NovelToon NovelToon
Prince And Princess Of The Dandelion Kingdom

Prince And Princess Of The Dandelion Kingdom

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Romansa Fantasi / Fantasi / Anak Yang Berpenyakit / Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: mailani muadzimah

Setelah bertahun-tahun pasca kelahiran pangeran dan putri bungsu, mereka tetap berusaha mencari pelaku pembunuh sang ratu. Hidup atau mati! Mereka ingin pelakunya tertangkap dan di hukum gantung!Dapatkah para pangeran dan putri menangkap pelakunya?

*update setiap Minggu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mailani muadzimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat dengan Para Pejabat Bangsawan

"Bagaimana kondisi Liam?" tanya Ezra begitu Dokter Cedric keluar dari ruangan.

"Beliau mulai merespons, namun keadaannya masih lemah. Kami harus terus memantau perkembangannya," jawab Dokter Cedric tenang.

Ezra menghela napas lega, meski hatinya tetap was-was.

"Tolong... selamatkan dia, Cedric," ucap Ezra lirih.

"Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya akan melakukan segala cara demi menyelamatkan Pangeran Liam," jawab Dokter Cedric mantap.

"Aku sangat berterima kasih padamu," Ezra menatap Cedric dengan penuh harap.

"Lalu... bagaimana dengan Arsha dan Jeanette?" lanjut Ezra, nada suaranya berubah cemas.

"Putri Arsha dan Nona Jeanette masih belum sadar. Saat ini, mereka hanya bergantung pada alat medis," jawab Cedric, nada suaranya berat.

"Bisakah aku masuk dan melihat kondisi mereka? Aku akan mencoba menyalurkan kekuatan penyembuh," pinta Ezra.

"Tentu, Yang Mulia."

Ezra melangkah masuk ke ruang ICU. Hatinya mencelos saat melihat tubuh kedua adiknya dipenuhi kabel dan selang medis. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mulai memindai kondisi Arsha terlebih dahulu.

Sel-sel dalam tubuh Arsha masih bekerja keras menjaga kestabilan tubuhnya. Ledakan sihir yang mengenai tubuhnya telah meninggalkan luka dalam, melemahkan sistem vitalnya. Jeanette bahkan dalam kondisi lebih buruk—sihir hitam masih menggerogoti tubuhnya dari dalam.

Berbeda dari Arsha, sel-sel tubuh Jeanette nyaris tak bergerak. Hanya jejak samar kekuatan spirit cahaya yang dimasukkan Liam dan kelihatan masih bertahan. Ezra mengalirkan energi penyembuh pada keduanya, namun tubuh Jeanette tak merespons sama sekali.

"Kyrus, lanjutkan penyembuhan. Aku akan memeriksa Liam," Ezra mengirimkan pesan melalui telepati.

"Baik," jawab Kyrus.

Cahaya keemasan mulai berpendar di sekitar tubuh Jeanette dan Arsha. Kyrus mengerahkan seluruh kekuatannya, sementara Ezra berpindah memindai Liam.

Ia segera menyadari sesuatu yang mengkhawatirkan. Paru-paru Liam menyusut, saluran pernapasannya menyempit, dan dipenuhi lendir. Asma Liam kambuh lebih parah dari biasanya.

"Asmanya memburuk..." batin Ezra cemas.

Ia memperdalam pemindaiannya. Ada virus flu dalam tubuh Liam—itulah penyebab demam tingginya. Sistem imunnya melemah; sel darah putihnya kewalahan. Ditambah lagi, alerginya kambuh karena debu musim panas. Kombinasi yang mematikan.

"Pantas saja kau demam setinggi ini... Kau terlalu memaksakan diri, Liam..." Ezra menyalurkan kekuatan penyembuhnya dengan lembut.

Ia membantu tubuh Liam melawan virus, memperkuat sistem imunnya, dan memulihkan stamina yang terkuras habis.

***

Setelah dua jam, Ezra dan Kyrus akhirnya selesai mengobati adik-adiknya dan Jeanette dengan kekuatan penyembuh.

Tepat saat Ezra dan Kyrus keluar dari ruang ICU, Gideon datang menghampirinya.

"Yang Mulia, Pangeran Liam telah menyelesaikan semua dokumen, termasuk tambang emas yang baru ditemukan dan sedang dipermasalahkan. Beliau menitipkan pesan bahwa Anda bisa memulai pembahasan malam ini tanpanya," ujar Gideon pelan.

"Saya sudah menaruh dokumennya di ruang kerja Anda, Yang Mulia," sambungnya.

"Baiklah. Kau sudah bekerja keras, Gideon. Lysander, pergilah dan ambil semua dokumen yang diperlukan. Donovan, ayo kita pergi ke ruang rapat. Para bangsawan juga sudah menunggu." ujar Ezra tegas.

"Baik, Yang Mulia." jawab Lysander dan Donovan serempak.

Lysander mengambil dokumen-dokumen yang telah di tanda tangani dan diberi cap kerajaan, sementara Ezra dan Donovan pergi ke ruang rapat lebih dulu.

Sebelum benar-benar pergi ke ruang rapat, Ezra melihat Arka masih duduk di ruang tunggu, dia tampak sedang mengusap air matanya.

Ezra mendekat pelan dan duduk di sampingnya.

"Arka, istirahatlah di kamarmu. Sebelum itu, kirimkan surat ini ke Papa lewat portal pos. Papa harus tahu keadaan di istana. Kakak sudah menulisnya dan memberi cap, jadi kau hanya perlu mengirimkannya saja. Kau bisa melakukannya, 'kan?" ucap Ezra sambil menyerahkan surat balasan yang tadi sudah ditulisnya.

Arka mengangguk. Sejak tadi dia hanya duduk di ruang tunggu, menangisi Liam dan Arsha. Matanya sembab.

Ezra mengusap lembut kepala Arka.

"Liam dan Arsha akan baik-baik saja. Kakak tidak mau kau ikut sakit karena kelelahan, jadi istirahatlah, Arka..." ucap Ezra pelan.

"Iya... aku akan kembali ke kamar, Kak." Arka berdiri dari duduknya sambil mengusap air matanya.

"Anda mau digendong saja, Yang Mulia?" tawar Sir Ramon.

Arka tidak menjawab pertanyaan Sir Ramon dengan kata-kata, tapi dengan gerakan. Dia mengangkat kedua tangannya, menandakan mau digendong saja.

Sir Ramon bergegas membawa Arka ke dalam gendongannya.

Ezra bicara pada Arka yang sudah digendong, "jangan lupa dikirim ke Papa." katanya mengingatkan.

Arka mengangguk.

***

Suasana di ruang rapat saat itu sangat dingin. Para bangsawan takut untuk bicara karena masalah keluarga Baron Marshal yang terkena hukuman akibat mengkhianati kerajaan. Tidak ada yang berani melapor duluan permasalahan mereka. Mereka justru berbisik-bisik.

"Rumor tentang Pangeran Kedua yang bengis ternyata sungguhan,"

"Iya, Baron Marshal dan keluarganya habis tidak bersisa. Semua ada di penjara bawah tanah. Katanya bahkan sudah ada yang dipenggal,"

"Dia sama persis dengan Putra Mahkota, entah kenapa rasanya takut menatap matanya."

"Benar. Tapi Pangeran Ezra sepertinya lebih bisa diajak diskusi daripada Baginda Raja atau Putra Mahkota,"

"Mana mungkin? Kau tidak lihat tatapan matanya? Dia seperti mau menerkam kita,"

Ezra sebenarnya mendengar bisik-bisik itu. Bisa-bisanya mereka menggosip di depan orangnya langsung. Dia lalu menatap satu per satu bangsawan yang hadir dengan tatapan dingin.

"Tidak ada yang ingin mengatakan sesuatu? Baiklah, aku akan memulainya." ucap Ezra.

Hening. Para bangsawan itu langsung diam seribu bahasa.

"Yang pertama, aku telah membatalkan dan menolak semua hal yang berkaitan dengan Baron Marshal. Aku rasa kalian tidak perlu mendengar alasan mengapa semua hal yang berkaitan dengan Baron Marshal dihapus dari kerajaan. Apakah ada yang keberatan?" Ezra menatap semua bangsawan yang hadir.

Tidak ada satu pun yang bicara, para bangsawan itu kelihatan gugup dan hanya bisa menelan ludah.

"Karena tidak ada yang menyanggah, akan kulanjutkan. Terkait masalah tambang milik keluarga Baron Marshal, semuanya, tanpa terkecuali, akan menjadi milik kerajaan. Jadi, dokumen tentang penyerahan tambang itu dibatalkan." ucap Ezra.

"Selanjutnya, sesuai dengan Undang-Undang Kerajaan, bangsawan yang hendak mengambil tambang bekas pengkhianat, harus melalui prosedur dan pemeriksaan yang ketat, dan akan dilakukan secara langsung oleh Raja atau wakilnya."

Suasana ruang rapat tetap hening.

"Baik. Kurasa permasalahan tentang tambang milik keluarga Baron Marshal sudah selesai. Kita akan lanjutkan ke masalah selanjutnya." sahut Ezra.

"Kalian semua juga telah mengetahuinya, telah ditemukan tambang emas baru yang berjarak delapan ratus kilometer dari Lembah Kupu-Kupu. Tambang itu juga akan diurus oleh kerajaan, hal ini dikarenakan, banyaknya kupu-kupu yang tinggal di lembah. Jika kegiatan menambang tetap dilakukan di sana, habitat kupu-kupu akan terancam. Selain itu, ternyata..."

Seorang bangsawan melakukan interupsi. Dia mengangkat tangannya.

"Yang Mulia, bolehkah saya bicara?" tanyanya.

"Silakan, Sir Benecall." Ezra sebenarnya tidak suka diinterupsi saat dia sedang bicara, tapi dia sengaja membiarkannya karena ingin tahu apa yang hendak dikatakan Sir Benecall.

"Bukankah kerajaan akan merugi jika kita tidak menambang emas di sana? Pendapatannya bisa lumayan untuk membayar biaya pemeliharaan tunas Pohon Serbuk Suci yang meledak," ucap Sir Benecall.

"Kau benar, Sir Benecall." sahut Ezra tenang.

"Namun, itu hanya akan terjadi jika tambang itu sungguhan menghasilkan emas. Liam dan para spirit telah melakukan penyelidikan, tambang itu tidak memiliki banyak emas seperti yang dikatakan. Itu hanya tambang kosong dengan batu mineral berwarna keemasan yang banyak kita jumpai di Dandelion. Pendapatannya bahkan tidak bisa menutupi untuk membayar perawatan satu tunas Pohon Serbuk Suci, jadi kegiatan menambang dilarang dilakukan di sana." jelas Ezra.

"Tapi, Yang Mulia. Bukankah seharusnya kita memeriksa langsung kondisi tambang?" sahut Sir Federict.

"Marquess Federict Marc, apakah kau baru saja meragukan pekerjaan Pangeran Ketiga?" cecar Ezra.

"Ti-tidak, Yang Mulia. Bukan begitu maksud saya..." jawab Sir Federict gagap.

"Lalu?" tanya Ezra, dia menunggu jawaban yang logis.

"Saya berpikir sebaiknya kita mengecek ulang kondisi tambang, siapa tahu kita bisa menemukan emas asli di sana..." Sir Federict berkeringat dingin.

"Tidak ada yang perlu diperiksa lagi, Sir Federict. Aku telah meminta Liam agar dia memeriksa semua sudut tambang itu berkali-kali. Bahkan dengan bantuan spirit tanah. ucap Ezra tegas.

"Lalu, mengapa Pangeran Liam tidak ada di rapat ini? Bukankah seharusnya beliau yang menjelaskan tentang tambang ini? Lalu saya juga ingin bertanya, mengapa dokumen tambang ini kotor?" cecar Sir Federict lagi, dia rupanya masih keras kepala dan terkesan meremehkan.

Ezra menatap tajam pada Sir Federict.

"Marquess Federict Marc." Mendengar nama lengkapnya dipanggil bahkan sekaligus dengan gelar, Sir Federict merasa takut.

"Apa kau ingin tahu kenapa Liam tidak ada di sini sekarang?" tanya Ezra tajam.

Sir Federict ragu-ragu mengangguk.

"Dokumen itu kotor karena terkena darah Liam. Saat ini dia sedang di Menara Medis untuk menerima perawatan intensif. Sir Federict, apa kau tahu alasan Liam bisa sampai dirawat seperti itu?" cecar Ezra lagi.

Sir Federict menggeleng. Dia panik sekarang.

"A-Ah... Saya sungguh tidak tahu kalau kondisi Pangeran Liam tidak baik. Saya telah melakukan kesalahan dan tidak sopan karena mengatakan hal barusan," gumam Sir Federict gagap.

"Mungkin kau perlu penjelasan yang detail, Sir Federict. Kondisi Liam memburuk karena dia terlalu lelah bekerja, terutama karena menyelidiki tambang itu. Jadi dia butuh istirahat sehingga tidak bisa hadir dalam rapat. Kuharap kalian semua bisa mengerti kondisinya. Jika kalian meragukan hasil pekerjaan Liam si Pangeran Ketiga, artinya kalian juga meragukan kekuatan Pengendali Spirit Dandelion, juga meragukan wakil Putra Mahkota." ucap Ezra tegas.

"Apakah ada yang ingin menyanggah? Apakah ada yang bermasalah dengan bercak darah di dokumen itu? Lagipula darahnya tidak mengenai tulisan, hanya di tepian dokumen. Secara teknis, tidak ada masalah selagi darah itu tidak menutupi tulisannya." sambung Ezra kesal.

Semua bangsawan lagi-lagi diam. Tidak ada yang berani menjawab.

"Lysander." panggil Ezra.

Lysander mendekat, "saya, Yang Mulia."

"Bawa Marquess Federict Marc keluar ruangan. Dia sudah tidak ada urusan lagi di sini." titah Ezra dingin.

"Baik, Yang Mulia." Lysander berjalan ke arah Sir Fedrrict dan menyeretnya keluar.

Sir Federict memohon permintaan maaf pada Ezra, namun dia mengabaikannya.

"Yang Mulia! Maafkan saya! Saya mohon!" teriak Sir Federict.

"Apakah ada hal lain yang ingin kalian laporkan?" tanya Ezra dingin.

"Ya, Yang Mulia." jawab Sir Jeremy.

Ezra menunggu.

"Ini adalah laporan mengenai kasus pencurian di Desa Kayu Biru, saat ini sudah tidak ada penduduk yang kehilangan barang. Kami sudah menemukan beberapa pencurinya, namun agak sulit untuk menemukan ketua mereka." jelas Sir Jeremy percaya diri.

Ezra menyeringai, "Desa Kayu Biru adalah wilayah kekuasaan Liam, bukan? Liam juga telah menyelidiki desa itu. Dia telah menangkap pelakunya. Mungkin kau bisa tolong bawakan pelakunya, Donovan."

"Baik, Yang Mulia." Donovan bergegas keluar ruangan dan kembali lagi sambil membawa sebuah kandang.

Bangsawan yang hadir terkejut, terutama Marquess Jeremy. Semuanya bertanya-tanya, mengapa pelakunya ada di dalam kandang berukuran sedang?

"Apa maksud ini semua, Yang Mulia?" tanya Sir Jeremy heran.

"Pencuri barang di Desa Kayu Biru, bukanlah manusia. Tupai Biru ini pelakunya. Alasan para penduduk sudah tidak kehilangan barang lagi adalah karena tupai itu sudah ditangkap oleh Liam dengan menggunakan spirit tanah." jelas Ezra kesal. Dahinya mengernyit jengkel.

Di dalam kandang itu, tampak sepuluh ekor Tupai Biru yang sibuk makan jerami.

Marquess Jeremy terbelalak. Dia tidak percaya.

"Tidak, Yang Mulia. Saya telah menyelidikinya, sungguh pelakunya bukan tupai!" rengek Sir Jeremy.

Ezra menghela napas. "Kalau begitu, jelaskan mengapa kau bisa mencurigai manusia? Dan siapa yang kau tangkap? Berapa orang?" cecar Ezra.

"Itu... karena pencurian barang itu selalu punya pola, yaitu hanya terjadi pada malam hari. Barang yang dicuri pun kebanyakan adalah kalung permata putih dan perhiasan kecil. Saya dengan dibantu oleh Sir Feredict telah meringkus dua orang yang diduga pelaku. Beberapa waktu lalu, salah satu penduduk pernah melihat dua orang mencurigakan yang mondar-mandir di depan rumahnya Baroness Michella." jelas Sir Jeremy.

"Keesokan harinya, gelang dan perhiasan milik Baroness Michella hilang tanpa adanya bekas jendela atau pintu yang dibobol. Namun, Baroness Michella mendapati jendelanya telah terbuka, padahal dia telah mengunci jendelanya rapat-rapat. Bukankah sudah jelas kalau dua orang itu pelakunya, Yang Mulia? Untuk apa dua orang itu mondar-mandir di depan rumahnya Baroness Michella?" sambung Sir Jeremy ngotot.

"Lalu, kau sudah menangkap mereka berdua?" tanya Ezra.

"Ya, Yang Mulia."

"Apakah kau tahu siapa mereka?"

Belum genap Marquess Jeremy membuka mulutnya. Ezra sudah melanjutkan kalimatnya.

"Aku akan memberitahumu, Marquess Van Jeremy. Mereka berdua adalah penagih utang. Bukan pencuri. Kau dan Sir Federict sudah salah tangkap orang,"

"Ti-tidak mungkin, Yang Mulia. Saya sangat yakin kalau mereka adalah pelakunya! Saya tidak bisa menerima ini. Bagaimana mungkin tupai bisa mencuri perhiasan? Saya curiga jangan-jangan Pangeran Liam hanya mengada-ada, tupai itu pasti peliharaan Yang Mulia Pangeran Liam! Ini hanyalah alasan agar Pangeran Liam bisa menutupi ketidakbecusannya dalam memimpin wilayah!" cecar Sir Jeremy.

Ezra menatap Marquess Van Jeremy dengan tatapan dingin dan marah.

Sadar bahwa kata-katanya salah, Marquess Jeremy langsung berhenti mencak-mencak. Dia menelan ludah dengan gugup.

"Apa kau sudah selesai bicara? Beraninya kau menghina adikku yang telah bekerja keras!" bentak Ezra.

"Menurutmu, Marquess Van Jeremy, apakah Pangeran Liam yang tidak becus itu akan memelihara hewan berbulu yang bisa memperparah penyakitnya? Kupikir kau juga sudah tahu tentang penyakit Liam. Bukan begitu, Marquess Van Jeremy?" Ezra lagi-lagi menatapnya dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi.

Marquess Van Jeremy langsung ciut. Dia mengangguk ragu.

"Yang dikatakan Pangeran Ezra benar, bulu Tupai Biru adalah pemicu asma yang paling buruk. Pangeran Liam jelas tidak mungkin memelihara hewan ini." batin Grand Duke Xandie Enibel.

"T-tapi bisa saja, 'kan!" sanggah Marquess Van Jeremy dengan gagap.

"Bisa apa? Jeremy?" Ezra yang sudah kepalang kesal tidak lagi menyebutkan gelar.

Dia sudah muak, toh memanggil dengan sebutan gelar hanya berlaku baginya untuk memanggil seseorang yang berkedudukan di atasnya--dalam hal ini Raja dan Putra Mahkota berkedudukan lebih tinggi dari Ezra yang adalah Pangeran Kedua.

Para pejabat bangsawan itu merasa sangat khawatir. Sebab, jika para pangeran sudah memanggil seseorang tanpa gelar, artinya orang itu sudah berakhir.

"Apa kau tidak belajar selagi duduk di akademi dulu, Jeremy? Tupai Biru adalah hewan yang suka dengan benda-benda berkilau. Mereka sangat tertarik dengan permata putih dan perhiasan-perhiasan yang terpasang di tubuh manusia. Mereka mengoleksinya untuk dijadikan sarang. Oh, sebagai informasi, sejak tadi tupai-tupai ini sudah mengincar bros baju milikmu yang berkilauan itu." ucap Ezra sambil menyeringai.

Sir Jeremy hendak mendebat kalimat Ezra, dia baru saja membuka mulut.

"Jangan sanggah aku! Aku belum menyuruhmu bicara." titah Ezra tegas.

"Mengenai pernyataan Baroness Michella yang mengatakan kalau dia telah mengunci jendela rapat-rapat, itu tidak benar. Apa kau sudah tahu kalau Baroness Michella mengidap demensia, Jeremy? Suaminya berutang pada rentenir agar bisa mengobati Baroness Michella, tapi Baron Deerol tidak sanggup membayar utang itu, dan malah kabur meninggalkan Baroness Michella."

"Ta-tapi...!" sanggah Sir Jeremy.

"Ah, kau pasti ingin bertanya, lalu mengapa rentenir itu mondar-mandir di depan rumah Baroness Michella? Mengapa Baroness Michella berbohong tentang mengunci jendelanya rapat-rapat? Mengapa aku bisa tahu semua ini? Atau bagaimana Pangeran Liam bisa tahu ini semua padahal dia jarang berkunjung ke desa!" potong Ezra sambil menyeringai kesal.

"Biar kujelaskan lagi, Jeremy." sambung Ezra dingin.

"Jika kau memahami apa yang kukatakan barusan. Kau seharusnya sudah tahu alasan rentenir itu mondar-mandir di depan rumahnya Baroness Michella. Menurutmu apa alasan itu? Tentu saja karena ingin menagih utang! Mereka tahu kalau Baron Deerol telah kabur dan bermaksud menagih utang itu pada istrinya, Baroness Michella." Ezra berdiri dari duduknya dan mendekat pada Sir Federict.

"Tapi, Baroness Michella yang mengidap demensia tidak mengingat siapa orang-orang itu meski mereka mendatanginya setiap hari. Saat itu mereka mondar-mandir karena ragu ingin menagih utang lagi." sambung Ezra.

Keberadaan Ezra yang mendekat pada Sir Federict, memmbuatnya merasa terintimidasi.

"Apa kau tahu alasan mereka ragu? Ya, tepat! Itu karena Baroness Michella mengidap demensia, mereka khawatir tidak kenali untuk kesekian kalinya. Mereka bingung sebaiknya bagaimana, namun kau dan pasukanmu, juga Federict malah menangkap mereka dan menuduhnya pencuri." omel Ezra.

Jeremy tercengang mendengar penjelasan Ezra.

"Ka-kalau begitu, apakah anda punya bukti, Yang Mulia?"

"Lysander, kau sudah mengambil barangnya?" Ezra menoleh pada Lysander.

"Sudah, Yang Mulia." jawab Lysander sambil memberikan dua buah kotak, satu kotak berisi bola-bola air dan satunya lagi berisi bola-bola angin.

Para pejabat bangsawan yang hadir tidak mengetahui bola-bola air dan angin itu adalah alat perekam.

"Apa itu, Yang Mulia?" tanya Grand Duke Xandie Enibel.

"Ini bola air dan angin. Liam membuatnya menggunakan spirit sebagai alat perekam. Apa kalian tahu kalau selama ini Liam selalu memantau keadaan wilayah yang diberikan padanya? Ada berapa perwakilan yang datang dari wilayah yang berada dibawah naungan Liam? Apa semuanya hadir?"

"Kalau aku tidak salah ingat, jumlah wilayah naungan Liam ada empat. Desa Kayu Biru, Desa Kayu Hijau, Desa Marmer, dan Desa Daun. Apakah Marquess pemimpin empat desa ini ada? Kecuali Jeremy dan Federict." sambung Ezra serius.

Marquess Rain dan Marquess Dawney ragu-ragu mengangkat tangan mereka.

Ezra menyeringai.

"Panggil Marquess Federict untuk masuk kembali, dia perlu melihat rekaman ini." titah Ezra.

Salah satu ksatria yang berjaga di depan pintu masuk pun bergegas keluar ruangan dan membawa Marquess Federict masuk.

"Yang Mulia! Saya sungguh tidak bermaksud..." rengek Federict saat tiba di ujung pintu.

"Diam di sana, Federict. Aku hanya ingin kau melihat ini." ucap Ezra dingin.

Dua ksatria yang berjaga di depan pintu memegangi lengan Federict.

Ezra mengeluarkan bola-bola air terlebih dahulu. Ada dua puluh jumlahnya. Sepuluh bola air adalah rekaman di Desa Kayu Biru, sepuluhnya lagi adalah rekaman di Desa Kayu Hijau.

***

1
Anonymous
thor? maaf ngelunjak, tapi boleh ga kalo upload nya langsung 10 episode? semua iklanku untukmu thor /Pray//Whimper/
Anonymous
huaaa liam udah sadar woii /Sob/
Anonymous
guys, sediain tisu. air mataku ga bisa berhenti ngalir nih /Sob/
Anonymous
author? serius Jeanette mati gitu aja? padahal kebersamaan kami baru sebentar huhu /Sob//Sob/
tapi curiga deh, kayak ada plot twist gitu dari kematian Jeanette
M Muadzimah
/Casual/
-Ezra
Anonymous
menurutku kayaknya liam? tapi siapapun yg duluan sadar, pasti bakal haru banget sih
Anonymous
Ezra luar biasa banget ya bisa nge-back up istana saat raja dan putra mahkota tidak di tempat. suka banget dgn karakternya. jadi makin penasaran episode selanjutnya /Proud/
Anonymous
liam sekarat, arka nangis, arsha koma, Ezra stres, zayden kelelahan...
kurang nyiksa apalagi ? ayolah, thor... kasih napas dikit buat liam /Sob/
M Muadzimah: /Chuckle/
total 1 replies
Anonymous
seru banget/Angry/
Anonymous
episode ini menegangkan banget.
zayden kecil ternyata udah melewati kejadian seperti itu, dia dewasa karena keadaan /Sob/ dan lagi, udah jago berpedang di usia 16? itu jenius banget. aku kayaknya usia 16 masih sibuk mikir tugas sekolah /Sob/
Anonymous
novel sebagus ini nggak boleh sepi dong.
btw zayden badas banget, kepribadiannya beneran mencerminkan seorang putra mahkota /Proud/
M Muadzimah: aduh, zayden jadi malu nih dipuji begitu /Facepalm/

terima kasih sudah mendukung Prince and Princess of the Dandelion Kingdom! /Drool/
total 1 replies
Anonymous
ceritanya segar, cinematic, kayak film banget, alurnya bikin penasaran dan banyak plot twist yang tidak terduga. worth it banget dibaca dan ditungguin updatenya, karena emang seseru itu😭 update: Jeanette meninggal woiii
Anonymous
ga expect yg jadi pencurinya ternyata tupai. warna biru lagi 😭 wkwkw
lanjutkan, thor!
Delfika Albar
keren banget alurnya, banyak plot twist dan ceritanya seru
Athiyah Nasywa
kayaknya si Fiona ini pick me deh
Athiyah Nasywa
seru banget, thor
Athiyah Nasywa
plot twist nya keren banget
Athiyah Nasywa
siapa yang naro bawang di sini? /Sob//Sob/
Athiyah Nasywa
kasian banget sama putri arsha, padahal belum lama pulih, udah kena serang lagi aja /Cry/
Athiyah Nasywa
menyala Aegis ku /Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!