Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Hingga Senja menegang kala suara aneh tiba-tiba terdengar. Ia sontak menoleh ke belakang, arah sumber suara.
"Siapa di sana?"
Mata Senja menyipit, menangkap sebuah pergerakan siluet di antara kabut. Ternyata seekor monyet yang keluar dari semak- semak, lalu memanjati salah satu pohon.
Senja menghela napas lega, tapi juga cemas. Lega karena binatang itu sepertinya tidak berniat menyerang, cemas karena tak tahu jalur.
Kabut memang datang tanpa aba-aba. Awalnya hanya tipis, seperti hembusan napas dingin yang lewat sebentar lalu pergi. Senja masih bisa melihat batang-batang pohon di sekelilingnya, masih bisa membedakan mana jalur yang ia lewati tadi. Namun semakin lama, kabut menebal. Jarak menyempit. Suara hutan meredam. Dunia terasa mengecil, seolah hanya tersisa dirinya sendiri.
Senja kembali berhenti melangkah. Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia memutar badan perlahan, ke belakang, ke samping, lalu ke depan lagi. Semuanya tampak sama. Pohon-pohon berdiri kaku seperti bayangan kembar. Tanah lembap dan licin. Tidak ada penanda. Tidak ada jejak kaki.
"Tenang…," bisiknya lagi pada diri sendiri, kendati mulai kebingungan juga.
Ia kembali mengeluarkan ponsel. Dan hasilnya masih sama. Tidak ada sinyal. Benar-benar tidak ada. Bahkan satu bar kecil yang biasanya muncul samar pun tak terlihat. Senja menelan ludah dan memasukkan kembali ponsel itu ke saku, seolah dengan begitu rasa takutnya bisa ikut tersembunyi.
Ia melangkah lagi. Pelan dan hati-hati. Seperti caranya berjalan di rumah orang, takut salah pijak, takut meninggalkan bekas, takut merepotkan. Dia selalu begitu. Sisi people pleaser pada dirinya seakan sudah berakar tunggang.
Beberapa menit kemudian, Senja sadar ada yang tidak beres. Udara terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Jaket yang ia kenakan tak lagi cukup. Ujung jarinya mati rasa, seperti disentuh es terlalu lama. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan gemetar.
Langkahnya melambat karena setiap persendian kakinya terasa kaku dan ngilu.
Badannya terasa ringan, meski kepala terasa berat. Seperti ada tekanan dari dalam. Napasnya memendek, tak lagi teratur.
"Jangan panik," gumamnya.
Ia terus berjalan tanpa benar-benar tahu ke mana. Yang ia tahu hanya satu, ia tidak ingin kembali. Tidak ingin melihat wajah Deka. Tidak ingin mendengar suara Jelita. Tidak ingin berdiri di tengah rombongan dan berpura-pura baik-baik saja.
Ia memilih menjauh, meski arah itu mungkin salah.
"Ahk!"
Senja tersandung akar pohon hingga terjatuh. Lututnya menghantam tanah, menciptakan rasa perih yang membuatnya meringis. Ia duduk, menarik napas pendek-pendek.
Air mata akhirnya jatuh. Bukan isakan. Hanya jatuh pelan, satu per satu, membasahi pipi yang dingin.
"Kenapa aku selalu gini… Kenapa aku selalu milih diem. Kenapa... aku selalu jadi pengecut?" lirihnya berkeluh kesah.
Ia mengusap wajahnya cepat-cepat. Seolah takut ada yang melihat. Padahal hutan tak peduli. Hutan tidak menghakimi, tapi tidak pula menghibur.
Saat bersamaan ia mendengar suara. Seperti langkah kaki. Bukan dari belakang. Tapi, dari samping.
Senja menegang. Seluruh tubuhnya yang sudah kaku kian kaku. Jantungnya berdegup begitu keras sampai telinganya berdengung. Ia berdiri perlahan, lalu mundur satu langkah.
"Halo?" Senja mencoba memastikan. Meski suaranya nyaris tak terdengar.
Langkah itu berhenti.
Kabut bergerak, terbelah perlahan. Dari balik pepohonan, muncul sosok laki-laki tinggi. Jaket gunung gelap, ransel besar. Wajah dewasa dengan rahang tegas Rambutnya sedikit berantakan. Alisnya mengernyit saat melihat Senja.
"Kamu," katanya. Suaranya rendah dan dingin. Bukan marah, tapi jelas tidak ramah. "Kenapa sendirian?"
Senja refleks mundur setengah langkah. Tangannya mencengkeram tali tas kecil di bahunya.
"A-aku… aku terpisah dari teman-teman," jawabnya pelan.
Pria itu menatap sekeliling, lalu kembali pada Senja. Pandangannya tajam, seperti sedang menilai situasi dengan cepat.
"Pendakian rame-rame tapi ninggalin satu orang?"
Senja menunduk. Ia tidak menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa. Mana mungkin dia akan bercerita kalau baru saja melihat perselingkuhan pacarnya, lalu lari tanpa berpikir resiko tersesat.
Pria itu menghela napas. "Nama kamu?"
"Senja."
"Umur?"
"Delapan belas."
Raut pria itu berubah. Bukan kaget, lebih seperti... frustasi.
"Sagara," katanya kemudian. "Tiga puluh."
Senja mengangguk kecil.
Mereka berdiri canggung, dipisahkan jarak satu meter yang terasa seperti jurang. Kabut menelan pengelihatan, angin makin tajam.
"Kamu tahu jalur turun?" tanya Sagara.
Senja menggeleng.
Sagara mengumpat pelan. "Sial."
Ia menoleh ke arah lain, memeriksa peta kecil di tangannya. Senja memperhatikan diam-diam. Gerakan pria itu kaku, tidak seluwes pendaki berpengalaman.
"Kamu sering naik gunung?" tanya Senja lirih.
Sagara terdiam sejenak. "Baru pertama."
Senja terkejut, tapi tidak berkomentar.
"Kamu?"
"Pertama juga," jawab Senja jujur.
Sagara tertawa sumbang. "Hebat. Dua pemula nyasar bareng."
Sagara mengangguk. Matanya cepat memindai sekeliling. Kabut makin rapat. Angin menusuk kulit.
"Kita nggak boleh jalan sembarangan," ujarnya. "Kalau salah arah, bisa makin jauh tersesatnya."
"Iya," jawab Senja. Selalu iya.
Mereka berjalan berdampingan, tapi tidak terlalu dekat. Tidak ada obrolan. Hanya suara langkah kaki dan napas yang makin berat.
Beberapa menit kemudian, Senja mulai tertinggal.
"Kamu capek?" tanya Sagara.
"Enggak," jawab Senja terlalu cepat.
Sagara berhenti. Ia menoleh, lalu menatap Senja lama.
"Kamu gemetar."
Senja baru sadar giginya beradu. Ia memeluk tubuhnya lebih erat. "Sedikit dingin aja."
Sagara membuka ranselnya, mengeluarkan syal tipis, lalu menyodorkannya.
"Pakai."
Senja menggeleng panik. "Nggak usah, Om."
Panggilan itu keluar begitu saja. Tapi Sagara hanya mengangguk kecil.
"Pakai," ulangnya, lebih tegas.
Senja akhirnya menurut.
Langkahnya semakin goyah. Pandangannya berkunang. Tanah terasa tidak stabil.
"Kita berhenti," kata Sagara.
Mereka berteduh di balik batu besar. Angin berdesir kencang. Senja duduk, memeluk lututnya. Tubuh kecilnya bergetar hebat.
Melihat itu Sagara jongkok di depannya. Wajahnya berubah serius.
"Kamu mulai kena hipotermia."
Senja mengernyit lemah. "Aku… aku hanya kedinginan."
"Justru itu bahayanya."
Ia membuka jaketnya, ragu sesaat, lalu membungkus badan Senja tanpa menyentuh langsung.
"Kamu harus tetap bangun. Jangan tidur."
Senja mengangguk pelan. Namun, kelopak matanya terasa berat.
"Om…" panggilnya lirih.
"Ya."
"Kalau aku tidur… bangunin ya."
Sagara menegang. "Jangan tidur," katanya keras. "Aku nggak bisa bangunin kamu kalau kamu menyerah."
Tak mampu menahan, Senja memejamkan mata.
Sagara mengguncangnya. "Senja! Buka mata!"
Gemetar Senja makin parah. Bibirnya membiru.
Sagara menatap sekeliling. Tidak ada sinyal. Tidak ada api. Tidak ada pilihan aman.
Ia menelan ludah. "Sial..."
Tangannya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena sebuah pilihan yang harus segera diputuskan di waktu yang tepat.
"Ayo Sagara... lakukan sesuatu," gumamnya.
Senja tidak mendengar.
Kabut makin tebal.
Napas Senja semakin dangkal.
Kelopak matanya terkatup rapat, bulu matanya basah oleh embun atau air mata, Sagara tak yakin. Bibir itu bergetar, mengucap sesuatu yang tak lagi bisa ia dengar.
"Senja," panggilnya lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih dekat.
Tidak ada jawaban.
Dada Sagara terasa dihimpit bebatuan raksasa. Detik-detik berlalu terlalu cepat, sementara pikirannya dipenuhi satu kesadaran yang membuat tengkuknya dingin bukan karena cuaca.
Jika ia salah mengambil langkah berikutnya, nyawa Senja yang dipertaruhkan.
Malam di gunung itu belum benar-benar kelam. Angin meraung tajam. Kabut tebal berselimut suram.
Namun Sagara tahu, keputusan yang akan ia ambil sebentar lagi akan menyeret mereka ke wilayah yang tak lagi bisa ditarik kembali.
Bersambung~~