikan buku-buku pelajarannya, hingga menyeduhkan teh chamomile hangat sebelum menepuk pelan bahu Tuan Mudanya agar terbangun.
Di sekolah, Clara selalu berada satu langkah di belakang Arsen—menyiapkan catatan penting, membawa botol air minumnya saat latihan olahraga, dan menjadi orang pertama yang dimintai pertimbangan untuk jadwal harian Arsen. Malam harinya, tugas itu berlanjut di kamar utama mansion. Clara menemani Arsen belajar di meja kerja luas hingga larut malam, sebelum akhirnya tidur di atas ranjang yang sama, terkunci rapat dalam dekapan hangat dan posesif pria itu.
Rutinitas yang teramat intens ini perlahan mengikis rasa takut Clara yang semula mencekam.
Namun, hilangnya rasa takut itu justru digantikan oleh kebingungan yang jauh lebih menyiksa dadanya. Arsen adalah pria yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ia adalah Tuan Muda dingin dan kejam yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik otoritasnya—seperti yang ia lakukan pada Dion atau murid-murid di sekolah. Namun di sisi lain, Clara bisa merasakan perhatian terselubung yang sangat halus dari pria itu.
Arsen kini melarang keras Clara membawa beban berat. Setiap kali Waktu Istirahat Tiba, Arsen secara pribadi memastikan Clara meminum obat penambah darahnya dan menyantap porsi makan siang yang kaya nutrisi. Bahkan saat malam hari ketika anemia Clara kumat dan tubuhnya menggigil kesakitan, Arsen tanpa ragu memeluknya lebih erat, menyalurkan suhu tubuh hangatnya tanpa mengeluh sedikit pun.
Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul satu pagi.
Lampu kamar utama sudah dipadamkan. Clara berbaring miring, menatap wajah Arsen yang tertidur lelap hanya beberapa sentimeter darinya di bawah pendar remang lampu tidur. Lengan tegap Arsen melingkar kokoh di pinggang Clara, menguncinya agar tak bisa bergeser.
Wajah Arsen saat tidur tampak begitu tenang dan bebas dari raut dingin yang biasa ia pakai sebagai topeng sehari-hari. Helaian rambut hitamnya jatuh menutupi dahi, dan deru napasnya terdengar sangat teratur.
Clara mengangkat tangannya dengan sangat perlahan, menahan napas seraya mengarahkan jemarinya di atas wajah Arsen tanpa berani menyentuhnya.
Kenapa kamu melakukan ini semua, Arsen? batin Clara bergemuruh, matanya menatap lekat-lekat garis wajah Arsen.
Kamu memperlakukanku seperti tawanan dan pelayan, tapi kenapa kamu menyelimutiku saat aku kedinginan? Kenapa kamu rela memelukku setiap malam hanya untuk menjadi penawar tidurmu, tapi di saat yang sama menolak menyentuhku lebih jauh? Siapa aku sebenarnya di matamu?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepala Clara. Ada kehangatan asing yang merayapi hatinya setiap kali Arsen menatapnya penuh proteksi, namun rasa asing itu berbenturan keras dengan kenyataan bahwa mereka berasal dari dua dunia yang sangat bertolak belakang—seorang Tuan Muda kaya raya dan seorang gadis pelayan yang terikat utang.
Tiba-tiba, mata pekat Arsen terbuka pelan.
Clara terperanjat, hendak menarik tangannya kembali karena panik, namun jemari Arsen bergerak lebih cepat—menyambar pergelangan tangan halus Clara dan menahannya di udara.
"Belum tidur?" bisik Arsen dengan suara serak khas bangun tidur, matanya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata cokelat Clara yang bergetar.
"A-aku... hanya terbangun," cicit Clara gugup, mencoba melepaskan tangannya. "Maaf kalau membuatmu terbangun."
Arsen tidak melepaskan genggamannya. Malah, ia membawa jemari dingin Clara ke pipinya sendiri, membiarkan kulit lembut gadis itu menyentuh rahang tegasnya.
"Jantungmu berdetak sangat kencang, Clara," gumam Arsen rendah, menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan di tengah kegelapan malam. "Apa yang sedang kamu pikirkan tentangku?"
Wajah Clara memerah hebat. "Tidak ada... Aku cuma—"
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dariku," potong Arsen pelan namun sangat tegas. Ia menarik tubuh Clara hingga makin menempel ke dadanya, merengkuh kepala Clara ke ceruk lehernya. "Kamu sudah terikat di sini, di sisiku. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Clara terdiam membisu di dalam dekapan hangat Arsen. Ia memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam sangkar emas yang diciptakan Arsen—tanpa menyadari bahwa di luar sana, rahasia kelam masa lalu dan bahaya besar dari Keluarga Baskara sudah mulai mengintai keberadaan mereka.