Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
Ahimsa masuk menyusul Sevim ke dalam kamar. Sayangnya, Sevim mengunci pintu untuk menghalangi suaminya. Sepertinya, benar dugaan Himsa jika istrinya itu tengah merajuk.
"Se..., buka dong...,Aa' mau masuk..",
"Aa' tidur aja di kamar sebelah...",
"Nggak bisa tidur.., guling Aa' ada di dalam...",
Tidak ada sahutan lagi. Tanpa diduga, Sevim membuka pintu.
"Gitu dong.., kenapa ngambek..",
"Aa' nggak bisa tidur ya di kamar sebelah. Nih gulingnya, biar nyenyak tidurnya..", Sevim meraih tangan Himsa, lalu memaksa suaminya untuk menerima guling yang dia berikan.
Jederrrr...., ceklek ceklek.
Sevim masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamarnya kembali. Ahimsa berdiri mematung, melihat tingkah absurd istrinya.
"Se.., buka..., bukan guling ini yang Aa' maksud...., Aa' nggak bisa tidur kalo nggak ada kamu. Aa' udah mulai terbiasa kalo tidur selalu pelukin kamu..., ayo buka...",
Sepertinya rayuan Ahimsa tidak mempan. Sevim tetap tidak mau membuka pintu. Ahimsa yang memang tidak peka penyebab ngambeknya Sevim, atau memang istrinya yang terlalu sensitif?
Sampai makanan yang dibelinya datang, Sevim tak kunjung mau keluar. Padahal, Ahimsa tahu betul jika istrinya belum makan dari siang. Karena harus menunggu adiknya yang sakit.
Ahimsa mencoba membujuk Sevim, kali ini dengan mengiming-imingi dengan makanan.
"Se..., makanan yang kamu pesan.., udah dateng. Nih.., Aa' udah siapin..,kamu belum makan dari tadi.., pasti laper kan?,"
Berhasil, Sevim mau membuka pintu. Tapi hanya mengeluarkan tangannya saja.
"Mana..",
"Buka dulu pintunya...",
"Nggak mau.., Sevim mau makan di dalam aja..",
"Kok kayak anak kecil sih..",
Ahimsa mencoba memaksa Sevim untuk membuka pintu dengan mendorong dengan badan.
"Aa'...., nggak boleh masuk...",
"Kenapa? ini kamar Aa' juga kok..", ucap Himsa dengan duduk di Sofa.
Sevim masih merengut, melihat suaminya yang dengan lahapnya makan. Sevim mendekati Himsa dan duduk disampingnya.
"Enak banget kwetiaw nya..., hmmmmm...",
Mulut Sevim menganga serasi dengan gerakan mulut Himsa yang membuka.
"Enak banget..",
"Itu kan punya Sevim..",
"Mau..?",tawar Himsa.
Sevim mengangguk cepat.
"Ayo buka mulutnya..",
"Sevim bisa makan sendiri..",
"Ayo..buka mulutnya.., cepetan...",
Setelah Sevim membuka mulutnya, Ahimsa menyuapkan kwetiaw. Ahimsa tersenyum lebar, melihat Sevim yang langsung mengunyah dengan mulutnya yang penuh. Istrinya seperti orang yang belum makan berhari-hari. Bisa jadi Sevim memang sangat lapar, atau karena ini memang ini makanan kesukaannya.
"Lagi..?",tanyanya.
"Huum...",
"Enak juga ternyata..", ucap Himsa dengan ikut menikmati.
"Ini punya Sevim Aa'...",
"Punya kamu punya Aa' juga..",
"Aa' kan nggak suka makanan kayak gini.., tadi kan udah Sevim pesenin nasi..",
"Nggak ada.., yang datang ini semua..",
"Masa sih? tadi Sevim pesanin Aa nasi loh..",
"Nikmatin yang ada aja.., cepatan buka lagi mulutnya..",
"Hmmmm..., ini buat Sevim aja ya..Aa' makan yang satunya..",
"Udah Aa' jadiin satu dipiring ini...",
"Ya udah.., berarti Aa' ambil sendok lagi..",
"Kamu tuh udah dilayanin sama suami, tapi masih aja nyuruh-nyuruh..",
"Minta tolong Aa'.. bukan nyuruh..",
"Kamu aja yang ngambil.., emangnya Aa' nggak tau? Aa' keluar dari sini, udah pasti kamu kunciin lagi..",
"Tau aja..", gumam Sevim yang langsung keluar. Dia mengalah mengambil sendok untuk makan malamnya.
Menikmati makan malam, sepiring berdua. Mereka seperti dua sejoli yang sedang dilanda asmara. Meskipun, diantara keduanya mengaku belum merasakan cinta. Entah memang belum ada atau belum menyadari rasa.
"Habis.., kenyang banget...", ucap Himsa dengan mengelus perutnya.
"Aa' kalo nanti sakit perut gimana? Sevim yang kelaperan, Aa' yang makanya banyak..",
"Enak Se...,
Beresin gih.., terus tidur..",
"Ya udah, Aa' aja yang naruh di dapur. Nggak usah di cuci, biar besok Sevim aja yang nyuci..",
"Nggak.., Aa' udah tau maksud kamu.., mau ngunciin Aa lagi kan? biarin aja nih piring kotornya disini..Aa' capek mau tidur.."
Dengan tatapan matanya yang memicing, mulutnya yang mengerucut, Sevim berdiri. Bukannya terlihat menyeramkan, justru terlihat lucu bagi Himsa. Selain tukang ngambek, ternyata Sevim juga tukang marah.
Sevim tidur dengan membelakangi Ahimsa yang masih asyik menonton Televisi. Sevim bahkan tidak mempedulikan Ahimsa yang mengajaknya mengobrol. Sevim memang masih kesal dengan kedatangan Rosy ke Apartement mereka.
"Kamu ngambek? kenapa sih Se..?",
"...................",
"Beneran nggak mau ngomong? Aa' minta maaf...",
"..................",
"Jangan ngambek cantik.., tadi kan baru romantis makan sepiring berdua, kenapa sekarang ngambek lagi..?",kali ini Ahimsa tidak tinggal diam. Mengatur posisinya, dan memeluk tubuh Sevim dari belakang dengan sangat erat.
"Aa' minta maaf..", ucap Ahimsa memeluk Sevim tambah erat hingga tak ada jarak diantara mereka. Sevim bahkan bisa mendengar hembusan nafas Ahimsa dari balik telinganya.
"Sevim nggak suka..",
"Iya..Aa' tau Se.., ini diluar kendali Aa..",
"Aa' boleh ketemu sama dia , tapi nggak disini. Sevim nggak mau liat dia disini, tempat tinggal kita..",
"Kamu rela Aa' ketemu sama dia lagi?",ucapnya halus.
"Kalo Aa' mau kayak gitu, Sevim bisa apa?",
"Tapi Aa' suami kamu.., kamu istri Aa'..",
"Tapi Rosy pacar Aa', iya kan..?",
"Se..liat Aa sini..",
Sevim enggan membalikkan badannya. Dia malah menenggelamkan wajahnya pada guling yang dipeluknya erat.
"Aa' nggak tau kalo dia kesini..",
"Dulu sebelum kita nikah, pasti dia sering kesini kan?", tanyanya.
Ahimsa diam, apa yang dikatakan Sevim memang benar. Apartement ini adalah tempat Ahimsa dan Rosy untuk bertemu. Namun, selalu ada bodyguard yang tetap mengawasi Himsa.
"Kenapa diem? iya kan? ",
"Iya...",
"Pantesan..",
"Aa' nggak pernah macem-macem sama dia Se..",
"Aa' bohong pun, Sevim nggak tau. Kalopun macem-macem juga nggak ada masalah..",
"Jangan gitu Se..., Aa' minta maaf..",
"Tadi cuma garem yang Sevim taruh di minumannya, belum sianida..",
"Jangan sayang.., kamu bukan Jessica, dia bukan Mirna..",
"Asal Aa' tau, seumur-umur Sevim baru pertama kali ini jahatin orang, karena dia jahatin Sevim duluan.., Sevim ini istri Aa', bukan pembantu..",
"Iya.., dia begitu karena mau bikin kamu cemburu.."
"Ngapain coba cemburu sama dia..",
"Udah ya ngambeknya. Aa' kan udah minta maaf sama kamu..",
"Iya...dimaafin.., tolong bilangin sama pacar Aa', nggak usah kesini lagi.., disini kandang singa.., suruh jauh-jauh kalo nggak mau jadi santapan..",
"Iya cantik..",
Mendapatkan maaf dari Sevim. Ahimsa berusaha mengajak Sevim masuk ke dalam gejolaknya dengan menciumi tengkuk leher istrinya. Ciuman, disertai kecupan kecil disertai sapuan halus dari lidahnya. Akhirnya mampu meruntuhkan dinding pertahanannya.
"Aa'.., masih sakit...",
"Ini nggak sesakit waktu pertama.., tahan ya..",
Keributan kecil diantara mereka berubah menjadi keributan di atas ranjang yang dilakukan sepasang pengantin baru.
Tubuh Sevim lelah, semalam dia dieksekusi habis-habisan oleh Ahimsa. Jika saat pertama kali melakukannya, tubuhnya dibawah pengaruh obat laknat. Lain halnya dengan semalam, Sevim melayani suaminya dengan sadar. Tubuhnya beraksi alami menerima sentuhan dan cumbuan dari suaminya. Bukan karena pengaruh obat yang dia minum, tapi karena Ahimsa yang memperlakukannya dengan sangat lembut. Sevim merasa diagungkan dan diratukan.
Ahimsa keluar dari dalam kamar, dengan rambut setengah basahnya. Dia menghampiri Sevim yang sibuk di pantry untuk mencuci perabotan kotor bekas makan semalam. Meskipun keributan berakhir dengan manis, namun anehnya wajah Sevim masih terlihat kecut. Ahimsa menghampirinya dan langsung memeluk tubuh istrinya.
"Cantik..,makasih untuk semalam..", bisiknya.
Sevim tidak menjawab, dia masih melanjutkan kegiatannya mencuci.
"Kenapa sih? semalam kan Aa' udah minta maaf sama kamu, jangan ngambek lagi..", ucapnya lagi, kali ini dengan mencuri sebuah ciuman yang dia sematkan pada pipi sang istri.
"Tuh udah dicari..", jawab Sevim dengan mengarahkan pandangannya pada Sofa. Disana sudah ada perempuan sexy yang duduk dengan menikmati secangkir minuman. Spontan, Ahimsa langsung melepas pelukannya.
"Se.., kamu nggak naruh sianida beneran diminumannya kan?", bisik Ahimsa.
"Nggak.., dia bawa gula sendiri...",
"Syukurlah..",
"Kenapa? Aa' seneng ya pacarnya nggak diracunin?",
"Bukan gitu.., tapi Aa' nggak mau aja kamu nekad..",
"Mau Sevim yang usir, atau Aa yang usir dia dari sini..?", tantang Sevim.
"Iya..iya.., Aa' aja yang suruh dia pergi. Kamu disini aja..",
Ahimsa sampai tidak sadar dengan keberadaan Rosy di Apartementnya. Baru saja semalam berbaikan dengan Sevim, harus di rusak oleh kedatangan Rosy, lagi. Kesal, Ahimsa langsung menarik tangan Rosy.
"Udah aku bilang berapa kali sih.., jangan kesini lagi..",
"Beb.., aku kangen. Udah berapa kali aku telepon, aku WhatsApp juga nggak ada balasannya..",
"Aku udah punya istri, stop nggak usah ganggu lagi..",
"Aku nggak mau..., aku sayang sama kamu..",
"Stop ya.., udah..., sekarang kamu pulang..",
Ahimsa menuntun Rosy menuju pintu. Saat membukanya, Ahimsa kaget. Sudah ada maminya yang berdiri disana.
"Mi.., mami kok disini..?",
Maminya hanya diam, beliau memandang tajam Rosy dan anak laki-lakinya.
"Mami mau masuk..", ucapnya mendorong Ahimsa dan Rosy yang menghalangi jalannya.
Sebentar lagi sudah dipastikan, Ahimsa akan mendapatkan masalah besar. Sadar akan resikonya, akhirnya Ahimsa masuk kembali menyusul maminya yang menyeret sebuah koper.
"Mi...", Sevim tergopoh, dia langsung menghampiri mami Anin dan langsung menyalaminya.
"Kamu baik-baik aja..", tanyanya.
"Iya, Sevim baik-baik aja. Mami kok ada disini? Mami udah sembuh..?",
"Ikut mami aja yok.., kita tinggal di Apartement mami, ada di bawah...",
"Mi.., Sevim tinggal disini sama Himsa..",
"Tadinya Mami mau numpang disini untuk sementara. Tapi, liat kelakuan kamu barusan, mami jadi berubah pikiran. Mending Sevim ikut tinggal sama Mami aja di bawah..",
"Tapi, Himsa suaminya Sevim, Himsa yang berhak..",
"Kamu suami? udah punya istri? tapi kok ada perempuan lain yang kamu bawa ke sini Him.., kamu mau tinggal di Apartement biar bisa bebas bawa pacar kamu kesini, gitu Aa'..?",
"Nggak Mi.., bukan Himsa yang bawa dia kesini..",
"Mami nggak percaya.., Sevim ikut mami aja..",
Mami menggandeng tangan Sevim, dan membawanya keluar dari Apartement Ahimsa. Sevim tidak menolak, dia juga kesal karena terus-terusan diganggu oleh mbak Kunti versi dunia nyata.
"Mi.., jangan bawa Sevim mi..
Se..sayang.., jangan mau Se..",
"Kamu berdoa aja..semoga Sevim masih mau sama kamu Aa'..", ucap Maminya. '
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl