Ellia Naresha seorang gadis kecil yang harus menjadi yatim piatu diusianya yang masih sangat muda. Setelah kepergian orang tuanya, Ellia menjalani masa kanak-kanaknya dengan penuh siksaan di tangan pamannya. Kehidupan gadis kecil itu akan mulai berubah semenjak ia melangkahkan kakinya di kediaman Adhitama.
Gavin Alvano Adhitama, satu-satunya pewaris keluarga Adhitama. Dia seorang yang sangat menuntut kesempurnaan. Perfeksionis. Dan akan melakukan segala cara agar apa yang diinginkannya benar-benar menjadi miliknya. Sampai hari-hari sempurnanya yang membosankan terasa lebih menarik semenjak Ellia masuk dalam hidupnya.
Cinta dan obsesi mengikat keduanya. Benang takdir yang sudah mengikat mereka lebih jauh dari itu akan segera terungkap.
Update tiap hari jam 08.00 dan 20.00 WIB ya😉🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bibit Obsesi
Sore harinya Ellia bangun dengan badan yang masih agak lemas. Ia mengerjap beberapa kali sebelum berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Dengan sedikit tertatih Ellia berjalan ke luar kamar. Di sana ia melihat paman Yunus yang sedang berkutat di dapur.
"Paman ..." Panggil Ellia dengan suara yang agak serak.
Mendengar itu paman Yunus langsung menoleh dan terkejut saat melihat Ellia yang berusaha berjalan mendekatinya.
"Kenapa bangun? Kamu perlu istirahat lebih lama." Seru paman Yunus langsung dengan sigap memapah Ellia untuk duduk di kursi makan. Ellia tersenyum merasakan perhatian itu.
"Maaf sudah merepotkan paman ya." Ucap Ellia merasa bersalah.
"Kamu bicara apa? Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk direpotkan anaknya." Kata paman Yunus sambil membuatkan madu hangat dan menyiapkan bubur ke dalam mangkok untuk Ellia.
Ellia terharu mendengar perkataan itu. Selama ini ia selalu merasa terbebani saat melihat paman Yunus. Pria itu bukan keluarganya, namun dia begitu baik sampai mau menerima Ellia. Paman Yunus adalah ayah kedua bagi Ellia. Sosok keluarga yang paling ia sayangi setelah orang tuanya yang telah tiada.
"Kalau lelah, istirahat. Jangan sampai sakit seperti ini. Lagian dosen-dosenmu itu kenapa sih, memberikan banyak tugas yang sulit dipikul anak dengan tubuh sekecil ini." Gerutu paman Yunus kesal.
"Hahaha, paman ... Dosen Ellia pasti uda punya alasannya sendiri. Dan Ellia uda dewasa paman. Kenapa paman masih terus menganggap Ellia anak kecil sih?"
"Seberapa dewasa pun kamu. Bagi paman, kamu tetap anak kecil berusia 12 tahun."
Ellia tersenyum mendengar jawaban paman Yunus. Ia juga kembali teringat, saat dirinya pertama kali bertemu dengan paman Yunus. Pria itu adalah satu-satunya harapan yang ia punya. Dan kini paman Yunus sudah menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Tok ... Tok ... Tok
Suara pintu di ketuk beberapa kali, membuat obrolan paman Yunus dan Ellia terhenti. Paman Yunus segera berjalan ke arah pintu. Dan si sanalah ia melihat Dona yang datang.
"Yunus, ini sepatu Ellia kan? Kenapa kau taruh di depan pintu? Masukkan saja daripada hilang." Seru bibi Dona sambil menenteng sebuah sepatu ditangannya.
Ellia yang melihat itu langsung terkejut dan ingatanya kembali saat kejadian malam itu. Tanpa sengaja ia menyenggol gelas minumnya hingga terjatuh dan pecah berhamburan di lantai. Yunus dan Dona yang mendengar suara gelas pecah langsung menoleh ke Ellia yang juga sama terkejutnya dengan mereka berdua.
"Maaf ..." Seru Ellia lalu ia langsung berjongkok hendak membereskan pecahan gelas itu. Namun, karena terlalu terburu-buru jarinya pun tergores.
"Awww!!"
"Apa yang kamu lakukan, letakkan itu!" Seru paman Yunus dan langsung berjalan mendekat ke arah Ellia. Lalu dengan perhatian ia mengantarkan Ellia kembali ke kamarnya.
"Kamu masih lemas sayang, berbaringlah dulu yang banyak. Biar pamanmu yang membereskan." Kata Dona sambil membantu membalut luka Ellia. Sedangkan paman Yunus membersihkan pecahan gelasnya tadi. Ellia hanya diam dengan wajah pucat.
"Kamu harus segera sembuh Ellia. Pamanmu begitu mengkhawatirkanmu. Tiap kali kamu sakit, ia seperti orang bodoh." Pesan Dona dengan lembut sembari mengamati Yunus. Ellia mengangguk mengiyakan.
Benar yang dikatakan Dona. Tak peduli apapun yang sudah terjadi antara dirinya dan Gavin. Biarlah itu Ellia pendam sendiri saja. Yang paling penting baginya adalah paman Yunus. Ia tak boleh lagi merepotkan paman Yunus.
...
Dua hari kemudian, keadaan Ellia sudah sepenuhnya pulih. Ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, paman Yunus masih belom memperbolehkannya untuk memasak, setidaknya selama seminggu. Dan Ellia tak lagi bisa membantah dan menuruti kemauan paman kesayangannya itu.
"Paman ... Bolehkah paman mengantar Ellia sampai ke persimpangan hari ini?" Tanya Ellia takut-takut. Ia sebenarnya tak mau merepotkan paman Yunus. Namun, ketakutan untuk berpapasan dengan Gavin membuatnya memberanikan diri bertanya.
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya paman Yunus yang cukup terkejut mendengar permintaan Ellia. Karena, tak biasanya Ellia meminta hal itu.
"Ehm, hanya ingin?" Jawab Ellia dengan pandangan memohon pada paman Yunus. Akhirnya, paman Yunus menyetujui permintaan Ellia.
Setelah sarapan dan bersiap. Keduanya segera berjalan ke persimpangan. Ellia dengan manja memeluk lengan pamannya yang besar. Ia juga terus tersenyum senang, sambil mengingat saat pamannya yang selalu mengantar dia di hari pertama sekolah.
"Kamu begitu senang, Ellia?"
"Heheh. Tentu saja dong. Kan Ellia jalan bareng sama paman." Jawab Ellia dengan senyum lebar. Paman Yunus yang melihat itu juga cukup ikut tersenyum.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di persimpangan. Dan di sana sudah ada Ares yang menunggu. Melihat kedatangan keduanya, Ares segera menghampiri paman Yunus dan Ellia.
"Bagaimana kabarmu El? Kamu yakin sudah sehat?"
Ares terus menghujani Ellia dengan pertanyaan. Ia khawatir sebelumnya saat mengetahui Ellia sakit. Ia ingin menjenguk Ellia, namun sayangnya ia tak bisa memasuki wilayah Adhitama lagi. Jadi, selama tiga hati terakhir Ares hanya bisa cemas sendirian. Dan terus memantau kesehatan Ellia dari paman Yunus.
"Ehemm!!"
Paman Yunus berdehem dengan keras untuk menyadarkan Ares. Bahwa, di sana juga ada dirinya dan bukan hanya Ellia saja. Dan memang benar setelah mendengar suara Yunus, Ares seakan baru tersadar akan keberadaan paman Yunus. Ellia hanya bisa tersenyum. Ia senang kesehariannya yang tenang sudah kembali.
"Oh paman ... Kenapa anda di sini?" Tanya Ares berusaha terlihat sopan. Sedangkan Yunus sudah memelototinya dengan tajam.
"Tentu saja untuk mengantar putriku dan mengawsinya dari pria sepertimu."
"Memangnya aku kenapa paman? Aku kan pemuda yang baik, tampan juga. Coba apa yang kurang dari aku?" Tantang Ares percaya diri.
"Akhlak!!" Jawab Yunus dan Ellia bersamaan. Setelah itu keduanya sama-sama tertatawa terbahak-bahak melihat ekspresi Ares yang terkejut.
"Sudahlah. Ayo kita berangkat, nanti keburu telat ... Dan paman terima kasih uda nganterin Ellia sampai sini. Ellia akan belajar yang giat!" Ucap Ellia dengan tangan yang terkepal di udara. Paman Yunus tersenyum mengiyakan sambil menepuk-nepuk kepala Ellia dengan sayang.
Baru setelah itu, Ares dan Ellia segera berangkat ke kampus. Sedagkan paman Yunus baru berjalan pergi setelah tak lagi melihat punggung Ellia di kejauhan. Dan lagi-lagi semua kejadian itu tak sengaja terlihat oleh Gavin yang memang akan berangkat ke kantornya.
Gavin tahu beberapa hari ini Ellia sakit, namun ia juga tak punya alasan yang kuat untuk menjenguk gadis itu. Dan saat ia bisa melihat Ellia lagi, ia terlihat sangat bahagia dan baik-baik saja. Itu, cukup membuat Gavin kesal. Karena, ia tahu kebahagiaan gadis itu adalah ketika tanpa dirinya.
"Fauzan pernahkah kau tertarik dan menginginkan sesuatu. Tapi, kamu tau itu tak begitu berguna bagimu. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Gavin tiba-tiba. Fauzan terdiam sesaat sebeium menjawab.
"Kalau secara perhitungan logis, mungkin saya tak akan membelinya tuan. Namun, karena perasaan manusia itu begitu kompleks, maka bisa jadi saya akan terus terobsesi untuk mendapatkannya walaupun saya tau itu tak terlalu berguna. Tapi, dengan mendapatkannya saya akan merasakan kepuasan dan kebahagiaan." Jawab Fauzan tanpa tau maksud yang sebenarnya dari pertanyaan Gavin.
.
.
.
Bersambung ...