NovelToon NovelToon
Witch Hunter

Witch Hunter

Status: tamat
Genre:Perperangan / Action / Fantasi / Akademi Sihir / Iblis / Light Novel / Tamat
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayanagi Souma

Penyihir

Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.

Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.

Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.

Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.

Kini saatnya untuk memburu penyihir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 –[ Transmigrasi Jiwa ]–

"FANG!!!"

Grand Witch menjerit keras. Melesat bangkit kembali, menerjang Fang, meluncur terbang dari celah tebing.

BUM!

Melancarkan pukulan berdentum. Fang sempat menangkisnya sehingga dampak serangannya berbelok ke bawah. Membuat kawah di tanah.

Fang menghentakkan kaki, mencecar Grand Witch tanpa ampun. Bertubi-tubi memberi tebasan, dengan gesit Grand Witch tepis dan tangkis. Berjual beli serangan.

SLASH! SLASH!

"Woah, pria itu benar-benar bersemangat menghabisinya sekarang." Enlai berucap sendiri sembari berlari mengejar kedua ayah anak itu bertempur di tanah atas gunung, lalu pindah ke langit. Bertarung epik di udara. Kecepatan mereka tak bisa diikuti oleh mata, saking cepatnya terlihat seperti dua titik yang terus berembuk memberi serangan dan membalas serangan.

SLASH! SLASH!

BLAR!

Grand Witch sengit menyerang Fang dengan tinju berapi hitam. Setiap pukulannya berdentum kencang, membuat angin menderu hebat. Fang juga pantang menyerah. Dia tidak henti-hentinya mengayunkan pedang. Semakin cepat, semakin kuat.

^^^"חרב חושך^^^

^^^(Pedang Kegelapan.)"^^^

Sebuah pedang besar terbuat dari api hitam padat muncul. Grand Witch menebas Fang dari atas menyamping.

SLASH! BLAR!

Tebasan disertai semburan api hitam padat telak mengenai Fang. Tebasan Grand Witch tadi membelah dua tanah, membuat ngarai berlahar sedalam dua kilometer dan Fang sedang terhempas ke dalamnya.

BLAR!

Giliran Enlai yang maju, dia memutar tongkat berapinya, membuatnya sangat besar, menghantam telak Grand Witch dari arah titik buta. Terhempas jauh. Menghantam tebing bebatuan.

BUM!

Enlai mengejarnya, Grand Witch segera bangkit, mengelak serangan kedua tongkat api raksasa. DUM! Berhasil menghindar, membalas serangan Enlai. Menebas.

BLAR!

Enlai masih sempat meliuk sepersekian detik tebasan api hitam itu mengarahnya, namun karena itu celahnya terbuka. Grand Witch segera memanfaatkan celah itu, melepas tebasan kedua.

BLAR!

Enlai telak terkena tebasan api hitam. Pinggangnya robek tidak terlalu dalam. Api hitam itu mengoyaknya, tidak padam. Enlai segera pergi menjauh dari Grand Witch. Dia butuh waktu untuk menghilangkan api hitam tersebut.

"Kau ingin lari kemana hah?"

Grand Witch mengejar, dalam sekejap di hadapan Enlai. Enlai bersiap menerima serangan karena tidak akan sempat menghindar. Mengangkat tongkat berapinya. Memasang pertahanan.

SLASH!

BUM!

Grand Witch terpental jauh, menghantam batu besar. Berdebum, mengepul debu. Dia terkena telak tebasan Fang. Meludahi darah hitam ke samping.

"Fiuh, itu hampir saja. Trims kawan!" Enlai menyengir melihat Fang mengacungkan jempol singkat. Lalu lanjut mengejar Grand Witch yang terhempas jauh.

Tidak beri jeda, Fang kembali merangsek lawannya. Grand Witch terkesiap, reflek menangkisnya dengan pedang api hitam besarnya.

TRANG!

Bergema suara dentingan. Berdentum suara tebasan. Bergelombang suara getaran. Mereka baku hantam pedang di atas kawah tanah yang panas. Cepat sekali berjual beli tebasan.

TRANG! TRANG! TRANG!

"HATI-HATI!" Enlai berseru memberi isyarat pada Fang.

"Jurus tongkat berapi; 天堂般的打擊

Tiāntáng bān de dǎjí! (Hantaman surgawi!)"

Sebuah tongkat raksasa terbuat dari api siluet hijau padat muncul dari langit, menghujam Grand Witch dari atas. Fang segera melompat menghindar ke belakang. Membiarkan serangan telak mengenai Grand Witch.

DUM!

Grand Witch terhenyak ke dalam tanah tiga kilometer. Dalam sekali, seperti lubang sumur berdiameter sekitar tiga puluh meter. Dengan kedalaman tiga kilometer dalamnya.

Grand Witch menjerit keras. Dia sangat marah kali ini.

"Oh tidak, aku membuatnya lebih mengamuk."

***

"Merepotkan sekali makhluk-makhluk neraka ini. Mereka tidak ada habisnya bermunculan." Chao sibuk memenggal kepala makhluk dari neraka. Ular raksasa dengan sisik tajam yang menyemburkan api hitam muncul. Dia melata cepat sembari berderik mengerikan.

"Teknik pedang pertama; 水平斜線

Shuǐpíng xiéxiàn! (Tebasan Horizon!)"

Dalam satu hentakan, Chao membelah ular itu menjadi dua seperti membelah perut ikan. Dia sudah dekat dengan gerbang Gehenna. Sepuluh meter, dia bersiap melompat tinggi. Menginjak mayat-mayat makhluk neraka raksasa. Menghentakkan kaki, melompat terbang ke atas gerbang Gehenna. Portal hitam itu akan terbelah!

Chao mengangkat pedangnya. Bersiap menebas ke bawah.

"Teknik tebasan dimensi; 时间分割斜线

Shíjiān fēngē xié xiàn! (Tebasan Garis Miring Pemisah Waktu!)"

Pedang waktu Goujian mengiris Gerbang Gehenna itu. Perlahan membelahnya, hingga sedikit lagi portal diameter dua kilometer itu akan terbelah ...

BUK!

Aduh, Enlai sekali lagi entah mengapa malah terhempas menubruk Chao yang tengah membelah gerbang Gehenna. Chao mendengus kesal, menggeram marah.

"Enlai! Bisakah kau mencari tempat bertempur lebih baik? Lihat oleh matamu! Gerbang Gehenna hampir hancur dan sekarang kembali menyatu. Kau sangat menyebalkan."

Chao melempar tubuh Enlai agar menjauh dari badannya. Enlai tersungkur dibuatnya. Bangkit berdiri, menepuk baju yang kotor oleh tanah dan basah oleh salju. Terkekeh.

"Grand Witch melemparku ketika melihat gerbang Gehenna tengah di belah. Dia hebat sekali bisa akurat melempar badanku dari jarak sepuluh kilometer." Enlai mencari alasan, memasang wajah sok serius.

"Argh! Aku bisa stress karena mempunyai rekan seperti mu." Chao mendengus kesal, "Tugasmu hanya satu Enlai, alihkan perhatian anak itu selagi aku menghancurkan gerbang. Apa itu terlalu sulit untukmu?" Geram sekali wajahnya, dibalas cibiran mengejek oleh Enlai. Mengisyaratkan menggunakan tangan.

"Nye Nye, kau coba sendiri lah Chao. Tugasku lebih sulit dibandingkan denganmu yang hanya membelah gerbang menjadi dua." balasnya ketus. Membuat Chao menyeringai tak terima.

"Kita tukar tugas kita. Aku mengalihkan perhatian, kau menghancurkan gerbang Gehenna." Chao segera melesat berlari meninggalkan Enlai yang berseru.

"Hei! Bagaimana caranya menghancurkan gerbang Gehenna itu?!"

"Kau cari tahu sendiri!"

Enlai geram melihat kelakuan rekannya itu. Sepanjang sejarah, hanya pedang Goujian yang bisa membelah dimensi. Kecuali dia menggunakan sihir hitam yang digunakan Grand Witch baru bisa merusak dimensi. Aduh, apa yang harus kulakukan?

ROARRR!

Baiklah, pertama-tama. Menghabiskan makhluk-makhluk neraka terlebih dahulu.

BLAR!

***

TRANG! TRANG! TRANG!

Grand Witch dan Fang kembali beradu pedang sengit. Berdenting keras membuat percikan terang. Angin menderu hebat dibuatnya.

SLASH!

BUM!

Chao bergabung dalam pertarungan. Melukai Grand Witch. Tersayat di dada.

"Kau! Si penjagal!"

"Entah dari mana sebutan itu, namun aku harus menghargainya." Chao memasang kuda-kuda, pedangnya di sebelah wajahnya. Bersiap menebas Grand Witch.

Grand Witch terkesiap, belum habis satu pria yang dulunya ayahnya ini, datang pula si penjagal. Merepotkan.

TRANG! TRANG!

"GRAND WITCH! KELUARLAH DARI BADAN PUTRAKU!"

BUM!

Fang benar-benar mengamuk. Lihat matanya, merah pekat. Dia benar-benar bernafsu untuk membunuh Grand Witch. Walau bermodal fisik tak terbatas dia bisa mendesak Grand Witch kesulitan mengeluarkan mantra lainnya. Memaksanya beradu pedang tanpa henti. Sedetik berhenti, Grand Witch akan terhempas sana sini. Menjadi bulan-bulanan.

SLASH!

Garis ekor emas mengiringi tebasan Chao. Telak memutus tangan kanan Grand Witch. Pedang api hitamnya terlepas. Fang segera menambah runtun serangan.

BUM!

Bagai home run, Grand Witch terhempas jauh ke langit. Fang dan Chao mengejarnya. Tak memberi kesempatan untuk meregenerasi.

SLASH! SLASH! SLASH!

Berkali-kali tebasan Fang mengenai Grand Witch. Dia terhempas kanan kiri. Chao sekali lagi hendak menebas, kali ini arah lehernya.

SLASH!

^^^"לְשַׁחְרֵר^^^

^^^(Pelepasan.)"^^^

Setengah jalan Chao menggorok leher Grand Witch, iblis satu ini membesar menjadi manusia raksasa. Tingginya menyentuh troposfer. Kali ini benar-benar seperti iblis merah. Dengan jubah merah darahnya yang terbentang kiloan meter. Menyatu dengan kulit.

Spontan Chao melompat mundur, terjun dari langit.

Grand Witch meluncurkan tinju raksasa ke arahnya. Hendak membalas serangan. Tinju raksasa itu siap menghantam Chao. Sangat besar sehingga Chao tidak bisa menghindar karena sedang terjun di udara.

Fang meloncat kilat, menyelamatkan Chao sebelum terkena pukulan raksasa.

DUM!

Bukit bebatuan berubah menjadi kawah radius dua ratus meter karena pukulan Grand Witch. Fang dan Chao mendarat jauh, lanjut berlari menjauhi Grand Witch yang super raksasa. Jangan berpikir untuk mencoba menebasnya, ukuran itu tidak akan ada yang bisa menebasnya. Bahkan melukai pun tidak. Terlebih Grand Witch memiliki kemampuan regenerasi.

Fang dan Chao berlari kembali ke pusat kota yang kini tempat gerbang Gehenna terbuka. Di belakang mereka, Grand Witch yang menjadi iblis raksasa mengejar. Berkali-kali menghantam tangan. Membuat tanah bergetar karena hantamannya. Sekali hantam kawah sebesar danau kecil tercipta. Mengerikan.

DUM! DUM! DUM!

Mari kita pergi melihat usaha Enlai untuk menghancurkan gerbang Gehenna.

BLAR!

Api bersiluet hijau membakar sebesar gunung, melahap gerbang Gehenna utuh. Makhluk neraka yang baru bermunculan seketika hangus oleh api besar itu. Sepuluh menit, lima belas menit. Enlai duduk sembari mengunyah daging makhluk neraka. Ada babi berapi dari neraka tadi. Dia jadikan babi guling. Sembari menonton api bersiluet hijau sebesar gunung miliknya berkobar membakar gerbang Gehenna yang terlihat baik-baik saja. Apinya hanya menghanguskan makhluk-makhluk yang keluar dari gerbang portal.

Apinya tidak padam walau sudah dua puluh menit berlalu. Enlai kenyang menghabiskan babi panggang dari neraka. Entah mengapa rasanya tanah kembali bergetar keras. Seakan ada yang sedang memukuli bumi.

DUM! DUM! DUM!

"Enlai, bantu kami!" Chao berteriak satu kilometer ketika melihat Enlai yang sedang bersantai duduk dari kejauhan. Telinga tajam Enlai tentu mendengar teriakan itu. Menoleh ...

Astaga!

Iblis itu beneran menjadi iblis sekarang. Dia mengangkat tongkat berapinya. Mengacungkannya ke arah Grand Witch.

"Minggir kalian berdua!"

Tongkat berapi siap di lempar. Kuda-kuda tusukan. Api bersiluet hijau berputar seperti bor raksasa di atas kepala Enlai. Sangat besar, menghabiskan luas pandangan Chao dan Fang. Melihat itu, Chao dan Fang berlari sekuat tenaga lebih cepat lagi. Bisa-bisa mereka berdua hangus terbakar Enlai.

"Jurus tongkat berapi kelima; 火龍投擲

Huǒlóng tóuzhí! (Lontaran Naga Api!)"

Dalam satu hentakan, setelah api berputar cepat seperti bor itu terkumpul. Enlai melemparkannya keras ke arah Grand Witch raksasa. Secepat kilat menembus perutnya telak!

Grand Witch terduduk setelah perutnya berlubang oleh serangan Enlai. Menjerit menggetarkan tanah, menyibak langit, meledakan udara. Tubuhnya kembali mengecil, menjadi anak kecil berumur sepuluh tahun. Dengan wajah putra Fang. Lao Tzu.

"Kita berhasil mengalahkannya?" Enlai bertanya memastikan. Mereka tidak berefek pada jeritan tadi. Di belakang mereka api sebesar gunung membumbung tinggi. Masih melahap Gerbang Gehenna yang bergeming oleh api sebesar gunung itu.

Chao menggeleng. "Dia hanya terluka dan kembali menjadi semula. Tetap fokus. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi." Baru habis kata Chao berucap. Fang melesat tidak mendengarkan. Menuju putranya di jauh sana.

"Hei!" Chao mengejar Fang berlari, disusul Enlai. Setidaknya bereskan satu masalah baru masalah lainnya.

"LAO!"

Dia memeluk tubuh anak lelaki lemah yang terduduk itu. Mengecek wajah, tangan, mata, dan rambutnya. Apa Grand Witch berhasil dikalahkan dan Lao Tzu kembali menjadi putra yang Fang kenal?

"Hei! Menjauh dari anak itu, Fang Tzu." Chao mengambil anak lelaki itu paksa dari Fang secepat kilat. Hendak menggoroknya.

"HENTIKAN!"

Fang hendak bangkit menghunus pedang, namun Enlai menghalanginya.

"MINGGIR! ATAU KUBUNUH KALIAN!" Fang benar-benar mengamuk melihat darah segar merah keluar dari leher Lao Tzu, putranya.

"Tabahlah Fang Tzu, dia bukan anakmu lagi! Dia adalah Grand Witch! Penyihir tidak akan benar-benar mati sebelum rohnya mati bersama jasadnya! Kau sangat tahu itu Fang Tzu." Enlai mendorong badan Fang agar mundur. Membuat Fang semakin marah.

"Hentikan ..."

Pedang Goujian menggorok perlahan leher putranya. Keluar darah merah segar deras, membasahi badan Lao Tzu.

"HENTIKAN!"

Dalam sekejap Fang berhasil lolos. Mengambil jasad anaknya yang terus berlumuran darah dari lehernya. Chao tidak sempat menggoroknya lebih dalam. Kaki dan tangan mereka segera bergerak hendak mengejar Fang.

Sepersekian detik, waktu berlalu. Cahaya putih lembut berpendar disekitar Fang dan putranya. Sepersekian detik Chao dan Enlai melesat. Sepersekian detik itu juga Fang menghilang. Raib. Tanpa jejak.

Splash!

"Kita kehilangan dia!" Chao berseru panik. Padahal sedikit lagi peperangan berakhir. Karena pria itu semuanya menjadi kacau. Geram tangannya, merah padam wajahnya.

"Chao, berhenti amarah. Lihat! Gerbang Gehenna menjadi lebih besar. Sekarang sebesar gunung. Portal hitam lain berdatangan!" Enlai berseru kencang, membuat Chao ikut berbalik badan. Menatap puluhan gerbang Gehenna lain yang muncul.

"Ugh! Kemana pria itu disaat kita mati-matian bertempur menahan Gerbang Gehenna!?" Chao berseru kesal. Mereka berdua berlari secepat mungkin, kembali ke tempat gerbang Gehenna. Situasi semakin berbahaya. Jika mereka gagal menahan Gerbang Gehenna itu. Raja neraka akan keluar, menghancurkan seisi bumi ...

ROAAARRR!!!

***

"Lao ... Lao, bertahanlah!"

Tubuh putra Fang satu-satunya yang tersisa itu mulai terasa dingin. Sedingin badai salju di sekitar mereka.

"Ayah?" Mata Lao terbuka perlahan, itu mata coklat yang Fang kenal. Bukan lagi mata merah darah berbentuk naga. Fang panik menekan pendarahan Lao agar berkurang menggunakan kain bajunya. Air mata berlinang deras berjatuhan.

"Lao ... Bertahanlah Lao ... Semua akan baik-baik saja ... Semua akan baik-baik saja ..." Fang benar-benar lemas, dia memeluk hangat tubuh dingin putranya itu yang semakin dingin.

"Ayah ... Apa kematian itu ... Semenyakitkan ini ...?" Patah-patah Lao berucap, bibirnya kelu pucat. Dengus nafasnya sangat lemah.

"Tidak ... Tidak! ... Ayah tidak akan membiarkanmu mati ... Lao ... Kau sudah bukan Grand Witch lagi ... Kau adalah putraku ... Tidak ... Tidak akan kubiarkan ... Ayah berjanji ..." Fang terisak tidak kuat menahan tangis. Ayolah tuhan! Berikan satu kesempatan saja agar anakku bisa hidup! Walau nyawaku adalah bayarannya! Tuhan aku mohon tuhan! Selama hidupku aku tidak pernah memohon padamu! Kali ini saja! Kabulkan permohonanku tuhan!!!

Fang meremas jarinya hingga melukai telapak tangan. Menetes darahnya ke atas gumpalan salju.

Tunggu? Baru kali ini akhirnya dia bisa berdarah. Sebenarnya dari sejam lalu telapak tangannya bisa berdarah. Bagaimana bisa? Setelah ratusan kali ingin mati? Tuhan akhirnya memberi kesempatan padaku untuk mati?

Fang memutar otak, melihat wajah putranya yang semakin pucat dan beku.

Dia harus mencari cara agar nyawa anaknya bisa bertahan hidup. Berpikir, mengingat-ingat semua pelajaran sihir yang pernah dia pelajari.

Satu detik, sepuluh detik. Akhirnya Fang menemukan caranya!

Ritual Rerevaka na Kalou ka Doka na Tui ...

***

1
Story
Kok jadi POV 1🤔
Story
yang benar harusnya bergeming. 🤔
Ayanagi Souma: bergeming = tidak bergetar atau bergerak kecil

tak bergeming = bergerak atau bergetar kecil

source dari gugel
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
gak nyangka baca sampai sini😅
Ayanagi Souma: terima kasih sudah membaca, semoga terhibur~
total 1 replies
Filan
udah jasad masih bisa mati juga hehe
Filan
jangan2 ga ada yg baca pesan dia wkwkwk...
Filan
emang bawa2 HP terus semua orang? Ada waktu ngetik daripada ngomong?
Ayanagi Souma: ponsel si Kai punya fitur voice changer, jadi ketikan dia bisa bersuara
total 1 replies
erlis nia★🎀
bagus bang..jngn lupa mampir yeah
Ceritera ini mirip-mirip sama inuyasa, ya gak sih?
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
apakah serigala nya kuat
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
kayak tulisan jepang bagus/Facepalm/
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
hadir bang.bagus novel nya
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
bahasa Korea ya/Doubt/
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
ngeri nya
Ayanagi Souma
Sizhu kan orang tampan dan pendiam😁👍
Filan
Dan bagaimana bisa dia terlihat ga kesakitan?
Filan: iya sih
total 2 replies
Filan
Dalam keadaan seperti itu bagaimana bisa ttp datar? /Sweat/
leasiee~。
hai kak aku mampir... yukk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Dian
Lanjut thor semangat 💪🏻
off
jadi apa yang dimaksudnya Aamon?
off
wkwkwkw kayak merasa deg deg degan lagi
/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!