Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Sial! Freya benar-benar nyaris membuatku gila. Aku jadi tidak bisa mengendalikan hasratku." Lingga memukul setir beberapa kali sebelum akhirnya memarkirkan mobilnya di basement apartemennya. Dia buru-buru keluar setelah menghubungi nomor seseorang.
Langkahnya agak cepat, hingga tak butuh waktu lama, ia sudah masuk ke dalam lift. Dan sampai lah ia di lantai tempat unit apartemennya berada.
Lingga langsung membuka jaket dan celana jeans-nya. Menyisakan boxer saja dan kaos hitam polos. Ia menjatuhkan tubuh di sofa ruang tamu sambil mengelus pusakanya yang sudah menegang. Matanya terpejam, bibirnya bergumam pelan. "Freya ... aku bersumpah ... suatu saat nanti, aku akan membawamu ke sini dan menidurimu sampai kamu tak bisa berjalan," desisnya sambil tertawa.
Tak lama, bel berbunyi. Lingga gegas membuka mata, beranjak dari sofa dan membuka pintu.
"Selamat malam, Mas tampan," sapa seorang gadis berambut pirang dan berpakaian kurang bahan.
"Masuk!" balasnya tanpa menjawab sapaan.
"Baiklah." Gadis itu masuk dengan centil. Melenggak-lenggokkan tubuhnya yang seksi dan berisi.
Pintu ditutup perlahan, kunci pun diputar.
Lingga mengikuti langkah gadis panggilan itu yang kini sudah duduk di sofa.
"Mas ... mau langsung atau pemanasan dulu?" tanya gadis itu.
Lingga masih berdiri di dekat sofa, menatap gadis itu dengan mata penuh nafsu. "Pemansan lah." Suaranya rendah namun parau.
"Baik." Si gadis itu bangkit. "Mau di sini atau di kamar?"
Lingga menyeringai, "Di sini saja. Nanti kalau aku sudah keluar ... kita pindah ke kamar."
"Oke, Mas tampan. Mari kita mulai." Gadis itu mulai menanggalkan helai benang yang ada di tubuhnya. Lalu berpindah melakukan hal yang sama pada Lingga.
Jarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang Lingga, lalu turun ke leher, dan perut Lingga yang berotot. Ia pun berjongkok, setelah meraih pusaka yang sudah berdiri tegak. Dan selanjutnya ... gadis itu mulai melakukan aksinya. Memuaskan Lingga menggunakan mulutnya sebelum ke tugas utama.
Kegiatan itu disaksikan oleh Freya dan Nova lewat tangkapan kamera tersembunyi yang waktu itu dipasang pelacur suruhan Shankara melalui anak buahnya.
"Cih! Menjijikan!" desis Freya sambil memalingkan muka.
"Memang menjijikan sih, Freya. Tapi hal ini adalah senjata yang kita butuhkan untuk menjatuhkan keluarga Buana," ujar Nova terkekeh kecil.
Freya mengangguk. "Iya, Bu Nova. Adik dan kakak sama saja. Sama-sama tak bermoral."
"Hm." Nova mengangguk. "Kita save dulu semua ini. Jika saatnya tiba, kita tinggal menyebarkan semua ini ke publik. Biar semua orang tahu, seperti apa sebenarnya kelakuan Lingga Buana, Pitaloka dan juga mungkin ... Zainal Buana sendiri. Kita tidak tahu ... karena kamera tersembunyi yang dipasang Gopal di mobil anggota dewan itu belum menunjukkan hal-hal yang aneh."
"Ya, kita tunggu saja. Karena aku yakin ... Zainal Buana sama bejatnya dengan kedua anaknya."
Tak lama setelah perkataan itu terucap dari bibir Freya, monitor ketiga yang ada di ruangan itu memperlihatkan pergerakan tidak biasa yang terjadi di dalam mobil Zainal Buana.
Nova dan Freya langsung fokus.
Seorang gadis belia masuk ke dalam mobil, dan sesuai dugaan Freya ... kegiatan panas itu terjadi di dalam mobil yang terparkir di sebuah basement itu.
Nova berdecih. "Freya ... dugaanmu seratus persen benar. Lihatlah anggota dewan itu. Dia bahkan jauh lebih binal dari kedua anaknya. Berani melakukan hal menjijikan itu di dalam mobil. Sungguh gila ..." Kepala Nova geleng-geleng.
"Bu Nova ... aku ingin segera menyebarkan semua ini ke khalayak ramai. Aku ingin segera melihat mereka hancur," desis Freya dengan mata memerah penuh amarah.
Nova menepuk bahu Freya. "Sabar, Freya. Jangan terburu-buru. Semuanya harus dilakukan sesuai perintah Tuan Bira. Percayalah ... rencana yang disusun rapi, hasilnya pun akan memuaskan. Kita tunggu Tuan Bira kembali dari ibu kota."
Freya hanya mengangguk, sambil menahan jijik melihat kegiatan panas Lingga dan Zainal Buana secara bersamaan. "Menjijikan!" geramnya dalam hati.
______
Freya terlelap dalam tidurnya. Napasnya teratur, wajahnya tenang, seolah dunia di sekelilingnya sedang berhenti berputar. Selimut menutup tubuhnya hingga sebatas bahu, sementara lampu tidur memancarkan cahaya temaram yang hangat.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sebuah lengan melingkar di pinggangnya dari belakang ... erat, hangat, dan begitu nyata.
Freya tersentak. Matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang. Dengan gerakan refleks, ia menoleh panik, siap berteriak dan melepaskan diri.
Namun semua kegelisahan itu seketika runtuh saat sepasang mata tajam menatapnya dari jarak sedekat napas. "Tuan ...?" Suara Freya bergetar, setengah tak percaya. "Kapan Anda pulang?"
Napas Shankara terdengar berat, suaranya serak seolah kelelahan panjang masih menggantung di dadanya. "Baru saja," jawabnya pelan. Tangannya mengerat di pinggang Freya, seakan memastikan perempuan itu benar-benar ada di pelukannya. Tanpa memberi kesempatan Freya berkata lagi, Shankara menunduk dan mengecup bibirnya ... perlahan, dalam, penuh rasa rindu yang tertahan.
Freya terdiam, tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya melebur dalam kehangatan itu.
Shankara menyentuhkan keningnya ke kening Freya, lalu berbisik lirih, nyaris seperti pengakuan yang disimpan terlalu lama. "Freya ... aku menginginkanmu."
Freya menegang, dia menelan ludah susah payah. Dengan gerakan kaku, Freya menganggukkan kepala. "A-Aku ... milikmu, Tuan."
Shankara tersenyum miring, meraup lagi bibir Freya, dan kegiatan panas pun dimulai.
Shankara menjelajahi setiap inci lekuk tubuh Freya, membenamkan wajahnya di dada, turun ke perut dan bermuara di bagian paling sensitif dari seorang wanita.
Ketika gelombang cinta itu datang, Freya tanpa sadar menjambak rambut Shankara, membenamkan wajah lelaki itu ke dalam jalan lahirnya.
"T-Tuan ... m-maafkan aku ..." cicitnya setelah reda dari klimaks-nya.
Shankara tersenyum kecil, "Tidak masalah, Freya. Sekarang aku ingin kamu di atas. Berikan aku kepuasan."
"B-Baik, Tuan." Saking merasa bersalahnya, Freya gegas menuruti perintah itu.
Freya bergerak perlahan di atas tubuh Shankara, mengikuti permintaan lelaki dengan tato pedang di dadanya itu. Awalnya tubuhnya kaku, gerakannya canggung, seolah rasa malu masih membelenggu setiap inci keberaniannya. Ia bahkan nyaris tak berani menatap wajah Shankara terlalu lama.
Namun sentuhan Shankara ... tenang, menuntun, penuh kesabaran, perlahan meluruhkan dinding itu.
Freya mulai berani. Gerakannya tak lagi ragu, napasnya tak lagi teratur. Ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya, sesuatu yang selama ini terpendam dan kini menemukan jalannya sendiri.
Malam, keheningan, dan kehadiran Shankara membuatnya merasa aman untuk menjadi dirinya yang paling jujur.
Shankara menatap Freya tanpa berkedip. Tatapan itu bukan sekadar hasrat lelaki pada perempuan yang diinginkannya. Di sana ada rasa lain ... dalam, kelam, namun hangat. Rasa memiliki yang dibungkus kepedulian. Rasa yang tak pernah ia ucapkan, tapi terpancar jelas dari cara tangannya menahan Freya, seolah takut kehilangannya.
Tato pedang di dadanya naik turun seiring napas yang kian berat, namun matanya tetap lembut saat memandang Freya.
Bukan menaklukkan. Melainkan menerima.
Di momen itu, Freya sadar ... ia tidak sedang sekadar memenuhi keinginan seorang lelaki berkuasa. Ia sedang berada dalam pelukan seseorang yang, dengan caranya sendiri, menyimpan rasa yang lebih dari sekadar nafsu.
Dan malam pun terus berjalan, membawa mereka ke dalam keheningan yang sarat makna, jauh dari kata-kata.
Napas mereka perlahan kembali teratur. Freya masih berada dalam dekapan Shankara, kepalanya bersandar di dada bidang lelaki itu, tepat di bawah tato pedang yang kini terasa hangat oleh denyut jantungnya.
Selimut menutup tubuh mereka setengah, menyisakan keheningan yang nyaman.
Shankara mengusap puncak kepala Freya dengan gerakan pelan, nyaris refleks. Jemarinya menyusuri rambut Freya seolah sedang menenangkan sesuatu ... atau lebih ke seseorang yang berharga. "Bagaimana kegiatanmu tadi siang di Cisaat?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan lebih lembut dari biasanya. "Apakah berjalan lancar?"
Freya mengangguk kecil, jari-jarinya memainkan ujung kain selimut. "Lancar, Tuan. Pembahasan awal cukup menjanjikan." Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas sebelum melanjutkan, seolah sedang menimbang keberanian. "Zainal Buana ... dia menawarkan agar aku tinggal sementara di Cisaat. Selama proyek pembangunan resort teh dan agrowisata itu berjalan. Katanya supaya koordinasi lebih mudah. Apakah Tuan mengizinkan?" Usapan Shankara tak berhenti. Ia mendengarkan tanpa memotong, matanya menatap langit-langit kamar, wajahnya tenang namun jelas sedang berpikir.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menanggapi. "Boleh," katanya akhirnya.
Freya mendongak cepat, menatap wajah Shankara, seolah memastikan ia tidak salah dengar. "Tapi," Shankara menurunkan pandangannya ke mata Freya, suaranya tetap datar namun tegas, "Kamu tidak boleh tinggal sendirian di sana." Ia merapikan helai rambut Freya yang jatuh ke keningnya.
"Nova dan Gopal harus ikut. Jika kamu tinggal sendirian, itu terlalu berisiko. Bisa-bisa si Lingga Buana memanfaatkannya untuk melecehkanmu seperti satu tahun lalu."
Freya tersenyum kecil, bukan karena perintah itu, melainkan karena perhatian yang tersirat di baliknya. "Baik, Tuan. Terima kasih."
Shankara menarik Freya lebih dekat ke dadanya, seolah keputusan itu sudah final. Malam kembali sunyi, namun kini keheningannya terasa aman ... dipenuhi rencana, kewaspadaan, dan rasa memiliki yang tak perlu diucapkan. "Ayo kita tidur," ajaknya yang diangguki Freya.
Dan tanpa mereka sadari, sesuatu yang baru mulai tumbuh di hati masing-masing.