Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.
Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.
Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.
Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.
Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
-MELATI-
"Asal dengan satu syarat."
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Harus jaga jarak sama bocah yang namanya Aldi-Aldi itu."
"Kenapa gitu?"
"Demi keselamatan kamu."
"Hah?"
"Nggak usah bawel! Nurut aja!" sungutnya, membuatku terkekeh geli.
"Itu aja syaratnya?"
Pak Glenn tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk singkat.
"Berarti, aku boleh nguncir rambut, 'kan?"
Kedua mata Pak Glenn melotot. Lagi-lagi, pemandangan itu membuatku merasa ada sesuatu yang menggelitik perut. "Jangan coba-coba!"
Tiba-tiba, suara dering ponsel dari dalam tasku membuat euforia di seisi ruangan mendadak hening. Telepon dari Tita.
"Halo, Tit?"
"Lo di mana?"
"Di ... " Aku melirik Pak Glenn yang tengah mengamatiku sembari memasang telinga. " ... apartemen Pak Glenn."
"Bisa ke sini sekarang?"
"Ke mana?"
"Kafe dekat rumah lo."
"Emangnya kenapa?"
"Udah, lo ke sini aja dulu. Oke?"
***
"Mel!" Suara dari arah barat membuat pandanganku yang semula beredar menjadi fokus pada satu titik. Begitu manik mataku bersitatap dengan Tita, aku segera melangkahkan kaki ke arahnya.
Oh! Ada Bagas juga rupanya.
"Ada apa, Tit?" tanyaku, begitu aku dan Pak Glenn sudah sama-sama duduk di meja berisi empat orang dengan Tita dan Bagas.
"Gas, handphone lo," kata Tita seraya menengadahkan telapak tangan ke arah Bagas. Lelaki itu lantas menyerahkan benda pipih yang Tita minta.
"Kamu mau minum apa?" sela Pak Glenn yang duduk di sebelahku.
"Milkshake taro," jawabku cepat. Minuman itu memang yang selalu menjadi favoritku di kafe ini.
"Nih!" Tita menunjukkan layar ponsel Bagas tepat di hadapanku.
Aku menatap Tita bingung. Melalui tatapannya, Tita memintaku untuk segera melihat apa yang terpampang di layar ponsel Bagas. Meski bingung, aku tetap mengambil alih ponsel dari tangan Tita dan mengamati gambar di dalamnya dengan seksama.
Sembari menungguku, Tita mulai menjelaskan maksud dirinya memintaku kemari. "Lo lihat, 'kan? Cewek itu mirip banget sama lo."
Aku dapat menangkap sosok 'cewek' yang Tita maksud. Tampak seorang gadis berpakaian hoodie warna biru dongker. Dari foto, wajah gadis itu kurang jelas, sebab hanya menampilkan wajah bagian samping.
"Gambarnya nggk jelas," kataku sambil menyerahkan benda pipih itu pada sang pemilik.
"Boleh saya lihat?" Suara Pak Glenn membuat Bagas kembali mengulurkan ponselnya. Selang beberapa detik, komentar Pak Glenn membuatku teringat pada sebuah kejadian. "Dia ... dia yang di Bali waktu itu." Pak Glenn mengembalikan ponsel Bagas.
Ya. Bali. Aku masih ingat betul bagaimana manik mataku menangkap sosok seorang gadis yang memiliki wajah mirip denganku. Layaknya aku sedang berada di depan cermin.
"Lo samperin dia?" tanyaku pada Tita.
Tita menggeleng. "Tadinya mau gue samperin, tapi cewek itu keburu pergi."
"Gara-gara si bocah tengik satu, nih!" sungut Tita seraya menunjuk ke arah Bagas.
"Lah, kok, gue?" sela Bagas, tidak terima dengan tuduhan Tita.
"Siapa lagi kalau bukan lo?! Orang gue udah bilang, 'samperin'! Lo malah minta nanti-nanti! Bego!"
"Lo juga bego!"
"Kok, gue?!"
"Ya, lo, mau aja nurutin gue!"
"Kalian di sini ngapain?" sahutku, membuat perdebatan dua orang itu lantas terhenti. "Berdua lagi. Kencan?"
"NGGAK!"
"Kan! Jawabannya aja barengan."
***
Pagi ini aku sudah siap dengan t-shirt putih polos yang dibalut kardigan abu-abu, serta celana kain warna hitam. Papa pun sudah berangkat kerja usai sarapan bersamaku lima belas menit lalu. Kini, aku sedang menunggu Bu Farah—guru privatku.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara bel yang menggema di seluruh sudut rumah, membuatku bergegas menuju pintu. Seorang wanita berumur akhir dua puluhan yang mengenakan blazer warna magenta dan celana kain berwarna senada menyambut indra pengelihatanku.
Aku menarik kedua sudut bibirku untuk menyambutnya. "Pagi, Bu!" Dan tak lupa menyapanya.
Namun, ada yang aneh dengan wanita di hadapanku ini. Dari ekspresi wajahnya, aku dapat menangkap sepercik rasa kaget. Melihat diriku, seolah menemukan sebuah fenomena langka untuknya.
"Bu ...." Aku berusaha mengembalikan kesadarannya dengan melambaikan tangan.
"Mawar," lirihnya.
Mawar? Mawar? Apa maksudnya? Siapa Mawar?
"Bu Farah!" Kali ini, aku menepuk bahu kirinya, dan berhasil.
"Y-ya?"
"Saya Melati," ucapku, masih mencoba cari tahu tentang Mawar.
"O-oh, ya! Melati." Bu Farah tersenyum kikuk.
Melihat wanita bergaya rambut cepol itu tak ingin membahas kejadian beberapa saat lalu, aku pun memutuskan untuk mempersilakannya masuk.
Sesampainya di ruang belajar, hal yang aneh kembali terjadi. Bu Farah memang mengekori langkahku, tapi beliau tertinggal jauh di belakang. Dari tempatku berdiri, tampak wanita itu tengah mengamati setiap inci bangunan rumahku.
Ada apa ini? Mengapa Bu Farah tampak sangat penasaran dengan bangunan tempat aku tinggal?
Hingga lima menit berlalu, Bu Farah belum juga sampai di ruang belajarku. Tak sabar, aku pun menghampirinya.
"Bu Farah," ucapku seraya mendaratkan telapak tangan di bahu kirinya. Wanita itu menoleh seraya tersenyum canggung. "Mari ke ruang belajar saya, Bu. Di sebelah sana."
***
Jujur saja, Bu Farah membuat otakku terus berputar keras, berusaha menerka maksud di balik sikapnya. Apalagi, sepanjang proses pembelajaran berlangsung, wanita itu tampak sama sekali tidak fokus.
"Kenapa, sih, Mel? Ngelamun mulu dari tadi."
Aku menoleh ke kiri—tempat di mana Pak Glenn berada. Saat ini, kami sedang dalam perjalanan menuju apartemen untuk mengambil barang Pak Glenn yang tertinggal, sebelum menemui Aldi dan memberi pernyataan bahwa aku akan mengikuti olimpiade matematika itu.
"Aku rasa, ada yang aneh sama Bu Farah," ucap jujur.
"Farah guru privat kamu itu?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan. "Dia seumuran, sih, sama aku. Umurnya baru dua puluh lima. Memangnya aneh gimana?"
"Waktu aku pertama kali ketemu sama dia, masa aku dipanggil Mawar."
"Mawar?"
"Aneh, kan?"
Pak Glenn terkekeh. "Mungkin, dia teringat sama bunga mawar dan melati di halaman rumahnya."
"Garing!"
***
Sembari menunggu Pak Glenn mengambil sesuatu di ruang kerjanya, biar kujelaskan sedikit bagaimana suasana rumah seorang Glennio Pangestu yang menyandang label kehormatan berupa kata 'bastard' dariku.
Mulai dari ruang tamu kecil yang didominasi dua sofa berhadapan warna biru dongker, serta meja kayu berbentuk persegi panjang di tengah-tengah. Kemudian, ruang tengah dengan satu sofa panjang warna hitam yang dilengkapi TV LED tepat di depannya. Berseberangan dengan ruang tengah, terdapat dapur dengan warna krem yang mendominasi.
Di apartemen minimalis ini, terdapat dua kamar yang berhadapan dengan pintu warna hitam. Pertama, kamar tamu, kurasa. Aku tidak berani masuk, sebab pintunya tertutup. Dan yang kedua, ya, kalian pasti tahu kamar siapa itu. Ruang kerja Pak Glenn? Ada di dalam kamarnya.
Entah sengaja atau tidak, Pak Glenn membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar. Sedikit mengintip tidak apa-apa, 'kan? Dan, wow! Kamarnya ... sangat-amat rapi, pemirsa! Satu kasur berukuran king size berbalut seprai warna putih polos. Lemari besar warna biru tua di samping kiri kasur. Serta sebuah nakas warna biru muda tepat di sisi kanan kasur. Di seberang kasur, ada sebuah pintu yang kuduga adalah ruang kerja si pemilik rumah. Oh! Jangan lupakan aroma maskulin si om-om bastard ini. Aku heran, Pak Glenn itu orangnya memang rapi? Atau kamarnya jarang ditempati?
Aku hendak berbalik menuju ruang tengah, namun, sebuah benda yang tergeletak di atas nakas biru muda itu menyita indra pengelihatanku.
Sebuah benda yang ... istimewa, untukku.
*
*
*
*
*
SURPRISE UNTUK SELURUH READERS TERCINTA!
YEAH! 🤣
Mulai hari ini, author memutuskan untuk update tiap dua hari sekali. Memang bukan tiap hari, tapi setidaknya lebih sering dari sebelumnya, 'kan?
So, pentengin terus kisah Glenn dan Melati, ya!
Jangan lupa vote, rate, like, dan komen.
See you, All! ❤️
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
ngilu bayang kan nya..