"Ganti rugi 80 juta atau menikah dengan saya?"
Kristal Velicia, gadis yatim piatu dengan paras yang sangat cantik menjadi penyebab kecelakaan sebuah mobil mewah.
Gadis itu di tuntut untuk ganti rugi atau menikah dengan pemilik mobil tersebut.
Pria tampan bersifat dingin bersama gadis cantik dan ceria.
Bagaimanakah nasib pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vgflia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"Ayah dengar cucu Frans baru saja menikah. Umur mereka terpaut jauh, mirip seperti kamu dan adik angkat-mu itu."
"Tidak penting, kami hanya menikah kontrak."
"Tunggu dulu, apa kamu menikahi gadis biasa?"
"Aku menikah kontrak dengannya. Dia memberiku satu miliar sebagai uang muka, dan uang bulanan senilai 50 juta."
Bagai teka-teki yang akhirnya terpecahkan, semuanya kini menjadi sangat jelas. Calvin akhirnya paham dari mana semua barang mewah yang gadis itu kenakan, dan kenapa Kristal selalu menolak untuk ia antar atau jemput ke rumahnya. Calvin memang sudah cukup curiga dengan reaksi teman-temannya yang ada di cafe, tapi ia tidak berpikir sampai ke sana karena tidak mungkin Kristal menikah tanpa memberitahu nya lebih dulu.
"Kak, tolong jangan sampai dia tau kalau aku membocorkan hal ini padamu. Aku hanya tidak ingin menyembunyikannya lebih lama lagi, Kak. Setiap aku berbohong aku selalu merasa bersalah, aku—"
"Bagaimana nantinya?" sela Calvin dengan nada datar. "Apa yang akan kamu lakukan setelah berpisah?"
"Ah, itu... aku tidak masalah bila tidak menikah lagi, selagi aku hidup dengan baik—"
"Denganku."
Kristal mengernyitkan keningnya. "Apa maksud—"
"Menikah denganku, Kristal."
Kristal mengerjapkan matanya berkali-kali, tunggu dulu. Apa dia salah dengar?
"Setelah kontrak mu berakhir menikahlah denganku. Aku berjanji akan menjamin kehidupanmu. Uang bulanan pun akan aku berikan lebih banyak darinya." Calvin memegang kedua tangan Kristal, menatap gadis itu dengan dalam. Tidak, ia tidak boleh menyerah semudah ini.
"A-apa yang Kakak katakan?!" Kristal menarik tangannya melepaskan pegangan Calvin.
Lelaki itu tersenyum kecut, ia melirik ke arah tangannya sekilas sebelum kembali menatap wajah Kristal. "Sepertinya aku sudah melanggar batas. Maaf, aku tau menyukai adik sendiri terdengar gila—sampai aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku di luar negeri agar menghapus perasaan tidak bermoral ini. Tapi Kristal, seberapa keras pun aku menyibukkan diri, seberapa keras pun aku berusaha, perasaan ini tidak akan pernah bisa hilang dan semakin bertambah dengan kerinduan."
"Mungkin perkataanku terdengar konyol, tapi percayalah tidak pernah ada sedikitpun hal kotor yang terlintas di benakku selain menjaga dan melindungi mu. Hingga akhirnya aku sadar, ini bukan perasaan sayang, tapi cinta. Aku akan melindungimu, tapi sebagai pendamping hidup, bukan seorang Kakak."
Kristal diam mematung, mendengar ungkapan perasaan dari lelaki itu. Tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya, bahwa kakaknya itu menaruh perasaan tersendiri padanya. Perkataan kak Bram ternyata benar, kak Calvin menyukainya. Hal yang berusaha ia sangkal berkali-kali.
"Kakak tau ini cukup mengejutkan, Kristi. Itulah alasan kenapa Kakak selalu menahan perasaan ini setiap berada di dekatmu. Tapi saat mendengar pernikahanmu Kakak pikir tidak ada gunanya menyembunyikan perasaan ini lebih lama." Suara Calvin mulai serak, matanya memanas, takut gadis di hadapannya ini akan menjauhinya setelah mengetahui perasaannya. "Apa kamu akan menjauhi Kakak karena hal ini?"
Kristal menggeleng dengan cepat. "Tidak, Kakak sudah banyak membantuku, aku tidak mungkin menjauhi Kakak yang sudah aku anggap sebagai keluargaku. Tapi tolong berikan aku sedikit waktu untuk membuat keputusan. Ini... ini terlalu tiba-tiba, aku sedikit bingung sekarang, Kak. Kakak, Kakak pulang lah."
"Kamu mengusir Kakak? Kristi? Kakak antar pulang ya?" Tangan Calvin mulai gemetar memegang pundak Kristal. Di banding memegang pisau bedah untuk pertama kalinya, lebih menakutkan saat gadis yang sudah lama ia sukai itu tidak ingin bersentuhan dengannya lagi. Mata lelaki itu mulai berkaca-kaca, dadanya sesak saat Kristal melepaskan tangannya dari bahunya.
"Jangan terlalu mendekatiku, Kak. Aku istri Kay Lysander sekarang. Pernikahanku di saksikan banyak orang, berbahaya bagi keluarga Lysander termasuk Kay jika aku terlalu berdekatan dengan lawan jenis."
Calvin terdiam menatap Kristal yang masuk ke dalam mobil setelah menelpon supir pribadinya beberapa saat yang lalu. Pembicaraan mereka berakhir dengan keheningan, tanpa perdebatan sedikitpun.
Mobil hitam itu menjauh dari pandangannya, meninggalkan ia sendirian di jalanan yang sudah mulai sepi itu.
...***...
"Apa kau gila? Kau tidak pernah minum sebelumnya. Kau akan mabuk jika minum sebanyak itu!" Raxta meringis menatap Calvin yang meneguk botol wine ke duanya. Entah apa yang terjadi, yang jelas ia datang kemari saat Calvin memanggilnya dan mengatakan akan mentraktirnya minum. Tapi siapa sangka lelaki itu malah ikut minum, dan bahkan minum lebih banyak darinya.
"Jika wanita yang kamu cintai menikah dengan temanmu, apa yang akan kamu lakukan?" Dengan mata sayu Calvin berucap, menatap Raxta yang ada di depannya.
"Merebutnya. Aku akan melakukan apapun agar bisa memilikinya. Hidup ini hanya sekali, tidak ada kehidupan kedua, seperti yang di katakan orang-orang. Jadi, gapai apa yang kita inginkan selagi kita masih hidup, atau menyesal sampai kau mati." Raxta menggigit ujung rokoknya, menyalakannya, lalu menyesapnya sambil melempar koreknya ke atas meja. Gumpalan asap mengepul di udara, menyesakan ruangan tanpa ventilasi udara itu. Ia kembali menatap wajah Calvin yang duduk di depannya.
"Tunggu, tatapan apa itu? Jangan bilang gadis yang kau sukai menikah dengan salah satu dari kami dan kau berniat merebutnya. Itu tidak mungkin." Raxta terkekeh, menyesap kembali rokoknya.
"Ya, kristal menjalani kontrak pernikahan dengan Kay." Calvin kembali meneguk botol wine nya sampai tandas.
Lelaki keturunan china itu tersedak asap rokoknya sendiri. Wajahnya memerah, terbatuk-batuk memegangi dadanya. Ia meletakkan rokoknya ke asbak kemudian menatap Calvin yang sudah mulai mabuk. "Kristal? Siapa? Apa dia gadis panti yang sering kau ceritakan itu?"
Dengan pelan Calvin mengangguk. Ia meraih botol wine yang masih tersegel di meja, tapi tangannya langsung di pukul oleh Raxta. "Berhenti minum dan ceritakan padaku! Kau yakin dia benar-benar menikah dengan Kay?"
"Berapa kali harus aku jelaskan?! Aku bahkan sudah menunjukkan foto Kay padanya. Berhentilah bertanya, aku tidak ingin memikirkannya sekarang!" Calvin menggeram kesal. Kembali meraih botol wine itu, membukanya, dan meneguknya dengan kasar.
Raxta mendengus, mereka berteman selama bertahun-tahun, tapi ini pertama kalinya ia di bentak oleh lelaki yang sering ia ejek berhati lembut. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Setelah kontrak mereka selesai aku akan menikahinya." Calvin menyandarkan kepalanya ke sofa, ia sangat pusing sekarang, matanya juga mulai memburam. Botol wine itu terjatuh dari tangannya, isinya tumpah ke atas lantai berwarna hitam.
Raxta menarik tipis sudut bibirnya sambil menggeleng pelan menatap kondisi Calvin saat ini yang terlihat seperti lelaki putus asa. Cinta memanglah racun yang bisa merubah karakter seseorang, dan ia tidak akan pernah ingin terlibat dengan yang namanya cinta. Itu memuakkan baginya.
"Terserah padamu. Apapun itu semoga tidak ada pertengkaran di antara kalian. Aku tidak ingin pertemanan kita rusak hanya karena seorang wanita." Raxta kembali mengambil rokoknya, menyesapnya sambil menatap Calvin yang sudah tertidur di atas sofa.
"Dasar bucin, terpaksa pulang dan mengambil alih waris agar di ijinkan memilih pasangan dengan bebas, tapi gadis yang ia sukai malah menikah dengan teman sendiri." Lelaki terkekeh miris, menengadah menatap plafon bar.
"Kay Lysander. Aku harap kau mau sedikit berbaik hati dengan teman kita ini. Kau harus mengasihaninya, karena cuman gadis itu yang ia miliki semenjak kepergian ibunya."