Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pertemuan tidak terduga
"Siapa itu Rudy?" tatapan Caleb tajam menusuk Zita. Zita gelagapan. Kaget setengah mati. Tidak menduga suaminya memergokinya.
"Eh, bukan siapa-siapa, Bang. Hanya saudara sepupu," kilah Zita setenang mungkin.
"Sepupu?" dengus Caleb menahan emosi lantas pergi. Tidak membahas lebih lanjut tapi benaknya penuh kecurigaan.
Setelah berhasil memenangkan lomba Agnes menyarankan Ameera supaya membuka toko butik. Selain untuk memudahkan para penggemarnya membeli hasil karyanya. Juga sebagai media untuk memajang hasil rancangannya.
Ide Agnes sangat didukung Saras. Tentunya bagus untuk Ameera agar bisa mandiri. Tak menunggu lama , Saras merealisasikan saran Agnes. Mengucurkan modal juga mencari lokasi yang strategis.
Akhirnya Ameeera resmi memiliki sebuah butik di sebuah mall. Baru beberapa hari di buka, sudah ramai dikunjungi dan membeli pakaian yang dipajang.
Siang itu, Jenni membawa ibunya jalan-jalan ke mall. Mereka sudah lelah berkeliling ke setiap toko mencari gaun untuk di pakai Jenni dalam acara ultah pernikahannya. Namun, belum ada satupun yang mengena di hatinya.
"Kita mau kemana lagi, Jen. Ibu sudah lelah dan haus." protes Bu Rina kesal karena sedari tadi mereka hanya mutar-mutar terus.
"Ah, Ibu sabaran dikit napa sih. Baru juga sebentar." sahut Jenni acuh. Pandangannya fokus pada salah satu butik beberapa meter di depannya.
"Sebentar apanya, sudah dua jam kita disini. Ibu sudah pusing."
"Iya, iya. Ibu sabaran dikit lagi. Kita kesana, Bu. Sepertinya ada butik yang baru buka." tanpa mengindahkan keluhan ibunya Jenni mendorong kursi roda Bu Rina menuju butik Selasih.
"Ada yang bisa kami bantu, Bu," sapa pelayan ramah. Jenni mengutarakan maksudnya dan terpana melihat beberapa gaun indah yang dipajang di tubuh manekin.
"Gaunnya bagus-bagus, Bu," bisik Jenni pada ibunya.
"Iya, tapi harganya juga pasti mahal," ucap Bu Rina mengingatkan. Selera putrinya soal fashion kadang membuat beliau pusing. Tidak peduli harga asal barangnya bagus dan cocok untuk dirinya.
"Ah, Ibu. Jangan gitu dong. Jenni ingin tampil sempurna di depan menantu Ibu." Bu Rina melengos mendengar jawaban Jenni. Ujung-ujungnya nanti ikut menomboki bayar belajaan, Jenni.
"Mbak, coba lihat gaun yang di sudut sana." Unjuk Jenni pada sebuah manekin yang mengenakan gaun warna peach.
"Ini, Mbak model yang sama tapi warnanya berbeda. Gaunnya cuma dua, Mbak, rancangan Ibu Selasih."
"Oooh," ucap Jenni sambil memeriksa gaun di tangannya. Jahitannya rapi dan kainnya lembut pastinya nyaman dipakai. Meskipun modelnya nampak sederhana tapi elegan.
"Mbak ambil yang mana, warna putih atau peach. Ukurannya sama kok, Mbak. Pasti sesuai dengan Mbak." Jenni memeriksa harga yang tertera dilabel. Seketika matanya melotot melihat angkanya.
"Harganya berapa, Mbak?" ucap Jenni lirih.
"Kebetulan diskon masih berlaku. Total harga dikurangi diskon dua juta rupiah, Mbak."
"Apa, mahal amat. Cuma gaun kek gitu, di kaki lima juga banyak." Bu Rina kaget mendengar harga yang disebut pelayan butik.
"Maaf, Bu, gaun ini hasil rancangan dari desainer. Jumlahnya terbatas, cuma dua gaun saja diproduksi."
"Gak bisa kurang lagi, Mbak?" bujuk Jenni.
"Kamu apaan sih, Jen, kemahalan itu," protes Bu Rina. Jenni sudah tidak perduli. Dia sudah jatuh cinta dengan gaun itu. Saat dicoba pas dengan lekuk tubuhnya. Meski mahal dia rela menguras isi kantongnya.
"Bentar ya, Mbak. Saya konfirmasi dulu sama Ibu." Pelayan itu masuk ke ruang dalam menemui Ameera. "Bu, gaun ini bisa kurang lagi harganya, gak?" seraya menunjukkan gaun ditangannya
"Sudah dipotong diskon, ya?"
"Sudah, Bu, tapi Mbak itu masih nawar lagi." menyebut harga yang diminta, Jenni.
"Dua juta itu sudah harga pas." Ameera bangkit dari kursinya hendak menemui calon pembeli.
"Itu Mbaknya, Bu." Jenni tidak menyadari kehadiran Ameera karena tengah melihat-lihat gaun lain yang dipajang di etalase.
"Selamat siang, Mbak." sapa Ameera ramah pada calon pembelinya yang tengah melihat gaun lain.
Jenni dan Bu Rina berbalik. Ketiganya sama-sama terkejut. Ameera secepatnya bisa menguasai keadaan. Dia bersikap tenang dan tetap tersenyum ramah.
Beda dengan ekspresi Jenni yang terkejut dan berubah emosi karena melihat mantan kakak iparnya. Terkejut saat melihat penampilan Ameeea yang elegant. Pakaiannya nampak serasi melekat ditubuhnya. Sepertinya barang branded.
Sedang Bu Rina merasa bingung sendiri dan salah paham. Mengira Ameera bekerja sebagai penjaga butik. Walaupun dia sudah pernah melihat Ameera di TV.
"Apa kabar Jenni, Bu," sapa Ameera ramah.
"Oh, ternyata selama ini kamu sembunyi disini, ya. Minggat dari rumah meninggalkan Ibu dan abangku. Istri macam apa kamu, hah!" semprot Jenni tanpa basa-basi. Pelayan butik disamping Ameera kaget saat bosnya dimarahi.
"Eh, Mbak. Bicara yang sopan dan jangan buat keributan disini." Ameera menggeleng memberi kode pada karyawannya untuk tidak turut campur.
"Maaf Jenni, tadi karyawan saya melapor kamu menawar gaun itu. Kamu mau beli atau tidak? Jika batal mau beli silahkan pergi. Kami hanya meladeni orang yang mau belanja di butik ini. Selebihnya tidak." Ameera merentangkan tangannya menunjuk ke arah pintu keluar butik.
"Sombong kamu sekarang, ya. Kamu kira aku tidak mampu beli gaun ini. Aku batal membelinya karena tiba-tiba merasa jijik melihatmu."
"Tidak apa-apa. Kami masih banyak urusan." Ameera berbalik hendak meninggalkan Jenni dan mantan mertuanya.
"Ameera, kamu itu masih istrinya Caleb. Dia masih berhak membawamu pulang ke rumah." timpal Bu Rina.
"Aku sudah membuang anak ibu. Tidak akan pernah memungutnya lagi." Ameera berbalik menatap tajam kepada Bu Rina.
"Kami bisa menuntutmu karena pergi tanpa pamit. Juga telah melarikan cucu saya."
"Oh ya, berarti aku juga bisa menuntut balik Caleb atas perselingkuhannya. saya. Celia adalah anak saya. Sebagai ibunya saya punya hak penuh mengasuhnya. Bukan perempuan jalang yang ibu pelihara."
"Caleb menikah karena kamu minggat. Wajarlah dia menikah lagi. Dasar kamu memang istri jal*ng." maki Jenni.
"Plakkk ...."
Sebuah tamparan mendarat di pipi Jenni. Jenni terkejut dan meraba pipinya yang terasa panas.
"Jaga sikap dan ucapanmu ya. Saya bisa saja menuntut Caleb karena dia selingkuh. Dan baru beberapa hari saya pergi, dia sudah menikahi perempuan jal*ng itu. Jika kalian ingin bukti seperti apa perempuan itu saya siap menyebarkannya."
"Maksud kamu apa? Zita jauh lebih baik dari kamu. Dari keluarga baik-baik, tidak seperti kamu yang tidak jelas asal usulnya." Jenni tersenyum sinis.
"Seorang wanita baik-baik dan keturunan orang terhormat tidak akan berada dalam pelukan laki-laki lain sementara dia sudah memiliki suami. Seperti kataku, aku siap memberikan bukti dari ucapanku. Sekarang, silahkan pergi dari sini atau satpam akan menyeret paksa kalian keluar dari butik saya." Ameera membuka lebar-lebar pintu dan memanggil satpam yang sedang jaga.
"Apa! Kamu bilang kamu pemilik butik ini, hahaha ...." Jenni tertawa mengejek. Siapa juga yang akan percaya kalau mantan kakak iparnya sekarang adalah pemilik butik itu.
"Jangan sekali-kali meremehkan nasib seseorang. Apa yang kau miliki saat ini bisa hilang dalam sekejap. Sebaliknya seseorang yang bukan apa-apa bisa memiliki segalanya, camkan itu." ucap Ameera penuh penekanan sesaat sebelum mereka diseret keluar oleh satpam.***