Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Aliansi yang Mulai Berdarah
Malam di kediaman Duke Killian selalu terasa lebih dingin daripada tempat lain di seluruh kekaisaran. Elena berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman labirin berbatu. Angin malam menerpa wajahnya, namun kebekuan di hatinya jauh lebih intens. Di tangannya, selembar surat rahasia dari informan setianya baru saja selesai dibaca. Gavin dan adik tirinya, lris, baru saja mengadakan pertemuan tertutup dengan menteri keuangan kekaisaran.
Elena meremas kertas itu hingga hancur. Di kehidupan pertamanya, pertemuan inilah yang menjadi titik awal Gavin berhasil menggelapkan dana militer untuk membangun pasukannya sendiri—pasukan yang kelak digunakannya untuk membantai keluarga Elena.
"Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang, Nona Muda."
Sebuah suara berat dan familier memecah keheningan. Elena tidak terkejut. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Duke Killian yang selalu bergerak tanpa suara seperti bayangan maut. Pria itu berjalan mendekat, jubah hitamnya berkibar pelan, melangkah masuk ke dalam berkas cahaya bulan yang menembus jendela.
"Saya memang ingin membunuh seseorang, Yang Mulia," jawab Elena tanpa berbalik. Suaranya datar, tanpa getaran ketakutan yang biasanya ditunjukkan orang-orang saat berhadapan dengan sang tirani berdarah dingin. "Atau lebih tepatnya, menghancurkan mereka perlahan sampai mereka memohon untuk dibunuh."
Killian berdiri di samping Elena, menyandarkan satu bahunya pada bingkai jendela. Matanya yang tajam menatap profil samping wajah Elena. Ada kilatan kepuasan di mata pria itu. Sejak Elena mendatanginya tiga bulan lalu dan menawarkan aliansi dengan informasi masa depan yang akurat, Killian tahu wanita di hadapannya bukanlah domba penurut seperti yang dirumorkan orang-orang. Elena adalah serigala yang sedang menyamar.
"Gavin dan Iris?" tebak Killian langsung pada sasaran.
"Ya," Elena berbalik menghadapi Killian, mata mereka beradu. "Mereka mulai bergerak mendekati Menteri Keuangan. Jika mereka berhasil mengamankan tanda tangan kesepakatan tambang di wilayah barat besok malam, Gavin akan memiliki pasokan emas yang cukup untuk membeli kesetiaan para ksatria perbatasan."
Killian mendengus meremehkan. "Menteri Keuangan adalah orang tua yang serakah, tapi dia penakut. Kau ingin aku melenyapkannya?"
"Jangan," sergah Elena cepat. "Itu terlalu mudah untuk Gavin. Jika menteri itu mati, Gavin hanya akan mencari kambing hitam lain. Saya ingin Gavin menandatangani kontrak itu, namun dengan klausul yang sudah kita ubah. Saya ingin dia menjebak dirinya sendiri ke dalam utang yang tidak akan pernah bisa dia bayar seumur hidupnya."
Killian menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Klausul apa yang kau rencanakan?"
Elena tersenyum, sebuah senyuman yang sangat kontras dengan wajah cantiknya yang bak malaikat. Senyuman itu penuh dengan racun. "Hak kepemilikan mutlak atas wilayah tambang akan dialihkan kepada pihak ketiga jika dalam waktu tiga bulan tidak ada hasil produksi yang mencapai target. Dan kita tahu betul, Yang Mulia, bahwa wilayah barat itu akan mengalami bencana longsor besar dalam waktu dua minggu ke depan."
Killian terdiam sejenak, memproses informasi yang baru saja didengarnya. Dia tidak lagi mempertanyakan bagaimana Elena bisa mengetahui masa depan atau bencana alam yang belum terjadi. Tiga prediksi Elena sebelumnya selalu terbukti seratus persen akurat.
"Kau benar-benar kejam, Elena," gumam Killian, namun nada suaranya justru terdengar seperti sebuah pujian tertinggi. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Elena, memaksanya untuk menatap lebih dalam ke netra gelapnya. "Dan aku menyukai kekejamanmu."
Elena menahan napas sejenak saat merasakan sentuhan Killian. Pria ini berbahaya, dia tahu itu. Tapi dalam permainan catur ini, Killian adalah raja yang dia butuhkan untuk menumbangkan Gavin. "Aliansi kita didasarkan pada keuntungan bersama, Yang Mulia. Anda mendapatkan wilayah barat, dan saya mendapatkan kepala mereka."
"Tentu," Killian melepaskan dagu Elena dan melangkah mundur, kembali ke dalam kegelapan ruangan. "Besok malam di pesta topeng istana, aku akan memastikan Menteri Keuangan membawa dokumen yang sudah dimodifikasi. Tugasmu adalah memastikan Gavin meminum umpan tersebut."
"Serahkan itu pada saya," jawab Elena tegas.
Keesokan malamnya, Istana Kekaisaran dipenuhi dengan kemewahan yang memuakkan. Musik ballroom mengalun indah, mengiringi para bangsawan yang berdansa dengan topeng-topeng mewah yang menyembunyikan wajah asli mereka. Namun bagi Elena, topeng-topeng itu adalah representasi sempurna dari kemunafikan dunia ini.
Elena mengenakan gaun berwarna merah darah yang kontras dengan kulit putih susunya, lengkap dengan topeng beludru hitam yang senada. Penampilannya menarik perhatian banyak orang, namun auranya yang dingin membuat tidak ada yang berani mendekat secara sembarangan.
Dari sudut aula, Elena melihat targetnya. Gavin berdiri di sana, mengenakan setelan biru tua dengan topeng perak. Di sampingnya, bergelayut manja seorang wanita bergaun merah muda dengan topeng berhias bulu—Iris.
Melihat mereka berdua berdekatan membuat kilasan memori mengerikan di sel penjara bawah tanah kembali berputar di kepala Elena. Rasa panas api yang membakar kulitnya seolah nyata kembali. Tangan Elena mengepal kuat hingga kukunya memutih di balik sarung tangan rendanya.
Tenang, Elena. Jangan sekarang, bisik batinnya menenangkan diri. Waktu mereka akan tiba.
Elena menarik napas dalam-dalam, memasang topeng kepolosan yang dulu selalu dia miliki, lalu melangkah menghampiri mereka.
"Gavin," panggil Elena dengan nada suara yang lembut, persis seperti Elena yang naif di masa lalu.
Gavin menoleh. Begitu mengenali suara dan postur tubuh istrinya (yang saat ini masih berstatus sebagai tunangannya di lini masa ini), wajah Gavin sedikit menegang. Dia segera melepaskan tangan Iris dari lengannya secara halus.
"Elena? Kau datang?" Gavin mencoba terdengar seramah mungkin, meskipun ada nada bersalah yang berusaha dia sembunyikan. "Kukira kau sedang kurang sehat dan memilih tinggal di kediaman keluargamu."
"Aku merasa sudah lebih baik, Gavin. Dan aku merindukanmu," kata Elena, memaksakan diri untuk mengucapkan kata-kata manis yang terasa seperti menelan paku.
Iris, yang berdiri di samping Gavin, menatap Elena dengan tatapan penuh kebencian yang tersamar di balik topengnya. "Kak Elena, sungguh kejutan melihatmu di sini. Gavin baru saja menceritakan betapa sibuknya dia belakangan ini mengurus urusan kekaisaran."
Elena menatap adik tirinya itu. Di kehidupan lalu, Iris adalah orang yang menusuknya dari belakang, merenggut putranya yang masih bayi, dan tertawa saat Elena sekarat di dalam api.
"Ah, Iris. Kau juga di sini? Begitu setianya kau menemani tunanganku ke mana pun dia pergi," sindir Elena halus, namun bermakna tajam.
Gavin berdehem canggung, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum kecurigaan muncul. "Elena, Iris hanya membantuku menyapa beberapa relasi bisnis. Omong-omong, di mana Duke Killian? Kudengar kau belakangan ini sering terlihat mendatangi kediamannya untuk urusan formal?" ada nada menyelidik dalam suara Gavin. Dia jelas merasa terancam jika Elena berhubungan dengan sang Duke yang berkuasa.
"Duke Killian sedang sibuk dengan urusan militer, Gavin. Pertemuan kami hanya membahas masalah perbatasan wilayah keluarga kita," jawab Elena tenang tanpa cela. "Tapi sepertinya, malam ini kau yang punya urusan lebih penting. Aku melihat Menteri Keuangan baru saja memasuki ruang belajar pribadi di sayap barat istana."
Mata Gavin langsung berbinar mendengar informasi itu. Itulah kesempatan yang dia tunggu-tunggu sepanjang malam. "Benarkah? Kalau begitu, Elena, maafkan aku. Aku harus menemuinya sebentar untuk urusan penting. Iris, kau tinggallah di sini bersama Elena."
"Tentu, Gavin. Pergilah," kata Elena sambil tersenyum manis.
Begitu Gavin melangkah pergi dengan tergesa-gesa, aura di antara Elena dan Iris langsung berubah drastis. Senyum di wajah Elena menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang menusuk.
Iris maju satu langkah, berbisik dengan nada meremehkan di telinga Elena, "Kau pikir kau bisa menahannya di sisimu selamanya, Kak? Gavin adalah pria yang ambisius. Pria seperti dia membutuhkan wanita yang bisa menyokong ambisinya, bukan wanita membosankan yang hanya tahu cara mematuhi aturan seperti dirimu."
Elena tidak marah. Dia justru merasa kasihan pada Iris. Di kehidupan ini, Iris masih berpikir bahwa dia memenangkan hati Gavin, tanpa tahu bahwa Gavin hanyalah memanfaatkan semua wanita demi takhtanya sendiri.
"Iris," Elena berbisik balik, suaranya begitu rendah hingga mengirimkan sensasi merinding ke tengkuk adik tirinya. "Nikmatilah waktu-waktu ini selagi kau bisa. Karena apa yang kau rebut dariku, akan kukembalikan padamu dalam bentuk yang paling mengerikan."
Sebelum Iris sempat membalas, Elena sudah berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Iris yang mendadak gemetar tanpa alasan yang jelas di tengah aula yang ramai.
Sementara itu, di ruang belajar pribadi yang remang-remang di sayap barat, Gavin baru saja menutup pintu di belakangnya. Di dalam ruangan, Menteri Keuangan yang bertubuh tambun sedang duduk di kursi kulit sambil meneguk segelas anggur. Namun, yang membuat jantung Gavin mencelos adalah kehadiran sosok lain di sudut ruangan.