Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13. Paris
Di Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Noa membuka matanya. Cahaya redup dari balik tirai hotel menyinari kamar yang terasa asing dan mewah baginya. Ia masih mengenakan gaun tidur, rambutnya dibiarkan terurai berantakan.
Di meja rias, koper kecilnya sudah ditata oleh ibunya kemarin, Seakan Noa adalah barang yang harus dipaketkan. Noa menarik napasnya panjang dan duduk di tepi ranjang.
Beberapa menit kemudian, pintu diketuk.
“Noa?” suara Landerik, datar seperti kemarin.
Noa beranjak dan segera membuka pintu. Landerik sudah rapi dengan kemeja hitam dan coat panjang, terlihat seperti pria bisnis yang hendak menghadiri pertemuan penting. Ia tidak menatap mata Noa lama-lama.
“Kita berangkat dalam setengah jam,” katanya. “Riana masih siap-siap dengan perawatnya.”
Noa terdiam sesaat lalu mengangguk. Landerik memperhatikan wajah Noa sekilas, melihat bekas sembab yang belum benar-benar hilang. Ia tidak berkata apa-apa.
Setelah ia pergi, Noa menutup pintu dan merasakan dadanya sesak campuran gugup dan sedih. Di lobi hotel, semua keluarga sudah berkumpul. Riana duduk di kursi roda, mengenakan sweater putih lembut dan wig pendeknya. Meski begitu, ia tersenyum cerah ketika melihat Noa.
“Noa,” sapa Riana lembut, hampir seperti bisikan. “Kau siap?”
Tidak juga. Tidak akan pernah. Namun Noa memaksakan senyum kecil.
“Iya, aku siap.”
Begitu rombongan menuju mobil-mobil mewah yang menunggu, Noa sempat melirik langit Amsterdam yang dingin dan mendung. Ia merasa seperti meninggalkan seluruh hidupnya. Namun ia tidak berbalik. Dia masuk ke mobil bersama Landerik dan Riana.
Mobil melaju menuju bandara internasional Schiphol. Selama perjalanan, tidak ada kata yang terucap. Hanya suara Riana yang sesekali batuk kecil dan suara mesin mobil. Noa memandangi jendela, memeluk dirinya sendiri.Tapi sesuatu mengganggu pikirannya.
Nolan.
Pesan-pesan Nolan yang ia abaikan semalaman. Dan hatinya bergetar.
...♡...
Di dalam mobil menuju bandara, Noa akhirnya membuka ponselnya. Ada 8 pesan belum dibaca dari Nolan. yang berisi,
“Kau baik-baik saja? Aku melihat rumahmu gelap.”
“Noa, aku khawatir. Hubungi aku kalau kau bisa.”
“Kita masih bisa bertemu hari ini?”
Noa meremas ponselnya. Air mata kembali menggenang. Ia tahu ia harus mengucapkan sesuatu. Setidaknya memberi penjelasan, meski hancur. Dengan tangan gemetaran, ia mengetik pesan panjang yang berisi,
Nolan, maaf aku baru membalas pesanmu. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Aku ingin kau tahu bahwa pertemuan kita, obrolan kita, itu berarti untukku. Sangat berarti.
Hanya saja hidupku tidak berjalan seperti yang kau bayangkan. Aku punya keluarga yang harus aku lindungi dengan caraku sendiri. Dan keputusan yang sudah aku ambil ini, bukan keputusan yang membuatku bahagia, tapi keputusan yang harus aku lakukan.
Maaf jika aku membuatmu menunggu. Maaf jika aku membuatmu berharap. Aku menyukaimu, Nolan. Tapi aku tidak akan kembali ke desa dalam waktu dekat. Aku tidak bisa lagi bertemu denganmu.
Terima kasih sudah membuat hari-hariku hangat meski pun singkat. Semoga kau menemukan seseorang yang lebih bebas dari dirinya sendiri daripada aku.
– Noari Liora
Setelah membacanya sekali lagi, Noa menahan napas dan menekan Send. Begitu pesannya terkirim, rasa sakit langsung mencengkramnya. Bukan lega. Bukan kelegaan sama sekali. Landerik di sampingnya melirik sekilas. Ia tak tahu apa isi pesan itu, tapi ia melihat Noa mengusap sudut matanya dengan cepat.
“Kau baik?” tanya Landerik, suaranya datar namun sopan.
Noa menelan tangisnya. “Ya,” jawabnya pelan. “Aku baik.”
Mobil terus melaju ke arah bandara, meninggalkan kota kecil tempat semuanya dimulai. Meninggalkan Nolan. Meninggalkan kenangan. Menuju kehidupan baru yang bukan pilihannya, namun tetap harus ia jalani.
...♡...
Pesawat mendarat di Bandara Charles de Gaulle saat cahaya sore mulai meredup. Langit Paris dipenuhi warna keemasan yang hangat. Riana tampak lelah namun tetap tersenyum, sementara Landerik sibuk mengurus berbagai hal agar Riana tidak terlalu banyak bergerak.
“Noa, tetap dekat denganku, ya,” bisik Riana dengan suara yang hampir hilang. Noa mengangguk. Ia merasa seperti anak kecil yang baru menginjakkan kaki di dunia asing.
Mereka keluar dari bandara, dan sebuah mobil hitam panjang sudah menunggu, sopir pribadi Landerik membukakan pintunya. Keanggunan Paris terlihat dari gedung-gedung tua yang kokoh dan lampu-lampu klasik yang mulai menyala di sisi jalan.
Setelah sekitar 20 menit perjalanan, mobil itu memasuki kawasan elit. Gerbang besar otomatis terbuka, dan Noa menahan napas. Rumah itu, Lebih seperti mansion klasik Eropa, dikelilingi air mancur, taman mawar, dan bangunan batu putih yang kokoh. Terlihat angkuh, sunyi, dan mahal sekaligus menakutkan.
“Selamat datang di kediaman keluarga Van Bodden,” kata sopir itu sopan. Begitu Noa turun dari mobil, angin Paris yang dingin menusuk kulitnya. Riana melihat Noa dengan senyuman lembut.
“Mulai sekarang Kau akan tinggal di sini. Ini rumahmu Noa.”
Kata-kata itu membuat jantung Noa mencelos. Di dalam rumah, interiornya bahkan lebih megah, marmer putih, lukisan-lukisan besar klasik, lampu kristal, serta aroma lembut bunga segar. Tapi meski pun indah rumah itu terasa dingin. Tidak ada kehangatan keluarga. Tidak ada tawa. Tidak ada suara selain langkah kaki. Landerik menunjukkan kamar Noa, kamar besar dengan balkon dan pemandangan taman belakang.
“Ini kamarmu,” ucapnya datar. “Jika ada yang kau butuhkan, panggil staf.” Noa mengangguk pelan. Riana menyentuh lengan Noa. “Istirahatlah. Besok aku ingin menghabiskan waktu denganmu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Amsterdam, Noa merasa sedikit lega melihat tatapan hangat Riana. Hanya Riana. Namun semua itu runtuh begitu malam tiba.
...♡...
Setelah makan malam sederhana, Noa kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang yang terlalu empuk, menatap koper setengah terbuka. Rumah ini besar. Terlalu besar. Dan terasa kosong, Tiba-tiba…
tok tok.
Pintu terbuka perlahan. Landerik muncul, masih memakai kemeja dari siang tadi. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya letih. “Noa,” panggilnya pelan.
Noa berdiri spontan. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Noa hati-hati.
“Panggil aku Landerik saja. Kita sudah menikah, bagaimanapun.” Nada suaranya bukan lembut, hanya formal. Ia masuk dan berdiri beberapa langkah dari Noa.
Suasana hening beberapa saat. “Aku ingin menjelaskan sesuatu,” kata Landerik sambil merapikan ujung kemejanya.
“Aku akan tetap tidur di kamar utama bersama Riana. Dokternya mengharuskan aku mengawasi kondisinya setiap malam.”
Noa menunduk. “Tentu. Saya mengerti.”
“Tapi…” Landerik menambahkan, “meski kita tidak hidup seperti pasangan suami istri seharusnya, kau tetap bagian dari rumah ini. Aku tidak akan mengabaikanmu. Jika ada apa pun yang mengganggumu katakan saja. Oh ya, besok ayahku, adikku dan istrinya akan pulang dari dubai, aku akan memperkenalkanmu pada mereka."
Noa mengangguk, meski hatinya menunggu kalimat yang tidak pernah datang. Sebuah kalimat seperti, “Kau merasa kesepian.” atau "apa kau takut sendirian."
Namun Landerik hanya menghela napas panjang, lalu berkata, “Selamat malam.” Ia menutup pintu dan pergi. Begitu suara langkah Landerik menghilang, Noa hanya menunduk dengan Air matanya yang menetes tanpa suara.
...♡...
Sementara itu, ribuan kilometer dari Paris, di desa kecil Belanda, Nolan baru pulang kerja. Ia masih mengenakan jaket tebal, dan ia mengecek ponselnya dan ia melihat ada Satu pesan baru. Dari Noa. Nolan langsung membukanya. Tatapannya menelusuri setiap kata. Lalu ia membacanya lagi. Dan lagi.
“Noa…” bisiknya dengan suara pecah. Ia duduk di bangku kecil di depan rumahnya, tempat yang biasanya ia lihat Noa berjalan setiap pagi menuju kedai kopi. Dulu ia ingin mengajak Noa duduk di sini, bercerita tentang hal-hal sederhana. Tentang cuaca. Tentang lukisan di langit. Tentang musik yang mereka sukai.
Tapi sekarang…
Nolan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Kenapa… kenapa kau harus pergi?”
Ada rasa sakit yang menohok—bukan hanya kecewa, tetapi patah hati yang tulus. Ia merasa bodoh karena berharap banyak pada pertemuan singkat itu. Namun yang paling menyakitkan, “Semoga kau bahagia…” ia berbisik lirih, meski suaranya bergetar. Ia menatap langit desa yang gelap. “…meski bukan denganku.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Nolan menangis.
To Be Countinue...