Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.
Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.
Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.
Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.
Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.
Selamat membaca ^_^
Follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Bagaimana Perasaanmu?
Wisnu memandang Almira lagi sebelum memutuskan untuk pergi. Memindai raut wajah tidak biasa yang nampak dari sorot matanya yang menolak beradu pandang.
Melepaskan pelukannya dan beralih duduk memunggungi Almira yang masih membeku belum beranjak pergi.
“Janji, setelah ini kita lanjutkan lagi,” lontar Wisnu membuat Almira memandang gelagapan tidak mampu menjawab.
“Kamu diam saja,” komentar Wisnu berjalan menjauhi Almira. Almira segera menyusul dan berdiri menunggui Wisnu memilih kemejanya di lemari pakaiannya.
“Iya, Mas,” jawab Almira meraih kaos yang dilepas Wisnu dari tubuhnya, menggantinya dengan kemeja sambil melirik disertai senyuman tipis ke arah istri yang nampak masih menahan rasa canggung di sampingnya itu.
“Janji?” goda Wisnu lagi.
“Janji,” jawab Almira masih menatap canggung membuat Wisnu ingin sekali tertawa dengan sikapnya. Apa semua istri bersikap malu-malu seperti itu bahkan dengan suaminya sendiri?
Wisnu menggelengkan kepalanya menahan tawa gelinya.
“Aku akan menunggu sampai kamu yang meminta duluan,” ucap Wisnu berbalik badan menuju ke arah dirinya menyimpan jam tangannya.
Almira menatap gelagapan Wisnu yang kini memunggunginya, tangannya yang bergetar halus dia tahan dengan kepalan tangannya. Menunduk menahan diri agar tidak menjawab asal.
“Bersikaplah biasa saja, aku mohon padamu, Ira. Jangan memaksakan diri, walaupun memang besar harapanku agar kamu bisa segera sembuh dari rasa trauma itu dan bisa menerimaku selayaknya suamimu,” seloroh Wisnu membalik badan dan meraih pundak Almira yang membeku.
Almira menatap pundak dimana jemari tangan Wisnu berada di atasnya, menepuk pelan agar dirinya paham. Almira segera mengangguk.
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Depe? Katakan padaku, agar aku bisa melindungimu? Kenapa kamu cemas sekali mendengar kabarnya?” tanya Wisnu menundukkan tubuhnya hingga bisa sejajar dengan Almira. Wajahnya bisa sejajar hingga bisa memandang jelas wajah istrinya.
“Dia … dia kakak kandung mas Bagus,” jawab Almira memandang Wisnu sambil menggigit bibir bawahnya.
Wisnu menghela napasnya dan menghembus perlahan. Menurutnya itu bukanlah masalah dimana Almira harus merasa khawatir juga untuk keselamatan Depe. Wisnu merasa kegelisahan ini lebih dari itu.
“Kamu mengambil fotoku untuk apa?” tanya Wisnu merasa penasaran dengan beberapa caption di dalam album.
“Itu, kak Depe yang menyuruhku, aku baru lulus SMA dan bermain-main ke Kota untuk mencari perguruan tinggi. Dia menyuruhku mencuri foto saat kalian berdua jalan-jalan di sana," jawab Almira jujur dan memandang Wisnu dengan malu-malu.
“Apa kamu naksir juga denganku?” tanya Wisnu gemas melihat sikap Almira yang menampilkan sisi polosnya. Dirinya lupa kalau Almira usianya memang jauh lebih muda darinya.
“Tidak, bukan seperti itu,” sanggah Almira membuat Wisnu merasa kecewa, kenapa jawabannya malah tidak.
Almira merasa tidak nyaman saat melihat perubahan wajah Wisnu setelah mendengar jawabannya. Tapi berat, saat dia harus mengakui hal yang harus dia buang jauh karena itu kesalahan.
Dengan rona wajah nampak sekali kecewa Wisnu menegakkan tubuhnya dan membalik badan untuk kembali memilih jam tangan untuk dipakainya.
“Kak Depe benar-benar menyukai Mas Inu,” ungkap Ira dengan nada sedih dan menunduk menutupi perasaannya.
“Aku sudah tahu,” jawab Wisnu sudah selesai memasang jam di pergelangan tangannya, menoleh dengan helaan napas dan melangkah pergi.
“Apa … Mas Inu juga masih menyukai kak Depe?” tanya Ira melangkah mengikuti Wisnu keluar dari kamar, menyusuri tangga menuju lantai dasar dengan langkah tergesa.
“Apa itu penting untukmu? Bukankah kamu tidak ada sedikitpun rasa cinta untukku?” pancing Wisnu dengan batin geli.
Ingin sekali menggunakan momen ini untuk mengetahui perasaan gadis ini. Permainan tarik ulur perasaan gadis cantik ini sungguh membuatnya sangat penasaran dengannya.
“Benar 'kan tidak penting? Tandanya kamu diam,” tuduh Wisnu masih berjalan menuju halaman dimana mobilnya dia parkirkan asal-asalan.
Kekesalan pada Almira karena sudah bertemu Bagus sangat mengganggu pikirannya. Rasa ditinggalkan begitu membawa traumatik tersendiri dalam dirinya. Dalam diam dia berjanji untuk tidak akan pernah ditinggalkan lagi, tapi mungkin lebih baik meninggalkan.
“Aku beneran tidak boleh ikut kesana, Mas?” tanya Almira sengan suara berharap.
“Kamu bisa saja bertemu Bagus dan bernostalgia di sana, bukankah itu hal yang akan membuatku cemburu, kalau aku marah bahaya lho?” lontar Wisnu membuat Almira menunduk cepat.
“Kalau aku bertemu Depe, apa kamu akan cemburu?” tanya Wisnu hingga Almira mendongak cepat menatap.
Dengan kerjapan mata menahan kebingungan dalam menjawab, dia memilih melengos dan menunduk menghindari tatapan mata.
“Aku penasaran, hal apa sebenarnya hingga mencoba membuka hatimu saja kamu merasa itu sebuah beban,” lontar Wisnu membuka pintu mobilnya dengan batin sedikit kesal.
Almira tidak juga memberi jawaban, dalam hati dirinya sulit sekali memberitahu hal sebenarnya, hingga akhirnya dirinya memilih diam dan membiarkan Wisnu pergi.
***
Wisnu memilih meningalkan Almira mematung dihalaman, secara jelas wajah Almira memandangnya dengan sorot mata lain, sorot mata yang bisa Wisnu pahami sebuah rasa cinta tapi berusaha dia elak dari pikirannya.
Wisnu menyadari pasti ada hal lain yang terpendam diantara Depe dan Almira, mungkin saja dengan bertemu Depe dia bisa tahu apa yang mungkin saja telah terjadi diantara mereka.
Sambil menyalakan load speaker setelah sambungan teleponnya berbunyi Wisnu meletakkan ponselnya di dasboard. Menatap lurus kedepan dimana kendaraan terasa lengang, membuat bebas bergerak menguji kecepatannya.
Memandang bangunan kota di kanan dan kiri sepanjang perjalanannya. Wisnu berdecak kagum dengan perkembangan kota ini, dua tahun sudah dia tinggal di sini.
“Hallo, Pak Inu?” jawab Ihsan menirukan gaya Almira pada bosnya, membuat Wisnu tersenyum samar.
“Aku jemput, siapkan dirimu di luar Hotel. Aku sudah dekat,” ucap Wisnu dengan nada suara jelas.
“Mau kemana?” tanya Ihsan dengan suara terdengar lebih gaduh, mungkin saja dirinya saat ini sedang meeting.
“Menemaniku jalan-jalan,” jawab Wisnu asal.
“Siap, Pak.”
Wisnu menutup sambungan teleponnya dan membelokkan kendaraannya ke arah Hotel, memilih memarkir di badan jalan hingga security mendekati mobilnya.
“Siang, Pak. Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya security membungkukkan badannya ke arah jendela kaca.
“Hanya mampir, keadaan aman, bukan?” tanya Wisnu membuka kacanya.
“Aman, Pak,” jawab Security itu dengan suara tegas.
Nampak Ihsan berlari kecil menuju tempat dimana Wisnu memarkir mobil, saling menyapa dengan security itu dan masuk ke dalam mobil Wisnu dengan berganti posisi terlebih dahulu. Kali ini Ihsan yang menyetir.
Saling memandang dengan senyuman terpendam, saling memberi kekuatan hanya lewat sorot matanya.
Pikirannya melayang jauh, kepada hidup yang dengan Ihsan dia membaginya dimasa sulitnya, pria sepantaran usianya ini. Apa kini setelah berumah tangga dirinya bisa juga melakukannya? Wisnu menghela napasnya.
“Kita mau kemana, Pak?” tanya Ihsan menoleh sejenak ke arah Wisnu.
Dia berusaha tidak terlalu jauh bertanya, todak terlalu jauh terlibat. Tapi akan sangat senang saat Bosnya itu bersedia membagi rasa beban yang menghimpitnya, sekedar teman berbicara tanpa bisa memberi solusi apa-apa. Wisnu selalu pandai mengatasi segalanya sendirian terlepas bagaimana perasaannya saat itu.
“Ke Rumah Sakit,” jawab Wisnu dingin menatap jendela.
“Siapa yang sakit?” tanya Ihsan kaget, dirinya merasa semua orang baik-baik saja kenapa harus ke rumah sakit siang-siang begini.
“Depe sakit, aku pernah ceritakan tentangnya apa kamu ingat?” ucap Wisnu menyandarkan bahunya di sandaran.
Ihsan mengangguk dan fokus lagi menyetir, pikirannya ikut hanyut juga. Kenapa Wisnu harus menjenguk? Apa itu harus?
Ihsan merasa itu bukan hal yang patut dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Bertemu lagi dengan wanita masalalu bukan mengajak istri malah assisten.
“Jangan berpikiran macam-macam,” oceh Wisnu merasa Ihsan pasti sedang berpikiran aneh dengan sikapnya ini.
“Et dah! Apa Pak Wisnu orang sakti ya? Bisa membaca pikiran saya?” sahut Ihsan membelalak mata.
Wisnu hanya tersenyum menanggapi.
“Ira yang menyuruhku datang,” jawab Wisnu jujut.
“Gila ya?” serobot Ihsan cepat.
“Kamu menyebut istri Bosmu gila?” decak Wisnu segera diberi kekehan Ihsan mengibas jemari tangan kirinya menyanggah.
“Maaf, Pak. Maksud saya, masa Neng Ira nyuruh suaminya menengok mantannya,” jawab Ihsan masih meringis tawa.
Wisnu ikut mengulum senyuman ironi, merasa berjuang sendiri dengan perasaannya. Haruskah hanya berlandas sebuah keberuntungan saja? Wisnu memukul ringan lututnya.
“Depe kakak kandung Bagus. Dia menjadi khawatir karena itu,” ungkap Wisnu menjelaskan.
“Lalu apa yang membuat Anda merasa bimbang?” lontar Ihsan masih fokus menyetir.
“Aku tidak bimbang,” sanggah Wisnu menyela pikiran salah Ihsan.
“Raut wajah Anda, Tuan Wisnu,” tuduh Ihsan dengan telunjuk menunjuk ke arah Wisnu walau tatapan matanya masih fokus ke arah jalanan.
“Aku sungguh tidak bimbang tentang perasaanku sendiri. Sudah jelas, apa yang aku rasakan pada Almira sama seperti yang ku rasakan dengan gadis bernama Isna.”
“Lalu apa masalahnya?” tanya Ihsan merasakan sorot kebimbangan Wisnu begitu nyata.
“Depe masih menyukaiku, dan aku bimbang dengan masalah yang timbul setelah ini. Dia sedang berguncang. Aku tidak mau masalah ini menyita waktuku. Aku tidak mau ada rumor beredar dengan ini semua.”
“Saya paham, Pak.”
“Kamu paham, tapi tidak semua paham. Aku terpaksa menjenguknya karena Almira yang meminta,” ungkap Wisnu diberi anggukan kepala Ihsan.
“Jangan berpikir terlalu jauh dulu, Pak. Kita temui dulu dan kita lihat seperti apa keadaanya.”
Hening.
Mereka memilih diam, tidak mau melanjutkan lagi percakapan yang malah melebar kemana-mana. Bahkan mungkin saja benar kata Ihsan. Pikirannya terlalu jauh, terlalu buruk.
Dua jam perjalanan sudah mereka tempuh. Ihsan memilih parkir di tempat kosong diantara mobil yang sudah berjajar rapi disana.
Segera turun menyusul langkah Wisnu yang terlebih dulu keluar. Ihsan harus berlari kecil mensejajari langkahnya.
“Kamarnya dilantai empat, Juna memberi informasi tadi lewat pesan.”
Ihsan mengangguk dan membuka pintu kaca pemisah menuju ruangan lain. Mereka bergerak memilih memakai lift, menunggu sejenak hingga pintu lift terbuka.
Langkahnya terhenti saat hampir bertubrukan dengan sosok pria yang jelas bisa Wisnu pastikan adalah Bagus.
Sambil menyingkir menggeser kakinya memberi jalan untuk Bagus agar melewatinya nyatanya pria itu menebar tatapan mata tajam ke arahnya.
“Bagaimana rasanya? Merebut wanita orang dengan memeperkosanya dan menikahinya paksa, Tuan Wisnu?” tanya Bagus dengan senyuman sinis yang dia tebar.
Beberapa orang yang hendak keluar masuk lift menatap kedua orang yang terlihat bersitegang di depan lift.
Rona wajah Wisnu memerah, Ihsan bisa melihat daun telinga Wisnu ikut memerah mendengar lontaran pria asing itu di tempat umum. Tangannya mengepal erat dengan sorot mata tak kalah menajam.
“Kau mau menemui kakakku? Dan mengabarkan pernikahanmu dengan Ira, begitu? Breng*k tengik?” lontarnya dengan rahang mengeras mendorong pundak Wisnh hingga terdorong mundur selangkah.
Wisnu masih menahan dirinya, masih memandang tajam, kemana arah tujuan pembicaraan pria asing ini di hadapannya.
Bersambung …
Maaf terlambat update yaa … real life menyita waktuku untuk menulis.
Mau curcol dikit juga hehe … aku udah ngetik 1700 kata tinggal up tiba2 ilang huhuhu jadinya mood ambyar. Terpaksa ngetik ulang dan hasilnya terasa beda.
Semoga feelnya dapet ya, dan terimakasih masih menunggu Mamas Inu sama Embak Ira. Loveku untuk kalian.
❤Coming Soon guys, projek kami Trio Somplak and the Gank. Antisipasi waktu terbitnya yaaa❤
Salam dariku~Syala yaya🌷🌷