Saat keadilan sudah tumpul, saat hukum tak lagi mampu bekerja, maka dia akan menciptakan keadilannya sendiri.
Dikhianati, diusir dari rumah sendiri, hidupnya yang berat bertambah berat ketika ujian menimpa anak semata wayangnya.
Viona mencari keadilan, tapi hukum tak mampu berbicara. Ia diam seribu bahasa, menutup mata dan telinga rapat-rapat.
Viona tak memerlukan mereka untuk menghukum orang-orang jahat. Dia menghukum dengan caranya sendiri.
Bagaimana kisah balas dendam Viona, seorang ibu tunggal yang memiliki identitas tersembunyi itu?
Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"Ghavin! Apa yang kau lakukan?" bentak ayah Dicky yang merupakan kakak kandung Ghavin sendiri. Tak terima anaknya diperlakukan dengan kasar.
Ibu Dicky menghampiri, membantu anaknya untuk berdiri. Memeluknya, menenangkan Dicky yang terlihat ketakutan.
"Kami menitipkan Dicky kepadamu bukan untuk diperlakukan seperti ini. Jika ada masalah kau bisa berbicara kepada kami," ucap ibu Dicky menatap tajam pada adik suaminya itu.
Ghavin bergeming, menatap keduanya dengan tatapan yang meremehkan. Mereka tidak tahu apa-apa soal anaknya, mereka hanya tahu bekerja dan memberi fasilitas cukup untuk Dicky. Selebihnya, kehidupan Dicky hanya Ghavin yang tahu.
"Tanyakan sendiri pada anak kalian apa yang sudah dia lakukan? Selama ini kalian tidak tahu apa-apa tentangnya. Apa saja yang dia lakukan, siapa saja teman bergaulnya, dan bagaimana dia menjalani hari? Pernahkah kalian berpikir untuk mengawasi langsung kehidupannya? Pernahkah kalian berkeinginan melihat tumbuh kembangnya?" Ghavin menjeda, ada sesak yang merebak dalam dada bila mengingat bagaimana Dicky tumbuh.
Pemuda itu pun terdiam, tatapannya terangkat pada sosok Ghavin yang selama ini menggantikan peran orang tuanya. Tanpa sosok itu, mungkin sudah lama dia terjebak dalam lingkaran hitam kehidupan. Entahlah, haruskah Dicky bersyukur atau menyesal?
Sepasang suami istri itu pun terdiam, mereka menyadari selama ini memang terlalu sibuk mengurusi bisnis. Hanya mendengar cerita-cerita dari Ghavin tentang keseharian anak mereka. Sedikit rasa sesal datang memenuhi rongga dada. Mereka saling menatap satu sama lain dengan penuh perasaan.
"Dicky anak kandung kalian. Yang dia butuhkan bukan hanya materi, tapi kasih sayang kalian sebagai orang tua. Kurangi bisnis keluar dan perbanyak waktu di rumah. Lihat bagaimana anak kalian hidup. Malam ini aku melarangnya keluar untuk balapan, tapi apa yang dia lakukan? Dia melanggar dan pergi ke tempat terkutuk itu. Bukankah kalian tidak tahu bahwa anak kesayangan kalian itu sedang dalam masalah besar," ujar Ghavin lelah menghadapi sikap membangkang Dicky.
Sudah sedari kecil dia hidup bersama Ghavin, tapi semakin besar semakin membangkang. Selama itu pula Ghavin selalu menyembunyikan kenakalannya. Namun, belakangan dia sadar, Dicky hanya memanfaatkan dirinya untuk kepentingan diri sendiri.
Kedua orang tua Dicky tertegun mendengar penuturan Ghavin. Mereka menatap Dicky penuh tanya, tapi tak ada respon dari pemuda itu. Ia hanya menundukkan kepala, tak membantah apa yang dituduhkan pamannya.
"Perlu kalian tahu, baru saja dia memfitnah temanku telah membunuh temannya. Dia hanya menuduh tanpa bukti yang jelas. Rasanya aku sudah lelah mengurus Dicky. Mulai sekarang, kalian urus saja sendiri anak itu. Kuharap kalian bisa menyelesaikan masalah yang dia buat," tandas Ghavin dengan tatapan tajamnya, ia berlalu pergi meninggalkan rumah besar sang kakak melepaskan diri dari tanggung jawab mengurus Dicky.
Kini, Dicky berhadapan dengan kedua orang tuanya. Ia berada di dalam pelukan sang ibu, sementara sang ayah berdiri di hadapan mereka selayaknya seorang hakim yang akan menghakimi.
"Apa semua yang dikatakan pamanmu itu benar?" tanya sang ayah sebagai permulaan.
Dicky mengangguk pelan dan ragu, dalam hati mengumpat menyumpah-serapahi Ghavin yang sudah membongkar rahasianya.
Ayah Dicky berdecak, menatap kecewa pada anak semata wayangnya itu.
"Ayah menitipkan mu pada Ghavin agar kau belajar darinya. Selama ini dia menutupi semuanya dari kami, hanya agar kami tetap merasa bangga terhadapmu. Nyatanya ... kau benar-benar membuat Ayah kecewa, Dicky. Kau sudah jauh dari harapan kami." Sang ayah menggelengkan kepala, perasaan kecewa jelas tergambar di wajahnya yang lelah.
"Kenapa kau melakukan itu semua? Apa alasanmu sampai kau menjadi pembangkang seperti ini?" Nada suara sang ayah meninggi, emosinya mulai naik perlahan karena kenyataan yang baru saja dia terima.
Dicky menggelengkan kepala, mendongak berani, menatap tajam pada ayahnya.
"Ke mana saja kalian selama ini? Saat aku membutuhkan kasih sayang kalian, saat aku menginginkan perhatian, saat aku menghadapi masalah, kalian tidak pernah ada untukku. Kalian selalu sibuk dengan pekerjaan, dengan bisnis kalian. Aku ... aku dibiarkan begitu saja, tumbuh tanpa dapat merasakan kasih sayang kalian. Aku punya orang tua, tapi aku kesepian. Aku punya kalian, tapi aku tak pernah merasakan pelukan orang tua. Lalu, kalian menuntut apa dariku?" ungkap Dicky dengan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada.
"Kau sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang. Kami selalu memberikan perhatian kepadamu, tapi kau selalu sibuk sendiri dengan duniamu. Sekarang, masalah apa yang telah kau buat sehingga Ghavin tak sanggup lagi mengurus mu?" tanya sang ayah membuat Dicky kembali menunduk.
Ia terlihat gelisah, bayangan Merlia yang menangis serta rintihan minta tolong nya hadir tanpa diundang. Mungkinkah Ghavin sudah tahu?
"Jawab, Dicky! Apa yang telah kau lakukan?" bentak sang ayah tak sabar.
Ibu Dicky menenangkan suaminya, memberi sapuan pada lengannya agar tidak terbawa emosi.
"Kalian tak perlu tahu," lirih Dicky seraya berpaling dari keduanya.
Wajah sang ayah menghitam, amarah benar-benar sudah mencapai puncaknya. Ia ingin menampar wajah anak itu seandainya sang istri tidak mencegahnya.
"Kurang ajar!"
Amarah sang ayah terhenti saat ponsel Dicky berdering. Telpon dari nomor asing yang membuat wajah Dicky memucat.
Dengan tangan gemetar, Dicky menerima panggilan itu.
"Selanjutnya adalah giliranmu, kau akan menyusul teman-temanmu."
Dicky melempar ponsel itu, wajahnya semakin pucat pasi. Ia mematung menatap benda yang masih tersambung. Ayah Dicky mengambilnya, menerima telpon dengan cepat.
"Siapa kau?" tanyanya penuh penekanan.
"Aku? Aku adalah orang yang ditakdirkan untuk merenggut nyawa anakmu. Dia harus membayar apa yang sudah dia perbuat," ucap suara itu seraya mematikan sambungan.
"Hallo! Apa yang telah dilakukan anakku! Hei, hallo!"
Tak ada jawaban, ia menatap Dicky tajam menuntut penjelasan.
"Jelaskan apa yang terjadi?" katanya.
Dicky berpaling, memilih bungkam dan menyimpan semuanya sendiri.
"Dicky!" Suara sang ayah menggelegar memenuhi ruang tamu itu.
Berselang ponsel itu kembali bergetar, sebuah pesan masuk yang langsung dibuka olehnya. Kiriman video dari nomor asing tadi yang membuat amarahnya semakin memuncak.
"Biadab!"
Brak!
haiisshh.. masih banyak Vi..!! semangaaattt...!! ✊🏼✊🏼💪🏼💪🏼🔥🔥