Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dikawal...
Setelah keheningan yang menyesakkan di dalam mobil, Arjuna akhirnya melepaskan Indira. Pria itu menyeka sudut bibirnya dengan sapu tangan sutra, wajahnya yang tadi memerah kini kembali tenang dan dingin. Napasnya sudah teratur, tanda rasa sakit akibat penyakit langka itu telah reda.
"Rapikan pakaianmu," perintah Arjuna tanpa menatap mata Indira. Ia merapikan kembali dasinya yang telah longgar,juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Indira merapikan seragamnya,lalu mengancingkan beberapa yang terbuka.
"Tuan... bolehkah aku pulang sendiri sore nanti? Aku ingin mampir ke toko buku," suara Indira nyaris tak terdengar.
Arjuna menoleh, tatapannya tajam dan mengintimidasi. "Toni akan menemanimu ke toko buku mana pun yang kau mau. Jangan pernah berpikir untuk menghilang dari jangkauan radarku, Indira. Ingat, uang 50 juta itu bukan hanya untuk asimu, tapi juga untuk kepatuhanmu."
"Aku tidak nyaman diperlakukan seperti ini tuan,aku sangat tertekan dengan keberadaan bodyguard itu,aku tidak suka," protes Indira memberanikan diri.
"Yang kulakukan ini sepadan dengan apa yang kau Terima Indira ..! jadi patuhlah kalau kau masih membutuhkan uang,," kalimat Arjuna membuat Indira tersinggung.
Dia memang sangat membutuhkan uang,tapi bukan begini juga yang dimaksud.
Indira tidak mengatakan apa apalagi.
Pintu mobil terbuka secara otomatis. Indira keluar dengan langkah seribu, berusaha menyembunyikan wajah sembabnya dari kejauhan.
"Sepertinya aku sudah salah mengambil keputusan,tau begini mending asiku ku peras,lalu ku sumbangkan ke panti asuhan,dengan begitu aku tetap bebas melakukan apapun yang kumau." sungutnya menyesal.
"Ini juga gara gara ibu,,ibu yang membujuk ku untuk menolong tuan Arjuna,ternyata yang ditolong malah ngelunjak.
mentang mentang punya banyak uang,,semua ingin dibeli dengan uang,,dan sialnya aku setuju dengan kontrak itu,," lanjutnya merutuki ibu dan dirinya sendiri.
"Awas kesambet,,bicara sendiri pamali loh!" Maya tiba tiba mengejutkan nya dari belakang.
"Kamu setannya," cetusnya menatap kesal teman baiknya itu.
meskipun mereka teman baik,Maya tidak tahu kondisi Indira soal asinya yang keluar seperti ibu melahirkan.
"Ngemall nanti yok!" ajak Maya.
Indira ingin sekali menerima tawaran temannya itu,tapi dia kembali mengingat Arjuna yang melarangnya berkeliaran diluar.
Sampai sampai menempatkan satu bodyguard untuknya.
"Maaf ya May, aku nggak bisa,"
"Alahhh, sok sibuk amat lo..! selama ini kemana aja? kok nggak sibuk?" sindir Maya.
'Aku juga sangat ingin pergi May,,tapi aku tidak bisa,aku tidak bisa mengatakan alasan ku padamu,,' tentu saja Indira berucap dalam hati saja.
***
Sore Hari: Di Toko Buku
Indira menyusuri lorong buku-buku sastra, sementara Toni berdiri mematung di dekat pintu masuk, mengawasi setiap gerakannya. Indira sengaja berlama-lama, ia butuh merasa seperti remaja normal meski hanya sebentar.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundaknya. Indira tersentak hampir berteriak.
"Astaga,,! Ini aku, Ra," ujar Bima heran,karena reaksi Indira begitu berlebihan. Ternyata Bima mengikutinya sejak dari sekolah.
"Kak Bima? kirain siapa,sedang apa disini?!" Indira cengengesan,namun matanya melirik ke arah Toni.
Bima tidak menanggapi ucapan Indira,dia lebih tertarik mengenai pria yang ditatap Indira sesekali,terlihat seperti ketakutan atau semacam nya.
"Siapa sebenarnya pria yang menjagamu itu, Ra? Kenapa kamu seperti ketakutan begitu? Kalau kamu dalam masalah, bilang padaku. Ayahku punya kenalan di kepolisian," ucap Bima sungguh-sungguh.
Indira terharu, namun rasa takutnya pada Arjuna jauh lebih besar. "Dia sedang mengawasiku,,karena aku cantik,jadi harus punya pengawal katanya,takutnya di culik,." Indira mengajak Bima bercanda,mencoba mengalihkan rasa penasaran Bima.
"Ra,,aku serius,,kenapa akhir akhir ini kamu seperti dikawal begitu? apa kamu punya masalah?" desak Bima seperti menahan penasaran nya.
"Indira, waktunya pulang." Suara berat Toni tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Bima menatap Toni dengan berani, namun Toni hanya membalasnya dengan tatapan dingin yang mematikan. Tekanan aura Toni sebagai mantan tentara bayaran membuat Bima terdiam seribu bahasa. Indira segera menarik lengan Toni agar pria itu tidak berbuat kasar pada Bima.
"Ayo, Kak Toni. Aku sudah selesai," ajak Indira cepat-cepat.
"Sampai ketemu di sekolah besok kak Bima,," Indira melambaikan tangannya pada pria yang dipuja disekolah itu,karena ketampanannya.
"Jangan takut melaporkan apapun yang menurutmu membahayakan mu Ra,,ingat! aku akan membantumu!" teriak Bima,disambut senyuman oleh Indira.
Sesampainya dimobil...
"Sebaiknya kamu jauhi pria itu Indira,," peringat Toni datar.
"Dia kakak kelasku aku tidak bisa menjauhinya lagipula apa salahnya akrab dengan teman satu sekolah?" sahut Indira.
"Tidak ada yang salah,, alangkah baiknya kamu menurut saja,karena tuan Arjuna pasti tidak akan suka." ujar Toni.
"Aku memang terikat kontrak dengan tuan Arjuna,tapi tidak ada isi kontrak yang mengatakan akh aku tidak bisa berteman dengan orang lain,,aku sangat dirugikan disini sebenarnya,hidupku jadi terkekang semenjak asiku ku berikan pada tuan."
Desah Indira mengeluarkan uneg unegnya.
Sesampainya di rumah, Indira tidak langsung istirahat. Ia masuk ke kamar ibunya, Darsih, yang sedang menyetrika baju-baju milik keluarga Arjuna.
"Bu... kalau uang tabunganku sudah cukup untuk beli rumah di desa dan modal usaha, Ibu mau ikut aku pergi dari sini?" tanya Indira lirih.
Darsih menghentikan setrikaannya, menatap putrinya dengan tatapan sedih. "Pergi? Den Arjuna tidak akan melepaskanmu begitu saja, Nak. Kamu tahu sendiri kekuasaannya seperti apa."
"Tapi aku tidak bisa selamanya jadi 'botol obat' buat dia, Bu! Aku punya masa depan," tangis Indira pecah.
"Kamu benar sayang,dan masa depanmu sedang kamu jalani,,tuan sudah menjamin masa depanmu,,sekolah dan uang yang diberikan tiap bulan kepadamu."
"Aku tidak bisa terus terusan begini bu,,aku seperti tawanan,diawasi setiap saat,aku tidak nyaman.
aku sudah putuskan,setelah uang ku terkumpul,bisa membeli rumah,kita akan pindah dari sini bu,,aku akan mencari pekerjaan setelah aku selesai sekolah."
Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Arjuna berdiri di kegelapan koridor. Ia bermaksud memberikan ponsel baru untuk Indira agar ia bisa melacak posisi gadis itu melalui GPS 24 jam.
Mendengar kata "pergi" dari mulut Indira, rahang Arjuna mengeras. Tangannya yang memegang kotak ponsel bergetar karena amarah yang tertahan.
Dia ingin lari dariku? Setelah semua yang kuberikan? batin Arjuna gelap.
Arjuna tidak jadi masuk. Ia berbalik dengan langkah mantap menuju ruang kerjanya. Ia meraih telepon rumah dan menghubungi seseorang.
"Toni, percepat proses pemindahan sekolah Indira ke sekolah internasional milik yayasan keluarga kita. Dan pastikan mulai besok, dia tidak boleh keluar rumah tanpa izin langsung dariku."
Arjuna menutup telepon dengan kasar. Senyum miring tersungging di bibirnya.
"Kau ingin membeli rumah kecil, Indira? Aku akan membelikanmu istana, tapi istana itu akan menjadi penjara emasmu. Kau tidak akan pernah bisa lari, karena kau adalah milikku—sampai tetes terakhir."
***
Tengah malam,,, Indira terbangun bukan oleh alarm ponselnya, melainkan oleh suara bariton pria tampan itu membangunkannya.
"Indira,,aku haus."
Indira sayup sayup mendengar suara itu,tapi gadis itu mengira dia sedang bermimpi,jadi dia mengabaikan.
hanya menggeliat sebentar lalu tidur lagi.
Arjuna yang tidak memiliki kesabaran langsung naik ke ranjang,lalu ikut berbaring didekat gadis berlesung pipi itu,lalu menyingkap pakaian Indira keatas,kemudian menyesap wadah asinya.
ssshhhhh...!!
Indira mendesah dengan mata terpejam.
Mendengar desahan lirih Indira membuat Arjuna jadi geregetan.
Pusaka nya dibawah sana langsung merespon.
"Sial! dia mendesah,," gumamnya pelan.
Arjuna menatap lekat wajah Indira yang masih terlelap nyenyak.
Sangat manis dan cantik tentunya.
Seandainya dia dipoles dan memakai pakaian branded,percaya lah,,Clarissa,sekalipun wajahnya sudah dipermak habis dimeja operasi,,gadis didepannya itu masih jauh lebih cantik dan anggun.
Indira kalah dana,,wajahnya sudah cantik dari orok.
Arjuna menatap atas bibir Indira yang ditumbuhi bulu bulu halus,seperti kumis tipis.
Bukan hanya itu,Arjuna juga menatap kening Indira ,dimana rambut liar tumbuh lebat disana.
Membuat Indira semakin menggemaskan.
cup!
Tanpa sadar Arjuna menyatukan bibir nya ke bibir Indira.
manis,,begitulah yang dia rasakan.
"Cantik sekali,," gumamnya memuji.
Arjuna kembali menyesap dada Indira yang satunya,yang belum dia kuras isinya.
ssshhhh...!
lagi lagi Indira mendesah. tubuhnya merespon aksi kenyot Arjuna.
Takut Arjuna tidak bisa menguasai hasratnya,,cepat cepat dia menghisap habis cairan itu,setelah puas dia kembali ke kamarnya sendiri melalui pintu alternatif.
bersambung...