NovelToon NovelToon
Derita Istri Penebus Hutang

Derita Istri Penebus Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Paksa / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Anissa terpaksa menerima perjodohan atas kehendak ayahnya, dengan pria matang bernama Prabu Sakti Darmanta.

Mendapat julukan nona Darmanta sesungguhnya bukan keinginan Anissa, karena pernikahan yang tengah dia jalani hanya sebagai batu loncatan saja.

Anissa sangka, dia diperistri karena Prabu mencintainya. Namun dia salah. Kehadiranya, sesungguhnya hanya dijadikan budak untuk merawat kekasihnya yang saat ini dalam masa pengobatan, akibat Deprsi berat.

Marah, kecewa, kesal seakan bertempur menjadi satu dalam jiwanya. Setelah dia tahu kebenaran dalam pernikahanya.

Prabu sendiri menyimpan rahasia besar atas kekasihnya itu. Seiring berjalanya waktu, Anissa berhasil membongkar kebenaran tentang rumah tangganya yang hampir kandas ditengah jalan.

Namum semuanya sudah terasa mati. Cinta yang dulu tersususn rapi, seolah hancur tanpa dia tahu kapan waktu yang tepat untuk merakitnya kembali.

Akankan Anissa masih bisa bertahan??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Anissa yang baru saja turun dari bis umum, langsung saja melangkahkan kakinya untuk berjalan ke sebrang jalan.

Namun tiba-tiba ....

Ckit!!

Aww!

Teriak Anissa, karena saking terkejutnya saat melihat ada sebuah mobil hampir menabrak tubuhnya.

Jantung Anissa spontan berdegup kencang dengan lutut yang sudah bergetar hebat, seakan tiada tulang didalamnya.

Wajah pucat itu masih terpejam, membeku, tanpa bisa bisa bergerak sedikitpun.

Sementara di dalam mobil mewah itu, seorang pria yang sudah menahan geram, sontak saja turun sambil melepas kacamata hitamnya.

Wajah tegas itu semakin terlihat berambisi, saat pria itu melangkah lebih dekat, dengan tatapan mengintimidasi.

"Dimana matamu? Apa kau buta, hanya untuk mengingat jika ini sebuah jalan raya, haa?" suara pria itu masih normal, namun dengan nada kesal.

Anissa perlahan mengangkat pandanganya. Memang, untuk kali ini dia yang salah, karena tidak melihat keadaan jalan raya yang saat ini tengah ramai.

"Maafkan saya ... Saya benar-benar tidak melihat!" ujar Anissa bersungguh-sungguh.

Hah!

Pria itu mendengus kesal, lalu mengenakan kembali kacamata hitamnya. Setelah itu, dia langsung melenggang pergi dari hadapan Anissa.

Dinttttt!!!

Anissa tersentak, saat lagi-lagi pria itu mengklaksonnya cukup keras.

"Hei ... Minggir! Dasar gadis aneh ....." teriak Pria itu sambil menyembulkan kepalnya kearah kaca.

Setelah Anissa berhasil mundur beberapa langkah, mobil pria tadi langsung saja melaju kembali dengan begitu cepatnya.

Anissa masih berdiri sambil mengusap dadanya. Entah sebuah kebetulan atau apa, sore ini dia benar-benar merasakan apes. Dan untung saja, nasib baik masih berpihak kepadanya.

Cukup menetralkan perasaanya, Anissa langsung saja melanjutkan jalannya, setelah dia melihat sekeliling dan aman untuknya menyebrang.

Dan di saat yang bersamaan, Ayunda sang adik juga baru saja keluar dari sebuah Cafe yang kini Anissa lewati.

'Itu bukanya, mbak Anissa? Iya ... Itu benar mbak Anissa'

Ayundda lantas segera mendekat, dan dia urungkan niatnya untuk masuk kedalam mobilnya.

"Mbak Anissa ...."

Degh

Merasa terpanggil, Anissa menghentikan langkah kakinya. Perasaanya tidak pernah salah. Suara itu, sejujurnya suara yang selalu dia rindukan setiap harinya sejak dulu.

"Ada yang ingin aku bicarakan! Lebih baik kita masuk ke dalam Cafe!" suara Ayunda begitu dingin, karena dia merasa asing oleh kakak kandungnya sendiri.

Tanpa bantahan apapun, Anissa langsung saja mengikuti langkah sang adik memasuki Cafe di depanya.

Sejenak~Mereka berdua tampak terdiam cukup lama, berperang hebat dengan pikiran masing-masing. Ayunda tampak berpikir, mengapa sang kakak saat ini masih berada di Salatiga? Bukanya dia berada di Magelang? Apa Anissa hanya berjalan-jalan? Lalu, tadi Ayunda sempat melihat langkah kaki sang kakak yang terasa mengganggu dalam pandanganya. Ada apa sebenarnya yang terjadi?

"Katakanlah ... Waktuku tidak hanya untuk berdiam terlalu lama di tempat seperti ini!" dingin Anissa yang akhirnya memulai membuka suara.

Ayunda membenarkan posisi duduknya. Lalu perlahan mulai menarik nafas dalam, "Apa mbak Anissa tahu, tentang mas Prabu dua hari lalu sempat datang pagi-pagi ke rumah?"

Anissa mengunci tatapan Ayunda. Demi apa, dia dapat bercengkrama sedekat ini dengan adiknya. Dan kalimat itu~Mbak? Apa pendengaran Anissa tidak salah. Anissa datang di saat dulu Ayunda baru berumur 7 tahun. Dan itu membuat Anissa pada saat itu ingin sekali mengenal adiknya secara terbuka, namun ibu tirinya selalu membuat benteng tembok yang begitu tinggi terhadapnya. Dan itu membuat Anissa dan Ayunda tampak seperti dua orang sing saat ini.

"Apa yang dilakukan, Prabu?"

"Mas Prabu marah-marah kepada papah, atas perlakuan papah yang dulu pernah menampar mbak Anissa di tempat umum. Dan satu lagi ... Mas Prabu membatalkan semua kontrak kerjanya dengan papah! Atas hal itu, sekarang kesehatan papah mulai menurun ... Dan lagi, banyak orang-orang yang sering datang, untuk mempertanggung jawabkan semua hutang-hutang, atas hilangnya saham mereka!"

Degh

Anissa terperanjat. Dari mana Prabu dapat tahu tentang penamparan itu? Dan hal itu sudah cukup lama. Namun biar bagaimana pun, dia merasa geram atas perilaku suaminya itu. Sejahat apapun, Brahma tetap ayahnya. Anissa semakin muak dengan pria arogan itu.

Kedua jemari Ayunda saling bertaut di meja. Dia sedikit memajukan duduknya depan, dengan sorot mata memohon. "Aku mohon pada mbak ... Tolong bicarakan yang baik-baik pada mas Prabu, agar dia dapat kembali melanjutkan kontrak kerja samanya dengan perusahaan mamah! Aku tidak ingin papah kenapa-kenapa ... Berkorbanlah demi papah! Jika mbak Anissa masih menganggapku sebagai saudara!"

Pandangan Anissa seketika terangkat. Kalimat Ayunda yang terakhir benar-benar sukses membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Apa dia tidak salah dengar, berkorban? Apa kurang selama ini dia berkorban? Hal sulit apa yang tidak pernah dia rasakan, sehingga mengharuskan dia untuk berkorban! Dan untuk kali ini saja, biarkan Anissa mengikuti apa kata hatinya. Sikap Prabu memag tidak dapat di benarkan. Namun sesekali, sang ayah juga harus menerima konsekuensi dari semua hal yang dia perbuat.

"Jika kamu membahas perihal berkorban ... Mungkin ini juga sudah saatnya kamu berkorban untuk ayah juga! Kamu sudah dewasa, kamu mampu berdiri di kedua kakimu. Ambil alih perusahaan itu, dan teruskan semua kegagalan yang ayah perbuat. Dan kamu perlu ingat satu hal ... Jangan pernah melibatkan diriku lagi dari permasalahan keluargamu! Aku hanyalah orang asing yang tidak pernah di inginkan dari kemewahan keluargamu!" jawab Anissa menekan semua kalimatnya. Wajahnya yang begitu tenang, hingga membuat Ayunda langsung terdiam seribu bahasa.

Huh!

Helaan nafas Anissa terdengar memberat. Ingin sekali dia menumpahkan segalanya pada Ayunda. Namun gadis itu belum cukup mengerti tentang kehidupan yang sebenarnya.

Setelah itu Anissa bangkit dari duduknya, "Aku pamit, keluar dulu!" dengan langkah pincangnya, Anissa perlahan keluar tanpa peduli ucapan Ayunda barusan.

Sudah cukup dia harus peduli atau menjaga perasaan orang lain. Mulai sekarang, dia harus tegas kepada hidupnya agar tidak mudah di manfaatkan lagi kebaikannya.

'Kenapa mbak Anissa tega sekali ... Apa dia tiak kasian dengan papah? Apa sesakit itu menjadi mbak Anissa, hingga hatinya begitu mengeras'

Ayunda terdiam cukup lama, kalut dengan pikiranya sendiri. Dia tampak meyakinkan pada dirinya, Agar mampu mengemban tugas yang begitu berat, demi mempertahankan perusahaan miliki keluarganya.

*

*

*

Ceklek!

"Ini kamar kamu, Sayang! Kamu bisa melihat sendiri, kan? Ibu selalu merawatnya ... Foto Damar juga masih setia di sisi dinding itu," tunjuk bu Asih kearah dinding. "Sekarang kamu tidur yang nyenyak! Jangan berpikir yang macam-macam! Ibu dan ayah akan selalu menjagamu ...."

Ailin terdiam. Lalu senyum hangat terbit dari bibirnya. Sudah satu minggu terakhir ini, kesehatan mental Ailin perlahan membaik. Dia sudah dapat berkomunikasi seperti biasanya, walaupun kadang masih suka melamun.

"Terimakasih bu! Maafkan Ailin yang selalu merepotkan Ibu ...." Ailin langsung memeluk tubuh Ibunya.

"Sudah, sekarang cepatlah tidur!" bu Asih melerai pelukan putrinya. Lalu berjalan keluar.

Blam!

Setelah pintu tertutup rapat. Ailin masuk lebih dalam ke kamarnya. Kamar yang sebenarnya selalu dia rindukan. Semua kenangan Damar ada di kamar ini.

Ailim berhenti, dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kayu. Dia duduk dengan tenang, sambil menatap kaca rias yang kini berdiri megah di hadapannya.

Perlahan, Ailin menarik ujung sebelah bibirnya. Senyum sinis berhasil terlukis indah di wajah cantiknya, walau terkesan masih terlihat begitu pucat.

'Lihat saja ... Aku pasti akan membalaskan dendamku padamu, Mutia!'

'Karena perbuatan kejimu itu, aku semakin menderita terjebak dalam mental gila ini ... Dan akan kupastikan, kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini'

Seharusnya, Ailin sudah sehat sejak dulu. Tapi karena mutia selalu mencampurkan obat-obat terlarang, dan juga pelumpuhan otak, sehingga Ailin menjalani sakitnya cukup memakan waktu yang begitu lama.

Perlahan tangan Ailin terulur untuk membuka laci. Di sana dia mengambil sekotak hadiah bewarna merah hati. Beberapa foto dirinya dan sang kekasih masih tersimpan rapi, yang dulu Ailin cetak dalam album foto.

Ailin tersenyum, saat tanganya meraba foto Damar yang sedang tersenyum saat menaiki sepeda bersamanya.

"Aku sangat mencintaimu Damar! Tapi ijinkanlah aku mengubur perasaan ini secepatnya. Kamu selalu menempati ruang tersendiri di hatiku. Dan, semoga saja aku dapat menemukan penggantimu! Aku sangat berterima kasih terhadap keluargamu yang begitu menyayangiku, termasuk adikmu. Pria kecil itu sekarang sudah memiliki sorang istri yang sangat cantik. Aku merasa bersalah sekali dengan Anissa ... Mungkin dia pergi karena diriku. Aku tidak akan diam! Aku harus menemukannya, untuk menjelaskan semuanya."

Setelah itu Ailin mengangkat pandanganya. Sosok Elang sekilas tampak lewat dalam pikirannya saat ini. Ailin tersenyum kembali. Dia menemukan sikap hangat Damar ada di tubuh Elang.

'Dia membuatku semakin yakin, bahwa ketulusan cinta masih ada. Dan semoga saja untuk yang kedua kalinya, aku dapat menemukan cinta tulus, selain pemberian dari Damar! Pria itu benar-benar membuatku semakin betah menjalani kegilaan ini'

Kekeh Ailin pelan. Setelah itu dia memasukan kembali kotak tersebut kedalam laci semula.

Mungkin perlahan, Ailin harus menghapus semua kenanganya dengan Damar. Hidup harus terus berlanjut, dan dia juga ingin memiliki keluarga seutuhnya dengan kehadiran sang buah hati di tengah-tengah keluarga kecil mereka nantinya.

1
Aleana~✯
hai kak aku mampir,yuk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Septi.sari: hai kak Aleana, terimakasih 😍
total 1 replies
Lee Mba Young
karma nyakiti istri ya bgitu, mnding kl gk suka lngsung cerai saja jng nyiksa batin. mbawa wanita lain ke rumah, ngurusi wanita lain pdhl si wanita punya ortu. bkn yatim piatu. kl ortu nya gk mau ngurusi ya bawa ke RSJ lah. gila kl aku jd anisa yo ogah lah, gila saja hidup cm sekali hrs bhgia ngapain korban hidup dan perasaan untuk orang lain. cm orang oon ae yg mau. jmn sekarang realita nya wanita lbih pinter, baik boleh tp bodoh jng.
Septi.sari: hai kak lee, tetap ikuti bab selanjutnya.
total 1 replies
Milla
next min
Septi.sari: di tunggu next bab ya kak milla 😍🤗
total 1 replies
Lee Mba Young
semiskin miskin nya hidup ku kl posisi anisa juga ogah kali ngerawat wanita lain di rumah dng alasan kasian depresi. mnding cerai walau suami kaya raya. bhgia itu kita yg ciptakan bkn mengharap belas kasian.
Septi.sari: hai kak lee, tetap ikuti bab selanjutnya, makasih 😍😍🤗
total 1 replies
Septi.sari
hai kak, aku cuma mau kasih tahu.

✨🦋1 Atap Terbagi 2 Surga ✨🦋

udah update lagi ya dibab 62. nanti sudah bisa dibaca 🤗😍
Lee Mba Young
ngapain kasian, dia saja gk kasian ma hidup nya sendiri kok. bertahan bkn karena ibu mertuanya ya krn suami nya kaya raya, coba gk kaya, pasti dah di tinggal. dah suami gk sayang blm jebol perawan juga hrs nya kl sayang diri sendiri kn lngsung pergi ke luar negri beres semua. ini mlh balik ke suaminya lagi. definisi wanita lemah.
Lee Mba Young
Ternyata anisa yg kecintaan ma suaminya krn dia kaya sih. masih mau balikan katanya asal mengembalikan wanita gila itu. iuhhh. smp segitunya ngemis.
alasan ibu mertua minta cucu, bkn alasan krn kau saja yg ingin di tiduri suamimu.
tp ya gimana secara suaminya kaya raya sayang banget kan kl di tinggalkan, pdhl mumpung blm jebol perawan lbih baik cerai sekarang. Anisa yg bucin duluan 🤣🤣. lemah
Lee Mba Young
Mending pergi lah, jmn sekarang cm wanita bodoh yg bertahan dng pernikahan tdk sehat, dan mlh masukin wanita lain di rumah tangga.
mending ganti kartu atau HP di jual ganti baru trus menghilang. balik nnti kl sdh sukses. itu baru wanita keren. tp kl cm wanita pasrah mau tersiksa dng pernikahan gk sehat bukan wanita keren, tp wanita lemah dan bodoh.
jaman sdh berubah wanita tak bisa di tindas.
yg utang kn bpk nya ngapain mau di nikahkan untuk lunas hutang. mnding #kabur saja dulu# di luar negri hidup lbih enak cari kerja gampang.
Septi.sari: hai kak lee, tetap ikuti bab selanjutnya 😍😍
total 1 replies
IamEsthe
bergemuruh ini bisa diartikan sebagai luapan ya.

karena ini Annisa terkejut, bisa diganti ke rasa sakit seolah sembilu pisau ada di dadanya. maknanya, Annisa merasa tersakiti banget
IamEsthe
ini juga susunan dialog nya. boleh dijelaskan.
setahuku, penulisan dialog yang benar itu seperti ini.


"Mas? Aku tak suka dengan panggilanmu itu Terlalu menjijikan untuk didengar, Annisa," ucap Parbu dingin dengan ekspresi seolah diri Annisa ini sebegitu menjijikan di mata Prabu.

Tahu maksudnya?
"BLA BLA BLA,/!/?/." kata/ucap/bantah/seru.
IamEsthe
perhatikan dialog nya ya.

Boleh kasih jawaban kenapa setiap pertanyaan di dialog ada dobel tanda baca. semisal, ?? dan ?!. Bisa jelaskan maksud dan mungkin kamu tahu rumus struktur dialog ini dapet dr mana? referensi nya mungkin.
IamEsthe
kalimat terakhir, dibandingkan Prabu yg udah duduk malah bangkit lagi. lebih baik ganti ke prabu yang duduk tak bergeming, dengan sikap angkuh nan dingin, tangannya melambai seolah mengisyaratkan Annisa untuk segera menghampiri.
IamEsthe
kalimat pertama terlalu belibet.
bisa diganti ke
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kamar mereka (kamar Prabu yang kini menjadi kamar mereka)
IamEsthe
kata 'barusan' ini, ganti ke

Annisa mulai menyadari sikap dingin Prabu yang mulai terlihat (ia tunjukkan).
IamEsthe
kalimat ke tiga kurang tepat. kurang epik dan mulus aja pemilihan katanya.
IamEsthe
dibandingkan wajah datar, apa enggak lebih bagus 'sikap dingin' artinya sama aja tp lebih terkesan cuek KLO sikap dingin ini
IamEsthe
bukan dipersunting tp yg ia persunting
IamEsthe
diboyong. jangan 'diajak' ini konsep kalimatnya pernikahan, bukan bermain. jadi lebih baik penggunaan katanya 'diboyong'.


BLA BLA BLA, Annisa langsung diboyong ke kediaman Prabu yang berada di kota Malang.


dan kata di kota bukan dikota.
kamu harus tahu penggunaan kata 'di' sebagai penunjuk tempat dan kalimat
IamEsthe
di halaman, bukan dihalaman. di menunjukkan tempat bukan 'di' sebagai awalan kalimat.
IamEsthe: kamu harus bedakan bahasa teenlit sama adult romance gini
Septi.sari: hai kak terimaksih atas masukanya. bab selanjutnya akan diperbaiki.😍😍🤗
total 2 replies
Siti Aeni
knapa jd anisa gk prgi jauh ajh buat surat,,cerita semua beban hati,,, mau di cerai atau gk yg pnting prgi. bahagia in diri sendiri,, klo gugat cerai. kn gk mungkin,, biar prabu kepikiran trus dan jd dilema antara anisa dan ailin
Septi.sari: hai kak siti. tetap ikuti bab selanjutnya untuk terus tahu perkembangan cerita 🤗😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!