Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PERTARUNGAN DIMULAI (2)
“Ternyata kau kuat,” suara Kevin terdengar tenang, namun di balik ketenangan itu tersembunyi ketajaman yang berbahaya. “Tidak heran kau berani bersikap seperti itu.”
Ia melangkah maju setapak. Satu tangannya masuk ke saku celana seragam, sikap santai yang justru membuat udara di koridor semakin menekan, seolah seekor predator sedang mengamati mangsanya.
“Tentu saja aku berani,” jawab Dion datar. Tatapannya tak bergeser sedikit pun. “Melawan preman sekolah seperti kalian.”
Kevin terkekeh pelan. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, “Haha… menarik. Setelah sekian lama, akhirnya sekolah ini tidak membosankan.”
Di saat yang sama, Bima ikut melangkah maju. Tubuh atletisnya menegang, kedua tinjunya mengepal. Matanya memancarkan semangat bertarung yang liar, haus darah.
Dion kini berdiri berhadapan dengan mereka berdua. Udara di koridor samping itu terasa berat, seolah tekanan tak kasatmata menekan dada. Dua sosok di hadapannya bukan lawan sembarangan, mereka adalah puncak kekuatan kelas tiga SMA Cahaya Senja.
'Dua orang terkuat… sekaligus,' batin Dion bergetar, 'apakah aku, benar-benar akan melawan mereka berdua?'
Untuk sesaat, kegugupan menyelinap ke dalam dadanya. Ia percaya pada atribut dan kekuatan barunya, namun pengalaman bertarungnya masih dangkal. Berbeda dengan Bima dan Kevin, yang jelas telah melewati puluhan, bahkan ratusan, pertarungan jalanan.
Namun Dion menghela napas pelan, ia tak punya pilihan untuk mundur.
Wuuush!
Wuuush!
Wuuush!
Bima dan Kevin melesat bersamaan, seperti dua bayangan yang terlatih bergerak dalam satu ritme. Dion pun ikut bergerak, kakinya menghentak lantai, tubuhnya meluncur maju.
Bak! Buk!
Tinju Kevin menyambar lebih dulu, cepat dan licin. Dion menghindar setipis rambut, angin pukulan itu hampir menyentuh pipinya.
Belum sempat ia menstabilkan napas, Bima sudah datang dari sisi lain. Tinju beratnya menghantam dengan kekuatan penuh. Dion kembali mengelak, namun kali ini jaraknya nyaris nol.
'Sial…'
Pukulan demi pukulan menyusul. Tendangan, sapuan kaki, serangan bertubi-tubi datang tanpa jeda. Dion terus bergerak, terus menghindar, namun hampir setiap serangan nyaris mengenainya.
'Bangsat… mereka jauh lebih kuat dari yang kukira!'
Dion sempat mengira Bima dan Kevin tak berbeda jauh dari Andri. Kini ia sadar betapa kelirunya anggapan itu. Setiap serangan mereka menciptakan gelombang udara, kekuatan murni yang dikerahkan tanpa ragu.
Ia nyaris tak diberi kesempatan bernapas, apalagi membalas.
Kerja sama mereka sempurna, satu menekan dari depan, satu menutup celah dari samping. Pola serangan itu rapi, tajam, dan terasah oleh waktu. Jelas bukan pertama kalinya mereka bertarung bersama.
Sesekali, Dion berhasil melayangkan pukulan balasan.
Buuuak!
Pukulan itu menghantam, memaksa Kevin atau Bima terpental beberapa meter. Namun sebelum Dion sempat mengambil momentum, keduanya sudah kembali bergerak, menyatu lagi dalam serangan tanpa cela.
Pertarungan dua lawan satu itu berlangsung lama. Puluhan menit berlalu, keringat membasahi tubuh, napas semakin berat. Lantai koridor dipenuhi jejak langkah dan bekas benturan. Namun tak satu pun dari mereka jatuh.
Hingga.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki ramai terdengar dari ujung koridor. Bukan satu dua, melainkan banyak.
Siswa-siswi mulai berdatangan, berseragam biru, mengobrol ringan. Waktu masuk kelas hampir tiba. Bel sekolah akan segera berbunyi.
Bima dan Kevin mundur bersamaan, serangan terhenti seketika.
Kevin menatap Dion dengan mata dingin. “Kau beruntung,” katanya pelan, “kalau tidak ada orang lewat sini… kau sudah habis.”
Bima meludah ke samping, lalu menatap Dion dengan sorot tajam. "Bangsat! Siapa namamu?”
Dion merapikan napasnya, punggung tetap tegak.
“Aku Dion Arvion,” jawabnya dingin, “dan ingat baik-baik, kalau aku melihat kalian menindas orang-orang di sekolah ini lagi…”
Matanya menyipit, auranya menekan. “Aku akan memburu kalian. Sampai kalian sendiri tak ingin bersekolah di sini lagi.”
Langkah kaki para siswa semakin dekat. Koridor yang tadinya sunyi kini dipenuhi suara.
Pertarungan itu berakhir tanpa pemenang. Bima mengangkat tubuh Andri yang masih tak sadarkan diri dengan satu tangan, lalu berbalik pergi bersama Kevin tanpa menoleh lagi.
Dion pun melangkah menjauh, tas masih tersampir di punggungnya. Wajahnya kembali tenang, seolah tak terjadi apa-apa.
Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu. Hari ini, namanya telah terukir di ingatan dua monster terkuat SMA Cahaya Senja.
.....
Sreeet.
Suara pintu kelas yang digeser memecah riuh rendah percakapan pagi. Dion melangkah masuk ke kelas Matematika dengan langkah tenang, nyaris tanpa suara. Cahaya matahari dari jendela koridor menyapu separuh tubuhnya, menegaskan siluet yang kini terasa asing, bahkan bagi mereka yang setiap hari duduk satu ruangan dengannya.
Percakapan pelan langsung bermunculan, seperti riak kecil di permukaan air.
“Eh… itu Dion?” bisik seorang siswi, suaranya ragu.
“Kayaknya iya,” balas temannya di bangku sebelah, mencondongkan tubuh, “tapi… kok sekarang kelihatan beda, ya? Tampan.”
Pandangan mata beralih serempak ke arahnya.
Murid-murid perempuan menatap lebih lama dari seharusnya, sebagian terang-terangan, sebagian berpura-pura acuh sambil mencuri pandang.
Ada ketertarikan samar di mata mereka, rasa penasaran yang belum sempat diberi nama. Sementara itu, murid-murid laki-laki memandang dengan sorot berbeda, menilai, membandingkan, sebagian menyipitkan mata seolah sedang mengukur ancaman baru.
Dion merasakannya. Tatapan-tatapan itu seperti angin tipis yang menyentuh kulit, tak menyakitkan, tapi cukup terasa. Namun wajahnya tetap datar. Ia tak mempercepat langkah, tak pula menunduk.
Ada satu hal yang langsung ia sadari, bangku itu kosong.
Bangku tempat sosok yang selama ini gemar menindasnya biasa duduk, hari ini tak berpenghuni. Tak ada kaki diselonjorkan sembarangan, tak ada tawa mengejek, tak ada tatapan merendahkan yang biasanya menyambutnya setiap pagi.
Hening kecil menyelinap di dada Dion. Ia terus berjalan, menyusuri lorong di antara bangku-bangku, hingga tiba di tempatnya sendiri, bangku dekat jendela, baris ketiga. Kursi sederhana itu menyambutnya seperti biasa.
Dion duduk dengan tenang, menatap keluar sesaat. Langit tampak cerah, kontras dengan kekacauan yang baru saja ia lewati di koridor samping. Namun tak semua mata hanya menatap.
Di salah satu bangku, seorang siswa menunduk, jari-jarinya bergerak cepat di layar ponsel yang disembunyikan di balik meja. Pesan demi pesan diketik tanpa suara, ekspresinya serius, seolah sedang mengirim kabar penting.
Beberapa menit kemudian.
Ding… Dong…
Bel sekolah berdentang, menggema ke seluruh gedung SMA Cahaya Senja. Percakapan langsung terputus. Ponsel-ponsel diselipkan kembali, tubuh-tubuh ditegakkan.
Tak lama, pintu kelas kembali terbuka. Guru masuk, membawa map dan wajah datar khas pagi hari. Pelajaran jurusan dan wajib pun dimulai, angka-angka dan rumus kembali memenuhi papan tulis.
Namun bagi sebagian siswa di kelas itu, pagi ini sudah terasa berbeda. Dan nama Dion mulai bergema pelan, bukan lagi sebagai bahan ejekan, melainkan sebagai tanda tanya yang belum terjawab.