Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .
‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ketegangan di kediaman Dirgantara mencapai titik puncak ketika sebuah jet medis pribadi mendarat, dan Bramantyo benar-benar mewujudkan ancamannya. Ia membawa Larasati kembali ke dalam rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungan Nadia dan Arka.
Suasana rumah yang biasanya tenang berubah menjadi riuh dengan peralatan medis. Bramantyo, yang masih di atas kursi roda, mengawasi setiap gerak-gerik perawat yang memindahkan Larasati ke kamar tamu mewah yang telah dirombak total.
Larasati tampak sangat rapuh. Kulitnya pucat, matanya sayu, namun ada kilatan kemenangan yang tersembunyi saat ia melihat Nadia berdiri di ujung lorong.
"Bram... siapa wanita itu?" bisik Larasati dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, sambil menunjuk ke arah Nadia.
Bramantyo menoleh sejenak ke arah Nadia, namun tatapannya dingin, seolah-olah Nadia hanyalah staf di rumah itu. "Dia Nadia. Dia yang akan membantumu di sini, Laras. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja sekarang."
Bramantyo kemudian memanggil Nadia ke hadapannya. Di depan Larasati, ia mengucapkan kalimat yang menghancurkan harga diri Nadia berkeping-keping.
"Nadia, karena kau yang paling tahu seluk-beluk rumah ini dan kau punya latar belakang merawatku, aku ingin kau yang mengawasi perawatan Larasati secara langsung," ucap Bramantyo tanpa perasaan. "Pastikan dia tidak kekurangan apa pun. Aku tidak percaya pada perawat sewaan sepenuhnya."
Nadia terpaku. "Kau menyuruhku menjadi pelayan bagi wanita yang pernah mencoba menghancurkan hidupku, Bram? Di depan anakmu sendiri?"
"Ini bukan soal masa lalu, Nadia! Ini soal kemanusiaan!" bentak Bramantyo. "Dan Arka... lebih baik dia tidak terlalu sering mendekat ke sini dulu. Aku tidak ingin kondisi mental Larasati terganggu oleh suara anak kecil."
Arka, yang berdiri di balik pintu sambil memegang piala larinya, mendengar semuanya. Ia melihat ayahnya yang selama ini ia puja, kini bahkan tidak mau melihat ke arahnya. Arka lari ke kamarnya, melempar pialanya ke lantai hingga pecah, dan menangis dalam diam.
Nadia menyusul anaknya, namun hatinya sendiri sedang berdarah. Ia menyadari bahwa amnesia Bramantyo mungkin memang sudah sembuh, tapi nuraninya telah terkubur oleh rasa bersalah yang manipulatif terhadap Larasati.
Malam harinya, saat Bramantyo sedang tertidur karena kelelahan, Nadia masuk ke kamar Larasati untuk memberikan obat. Saat itulah, Larasati yang tadinya tampak lemah tiba-tiba duduk tegak di ranjangnya.
"Kau pikir kau sudah menang karena punya anak darinya?" desis Larasati, suaranya tidak lagi lemah. "Bramantyo akan selalu kembali padaku. Aku adalah lukanya yang paling dalam, dan pria seperti dia lebih suka memeluk lukanya daripada kebahagiaannya. Kau hanya 'simpanan' yang naik kasta, Nadia. Dan sekarang, aku kembali untuk mengambil tahtaku."
Nadia menatap Larasati dengan tenang, meski tangannya bergetar. "Kau sakit, Larasati. Dan Bramantyo juga sakit karena membiarkanmu masuk ke sini. Tapi ingat satu hal... rumah ini atas namaku. Perusahaan ini atas namaku. Jika kau mencoba menyentuh Arka, aku tidak akan segan-segan menyeretmu kembali ke institusi rahasia itu."
Pagi harinya, Nadia melihat Bramantyo sedang menyuapi Larasati dengan penuh kasih di balkon, pemandangan yang dulu selalu menjadi miliknya. Bramantyo bahkan tidak bertanya mengapa Arka tidak keluar untuk sarapan.
Nadia masuk ke ruang kerja, mengambil sebuah koper besar, dan mengemas semua barang milik Arka. Ia tidak akan membiarkan anaknya tumbuh di lingkungan yang beracun, di mana ayahnya sendiri menganggapnya sebagai gangguan.
Saat Nadia menyeret koper keluar melewati ruang tengah, Bramantyo menghentikannya.
"Mau ke mana kau, Nadia? Larasati butuh jadwal terapinya pagi ini," tanya Bramantyo tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Nadia berhenti, menatap Bramantyo dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. "Rawat dia sendiri, Bramantyo. Aku bukan pelayanmu, dan Arka bukan gangguan".
membuat saya ingin terus membacanya